Belanda kembali dipandang di Euro 2020. (REUTERS/PIROSCHKA VAN DE WOUW)
Jakarta, CNN Indonesia --
Belanda sudah mempertontonkan bagaimana sepak bola menyerang era baru di bawah arahan Frank De Boer pada Euro 2020 (Euro 2021), namun impian meraih mahkota Eropa bisa saja dirusak Republik Ceko di babak 16 besar.
De Oranje tampil memesona seketika menjalani laga pertama Piala Eropa melawan Ukraina. Belanda bak mempertontonkan sebuah drama tiga babak. Diawali permainan ofensif, kemudian berlanjut dengan kelengahan, dan ditutup sebuah akhir bahagia berupa kebangkitan dan kemenangan.
Setelah laga pertama tersebut, Belanda mulai mendapat perhatian. Georginio Wijnaldum dan kawan-kawan yang tidak masuk dalam unggulan utama dalam masa pengundian grup Euro 2020 kemudian diperhitungkan.
Kemenangan atas Austria dan Ukraina kemudian mulai membuat Belanda dapat angin segar setelah tahun-tahun kelam kegagalan lolos ke Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.
Fase grup telah dilalui, Belanda kini menjadi salah satu kandidat juara di 15 kesebelasan lainnya. Melihat bagan fase gugur, juara Euro 1988 itu punya kans melangkah jauh hingga ke Stadion Wembley, London, untuk mengikuti partai final.
Sebelum sampai di sana, Ceko akan menjadi lawan yang mencoba mengadang laju Belanda. Bukan lawan enteng, tetapi juga bukan tim unggulan.
Belanda mengemas delapan gol di fase grup Euro 2020. (Olaf Kraak, Pool via AP)
Menghadapi Ceko yang menempati peringkat ketiga di Grup D, formula Belanda tak akan berubah.
Pendekatan sepak bola menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan seperti yang dialihterjemahkan dalam formasi 3-5-2 bakal jadi andalan merontokkan Ceko.
Bermain dengan menguasai bola sebanyak-banyaknya adalah opsi yang sudah diperlihatkan dalam tiga laga sebelumnya. Dengan cara ini, Belanda bisa menjajah penguasaan bola saat melawan Ceko. Selain itu kemampuan individu pemain dalam melakukan dribel adalah cara lain membongkar pertahanan lawan.
Aliran bola dari sayap hasil kreasi Patrick van Aanholt atau Denzel Dumfries dengan kombinasi bersama pemain lain bisa dibilang sebuah pola yang bisa menjadi jalur maut bagi lawan.
Dalam tiga laga sisi kiri yang dihuni Van Aanholt menjadi lajur dominan Belanda dalam menyerang. Setidaknya 40 persen serangan berawal dari sisi tersebut.
Serangan sayap ini kemudian membuat Belanda bisa melepaskan rata-rata belasan upaya mencetak gol dalam setiap pertandingan di Grup C.
Serangan yang kokoh dan terstruktur dari belakang ke depan adalah salah satu keunggulan Belanda.
Hanya saja yang menjadi masalah adalah penyelesaian peluang. Delapan gol dari 40 lebih tendangan ke arah gawang adalah fakta Belanda belum begitu mematikan dalam penyelesaian akhir meski ketika sedang memegang bola bisa membuat lawan tertekan.
Satu masalah lagi yang bisa menjadi permasalahan bagi Belanda adalah keteledoran lini belakang, seperti yang terjadi di laga pertama ketika menyisakan ruang saat bertemu Ukraina. Melawan Ceko, bisa jadi Belanda akan dihukum serupa ketika Andriy Yarmolenko dan Roman Yaremchuk memberi noda pada gawang Maarten Stekelenburg.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya...
Di babak 16 besar Euro 2020, Belanda yang kerap mendominasi lawan mungkin saja akan menemui garis pertahanan yang rendah. Tetapi tak selamanya Ceko meladeni lawan dengan cara seperti itu.
Kendati bisa saja menumpuk pemain di belakang, Ceko agaknya lebih nyaman jika bermain normal. Belanda wajib waspada dengan pilihan bermain Ceko yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, baik secara terbuka atau gerilya.
Gol spektakuler Patrick Schick ke gawang Skotlandia, atau kemampuan melepaskan peluang lebih banyak dari Inggris di laga terakhir fase grup menunjukkan pelatih Jaroslav Silhavy yang kadung sreg dengan formasi 4-5-1 sejatinya siap bermain menyerang kapan pun.
