Dokter Gizi Soal Makanan Atlet: Berbeda dengan Orang Biasa

Titi Fajriyah, CNN Indonesia | Selasa, 25/08/2020 19:24 WIB
Pola makan sehat menjadi salah satu faktor pendukung utama bagi seorang atlet dalam kelangsungan karier dan terkait dengan prestasi. Atlet Indonesia dituntut memiliki kesadaran mengenai makanan sehat. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pola makan sehat menjadi salah satu faktor pendukung utama bagi seorang atlet dalam kelangsungan karier dan terkait dengan prestasi.

Dokter spesialis gizi dr. Nessa Wulandari, MGizi, SpGK mengatakan pemenuhan kebutuhan baik itu kalori, protein, lemak maupun karbohidrat seorang atlet tidak bisa sembarangan dan disesuaikan berdasarkan hasil pengukuran komposisi tubuh yang diinterpretasikan melalui dokter maupun tim ahli gizi.

"Pola makan sehari-hari atlet dan orang biasa pasti beda, baik dari banyaknya porsi dan kebutuhan gizi dalam tubuh. Semua tergantung jenis olahraga yang dijalani dan indeks masa tubuhnya," kata dr. Nessa kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (25/8).


Dr. Nessa juga menyebut atlet harus sadar diri dan selalu menaati anjuran yang diberikan pelatih fisik maupun dokter gizi masing-masing dan tidak semata memenuhi selera lidah.

"Di sini diperlukan komitmen atlet dengan motivasi pribadi terhadap kariernya. Bagaimana mereka bisa sadar terhadap performanya, kelangsungan masa depan kariernya sampai ke prestasinya. Karena bagaimana pola makan dan pola hidup sehat yang dijalani itu jangka panjangnya akan berpengaruh ke prestasi," ungkapnya.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Dokter Spesialis Keolahragaan, dr. Andi Kurniawan juga menambahkan seorang atlet profesional biasanya memiliki ahli gizi serta sederet dokter spesialis lain di belakangnya yang bertugas mengatur kebutuhan tubuh termasuk makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh berdasarkan jenis olahraga dan posisi dalam olahraga yang dimainkan.

Dokter Andi menjelaskan gorengan sebagai makanan haram bagi atlet karena kandungan minyak tinggi membuat banyak lemak tak jenuh dalam tubuh yang bisa menjadi masalah, meskipun dibolehkan dengan pengaturan dari tim gizi.

"Tapi memang di Indonesia lidahnya lokal untuk memenuhi selera makan sangat dominan. Kalau mau jadi atlet profesional harus bisa pilih makan sesuai kebutuhan tubuh. Di Indonesia masih sangat minim kepedulian atletnya, bahkan pembinanya. Bahkan belum semua tim punya nutrisionis," ujar dr. Andi.

Cheating atau sesekali melanggar konsumsi makanan sehat dalam kurun waktu tertentu juga sebenarnya tidak patut dilakukan oleh seorang atlet profesional. Sebab, latihan keras yang dilakukannya selama ini akan sia-sia jika tidak ditunjang dengan pola makan sehat.

"Ada yang bilang, you are what you eat. Kalau atlet elite, dia tidak akan pernah cheating dan akan akan berusaha menjalankan pola makan dan hidup sehat karena dia punya goal, sekalipun hanya sekali."

"Sebagai atlet elite atau profesional dia harus jaga tubuhnya sendiri dan menjadikan tubuhnya sebagai aset buat kariernya. Jadi tidak sembarangan masukin apapun ke tubuh. Kalau asetnya, tubuhnya tidak dijaga, karier tidak akan meningkat penghasilan juga bagus, ya percuma. Sebagai atlet harus sadar diri, tidak ada alasan. Masa depan kan mereka tidak tahu. Kalau tidak dijaga asetnya, pasti asetnya akan kewalahan," tegasnya.

Masalah makanan atlet belakangan menjadi bahasan viral karena ada beberapa pemain sepak bola yang mengunggah panganan yang dikonsumsi. Netizen menilai beberapa atlet tersebut sembarangan dalam memilih jenis makanan yang dikonsumsi.

(nva)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK