INSPIRASI

Marat Safin, Dari Hidup Hedonistik ke Jalan Sufistik

CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 16:00 WIB
Russia's Marat Safin of Japan Warriors hits a return against US player James Blake of Philippine Mavericks during their men's singles match at the International Premier Tennis League (IPTL) tournament in Singapore on December 18, 2015. AFP PHOTO / MOHD FYROL (Photo by MOHD FYROL / AFP) Marat Safin mantan petenis nomor satu dunia. (MOHD FYROL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Marat Safin telah lama kembali ke jalan sufistik dari kehidupan yang hedonistik. Dia pernah mengukir namanya sebagai salah satu petenis terbaik di dunia.

Total dua kali mantan petenis asal Rusia tersebut meraih trofi Grand Slam di US Open 2000 dan Australia Open 2005.

Safin juga ikut membantu Rusia juara Piala Davis pada 2002 dan 2006. Safin pernah tercatat sebagai petenis nomor satu dunia pada 2000.


Pemilik nama lengkap Marat Mubinovich Safin merupakan pria kelahiran Moskow sebagai etnis Tatar muslim. Di kampung halamannya, Nizhny Novgorod, Safin dibesarkan dengan tradisi Islam yang amat kuat oleh kedua orang tuanya.

Meski demikian, dia pernah jauh dari kehidupan sebagai seorang muslim ketika menikmati masa kejayaan di dunia tenis pada 2000-an.

Hidupnya begitu glamor dan hedonistik. Wanita-wanita muda dan cantik selalu tak pernah jauh dari kehidupannya. Maklum, Marat Safin memang salah satu petenis pria yang pernah menjadi idola para wanita.

Kekayaan dan ketenaran itu pula yang membuatnya larut dalam kenikmatan dunia. Kehidupan yang mengutamakan kesenangan itu pula membuat dia pernah dicap sebagai 'binatang' buas dari pesta ke pesta.

Di lapangan, Safin juga jauh dari nilai-nilai Islam. Karakternya mudah sekali marah. Dia kerap mempertontonkan kontroversi dari laga yang pernah dilakoninya.

[Gambas:Video CNN]
Aksi Safin yang paling terkenal adalah kerap membanting raket ketika kehilangan poin dalam pertandingan. Meski demikian, pada 2005 dia malah pernah mengaitkan karakter temperamental itu karena darah muslim Tatar yang mewarisinya.

"Anda tidak bisa melawan genetik. Saya adalah orang Rusia, tapi saya 100 persen muslim. Seluruh muslim begitu bersemangat dan kukuh. Kami berdarah panas," ujar Safin kepada USA Today dikutip dari RFEL.

Safin juga tak malu-malu memperlihatkan kemesraan kepada para wanita ketika masih menjadi petenis top dunia. Namun, perubahan drastis terjadi sejak dia memutuskan pensiun, tepatnya pada 2009.

Dia merasa mengalami kekosongan batin dalam hidup. Safin seperti jauh dari akar kehidupannya sejak kecil sebagai seorang muslim yang taat.

Safin mulai menghadiri Hari Raya Islam seperti Idul Adha dengan mengenakan pakaian tradisional Tatar, Tubetey, di kampung halamannya. Kembali ke akar tradisi bagi Safin merupakan salah satu obat penyembuh atas kekosongan hati.

Marat Safin kembali ke ajaran islam. (Marat Safin kembali ke ajaran islam. (TED ALJIBE / AFP)
Keputusan Safin untuk kembali ke komunitas muslim Tatar di kampung halaman menjadi modal positif dia terjun ke dunia politik. Dengan kehadiran di setiap masjid pada hari raya umat muslim di Rusia, dia semakin banyak meraup suara dari kalangan Islam di sana dalam politik praktis.

Tepatnya pada 2011, Safin memilih bergabung bersama Partai Rusia Bersatu yang digawangi Presiden Rusia saat ini, Vladimir Putin. Safin mencalonkan diri sebagai salah satu anggota Parlemen atau Duma Rusia.

Dengan dukungan dari kalangan etnis Tatar terutama muslim, Safin terpilih menjadi salah satu anggota Duma Rusia selama lima tahun.

Selama menjadi anggota Duma Negara, Safin memperjuangkan hak-hak etnis Tatar dan kaum muslim di Rusia. Wajar jika kemudian dia menjadi salah satu tokoh Islam berpengaruh di sana.

Safin kemudian meletakkan jabatannya pada 2016. Dia belum terpikir untuk kembali terjun ke dunia politik praktis.

Safin ingin fokus untuk lebih melatih batinnya ke jalan sufistik.

"Saya sudah pensiun [dari dunia politik] dua tahun lalu. Mungkin suatu saat [akan kembali]. Namun sekarang, saya istirahat dahulu," ujar Safin pada 2019 dikutip dari Tennis World USA. (bac/har)