ANALISIS

Mengharap Lampard Lebih Cerdas dari Klopp

Surya Sumirat & Surya Sumirat, CNN Indonesia | Jumat, 18/09/2020 09:43 WIB
Frank Lampard bertekad memperbaiki rapor pertemuan dengan Jurgen Klopp dalam laga Chelsea vs Liverpool, Minggu (20/9). Frank Lampard kembali berduel dengan Jurgen Klopp. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertandingan Chelsea vs Liverpool pada pekan kedua Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, Minggu (20/9), bakal menampilkan duel pelatih cerdas: Frank Lampard dan Jurgen Klopp.

Pintar merupakan salah satu keunggulan seseorang dengan zodiak Gemini. Menariknya, kedua pelatih sama-sama memiliki zodiak Gemini. Lampard lahir pada 20 Juni 1978 sedangkan Klopp pada 16 Juni 1967.

Seseorang dengan horoskop gemini disebut tidak memiliki sifat yang menonjol seperti zodiak lain. Meski demikian, seseorang dengan zodiak Gemini seperti Lampard dan Klopp memiliki kelebihan dalam: mudah beradaptasi, antusias, dan cerdas.


Ketiga faktor di atas sudah dibuktikan Klopp dan Lampard bersama Liverpool serta Chelsea. Lampard yang minim pengalaman melatih mengubah Chelsea menjadi tim yang disegani di Premier League dalam semusim, sedangkan Klopp mengantar The Reds pada jalan kesuksesan dalam kurun tiga setengah musim.

Salah satu bukti Lampard bisa beradaptasi dengan baik di Chelsea adalah membawa klub tersebut masuk zona Liga Champions tanpa aktivitas transfer di musim sebelumnya karena sanksi FIFA.

Dengan modal mengombinasikan pemain muda dan senior yang ada, pelatih 42 tahun itu juga nyaris mengantarkan The Blues juara Piala FA jika tidak kalah 1-2 dari Arsenal di final.

Klopp juga tidak jauh berbeda dengan Lampard. Dengan jam terbang yang lebih mumpuni pelatih asal Jerman itu sukses mengubah The Reds kembali jadi sorotan dalam beberapa musim belakangan.

Sebelum juara Liga Champions 2018/2019, Klopp beberapa kali mengantar Liverpool ke partai final (Piala Liga Inggris, Liga Europa, dan Liga Champions 2017/2018).

Chelsea's Cesar Azpilicueta challenges Liverpool's Naby Keita, left, during the English Premier League soccer match between Liverpool and Chelsea at Anfield stadium in Liverpool, England, Wednesday, July 22, 2020. (Paul Ellis, Pool via AP)Chelsea kalah dari Liverpool dalam empat pertemuan terakhir di Liga Inggris. (AP/Paul Ellis)

Catatan di atas cukup menyatakan Klopp bisa beradaptasi dengan skuad The Reds. Lalu dengan kurang dari 5 tahun melatih, dua gelar bergengsi, Liga Champions dan Liga Inggris, diberikan Klopp kepada Liverpool.

Sikap antusias yang dimiliki Gemini membuat mereka senang menjadi pusat perhatian. Klopp sudah melakukannya, akan tetapi Lampard masih sedikit malu-malu tapi sudah mulai mencoba.

Ketika melihat pemainnya beraksi di lapangan, Klopp termasuk salah satu pelatih yang energik. Beragam mimik ia tuangkan saat di pinggir lapangan. Klopp nyaris tidak pernah duduk di bangku pemain cadangan saat Jordan Henderson dan kawan-kawan tampil.

Pelatih 53 tahun itu selalu memiliki cara menunjukkan ekspresi ketika pemainnya gagal mencetak gol atau memanfaatkan peluang. Begitu Liverpool mencetak gol di masa kritis atau penentu, Klopp juga tidak segan berselebrasi dengan penonton.

[Gambas:Video CNN]

Lampard lebih tenang dari Klopp. Mantan kapten Chelsea itu masih bisa duduk di bangku cadangan atau berdiri di pinggir lapangan, namun tetap antusias memantau performa anak asuhnya.

Bahkan, saking antusiasnya, Lampard pernah memiliki rapor ribut dengan Klopp dalam satu pertandingan, ketika Liverpool mengalahkan Chelsea 5-3 di pekan ke-37 Liga Inggris musim lalu.

Keributan itu bermula dari pelanggaran yang diberikan kepada Sadio Mane dan berujung gol untuk Liverpool. Lampard protes kepada wasit, namun asisten Klopp, Pep Lijnders juga protes.

Alhasil Lampard justru menyemprot Lijnders. Klopp yang ingin menenangkan keduanya juga mendapat serangan dari Lampard.

