Manchester City kini sudah unggul tujuh angka atas Manchester United dan Leicester City. (AP/Rui Vieira)
Jakarta, CNN Indonesia --
Liga Inggris yang menunjukkan persaingan sengit di awal musim mendadak tak lagi menarik begitu kompetisi memasuki pertengahan Februari, terutama setelah berakhirnya pekan ke-24. Manchester City kini sulit dikejar dan punya tabungan poin yang cukup besar atas para pesaing.
Musim lalu Liga Inggris berjalan membosankan dan tak menarik karena Liverpool sangat dominan. Hal tersebut membuat mayoritas tak ada yang berani menjagokan tim lain untuk jadi juara Liga Inggris di luarLiverpool.
Dalam perjalanan musim ini, sejumlah tim sempat merasakan jadi pemuncak klasemen. Liverpool, Manchester United, Everton, Leicester City, Tottenham Hotspur, dan Manchester City pernah duduk di atas.Setelah momen tersebut, sempat ada harapan bahwa Liga Inggris musim ini berjalan sengit dan kompetitif. Bukan hanya kompetitif seperti musim 2018/2019 ketika Manchester City dan Liverpool bersaing ketat hingga meraih 98 dan 97 poin, melainkan pertarungan massal yang melibatkan banyak tim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Everton bahkan sempat jadi pemuncak klasemen Liga Inggris selama beberapa pekan. (AP/Nick Potts)
Pergeseran pucuk klasemen yang sering terjadi membuat Liga Inggris musim ini sempat jadi sulit diprediksi. Tim yang terpuruk bisa naik dan tim yang di papan atas bisa tiba-tiba meluncur ke bawah.
Selisih poin yang tipis antara penghuni empat besar yang diisi bergantian pun menjadi indikasi Liga Inggris mungkin bakal terus sengit dan tak bisa ditebak hingga pekan-pekan akhir.
Namun ternyata keseruan dan kemeriahan itu mendadak senyap seiring bergulirnya Liga Inggris dalam dua bulan terakhir.
Manchester City menyodok ke atas dan hal tersebut tidak diimbangi oleh respons bagus tim-tim pesaing.
Dalam waktu singkat, Manchester City kini punya keunggulan tujuh angka atas Manchester United dan Leicester City. Hal tersebut masih ditambah sisa satu laga lebih banyak yang berarti 'The Citizens' punya peluang memperlebar selisih poin menjadi 10 angka.
Pep Guardiola sudah menemukan formula yang pas sehingga Man City bisa solid di Liga Inggris dalam dua bulan terakhir. (AP/Peter Powell)
Manchester City Tak Lagi Alami Pasang Surut
Usai mengalami kesulitan akibat ketiadaan ujung tombak Sergio Aguero yang cedera plus Gabriel Jesus yang tak bisa menjawab kepercayaan, Pep Guardiola akhirnya sukses menemukan formula tepat yang membawa Man City terus berlari kencang di jalur kemenangan.
Total 'The Citizens' sejauh ini sudah mencatat 11 kemenangan beruntun di Liga Inggris plus 15 laga tak terkalahkan dengan rincian 13 kemenangan dan dua hasil imbang.
Dengan membaca gerak Liga Inggris musim ini yang penuh hasil mengejutkan, keberhasilan Man City bisa berlari kencang dan kini makin menjauh dari kejaran adalah karena mereka tak lagi terlibat dalam pusaran pasang-surut seperti halnya tim-tim lain.
Ketika Manchester United hanya meraih satu poin dalam duel lawan West Bromwich dan Sheffield United, saat Liverpool tiba-tiba kalah tiga kali beruntun di Anfield, Man City terus melaju meraup tiga poin dengan rakus.
Manchester United yang sempat memimpin klasemen malah melakukan kesalahan. (AP/Nick Potts)
Saat Chelsea tiba-tiba limbung dan berujung pemecatan Frank Lampard, Guardiola justru makin menemukan solusi untuk membentuk tim inti dan rotasi dengan materi pemain yang ada dalam skuadnya.
Saat Leicester, Everton, dan Tottenham Hotspur belum sepenuhnya bisa diharapkan jadi kuda hitam, Man City tak lagi pusing dalam hal pemilihan formasi pemain.
Kehadiran John Stones dan Ruben Dias di lini belakang jelas jadi pembeda bagi Manchester City musim ini. Man City yang selama ini dikenal sebagai tim ofensif berubah jadi tim dengan pertahanan terbaik.
Di lini tengah, Ilkay Gundogan tengah menikmati momen terbaiknya di Man City. Ia bisa tampil subur dan jadi bagian penting 'The Citizens', bahkan ketika Kevin De Bruyne berhalangan main.
Di lini depan, Guardiola sudah bisa melihat Man City kembali tampil subur tanpa Aguero. Ia memainkan false nine dengan beberapa kali memasang Phil Foden di lini depan.
