Jakarta, CNN Indonesia -- Manchester United punya kans untuk tancap gas setelah hasil positif melawan Liverpool di Anfield akhir pekan lalu. Setan Merah wajib hukumnya terus meraih poin sempurna jika ingin berada di jalur menuju juara Liga Inggris.
Man Utd menunjukkan memiliki kapasitas untuk menjadi juara musim ini. Anak asuh Ole Gunnar Solskjaer itu membalikkan kritik-kritik tajam di awal musim menjadi catatan manis sejauh ini.
Man Utd mengarungi musim 2020/2021 layaknya tim medioker. Mereka sama sekali tak diperhitungkan apalagi difavoritkan menjadi juara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat saja enam laga awal Liga Inggris musim ini, mereka sudah tiga kali keok, dua kali menang, dan sekali seri.
Diawali laga perdana dengan kekalahan dari Crystal Palace 1-3 di Old Trafford. Lalu menang 3-2 lawan Brighton and Hove Albion. Namun kembali buruk di Old Trafford kala dipermak habis Tottenham Hotspur 1-6.
Selanjutnya mereka kembali menang 4-1 atas Newcastle United sebelum bermain imbang dengan Chelsea 0-0. Selanjutnya Bruno Fernandes dkk kembali kalah di Old Trafford 0-1 di tangan Arsenal.
Hasil buruk itu kian lengkap dengan performa mereka di Liga Champions. Ujung-ujungnya mereka gagal lolos dan terlempar ke Liga Europa.
 Man Utd sukses menahan imbang Liverpool 0-0 dan membuat The Reds melorot di papan klasemen. (AP/Michael Regan). |
Namun perlahan tapi pasti, Solskjaer seperti sudah menemukan ramuan manjur buat anak buahnya. Sejak kalah dari Arsenal, tren positif ditorehkan mereka di Liga Inggris.
Tercatat, Man Utd sudah melakoni 12 laga sejak kekalahan dari The Gunners tersebut. Hasilnya sangat luar biasa. Mereka tak pernah kalah, rinciannya sembilan kali menang, dan tiga kali seri.
Hasil positif terakhir diraih kala menahan imbang Liverpool, Minggu (17/1) WIB lalu. Meski cuma satu poin, tapi itu sudah cukup buat mengamankan Man Utd di puncak klasemen hingga pekan ke-18.
[Gambas:Video CNN]
Setidaknya mereka sukses membuat Liverpool melorot ke posisi keempat. Padahal The Reds menjadi favorit juara karena berstatus mereka merupakan juara bertahan.
Karena itu, Red Devils perlu menginjak pedal gas dalam-dalam di pertandingan-pertandingan berikutnya. Mereka tak boleh terpeleset, terutama ketika bertemu tim-tim gurem macam Fulham atau Sheffield United yang akan dihadapi hingga akhir bulan ini.
Di atas kertas, kedua tim harusnya bisa diatasi. Menilik skuad, Man Utd harusnya meraih enam poin dari dua laga tersebut untuk terus menjauh dari kejar-kejaran rival.
Jika terpeleset, seperti seri apalagi kalah, bukan tak mungkin mereka bisa disalip Manchester City. Apalagi kini Leicester City sudah resmi menempati peringkat teratas setelah kemenangan atas Chelsea, Rabu (20/1) dini hari.
Man Utd jelas harus waspada karena Man City juga mulai menemukan bentuk permainannya dengan selalu meraih hasil sempurna dalam lima laga terakhir. The Citizens akan menghadapi Aston Villa dan West Bromwich yang juga di atas kertas bisa mereka kalahkan.
Artinya jika Man Utd terpeleset dan Man City paripurna di dua laga itu, maka puncak klasemen bisa direbut anak asuh Josep Guardila.
Sementara Leicester setelah menumbangkan Chelsea akan bertemu Everton.
Pragmatisme Ole
Manajer Man Utd Ole Gunnar Solskjaer kerap bermain pragmatis demi meraih kemenangan. (AP/Peter Powell).
Solskjaer seperti sudah dikatakan di atas telah menemukan ramuan yang pas pada taktik dan strategi yang diusung.
Jika di awal musim, Man Utd terseok-seok karena Solskjaer belum punya formasi pakem, yang berimbas pada para pemainnya kesulitan di lapangan.
Solskjaer sejauh 18 laga berjalan telah menggunakan tiga formasi. Yakni 4-1-2-1-2, 4-3-1-2, dan 4-2-3-1. Namun formasi terakhir yang akhirnya menjadi pakemnya hingga kini.
Total Solskjaer sudah menerapkan formasi 4-2-3-1 di 16 laga. Dengan formasi itu, Man Utd dibuat bermain pragmatis. Empat bek mereka akan mendapat perlindungan dari dua jangkar di depannya.
Sementara tiga gelandang menjadi senjata andalan untuk mengkreasi peluang, termasuk untuk melancarkan serangan balik.
Dengan strategi tersebut, Man Utd punya Marcus Rashford, Mason Greenwoord, dan Bruno Fernandes maupun Daniel James, Juan Mata, Paul Pogba, Dony van de Beek. Di depan ada Anthony Martial atau Edinson Cavani menjadi penyelesai akhir.
Gaya main Man Utd di bawah kendali Solskjaer yang cenderung bermain menunggu lalu menghantam lewat serangan balik setidaknya sangat terbukti. Dari 16 laga, mereka meraih 10 kemenangan dan empat kali seri.
Tentu saja Solskjaer tak perlu naif untuk mengesampingkan taktik tersebut hingga akhir musim. Sebab permainan ini hanya akan dilihat melalui hasil akhir. Apapun caranya, yang terpenting Man Utd bisa menang dan memelihara kans untuk menjadi juara di akhir musim.