Liverpool bisa tersandung saat bertamu ke RB Leipzig jika tak melakukan perubahan. (AP/Michael Regan).
Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga kekalahan beruntun di Liga Inggris membuat tanda bahaya dari Liverpool menyala menjelang lawan RB Leipzig di leg pertama 16 besar Liga Champions.
Liverpool benar-benar dalam momen yang tidak pas menjelang lawan Leipzig, Rabu (17/2) dini hari WIB nanti. Hasil negatif The Reds selama dua pekan pertama Februari ini pasti akan sangat berdampak pada moral dan mental anak asuh Jurgen Klopp.
Sangat mungkin Mohamed Salah cs limbung saat bermain di Stadion Puskas Arena, Rabu dini hari nanti. Moral jatuh, mental berantakan, jelas berpengaruh pada kepercayaan diri mereka, apalagi Leipzig bukan tim semenjana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Leipzig punya modal bagus. Pasukan Julian Nagelsmann itu baru sekali kalah dalam enam laga terakhir, bahkan empat laga beruntun diakhiri dengan kemenangan.
Sama seperti musim lalu, Leipzig terus melanjutkan permainan impresif di musim ini. Mereka menghuni posisi kedua di klasemen, tertinggal lima angka dari Bayern Munchen di puncak.
Sementara Liverpool terakhir menang saat mengandaskan West Ham United 3-1 pada akhir Januari lalu. Setelah itu, selama dua pekan di bulan Februari The Kop menjalani tiga laga yang semua berakhir tragis.
Memarkir Alisson Becker bisa jadi opsi buat Jurgen Klopp jelang Liverpool lawan RB Leipzig. (AP/Paul Ellis).
Dimulai kekalahan 0-1 dari tim papan bawah Brighton & Hove Albion, lalu berlanjut digilas Manchester City 1-4. Terakhir mereka dipermalukan Leicester 1-3.
Ujung-ujungnya The Anfield Gank terlempar dari zona Liga Champions. Dari peringkat keempat, kini di posisi keenam digeser Chelsea dan West Ham yang meraih hasil maksimal pada pekan 24.
Adapun dua kekalahan terakhir tak terlepas dari blunder Alisson Becker. Melawan Man City, kiper Brasil itu memberi dua 'assist' untuk gol kedua dan ketiga The Citizens.
Pun begitu ketika bertandang ke markas The Foxes, Alisson kembali bikin blunder. Saat skor masih 1-1, dia justru keluar dari sarang dengan niat menghalau bola namun malah jatuh di kaki Jamie Vardy yang dengan riang gembira menceploskan bola ke gawang kosong.
Tentu saja, Klopp perlu mempertimbangkan dengan amat sangat jika ingin memainkan Alisson melawan Leipzig. Jelas, mental Alisson yang paling parah jatuh di skuad utama karena tiga blunder dalam dua laga.
Klopp sejatinya masih punya dua kiper di bangku cadangan, yakni Adrian dan Caoimhin Kelleher. Keduanya beberapa kali diberi kesempatan tampil oleh Klopp ketika Alisson cedera.
Memainkan salah satu dari Adrian atau Kelleher bisa menjadi opsi untuk Klopp. Dengan memarkir Alisson tentu bisa membuat lini belakang percaya pada kiper 'baru', setidaknya mereka percaya Adrian atau Kelleher tak membuat blunder.
Kepercayaan antar pemain akan membuat kaki-kaki para pemain The Reds ringan dalam bermain. Mengingat selama ini Klopp kerap membangun serangan dari bawah. Tentu dampaknya bisa positif.
Liverpool musim ini bisa dibilang apes. Badai cedera yang silih berganti menerpa, terutama lini belakang. Virgil Van Dijk dan Joe Gomez hingga hari ini belum kembali dari ruang perawatan, demikian pula dengan Joel Matip yang cedera, pulih, tapi cedera lagi.
Di skuad Liverpool, sejatinya ada bek-bek muda semacam Rhys Williams dan Nathaniel Philips, namun belum sepenuhnya dipercaya Klopp. Sementara dua bek baru Ozan Kabak dan Ben Davies yang datang di bursa transfer musim dingin ini butuh waktu untuk nyetel dengan permainan tim.
Tentu saja krisis lini belakang mengikis lini tengah Liverpool. Klopp beberapa kali memaksa dua gelandangnya, Fabinho dan Jordan Henderson bermain sebagai bek tengah. Parahnya lagi Fabinho juga kerap cedera.