Yang menjadi perhatian adalah kreativitas Belanda. Ceko sedikit kesulitan ketika meladeni Inggris yang tampil dengan daya cipta yang lebih bagus ketimbang di dua laga awal.
Di tengah ancaman Belanda tersebut, Ceko harus kehilangan salah satu pemain kunci di lini belakang. Jan Boril harus menjalani hukuman akumulasi kartu setelah melawan Inggris.
Ceko memiliki dasar bermain menyerang di bawah arahan pelatih Jaroslav Silhavy. (Justin Tallis, Pool photo via AP)
Tak cuma perihal keutuhan dalam bermain bertahan, kehilangan Boril berarti Ceko juga akan mengalami problem kepincangan dalam menyerang. Sama seperti Belanda, Ceko pun cukup mengandalkan kedua sayap yang didukung keberadaan Boril sebagai full back kiri.
Belanda belum tentu diuntungkan tanpa Boril di tim Ceko karena masih ada Vladimir Coufal yang tampil konsisten di full back kanan.
Selain itu Schick juga akan didukung trio Jakub Jankto, Vladimir Darida, dan Lukas Masopust yang harus diredam trio Marten De Roon, Frenkie De Jong, dan Wijnaldum.
Meski bukan unggulan, Ceko juga memiliki hasrat meraih prestasi tertinggi. Angkatan Schick dan kawan-kawan ingin kembali membuai Eropa dengan prestasi yang pernah dicatatkan senior-senior macam Karel Poborsky dan Patrik Berger yang bisa membawa Ceko ke final Euro 1996. Sebuah capaian yang bahkan tak bisa direngkuh saat Petr Cech dan Jan Koller memperkuat Ceko.
Menilik kekuatan sayap dan gaya main yang cenderung sama-sama menitikberatkan pada penguasaan bola, pertandingan Belanda vs Ceko diprediksi bakal berjalan terbuka dan daya kreasi menghadirkan permainan yang tidak monoton bisa menentukan hasil akhir laga.
Belanda sudah mempertontonkan bagaimana sepak bola menyerang era baru di bawah arahan Frank De Boer pada Euro 2020 (Euro 2021), namun impian meraih mahkota Eropa bisa saja dirusak Republik Ceko di babak 16 besar.
De Oranje tampil memesona seketika menjalani laga pertama Piala Eropa melawan Ukraina. Belanda bak mempertontonkan sebuah drama tiga babak. Diawali permainan ofensif, kemudian berlanjut dengan kelengahan, dan ditutup sebuah akhir bahagia berupa kebangkitan dan kemenangan.
Setelah laga pertama tersebut, Belanda mulai mendapat perhatian. Georginio Wijnaldum dan kawan-kawan yang tidak masuk dalam unggulan utama dalam masa pengundian grup Euro 2020 kemudian diperhitungkan.
Kemenangan atas Austria dan Ukraina kemudian mulai membuat Belanda dapat angin segar setelah tahun-tahun kelam kegagalan lolos ke Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2018.
Fase grup telah dilalui, Belanda kini menjadi salah satu kandidat juara di 15 kesebelasan lainnya. Melihat bagan fase gugur, juara Euro 1988 itu punya kans melangkah jauh hingga ke Stadion Wembley, London, untuk mengikuti partai final.
Sebelum sampai di sana, Ceko akan menjadi lawan yang mencoba mengadang laju Belanda. Bukan lawan enteng, tetapi juga bukan tim unggulan.
Belanda mengemas delapan gol di fase grup Euro 2020. (Olaf Kraak, Pool via AP)
Menghadapi Ceko yang menempati peringkat ketiga di Grup D, formula Belanda tak akan berubah.
Pendekatan sepak bola menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan seperti yang dialihterjemahkan dalam formasi 3-5-2 bakal jadi andalan merontokkan Ceko.
Bermain dengan menguasai bola sebanyak-banyaknya adalah opsi yang sudah diperlihatkan dalam tiga laga sebelumnya. Dengan cara ini, Belanda bisa menjajah penguasaan bola saat melawan Ceko. Selain itu kemampuan individu pemain dalam melakukan dribel adalah cara lain membongkar pertahanan lawan.