Bulan Februari sejatinya jadi momen sulit bagi Man City karena mereka harus berjumpa Liverpool, Tottenham, Everton, Arsenal, dan West Ham United. Namun sejauh ini mereka lancar dan mulus mengantongi tiga poin di tiap pertandingan.
Hingga akhir Februari, Ederson dan kawan-kawan hanya tinggal dinanti laga lawan Everton dan Arsenal, plus West Ham yang bisa bersaing di papan atas sejauh ini.
Momen ini adalah kesempatan dan momen tepat bagi tim-tim lain di Liga Inggris berharap Man City bisa tergelincir atau malah mengalami periode buruk beruntun.
Di sisi lain, momen hingga akhir Februari adalah kesempatan Man City untuk memperlebar selisih poin menjadi dua digit karena mereka bakal memainkan sisa laga yang mereka miliki.
Namun alih-alih berharap Man City mengalami periode buruk, tim-tim lain juga harus fokus pada diri sendiri.
Tottenham juga tak mampu mengadang laju Manchester City. (AP/Shaun Botterhill)
Man Utd berjumpa Newcastle dan Chelsea sedangkan Leicester bertemu Aston Villa dan Arsenal. Lawan-lawan tersebut tentu tidak bisa dipandang sebagai lawan mudah untuk meraih tiga angka.
Sementara itu di kubu Liverpool, Jurgen Klopp sudah mengibarkan bendera putih dan realistis dalam perburuan gelar karena mereka sudah berselisih 13 angka, dengan kemungkinan melebar jadi 16 angka dari Man City.
Liverpool sendiri kini terperosok ke peringkat keenam sehingga kibaran bendera putih Klopp menjadi lebih masuk akal.
Chelsea memang tengah dalam tren positif dengan menyodok ke posisi keempat. Namun The Blues baru memiliki 42 poin sulit berharap bisa mengejar 'The Citizens'.
Kecuali bagi pendukung Man City, kompetisi Liga Inggris musim ini jelas mendadak tidak menarik memasuki pertengahan Februari. Kehebatan Man City keluar dari alur naik-turun membuat mereka bisa menjauh dari pesaing dalam waktu singkat.
Tim-tim lain kini hanya bisa fokus dalam perburuan jatah tiket Liga Champions yang lebih ketat, sambil berharap tiba-tiba Man City bisa tergelincir dan masuk dalam periode buruk di sejumlah laga mendatang.
Jakarta, CNN Indonesia --
Liga Inggris yang menunjukkan persaingan sengit di awal musim mendadak tak lagi menarik begitu kompetisi memasuki pertengahan Februari, terutama setelah berakhirnya pekan ke-24. Manchester City kini sulit dikejar dan punya tabungan poin yang cukup besar atas para pesaing.
Musim lalu Liga Inggris berjalan membosankan dan tak menarik karena Liverpool sangat dominan. Hal tersebut membuat mayoritas tak ada yang berani menjagokan tim lain untuk jadi juara Liga Inggris di luarLiverpool.
Dalam perjalanan musim ini, sejumlah tim sempat merasakan jadi pemuncak klasemen. Liverpool, Manchester United, Everton, Leicester City, Tottenham Hotspur, dan Manchester City pernah duduk di atas.Setelah momen tersebut, sempat ada harapan bahwa Liga Inggris musim ini berjalan sengit dan kompetitif. Bukan hanya kompetitif seperti musim 2018/2019 ketika Manchester City dan Liverpool bersaing ketat hingga meraih 98 dan 97 poin, melainkan pertarungan massal yang melibatkan banyak tim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Everton bahkan sempat jadi pemuncak klasemen Liga Inggris selama beberapa pekan. (AP/Nick Potts)
Pergeseran pucuk klasemen yang sering terjadi membuat Liga Inggris musim ini sempat jadi sulit diprediksi. Tim yang terpuruk bisa naik dan tim yang di papan atas bisa tiba-tiba meluncur ke bawah.
Selisih poin yang tipis antara penghuni empat besar yang diisi bergantian pun menjadi indikasi Liga Inggris mungkin bakal terus sengit dan tak bisa ditebak hingga pekan-pekan akhir.
Namun ternyata keseruan dan kemeriahan itu mendadak senyap seiring bergulirnya Liga Inggris dalam dua bulan terakhir.
Manchester City menyodok ke atas dan hal tersebut tidak diimbangi oleh respons bagus tim-tim pesaing.
Dalam waktu singkat, Manchester City kini punya keunggulan tujuh angka atas Manchester United dan Leicester City. Hal tersebut masih ditambah sisa satu laga lebih banyak yang berarti 'The Citizens' punya peluang memperlebar selisih poin menjadi 10 angka.
