Debut Baggott dan Timnas Indonesia yang Tak Klinis
CNN Indonesia
Rabu, 17 Nov 2021 07:07 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia buruk dalam penyelesaian akhir saat kalah dari Afghanistan. (Arsip PSSI)
Timnas Indonesia sejatinya layak meraih hasil lebih baik di laga ini. Itu jika mengacu peluang-peluang yang didapat oleh Dedik Setiawan dkk.
Kabar buruknya Timnas Indonesia terlihat begitu bermasalah di penyelesaian akhir. Dari delapan peluang yang diciptakan, tujuh di antaranya tidak tepat sasaran dan hanya satu yang mengarah ke gawang Afghanistan.
Padahal, dari segi permainan Timnas Indonesia tampil cukup baik. Beberapa kali umpan kombinasi di area tengah dan aksi individu yang dilakukan para pemain Timnas Indonesia mampu membongkar pertahanan Afghanistan.
Namun, ketenangan dan akurasi dalam penyelesaian akhir masih jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Shin Tae Yong. Terutama untuk dua laga uji coba berikutnya melawan Myanmar dan Antalyaspor.
Timnas Indonesia sudah mendapatkan dua peluang di awal laga melalui Ricky Kambuaya dan Witan Sulaeman yang tidak menemui sasaran. Peluang Witan bahkan seharusnya bisa menjadi gol karena ia sudah berada dalam posisi yang ideal di kotak penalti lawan.
Alih-alih bola bersarang ke gawang lawan, eksekusi Witan justru tidak sempurna sehingga bola hanya berada tipis di sisi kiri gawang Afghanistan.
Hal yang sama juga terjadi dalam peluang yang didapat Dedik pada menit ke-23. Penyerang Arema FC itu tinggal mengarahkan bola untuk menggetarkan gawang Ovays Azizi.
Namun, sentuhan Dedik terhadap bola justru tidak sempurna. Alhasil, bola tendangan Dedik dari dalam kotak penalti hanya melebar ke sisi kanan gawang Afghanistan.
Memasuki babak kedua, beberapa peluang lain juga didapat Timnas Indonesia. Egy Maulana Vikri sempat mendapatkan peluang di awal laga tetapi sepakannya dari dalam kotak penalti masih terlalu lemah.
Begitu pula dengan upaya tendangan keras Ricky Kambuaya yang berada di atas mistar gawang lawan. Peluang terakhir yang didapat pemain pengganti, Ezra Walian jelang laga usai juga tidak tepat sasaran.
Ceritanya di pertandingan ini tentu akan berbeda andai para pemain Timnas Indonesia bisa lebih tenang dan akurat dalam menyelesaikan peluang. Jika itu bisa dilakukan bukan tidak mungkin malah Afghanistan jadi pihak yang kalah dalam laga uji coba di Turki tersebut.
(jal/ptr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Debut meyakinkan dari Elkan Baggott dan penyelesaian akhir Timnas Indonesia yang mengecewakan menjadi dua potret besar saat tim Merah Putih kalah 0-1 dari Afghanistan.
Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Afghanistan yang secara permainan sebenarnya tidak lebih baik dari Tim Merah Putih. Tim asuhan Anoush Dastgir mampu memanfaatkan kelengahan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan jelang akhir pertandingan untuk mencetak gol penentu kemenangan melalui pemain pengganti, Omid Popalzay.
Gol semata wayang Afghanistan tercipta saat Baggott sudah tidak berada di lapangan. Pemain berdarah Inggris itu terpaksa mengakhiri debut secara prematur karena mengalami masalah di bagian kepala.
Baggott mengalami masalah tersebut setelah terkena kaki Farshad Noor saat berupaya menyapu bola keluar lapangan pada menit ke-55. Pemain berusia 19 itu sempat melanjutkan pertandingan tetap hanya bertahan selama 13 menit.
Posisi Baggott lantas digantikan oleh Victor Igbonefo pada menit ke-68. Pemain Persib Bandung itu kemudian jadi salah satu penyebab terciptanya gol penentu kemenangan Afghanistan.
Sebelum ditarik keluar karena masalah di bagian kepala, Baggott menunjukkan penampilan yang solid dan minim melakukan kesalahan. Kesan gugup di laga debut sangat jauh dari pemain yang sempat membela Timnas Indonesia U-19 saat pemusatan latihan di Kroasia tahun 2020 lalu.
