WAWANCARA EKSKLUSIF

RD: Saya Ingin Majukan Sepak Bola Lewat Politik

CNN Indonesia | Kamis, 16/07/2020 19:49 WIB
Rahmad Darmawan. CNN Indonesia/Artho Viando Rahmad Darmawan ingin majukan sepak bola lewat politik. (CNN Indonesia/Artho Viando)
Jakarta, CNN Indonesia --

Mantan pelatih Timnas Indonesia U-23, Rahmad Darmawan, mantap melangkah ke dunia politik dengan gabung Partai Demokat demi memajukan sepak bola Indonesia.

Pelatih yang akrab disapa RD itu menegaskan, merapat ke Demokrat bukan untuk tampil Pilkada Lampung mendatang bersama Nessy Calvia Mustafa.

Rahmad memiliki cerita panjang soal alasannya ikut terjun ke politik praktis sebagai salah satu pelaku sepak bola nasional.


Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Rahmad Darmawan soal kariernya di sepak bola ke depan setelah memutuskan terjun ke politik bersama Demokrat:

Apa alasan utama Anda menolak ikut Pilkada Lampung?

Lebih ke kemantapan hati, passion. Saya sudah pernah bilang, bahwa yang paling susah untuk memutuskan adalah memilih antara passion atau ini [politik] gitu loh.

Buat saya akhirnya passion menjadi alasan utama, di samping itu ada faktor keluarga. Passion saya di sana, sepak bola. Keluarga terpecah lah [ada yang setuju ada yang tidak setuju ikut Pilkada]. Akhirnya yakin tidak maju di pilkada.

Bagaimana proses sampai Anda diminta maju di Pilkada Lampung?

Waktu masa-masa PSBB [Pembatasan Sosial Berskala Besar] ada beberapa ormas [organisasi masyarakat] di Lampung, mereka minta kapan saya pulang. Ada apa? 'Ini ramai permintaan teman-teman mau ngobrol sama coach', begitu.

Rahmad Darmawan resmi ke Madura UnitedRD sudah berbicara dengan Madura United soal keputusannya ke politik. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)

Setelah lepas PSBB, boleh pergi, kebetulan saya ziarah ke makan bapak-ibu di Lampung. Momen itu dipakai sama mereka untuk saya diminta masuk jadi kontestan Pilkada Lampung.

Wah, waktu itu saya sulit nolak karena banyak banget yang minta. Terus saya bilang, saya pikir-pikir dulu karena banyak hal yang harus saya pikirkan.

Terus enggak sampai satu minggu saya ditelepon lagi, diminta pulang lagi. Katanya ada hal penting buat dibicarakan soal itu. Terus saya pulang, oh ternyata mereka mau serius sama sikap mereka agar saya bergabung.

Saya juga tidak bisa kasih jawaban yang konkret saat itu. Karena sekali lagi, saya waktu itu sudah bilang, butuh waktu untuk menenangkan pikiran saya, untuk betul-betul tidak ingin salah mengambil keputusan.

Tidak mudah buat saya yang sudah sekian puluh tahun membangun karier [di sepak bola] ini terus kemudian saya korbankan untuk ini [maju ke Pilkada Lampung].

[Gambas:Video CNN]

Tapi akhirnya saya ambil keputusan kemarin, supaya tidak berlarut-larut karena saya lihat banyak sekali berita yang simpang siur.

Kenapa Anda memilih Partai Demokrat?

Ini hal yang berbeda. Partai Demokrat setelah itu [permintaan maju di Pilkada Lampung] sebetulnya. Ternyata yang mengusung saya [maju di Pilkada Lampung] non-Partai Demokrat. Ada tiga partai yang saya enggak bisa sebut apa saja partainya. Tapi memang mereka menginginkan saya untuk maju bareng calon bupati itu.

Dengan Partai Demokrat, saya itu memang sudah niat lama untuk masuk partai politik. Sudah lama, cuma dulu saya masih seorang militer. Makanya ketika saya sudah pensiun, saya berpikir jernih mau ke mana sebenarnya, ke partai pertama yang bakal saya tuju.

Maunya saya dari dulu memang ke Partai Demokrat sebenarnya. Dari awal saya pengen masuk ke Partai Demokrat sejak masih di era [Susilo Bamgang Yudhoyono] Pak SBY [jadi Presiden] dan baru kesampaian kemarin.

Seperti apa perkenalan Anda dengan Partai Demokrat?

Teman-teman saya banyak yang berkecimpung di politik, di berbagai partai. Saudara-saudara saya juga banyak sekali yang ada di kancah perpolitikan, saudara agak jauh sih memang, dari anaknya paman.

Kami sering ketemu ngobrol, sering kita diskusi. Salah satu diskusinya ternyata semua kebijakan yang diambil untuk apa pun yang berkaitan dengan kebijakan rakyat semua dimulai dari obrolan politik, diskusi politik, dan kemudian keputusan politik.

Dari situlah saya kemudian berpikir, memang kenyataannya seperti itu, di Indonesia, di sepak bola sama. Kadang-kadang di sepak bola malah dijadikan ajang politik.

