Deretan Efek Buruk bagi Pesepakbola Usai Libur Panjang

CNN Indonesia | Jumat, 29/05/2020 17:23 WIB
Liverpool's Sadio Mane, right, dribbles past Bournemouth's Jack Stacey during the English Premier League soccer match between Liverpool and Bournemouth at Anfield stadium in Liverpool, England, Saturday, March 7, 2020. (AP Photo/Jon Super) Kompetisi Liga Inggris berencana digulirkan pada 17 Juni. (AP/Jon Super)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dokter keolahragaan, Andhika Raspati SpKO, mengatakan beragam efek buruk bisa dialami pesepakbola jika kembali melakoni pertandingan dengan intensitas tinggi setelah libur panjang akibat Covid-19.

Liga-liga di Eropa kembali dan merencanakan bergulir lagi setelah 'istirahat' karena wabah virus corona.

Bundesliga Jerman jadi liga top di Eropa yang pertama kali "restart". Sementara itu, Liga Italia mendapat izin kembali bergulir pada 20 Juni nanti.


Sedangkan Liga Inggris dan Liga Spanyol berpeluang menyusul guna menuntaskan musim 2019/2020. Premier League diklaim bisa kick-off pada 17 Juni sedangkan La Liga pada akhir Juni.

Meski demikian, bergulirnya kompetisi di masa new normal ini riskan untuk pemain yang 'libur' lebih dari dua bulan.

Para pemain-pemain di Eropa itu tidak sepenuhnya libur berlatih, hanya saja mereka berlatih di rumah tidak dengan intensitas yang sama ketika bersama klub.

Menurut Andhika, hal yang perlu diingat dari prinsip olahraga adalah reversibility yakni performa tubuh akan menurun jika seseorang yang sebelumnya intens berolahraga meninggalkan kebiasannya dalam satu waktu.

"Pertanyaannya, pemain selama di rumah tidak ada pertandingan, latihan sendiri tidak? Kalau latihan apa dengan intensitas yang sama ketika dalam situasi pertandingan?" ucap Andhika kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/5).

Pemain berisiko cedera usai libur lama.Pemain berisiko cedera usai libur lama. (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)
"Kalau pertandingan resmi biasanya pemain akan lebih all out, imbasnya tinggi, biasanya lebih explosive," kata Andhika menambahkan.

Dijelaskan Andhika, pemain yang beristirahat dari pertandingan dalam jangka waktu cukup lama dan berlatih ala kadarnya dapat membuat banyak penurunan. Mulai dari penurunan kekuatan otot, koordinasi gerak, bagaimana merespons gerakan lawan atau kecepatan reaksi, kestabilan sendi serta keseimbangan.

"Kekuatan otot yang menurun ini bisa membuat seorang pemain rawan cedera. Komponen gerak ini akan turun, karena tadinya latihan jadi tidak latihan," tutur Andhika.

"Begitu main di level pertandingan resmi, kondisi tubuhnya belum tentu siap setelah berhenti hampir tiga bulan. Ini bisa jadi menimbulkan risiko cedera, apalagi kalau padat jadwalnya," ujar Andhika melanjutkan.

[Gambas:Video CNN]

Terkait jadwal, para pemain di Liga Inggris berpotensi melakoni pertandingan dengan agenda yang lebih padat.

Dengan sebagian besar tim menyisakan 9 pertandingan, Liga Inggris musim ini dijadwalkan rampung pada akhir Juni.

Setelah itu, klub-klub yang masih tampil di Eropa akan kembali berkompetisi di Liga Champions dan Liga Europa. Kondisi tersebut berpotensi membuat pemain-pemain Liga Inggris rawan cedera.

Menyoal cedera, Andhika juga membaginya menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok pemain yang disiplin dengan menjalani program latihan secara teratur sesuai dengan yang diberikan pelatih.

Kelompok disiplin ini kemungkinan memiliki potensi risiko cedera yang lebih rendah dibanding dengan kelompok kedua yang merupakan mereka yang bandel atau tidak disiplin menjalankan program latihan diberikan pelatih. Terlebih, jika pengawasan yang diberikan tidak optimal.

Cedera yang paling mungkin dialami pesepakbola yang langsung tampil di pertandingan dengan intensitas tinggi setelah libur panjang yakni kram otot. Otot mengalami kram karena bekerja di luar kapasitasnya setelah beristirahat cukup lama.

"Kalau daya gerak menurun, kekuatan otot, koordinasi gerak, bagaimana merespons gerakan lawan atau kecepatan reaksi, kestabilan sendi serta keseimbangan menurun yang ditakutkan terjadi sobekan pada otot atau sobekan sendi, atau ligamen."

"Di sepak bola itu juga terjadi body contact, kalau kesigapan kurang terhadap gerakan lawan, lalu misalkan kena tekel dan jatuh, bisa jadi pergelangan kakinya sobek. Penurunan stabilitas sendi juga dapat mengakibatkan sobekan ligamen akibat kurangnya kerja penopang dari otot sekitarnya," jelas Andhika.

Pencegahan yang bisa dilakukan untuk meminimalkan cedera bagi pesepakbola yakni dengan mengikuti program latihan di rumah yang diberikan pelatih dengan pengawasan. Setelah itu, dilakukan tes fisik sebelum memulai latihan untuk mengetahui level kebugaran dan performan masing-masing pemain.

Hasil tes fisik itu disebut bisa jadi patokan untuk menentukan menu program latihan yang tepat bagi pemain. Sambil pemain tersebut beradaptasi berlatih dengan peningkatan intensitas secara bertahap.

"Harus adaptasi dulu, pelan-pelan dulu tidak bisa langsung dengan intensitas tinggi. Berapa lama waktu adaptasinya bervariasi, tergantung program latihan selama di rumah dan kepatuhan atletnya," ujar Andhika. (TTF/sry)