Usai beragam aspek tersebut, kecerdasan dari zodiak Gemini yang dimiliki Lampard dan Klopp menjadi penentu yang membawa keduanya pada kesuksesan sejauh ini.

Mudah beradaptasi dan cerdas jadi kombinasi yang apik dalam karier kepelatihan Klopp serta Lampard. Klopp terkenal dengan gegenpressing, taktik di mana saat hilang bola, lalu menekan lawan dengan cepat dan tepat untuk merebut bola itu kembali.

Bersama pemain-pemain yang ideal, taktik ini berjalan baik dan membawa Liverpool juara Liga Champions serta Liga Inggris. Meski demikian, ketika menghadapi tim dengan pertahanan total, gegenpressing Klopp terkadang mandek.

Lampard memiliki filosofi permainan yang nyaris serupa dengan gegenpressing Klopp. Pelatih asal Inggris itu tidak suka dengan strategi yang memindahkan bola langsung ke depan.

Banner Live Streaming MotoGP 2020

Lampard sebih senang dengan permainan dari kaki ke kaki melintasi setiap ruang terbuka lapangan. Intinya memegang penguasaan bola. Mantan pelatih Derby County itu juga sangat ingin timnya bisa bermain agresif, dan kembali merebut bola saat kehilangan.

Dengan pemain-pemain baru yang dimilikinya di musim ini seperti: Hakim Ziyech, Kai Havertz, dan Timo Werner, dikombinasikan dengan Christian Pulisic, Jorginho, atau Mason Mount, Lampard mendekati filosofi impiannya tersebut.

Pemain-pemain di atas mampu bermain dengan agresif. Usia muda mereka juga bisa untuk kembali merebut bola dengan cepat waktu kehilangan bola saat menyerang.

Strategi impian Lampard tersebut akan beradu dengan skuad solid yang dimiliki Klopp. Pasalnya, Liverpool nyaris tidak memiliki pemain baru dalam pemain-pemain utama mereka. Konstantinos Tsimikas yang dibeli di musim ini bukan pemain yang akan diproyeksikan Klopp sebagai pemain inti.

Chelsea's Timo Werner, left, is challenged by Brighton's goalkeeper Mathew Ryan during the English Premier League soccer match between Brighton and Chelsea at Falmer Stadium in Brighton, England, Monday, Sept. 14, 2020. (Glynn Kirk/Pool via AP)Timo Werner bisa jadi sandungan bagi Liverpool. (AP/Glynn Kirk)

Lampard juga akan belajar dari rapor buruk dengan Klopp (3 kali kalah, 1 kali menang). Setidaknya itu sudah ditunjukkan Lampard ketika menghadapi Ole Gunnar Solskjaer dan Manchester United.

Setelah tiga kali kalah dari Solskjaer di berbagai ajang, Lampard mampu menang di laga krusial saat Chelsea mengalahkan MU 1-3 di semifinal Piala FA.

Catatan itu juga yang bisa kembali dilakukan Lampard ketika melawan Liverpool di Stamford Bridge. Duel nanti ideal bagi Lampard untuk memperbaiki rapor pertemuan dengan Klopp.

Chelsea dan Liverpool sama-sama masuk dalam kandidat juara Liga Inggris musim ini. Merekrut Thiago Silva, Werner, Ben Chilwell, Ziyech, dan Havertz menempatkan The Blues ke dalam bursa calon juara 2019/2020.

Liverpool yang tidak kehilangan pemain utamanya juga tetap diunggulkan. Tim yang solid menjadi salah satu faktor klub asal Merseyside itu layak dijagokan.

Tuan rumah berpotensi besar mematahkan rapor apik Liverpool di Liga Inggris, sekaligus memperbaiki rekor yang kalah dalam empat laga terakhir dengan The Reds.

Lini belakang Chelsea yang sedikit rapuh bisa diperbaiki dengan kehadiran Thiago Silva yang sudah bergabung dengan tim. Dengan pertahanan yang apik, lini tengah serta depan bisa konsentrasi pada tugasnya masing-masing dan menang atas Liverpool.

Menghambat laju Liverpool sejak awal musim akan menarik bagi Liga Inggris di musim ini, karena tidak ada lagi dominasi Merseyside Merah di Premier League.

Sementara itu, Klopp mesti memutar otak agar lini belakang mereka bermain baik saat bersua Chelsea nanti. Pertahanan juara bertahan Liga Inggris itu tampak rapuh ketika melawan Leeds United sehingga gawang Alisson Becker tiga kali bobol.

Klopp perlu memastikan duet yang ideal bagi Virgil van Dijk di sektor bek tengah, lalu menempatkan gelandang yang bisa mendukung serangan serta pertahanan Liverpool dengan apik.

(jal)