Nil Maizar menjadi salah satu pelatih yang diperhitungkan di Liga 2 2021. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
4. Nilmaizar
Sebagai mantan pelatih Timnas Indonesia dan mengantar Semen Padang FC juara Liga Primer Indonesia 2011/2012, sentuhan Nilmaizar tak diragukan. Hanya saja Nil juga punya catatan buruk.
Ia adalah salah satu pelatih yang bertanggung jawab Semen Padang degradasi pada 2017. Sebelum dipecat manajemen klub, Kabau Sirah hanya meraih satu poin dari lima pertandingan beruntun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersama Sriwijaya FC, Nil berambisi mengangkat harkat klub asal Sumatera Selatan tersebut. Bersaing dengan klub-klub lawas Sumatera lainnya, seperti PSMS Medan dan PSPS Riau, kualitas Nil akan diuji.
5. Alfredo Vera
Walau berpaspor Argentina, Angel Alfredo Vera tak pernah berpaling dari Indonesia sejak 2005. Begitu gantung sepatu Vera memutuskan merintis karier di Indonesia. Awalnya pahit, tetapi kini mulai manis.
Pelatih 49 tahun ini mengantar Persipura Jayapura menjadi kampiun Indonesia Soccer Championship 2016, yang merupakan turnamen rasa kompetisi. Musim berikutnya ia membawa Persebaya juara Liga 2 2017.
Dengan sentuhan yang moncer Persiba Balikpapan memagarinya rapat-rapat saat klub lain mendekat. Klub binaan I Gede Widiade ini berambisi kembali ke kasta tertinggi dan Vera jadi salah satu tumpuannya.
6. Seto Nurdiantoro
Sempat digadang-gadang menjadi pelatih Timnas Indonesia menggantikan Simon McMenemy, Seto Nurdiyantoro malah melatih PSIM Yogyakarta. Ini keputusan yang mengejutkan sebab beberapa klub Liga 1 meminati.
Jam terbangnya sebagai pelatih pembawa berkah pun mulai teruji. Seto membuat PS Sleman (PSS) meraih gelar juara Liga 2 2018 dan menyulap tim jadi garang di Liga 1 2019 meski dihuni pemain level kedua.
Seto berambisi membawa tim berusia 92 tahun tersebut naik kasta, seperti era Perserikatan dan Liga Indonesia. Dengan kecakapan Seto bukan tidak mungkin Laskar Mataram bisa naik kasta pada akhir musim nanti.
7. Jafri Sastra
Datang pada hari-hari terakhir menjelang Liga 2 2021 kick off, Jafri Sastra tetap berpotensi memberikan kejutan untuk PSPS Riau. Hal serupa ia buktikan dengan menjadi juara Piala Jenderal Sudirman 2015 bersama Mitra Kukar.
Namun setelah itu Jafri gonta-ganti klub. Delapan klub telah ia tangani dalam lima tahun terakhir. Jafri dipecat oleh klub yang ia tangani karena performanya tak sesuai harapan dan keinginan.
Kini bersama PSPS pelatih asal Padang ini ingin kembali menegaskan posisinya di belantika sepak bola nasional. Ini tak lain karena manajemen PSPS sangat serius menatap kompetisi bersama manajemen baru.
(abd/rhr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Liga 2 2021 yang dimulai Minggu (26/9) akan menjadi medan tempur pelatih juara. Berikut adalah tujuh arsitek klub kasta kedua yang bertangan dingin.
Di belantika sepak bola Indonesia tak dipungkiri pelatih juara selalu bertuah. Hal ini pula yang menjadi dasar klub-klub yang ingin promosi ke kasta tertinggi mendatangkan pelatih yang pernah juara.
Selain tujuh pelatih yang pernah meraih gelar juara kompetisi dan turnamen bergengsi, ada banyak pelatih yang menjanjikan gebrakan.
Kondisi itu membuat duel pelatih-pelatih bertangan dingin di Liga 2 2021 makin sengit. Berikut ini adalah tujuh pelatih juara yang bakal berduel dan membuat atmosfer kompetisi semakin sengit.
1. Jaya Hartono
Dari 24 pelatih Liga 2 2021, Jaya Hartono menjadi pelatih paling senior. Jaya yang sudah 57 tahun juga tercatat sebagai pelatih yang paling 'tua' dalam hal perolehan gelar juara kompetisi.
Gelar juara Liga Indonesia direbut pada 2003 saat Jaya menangani Persik Kediri. Pencapaian ini menjadi cukup monumental karena saat itu Macan Putih tidak diperkuat pemain-pemain berlabel bintang.
Kini bersama Persijap Jepara yang dikelola dengan lebih baik dari sebelum-sebelumnya, akan dijadikan titik tolak. Ini sekaligus jadi musim pembuktian Jaya bahwa ia bukan pelatih yang ketinggalan zaman.