Di tengah, Klopp masih punya Thiago Alcantara, Gini Wijnaldum, Alex Oxlade-Chamberlain, Curtis Jones, James Milner, dan Naby Keita. Nama terakhir masih dalam pemulihan cedera.
Komposisinya, Klopp di laga-laga terakhir kerap memainkan Thiago, Wijnaldum, serta Jones atau Milner. Trio lini tengah tersebut sejauh ini tak mampu memberi perubahan ke arah positif. Yang ada mereka justru minim kreativitas, kalah bertenaga, dan kepayahan dalam membantu Roberto Firmino, Mohamed Salah, dan Sadio Mane di lini depan.
RB Leipzig jadi lawan tangguh buat Liverpool yang tengah berdarah-darah. (AP/Jan Woitas).
Dengan segala keterbatasan itu, Klopp juga masih mengandalkan pakem 4-3-3 dengan gaya gegenpressing dan agresivitas saat menyerang. Masalahnya semua itu luntur ketika bertemu dengan tim-tim yang punya pertahanan kuat atau cenderung bermain ultra-defensif.
Saat kalah 0-1 dari Burnley dan Brighton, terlihat jelas bagaimana mereka menemui kebuntuan di depan. Alih-alih menciptakan peluang, mereka justru kesulitan menembus pertahanan lawan.
Pun begitu ketika menghadapi Man City dan Leicester, Liverpool tak berkutik. Lini tengah mereka tak mampu mengkreasi bola ketika menyerang dan kewalahan ketika diserang.
Dengan kondisi itu, Klopp rasa-rasanya perlu mengubah pakem dan gaya bermain saat melawat ke Leipzig. Tak harus melulu agresif, tapi perlu dibarengi kreativitas dan kekuatan di lini belakang.
Klopp saat ini perlu membuat pertahanan mereka kuat. Berkaca pada Pep Guardiola yang mampu mengubah strategi dan gaya bermain Man City yang kini lebih mementingkan pertahanan kuat diiringi keluwesan lini tengah, tapi tetap membuat Raheem Sterling cs sangar di kotak penalti lawan.
Jika tidak ada perubahan pakem dari Klopp, bukan tidak mungkin Liverpool tak bisa bangkit lagi setelah terjatuh.
Jakarta, CNN Indonesia --
Tiga kekalahan beruntun di Liga Inggris membuat tanda bahaya dari Liverpool menyala menjelang lawan RB Leipzig di leg pertama 16 besar Liga Champions.
Liverpool benar-benar dalam momen yang tidak pas menjelang lawan Leipzig, Rabu (17/2) dini hari WIB nanti. Hasil negatif The Reds selama dua pekan pertama Februari ini pasti akan sangat berdampak pada moral dan mental anak asuh Jurgen Klopp.
Sangat mungkin Mohamed Salah cs limbung saat bermain di Stadion Puskas Arena, Rabu dini hari nanti. Moral jatuh, mental berantakan, jelas berpengaruh pada kepercayaan diri mereka, apalagi Leipzig bukan tim semenjana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Leipzig punya modal bagus. Pasukan Julian Nagelsmann itu baru sekali kalah dalam enam laga terakhir, bahkan empat laga beruntun diakhiri dengan kemenangan.
Sama seperti musim lalu, Leipzig terus melanjutkan permainan impresif di musim ini. Mereka menghuni posisi kedua di klasemen, tertinggal lima angka dari Bayern Munchen di puncak.
Sementara Liverpool terakhir menang saat mengandaskan West Ham United 3-1 pada akhir Januari lalu. Setelah itu, selama dua pekan di bulan Februari The Kop menjalani tiga laga yang semua berakhir tragis.
Memarkir Alisson Becker bisa jadi opsi buat Jurgen Klopp jelang Liverpool lawan RB Leipzig. (AP/Paul Ellis).
Dimulai kekalahan 0-1 dari tim papan bawah Brighton & Hove Albion, lalu berlanjut digilas Manchester City 1-4. Terakhir mereka dipermalukan Leicester 1-3.
Ujung-ujungnya The Anfield Gank terlempar dari zona Liga Champions. Dari peringkat keempat, kini di posisi keenam digeser Chelsea dan West Ham yang meraih hasil maksimal pada pekan 24.
Adapun dua kekalahan terakhir tak terlepas dari blunder Alisson Becker. Melawan Man City, kiper Brasil itu memberi dua 'assist' untuk gol kedua dan ketiga The Citizens.
