Ronaldo de Lima, Sang Fenomena yang Diganggu Cedera

CNN Indonesia | Senin, 20/04/2020 09:41 WIB
FC Barcelona's Brazilian start Ronaldo (L) jubilates after scoring 1-0 for Barcelona at the start of the quarter finals in the Cup winner's Cup against AIK Stockholm at Rasunda Stadium in Stockholm 20 March. At right Hristo Stoichkov who gave assist to the goal. / AFP PHOTO / SCANPIX SWEDEN / HANS T DAHLSKOG Ronaldo de Lima merupakan salah satu pesepak bola hebat dunia. (AFP PHOTO / HANS DAHLSKOG)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ronaldo Luis Nazario de Lima tidak diragukan lagi adalah salah satu pemain terbaik yang pernah ada di sepak bola. Andai tidak diganggu cedera, Ronaldo mungkin bisa jadi yang terhebat.

Ronaldo jauh lebih dulu mengorbit sebagai bintang masa depan sepak bola dunia sebelum era Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, ataupun Ronaldinho. Petualangannya di Eropa dimulai bersama klub Belanda, PSV Eindhoven tahun 1994 silam.

Performa Ronaldo yang baru berusia 18 tahun di musim pertamanya langsung mengundang decak kagum. Kecepatan, skill, kemampuan duel satu lawan satu, gocekan, dan mental Ronaldo ibarat anomali dari seorang pemain muda.


Ronaldo tampil menawan dan penampilannya langsung disukai fan PSV. Total 30 gol dicetaknya di musim pertama, termasuk hattrick ke gawang Bayer Leverkusen di Piala UEFA musim 1994/1995.

Hattrick yang membuat penyerang Leverkusen dan pemain yang mengantarkan timnas Jerman juara Piala Dunia 1990, Rudi Voller, sampai terheran-heran melihat aksi Ronaldo.

Ronaldo de Lima, Sang Fenomena yang Diganggu CederaRonaldo tiga kali dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Dunia sepanjang kariernya. (AFP PHOTO / RABIH MOGHRABI)
"Tak pernah dalam hidup saya melihat pemain 18 tahun bermain dengan cara seperti ini," kata Voller memuji.

Ronaldo hanya bermain dua tahun di PSV. Di usia 20, Ronaldo direkrut klub top Spanyol, Barcelona dengan rekor transfer US$19,5 juta. Di musim pertamanya, anak muda kelahiran Rio de Janeiro tampil begitu luar biasa.

Dari 49 pertandingan, Ronaldo mencetak 47 gol di semua kompetisi. Blaugrana pun diantar Ronaldo meraih tiga gelar yakni Piala Winners, Piala Raja, dan Piala Super Spanyol.

Di musim tersebut, Ronaldo juga meraih gelar El Pichichi dan peraih sepatu emas Eropa dengan torehan 34 gol dari 37 laga.

Ronaldo de Lima, Sang Fenomena yang Diganggu Cedera
Kisah Ronaldo di Barcelona hanya berlangsung semusim karena ia dipinang Inter Milan kembali lewat rekor transfer. La Beneamata menebus klausul kontrak sang pemain senilai US$27 juta.

Ronaldo langsung jadi pujaan di Italia dan bermain selama lima musim dengan seragam Inter. Il Fenomeno atau Sang Fenomena hanya memberikan satu gelar untuk Inter karena kariernya justru lebih akrab dengan cedera.

Cedera terjadi di musim ketiga bintang asal Brasil bersama Inter. Ronaldo mengalami cedera sobek tendon lutut kanan saat Inter menang atas Lecce 6-0 pada November 1999.

Cedera itu membuat Ronaldo harus naik ke meja operasi dan menjalani pemulihan selama lima bulan. Ronaldo baru kembali bermain di final Coppa Italia melawan Lazio pada 12 April 2000.

[Gambas:Video CNN]

Sialnya, Ronaldo hanya bermain selama enam menit. Cedera lututnya kambuh tanpa mengalami benturan dengan pemain lawan saat menggiring bola ke kotak penalti Lazio.

Akibat cedera keduanya tersebut, Ronaldo absen selama 521 hari hingga akhir musim 2001/2002. Rentang waktu dari 1999 sampai 2002 lebih banyak dihabiskan Ronaldo di ruang perawatan.

Banyak yang memperkirakan Ronaldo bakal habis setelah dua cedera parah yang membuatnya absen dalam waktu lama. Apalagi, setelah kembali bermain tahun 2002, gocekan-gocekan khas Ronaldo yang mengundang decak kagum jarang terlihat.

Ronaldo de Lima, Sang Fenomena yang Diganggu Cedera
Ronaldo bermain lebih sederhana dan pintar. Ia tidak lagi bertumpu pada kecepatan dan gocekan-gocekan yang membuat lutut kanannya dua kali mengalami cedera parah.

Cara bermain tersebut terbukti membuat karier pengoleksi tiga gelar pemain terbaik dunia itu cukup awet. Ronaldo masih bisa bermain hingga 2011 dengan membela Real Madrid, AC Milan, dan klub Brasil Corinthians.

Bersama Madrid, Ronaldo meraih tiga gelar yaitu La Liga, Piala Interkontinental, dan Piala Super Spanyol. Sementara bersama timnas Brasil, Ronaldo dua kali jadi juara Piala Dunia tahun 1994 dan 2002 serta dua gelar Copa Amerika tahun 1997 dan 1999.

Setelah 10 tahun melanglang buana di Eropa, Ronaldo kembali ke Brasil memperkuat Corinthians dari 2009 hingga gantung sepatu tahun 2011. Ronaldo pun mengakhiri karier dengan tiga gelar pemain terbaik dunia yang mungkin bisa lebih banyak diraihnya andai tak diganggu cedera parah. (jal/jal)