Saya berpikir kenapa saya tidak berbalik ya. Saya sudah cukup lama, matang lah di sepak bola, saya tahu berbagai persoalannya. Lalu saya ingin masuk ke wilayah yang lebih baik lagi, yaitu masuk ke kebijakan yang lebih baik untuk sepak bola ke depannya.

Makanya kemudian saya langsung telepon teman-teman, kebetulan ada yang memberi koneksi ke salah satu pengurus DPP [Dewan Pengurus Pusat] Partai Demokrat. Ya sudah, saya mengutarakan niat saya mau gabung ke Demokrat. Saya yang menjemput bola ke PD.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Saya juga kaget yang menyerahkan langsung Pak AHY [Agus Harimurti Yudhoyono]. Saya pikir tidak seperti bayangan saya, bahwa saya diapresiasi sedemikian rupa oleh Partai Demokrat dengan Ketuanya langsung yang menyerahkan.

Apa korelasi Anda terjun ke politik dengan sepak bola Indonesia?

Bahwa sepak bola itu olahraga yang digemari rakyat Indonesia. Kalau kita bicara sepak bola, tolok ukurnya di masyarakat orang-orang banyak bicara prestasi tim nasional. Prestasi timnas itu bisa dicapai kalau kita saat ini menjalankan program-program yang sebenarnya semua sudah tahu.

Ada empat hal penting yang bisa membangun sepak bola nasional. Pertama, bagaimana membangun youth development, lalu menyiapkan coach education, kemudian infrastruktur dan memfasilitasinya dengan kompetisi berjenjang.

Nah, empat hal ini semua sudah tahu tapi implementasi empat hal ini harus didorong dengan kebijakan-kebijakan yang signifikan baik dari federasi maupun pemerintah. Sinkronisasi program dibutuhkan.

Pak Jokowi [Presiden Joko Widodo] sudah bagus ya membuat percepatan pembangunan sepak bola. Tapi bagaimana kebijakan yang harus dibuat untuk menyegerakan Peraturan Presiden melalui percepatan ini, yang menurut saya selama ini masih belum terealisasi.

Dari situ saya berpikir, mungkin juga satu saat federasi membutuhkan lebih banyak lagi orang-orang yang awalnya menekuni sepak bola, dia sebagai pemain nasional atau pelatih. Saya mencoba mewakili kekosongan itu. Itu sebenernya yang ada dipikiran saya enggak lebih enggak kurang.

Sementara dengan kekuatan saat ini, tanpa saya punya strong point, apapun keinginan itu mental. Karena contoh, Kurniawan Dwi Yulianto yang notabene atlet hebat sepak bola Indonesia kemarin dalam pemilihan satu suara saja enggak punya, enggak dapat. Jadi perlu bekal yang lebih lah. Pakai strong point ini.

Apa keputusan Anda ini sudah tepat, memajukan sepak bola lewat politik?

Enggak tahu. Bisa juga saya salah. Tapi saya lebih bagus mencoba dari pada tidak sama sekali.

Apa yang AHY sampaikan saat bertemu Anda?

Saya jelas menyatakan niat saya berpolitik untuk membangun olahraga lebih baik dengan cara saya ingin lakukan. Mungkin bisa saling memfasilitasi untuk itu.

Saya pikir saya tidak bisa bicara terlalu banyak untuk hal-hal yang semuanya masih dalam perencanaan awal. Saya tentu harus menunggu semuanya.

Beliau [AHY] fine saja. Beliau menyatakan silakan meneruskan profesi saya karena itu sudah merupakan profesi yang tidak jelek, yang banyak membantu orang lain juga.

Contoh, banyak lawyer, pengusaha yang masuk politik kan tetap menjalankan profesinya sebagai pengusaha, sebagai lawyer. Jadi tidak ada masalah.

Di sepak bola ada coach Nilmaizar yang sudah empat tahun lalu masuk Partai Nasdem fine-fine saja. Cuma kok saya kali ini agak ramai, saya enggak mengerti bingung juga. Hehehe.

Apakah Anda sudah berkomunikasi dengan Madura United?

Sudah bicara. Memang saya tidak melakukan komunikasi awal dulu, karena saya tidak ingin memusingkan beliau [Presiden Klub Madura United, Achsanul Qosasi] karena ini hak politik, siapa saja boleh. Sama seperti kita datang ke TPS [Tempat Pemungutan Suara], kita datang menyatakan hak politik kita. Saya pikir belum perlu.

Tapi setelah kemarin agak gaduh, saya Whatsapp beliau, Pak Achsanul dan Pak Haruna [Soemitro] dan sudah dijawab. Intinya, sudah lanjutkan.

Kalau saya nanti bekerja membangun akademi, saya juga bisa berprofesi sebagai pelatih klub profesional. Itu hanya sebatas pelaksanaan program yang bisa dijalankan staf kepelatihan saya yang lain. Kalau itu benar terjadi. Selebihnya fine saja, saya tetap membuka diri, enggak ada masalah dengan peofesi saya.

(TTF/bac)