2. Kas Hartadi
Nama Kas Hartadi kerap tidak diperhitungkan. Saat arsiteki Sriwijaya FC pada 2011 misalnya, kapasitasnya diragukan. Pelatih asal Solo ini pun membuktikan kualitas yakni meraih gelar Liga Super Indonesia 2011/2012.
Pelatih 50 tahun ini pun menjadi faktor kunci kesuksesan Kalteng Putra promosi ke Liga 1 pada 2018. Skuad Kalteng yang biasa-biasa saja ia poles menjadi tim megah. Posisi ketiga Liga 2 2017 ia raih.
Musim ini nasibnya hampir serupa. Klub yang diarsiteki Kas, Dewa United Martapura, tidak dianggap sebagai calon juara. Tetapi dengan menjadi tuan rumah Grup B, bukan tak mungkin Kas kembali membuat kejutan.
3. Budiardjo Thalib
Lebih dikenal di akar rumput dan urus pembinaan, Budiardjo Thalib menggebrak saat mengantarkan Persik Kediri jadi juara Liga 2 2019. Mata publik mulai terbuka ada pelatih usia muda kompeten di level profesional.
Setelah dicampakkan Persik, pria asal Makassar ini sempat menangani Sriwijaya FC. Sayang kompetisi gagal digelar hingga kontraknya habis. Kini Budiarjo menangani tim asal Sumatera, Badak Lampung FC.
Seperti saat menangani Persik, tim asuhan pelatih 51 tahun ini pun kurang diperhitungkan. Namun pemegang lisensi B AFC ini tetap berpotensi membuat kejutan, khususnya untuk persaingan Grup A.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Nil Maizar, Alfredo Vera, Seto Nurdiyantoro, hingga Jafri Sastra
Nil Maizar menjadi salah satu pelatih yang diperhitungkan di Liga 2 2021. (ANTARA FOTO/Saiful Bahri)
4. Nilmaizar
Sebagai mantan pelatih Timnas Indonesia dan mengantar Semen Padang FC juara Liga Primer Indonesia 2011/2012, sentuhan Nilmaizar tak diragukan. Hanya saja Nil juga punya catatan buruk.
Ia adalah salah satu pelatih yang bertanggung jawab Semen Padang degradasi pada 2017. Sebelum dipecat manajemen klub, Kabau Sirah hanya meraih satu poin dari lima pertandingan beruntun.
Bersama Sriwijaya FC, Nil berambisi mengangkat harkat klub asal Sumatera Selatan tersebut. Bersaing dengan klub-klub lawas Sumatera lainnya, seperti PSMS Medan dan PSPS Riau, kualitas Nil akan diuji.
5. Alfredo Vera
Walau berpaspor Argentina, Angel Alfredo Vera tak pernah berpaling dari Indonesia sejak 2005. Begitu gantung sepatu Vera memutuskan merintis karier di Indonesia. Awalnya pahit, tetapi kini mulai manis.
Pelatih 49 tahun ini mengantar Persipura Jayapura menjadi kampiun Indonesia Soccer Championship 2016, yang merupakan turnamen rasa kompetisi. Musim berikutnya ia membawa Persebaya juara Liga 2 2017.
Dengan sentuhan yang moncer Persiba Balikpapan memagarinya rapat-rapat saat klub lain mendekat. Klub binaan I Gede Widiade ini berambisi kembali ke kasta tertinggi dan Vera jadi salah satu tumpuannya.
6. Seto Nurdiantoro
Sempat digadang-gadang menjadi pelatih Timnas Indonesia menggantikan Simon McMenemy, Seto Nurdiyantoro malah melatih PSIM Yogyakarta. Ini keputusan yang mengejutkan sebab beberapa klub Liga 1 meminati.
Jam terbangnya sebagai pelatih pembawa berkah pun mulai teruji. Seto membuat PS Sleman (PSS) meraih gelar juara Liga 2 2018 dan menyulap tim jadi garang di Liga 1 2019 meski dihuni pemain level kedua.
Seto berambisi membawa tim berusia 92 tahun tersebut naik kasta, seperti era Perserikatan dan Liga Indonesia. Dengan kecakapan Seto bukan tidak mungkin Laskar Mataram bisa naik kasta pada akhir musim nanti.
7. Jafri Sastra
Datang pada hari-hari terakhir menjelang Liga 2 2021 kick off, Jafri Sastra tetap berpotensi memberikan kejutan untuk PSPS Riau. Hal serupa ia buktikan dengan menjadi juara Piala Jenderal Sudirman 2015 bersama Mitra Kukar.
Namun setelah itu Jafri gonta-ganti klub. Delapan klub telah ia tangani dalam lima tahun terakhir. Jafri dipecat oleh klub yang ia tangani karena performanya tak sesuai harapan dan keinginan.
Kini bersama PSPS pelatih asal Padang ini ingin kembali menegaskan posisinya di belantika sepak bola nasional. Ini tak lain karena manajemen PSPS sangat serius menatap kompetisi bersama manajemen baru.