Pep Guardiola sudah menemukan formula yang pas sehingga Man City bisa solid di Liga Inggris dalam dua bulan terakhir. (AP/Peter Powell)
Manchester City Tak Lagi Alami Pasang Surut
Usai mengalami kesulitan akibat ketiadaan ujung tombak Sergio Aguero yang cedera plus Gabriel Jesus yang tak bisa menjawab kepercayaan, Pep Guardiola akhirnya sukses menemukan formula tepat yang membawa Man City terus berlari kencang di jalur kemenangan.
Total 'The Citizens' sejauh ini sudah mencatat 11 kemenangan beruntun di Liga Inggris plus 15 laga tak terkalahkan dengan rincian 13 kemenangan dan dua hasil imbang.
Dengan membaca gerak Liga Inggris musim ini yang penuh hasil mengejutkan, keberhasilan Man City bisa berlari kencang dan kini makin menjauh dari kejaran adalah karena mereka tak lagi terlibat dalam pusaran pasang-surut seperti halnya tim-tim lain.
Ketika Manchester United hanya meraih satu poin dalam duel lawan West Bromwich dan Sheffield United, saat Liverpool tiba-tiba kalah tiga kali beruntun di Anfield, Man City terus melaju meraup tiga poin dengan rakus.
Manchester United yang sempat memimpin klasemen malah melakukan kesalahan. (AP/Nick Potts)
Saat Chelsea tiba-tiba limbung dan berujung pemecatan Frank Lampard, Guardiola justru makin menemukan solusi untuk membentuk tim inti dan rotasi dengan materi pemain yang ada dalam skuadnya.
Saat Leicester, Everton, dan Tottenham Hotspur belum sepenuhnya bisa diharapkan jadi kuda hitam, Man City tak lagi pusing dalam hal pemilihan formasi pemain.
Kehadiran John Stones dan Ruben Dias di lini belakang jelas jadi pembeda bagi Manchester City musim ini. Man City yang selama ini dikenal sebagai tim ofensif berubah jadi tim dengan pertahanan terbaik.
Di lini tengah, Ilkay Gundogan tengah menikmati momen terbaiknya di Man City. Ia bisa tampil subur dan jadi bagian penting 'The Citizens', bahkan ketika Kevin De Bruyne berhalangan main.
Di lini depan, Guardiola sudah bisa melihat Man City kembali tampil subur tanpa Aguero. Ia memainkan false nine dengan beberapa kali memasang Phil Foden di lini depan.
Manchester City tetap tampil impresif meski menghadapi jadwal berat di Februari. (AP/Jon Super)
Bulan Februari sejatinya jadi momen sulit bagi Man City karena mereka harus berjumpa Liverpool, Tottenham, Everton, Arsenal, dan West Ham United. Namun sejauh ini mereka lancar dan mulus mengantongi tiga poin di tiap pertandingan.
Hingga akhir Februari, Ederson dan kawan-kawan hanya tinggal dinanti laga lawan Everton dan Arsenal, plus West Ham yang bisa bersaing di papan atas sejauh ini.
Momen ini adalah kesempatan dan momen tepat bagi tim-tim lain di Liga Inggris berharap Man City bisa tergelincir atau malah mengalami periode buruk beruntun.
Di sisi lain, momen hingga akhir Februari adalah kesempatan Man City untuk memperlebar selisih poin menjadi dua digit karena mereka bakal memainkan sisa laga yang mereka miliki.
Namun alih-alih berharap Man City mengalami periode buruk, tim-tim lain juga harus fokus pada diri sendiri.
Tottenham juga tak mampu mengadang laju Manchester City. (AP/Shaun Botterhill)
Man Utd berjumpa Newcastle dan Chelsea sedangkan Leicester bertemu Aston Villa dan Arsenal. Lawan-lawan tersebut tentu tidak bisa dipandang sebagai lawan mudah untuk meraih tiga angka.
Sementara itu di kubu Liverpool, Jurgen Klopp sudah mengibarkan bendera putih dan realistis dalam perburuan gelar karena mereka sudah berselisih 13 angka, dengan kemungkinan melebar jadi 16 angka dari Man City.
Liverpool sendiri kini terperosok ke peringkat keenam sehingga kibaran bendera putih Klopp menjadi lebih masuk akal.
Chelsea memang tengah dalam tren positif dengan menyodok ke posisi keempat. Namun The Blues baru memiliki 42 poin sulit berharap bisa mengejar 'The Citizens'.
Kecuali bagi pendukung Man City, kompetisi Liga Inggris musim ini jelas mendadak tidak menarik memasuki pertengahan Februari. Kehebatan Man City keluar dari alur naik-turun membuat mereka bisa menjauh dari pesaing dalam waktu singkat.
Tim-tim lain kini hanya bisa fokus dalam perburuan jatah tiket Liga Champions yang lebih ketat, sambil berharap tiba-tiba Man City bisa tergelincir dan masuk dalam periode buruk di sejumlah laga mendatang.