Aliran bola dari sayap hasil kreasi Patrick van Aanholt atau Denzel Dumfries dengan kombinasi bersama pemain lain bisa dibilang sebuah pola yang bisa menjadi jalur maut bagi lawan.
Dalam tiga laga sisi kiri yang dihuni Van Aanholt menjadi lajur dominan Belanda dalam menyerang. Setidaknya 40 persen serangan berawal dari sisi tersebut.
Serangan sayap ini kemudian membuat Belanda bisa melepaskan rata-rata belasan upaya mencetak gol dalam setiap pertandingan di Grup C.
Serangan yang kokoh dan terstruktur dari belakang ke depan adalah salah satu keunggulan Belanda.
Hanya saja yang menjadi masalah adalah penyelesaian peluang. Delapan gol dari 40 lebih tendangan ke arah gawang adalah fakta Belanda belum begitu mematikan dalam penyelesaian akhir meski ketika sedang memegang bola bisa membuat lawan tertekan.
Satu masalah lagi yang bisa menjadi permasalahan bagi Belanda adalah keteledoran lini belakang, seperti yang terjadi di laga pertama ketika menyisakan ruang saat bertemu Ukraina. Melawan Ceko, bisa jadi Belanda akan dihukum serupa ketika Andriy Yarmolenko dan Roman Yaremchuk memberi noda pada gawang Maarten Stekelenburg.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya...
Ceko Bisa Ladeni Permainan Terbuka Belanda
Ceko punya potensi mengadang Belanda. (AP/Paul Ellis)
Di babak 16 besar Euro 2020, Belanda yang kerap mendominasi lawan mungkin saja akan menemui garis pertahanan yang rendah. Tetapi tak selamanya Ceko meladeni lawan dengan cara seperti itu.
Kendati bisa saja menumpuk pemain di belakang, Ceko agaknya lebih nyaman jika bermain normal. Belanda wajib waspada dengan pilihan bermain Ceko yang bisa menyesuaikan diri dengan keadaan, baik secara terbuka atau gerilya.
Gol spektakuler Patrick Schick ke gawang Skotlandia, atau kemampuan melepaskan peluang lebih banyak dari Inggris di laga terakhir fase grup menunjukkan pelatih Jaroslav Silhavy yang kadung sreg dengan formasi 4-5-1 sejatinya siap bermain menyerang kapan pun.
Yang menjadi perhatian adalah kreativitas Belanda. Ceko sedikit kesulitan ketika meladeni Inggris yang tampil dengan daya cipta yang lebih bagus ketimbang di dua laga awal.
Di tengah ancaman Belanda tersebut, Ceko harus kehilangan salah satu pemain kunci di lini belakang. Jan Boril harus menjalani hukuman akumulasi kartu setelah melawan Inggris.
Ceko memiliki dasar bermain menyerang di bawah arahan pelatih Jaroslav Silhavy. (Justin Tallis, Pool photo via AP)
Tak cuma perihal keutuhan dalam bermain bertahan, kehilangan Boril berarti Ceko juga akan mengalami problem kepincangan dalam menyerang. Sama seperti Belanda, Ceko pun cukup mengandalkan kedua sayap yang didukung keberadaan Boril sebagai full back kiri.
Belanda belum tentu diuntungkan tanpa Boril di tim Ceko karena masih ada Vladimir Coufal yang tampil konsisten di full back kanan.
Selain itu Schick juga akan didukung trio Jakub Jankto, Vladimir Darida, dan Lukas Masopust yang harus diredam trio Marten De Roon, Frenkie De Jong, dan Wijnaldum.
Meski bukan unggulan, Ceko juga memiliki hasrat meraih prestasi tertinggi. Angkatan Schick dan kawan-kawan ingin kembali membuai Eropa dengan prestasi yang pernah dicatatkan senior-senior macam Karel Poborsky dan Patrik Berger yang bisa membawa Ceko ke final Euro 1996. Sebuah capaian yang bahkan tak bisa direngkuh saat Petr Cech dan Jan Koller memperkuat Ceko.
Menilik kekuatan sayap dan gaya main yang cenderung sama-sama menitikberatkan pada penguasaan bola, pertandingan Belanda vs Ceko diprediksi bakal berjalan terbuka dan daya kreasi menghadirkan permainan yang tidak monoton bisa menentukan hasil akhir laga.