Pun begitu ketika bertandang ke markas The Foxes, Alisson kembali bikin blunder. Saat skor masih 1-1, dia justru keluar dari sarang dengan niat menghalau bola namun malah jatuh di kaki Jamie Vardy yang dengan riang gembira menceploskan bola ke gawang kosong.
Tentu saja, Klopp perlu mempertimbangkan dengan amat sangat jika ingin memainkan Alisson melawan Leipzig. Jelas, mental Alisson yang paling parah jatuh di skuad utama karena tiga blunder dalam dua laga.
Klopp sejatinya masih punya dua kiper di bangku cadangan, yakni Adrian dan Caoimhin Kelleher. Keduanya beberapa kali diberi kesempatan tampil oleh Klopp ketika Alisson cedera.
Memainkan salah satu dari Adrian atau Kelleher bisa menjadi opsi untuk Klopp. Dengan memarkir Alisson tentu bisa membuat lini belakang percaya pada kiper 'baru', setidaknya mereka percaya Adrian atau Kelleher tak membuat blunder.
Kepercayaan antar pemain akan membuat kaki-kaki para pemain The Reds ringan dalam bermain. Mengingat selama ini Klopp kerap membangun serangan dari bawah. Tentu dampaknya bisa positif.
Perubahan di Tengah Keterbatasan
Jurgen Klopp perlu merombak strategi dan melakukan perubahan untuk membangkitkan Liverpool. (Pool via REUTERS/LAURENCE GRIFFITHS).
Liverpool musim ini bisa dibilang apes. Badai cedera yang silih berganti menerpa, terutama lini belakang. Virgil Van Dijk dan Joe Gomez hingga hari ini belum kembali dari ruang perawatan, demikian pula dengan Joel Matip yang cedera, pulih, tapi cedera lagi.
Di skuad Liverpool, sejatinya ada bek-bek muda semacam Rhys Williams dan Nathaniel Philips, namun belum sepenuhnya dipercaya Klopp. Sementara dua bek baru Ozan Kabak dan Ben Davies yang datang di bursa transfer musim dingin ini butuh waktu untuk nyetel dengan permainan tim.
Tentu saja krisis lini belakang mengikis lini tengah Liverpool. Klopp beberapa kali memaksa dua gelandangnya, Fabinho dan Jordan Henderson bermain sebagai bek tengah. Parahnya lagi Fabinho juga kerap cedera.
Di tengah, Klopp masih punya Thiago Alcantara, Gini Wijnaldum, Alex Oxlade-Chamberlain, Curtis Jones, James Milner, dan Naby Keita. Nama terakhir masih dalam pemulihan cedera.
Komposisinya, Klopp di laga-laga terakhir kerap memainkan Thiago, Wijnaldum, serta Jones atau Milner. Trio lini tengah tersebut sejauh ini tak mampu memberi perubahan ke arah positif. Yang ada mereka justru minim kreativitas, kalah bertenaga, dan kepayahan dalam membantu Roberto Firmino, Mohamed Salah, dan Sadio Mane di lini depan.
RB Leipzig jadi lawan tangguh buat Liverpool yang tengah berdarah-darah. (AP/Jan Woitas).
Dengan segala keterbatasan itu, Klopp juga masih mengandalkan pakem 4-3-3 dengan gaya gegenpressing dan agresivitas saat menyerang. Masalahnya semua itu luntur ketika bertemu dengan tim-tim yang punya pertahanan kuat atau cenderung bermain ultra-defensif.
Saat kalah 0-1 dari Burnley dan Brighton, terlihat jelas bagaimana mereka menemui kebuntuan di depan. Alih-alih menciptakan peluang, mereka justru kesulitan menembus pertahanan lawan.
Pun begitu ketika menghadapi Man City dan Leicester, Liverpool tak berkutik. Lini tengah mereka tak mampu mengkreasi bola ketika menyerang dan kewalahan ketika diserang.
Dengan kondisi itu, Klopp rasa-rasanya perlu mengubah pakem dan gaya bermain saat melawat ke Leipzig. Tak harus melulu agresif, tapi perlu dibarengi kreativitas dan kekuatan di lini belakang.
Klopp saat ini perlu membuat pertahanan mereka kuat. Berkaca pada Pep Guardiola yang mampu mengubah strategi dan gaya bermain Man City yang kini lebih mementingkan pertahanan kuat diiringi keluwesan lini tengah, tapi tetap membuat Raheem Sterling cs sangar di kotak penalti lawan.
Jika tidak ada perubahan pakem dari Klopp, bukan tidak mungkin Liverpool tak bisa bangkit lagi setelah terjatuh.