Pemain klub Inggris, Ipswich Town itu mampu saling mengisi peran dengan baik bersama Fachrudin Aryanto di jantung pertahanan. Sebagai pemain jangkung, Baggott bukan hanya kuat di udara tetapi juga bagus dalam melakukan intersep dalam duel bola-bola bawah.
Ketenangannya saat menguasai bola dan saat dalam tekanan pemain lawan juga begitu kentara. Akurasi operan pemain berdarah Inggris itu juga impresif dibarengi kemampuan memberikan umpan vertikal yang berkualitas.
Baggott bisa memberikan rasa aman untuk Muhammad Riyandi yang berdiri di pos penjaga gawang selama 68 menit berada di lapangan. Kehadirannya sebagai bek tengah kiri membuat Pratama Arhan yang menempati posisi bek sayap kiri bisa leluasa membantu penyerangan.
Bahkan mengacu data lapangbolastats, Baggott jadi pemain Timnas Indonesia dengan persentase operan sukses terbanyak. Baggott total melepaskan 41 operan sukses. Catatan ini jelas impresif mengingat Baggott merupakan seorang bek tengah.
Performa apik Baggott di laga debut membuat pujian mengalir dari pencinta sepak bola di tanah air. Sayang hal itu tidak dibarengi dengan hasil lebih baik yang diraih Timnas Indonesia di pertandingan melawan Afghanistan.
Salah satu sebabnya bukan hanya persoalan pemain Timnas Indonesia yang kerap salah oper tetapi juga penyelesaian akhir yang tidak klinis.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya...
Penyelesaian Akhir Bermasalah
Timnas Indonesia buruk dalam penyelesaian akhir saat kalah dari Afghanistan. (Arsip PSSI)
Timnas Indonesia sejatinya layak meraih hasil lebih baik di laga ini. Itu jika mengacu peluang-peluang yang didapat oleh Dedik Setiawan dkk.
Kabar buruknya Timnas Indonesia terlihat begitu bermasalah di penyelesaian akhir. Dari delapan peluang yang diciptakan, tujuh di antaranya tidak tepat sasaran dan hanya satu yang mengarah ke gawang Afghanistan.
Padahal, dari segi permainan Timnas Indonesia tampil cukup baik. Beberapa kali umpan kombinasi di area tengah dan aksi individu yang dilakukan para pemain Timnas Indonesia mampu membongkar pertahanan Afghanistan.
Namun, ketenangan dan akurasi dalam penyelesaian akhir masih jadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Shin Tae Yong. Terutama untuk dua laga uji coba berikutnya melawan Myanmar dan Antalyaspor.
Timnas Indonesia sudah mendapatkan dua peluang di awal laga melalui Ricky Kambuaya dan Witan Sulaeman yang tidak menemui sasaran. Peluang Witan bahkan seharusnya bisa menjadi gol karena ia sudah berada dalam posisi yang ideal di kotak penalti lawan.
Alih-alih bola bersarang ke gawang lawan, eksekusi Witan justru tidak sempurna sehingga bola hanya berada tipis di sisi kiri gawang Afghanistan.
Hal yang sama juga terjadi dalam peluang yang didapat Dedik pada menit ke-23. Penyerang Arema FC itu tinggal mengarahkan bola untuk menggetarkan gawang Ovays Azizi.
Namun, sentuhan Dedik terhadap bola justru tidak sempurna. Alhasil, bola tendangan Dedik dari dalam kotak penalti hanya melebar ke sisi kanan gawang Afghanistan.
Memasuki babak kedua, beberapa peluang lain juga didapat Timnas Indonesia. Egy Maulana Vikri sempat mendapatkan peluang di awal laga tetapi sepakannya dari dalam kotak penalti masih terlalu lemah.
Begitu pula dengan upaya tendangan keras Ricky Kambuaya yang berada di atas mistar gawang lawan. Peluang terakhir yang didapat pemain pengganti, Ezra Walian jelang laga usai juga tidak tepat sasaran.
Ceritanya di pertandingan ini tentu akan berbeda andai para pemain Timnas Indonesia bisa lebih tenang dan akurat dalam menyelesaikan peluang. Jika itu bisa dilakukan bukan tidak mungkin malah Afghanistan jadi pihak yang kalah dalam laga uji coba di Turki tersebut.