Abdul Kadir, Si Kancil Timnas Indonesia Anggota Century Club FIFA

CNN Indonesia
Kamis, 13 Jan 2022 18:17 WIB
Abdul Kadir, Si Kancil Timnas Indonesia Anggota Century Club FIFA
Ilustrasi sepak bola. (Istockphoto/FOTOKITA)

Talenta Abdul Kadir mulai terpantau pelatih timnas usia muda Indonesia pada 1965. Ada peran besar Ernest Alberth Mangindaan, pelatih Timnas Indonesia, yang mempromosikannya pada 1967.

Moncer sejak laga perdananya, banyak klub meminati Kadir. Namun pemain bertubuh mungil ini memilih membela PSMS Medan pada 1969. Di musim perdana ia langsung menyumbang gelar Perserikatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu Kadir membela Persebaya. Bersama klub berjuluk Bajul Ijo ini, Kadir tampil garang. Dua gelar runner-up dan satu trofi juara Perserikatan ia persembahkan pada kurun 1971-1979.

Memasuki era Galatama, yang disebut sebagai kompetisi semi profesional kala itu, Kadir membela Arseto, klub internal Persija. Setelah itu Kadir membela Perkesa 78 dan pensiun sebagai pemain Jaka Utama.

Banner Testimoni

Setelah pensiun Kadir meneruskan karier sepak bolanya sebagai pelatih. Pada 1983 ia ditunjuk PSSI menjadi pelatih Timnas Indonesia bersama Muhammad Basri dan Iswadi Idris.

Selepas dari Timnas Indonesia, setelah gagal di King's Cup 1984, PSSI tak memperpanjang kontrak tiga sekawan tersebut. Ia lantas dipinang Krama Yudha Tiga Berlian, klub asal Palembang.

Sebelum meninggal dunia dalam usia 55 tahun pada 4 April 2003, kehidupan Kadir kurang sejahtera. Kadir sempat didiagnosis mengidap sejumlah penyakit seperti ginjal, jantung, dan darah tinggi.

(abs/har)
Jakarta, CNN Indonesia --

Nama Abdul Kadir sempat tak tercatat dalam daftar top skor sepanjang masa Timnas Indonesia. Kiprahnya juga sempat terlupakan dalam daftar caps terbanyak.

Dua torehan monumental Kadir akhirnya terkuak pada 1 Desember 2021. Pada hari tersebut FIFA merilis daftar pemain yang telah tampil sebanyak 100 kali bersama tim nasional di level A FIFA.

Kadir disebut FIFA telah menjalani 105 pertandingan internasional bersama Timnas Indonesia. Dari jumlah itu pemain yang meninggal dunia pada 4 April 2003 ini melesakkan 70 gol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebelumnya sering disebut top skor sepanjang masa Timnas Indonesia adalah Soetjipto Soentoro dengan 50 gol, dan pemilik caps terbanyak adalah Bambang Pamungkas dengan 85 caps.

Namun data FIFA ini tak sejalan dengan RSSSF. Pusat data yang diciptakan Lars Aarhus Kent, Kent Hedlund, dan Karel Stokkermans ini menyebut Kadir telah melakoni 111 pertandingan.

Dari 111 laga tersebut Kadir membawa skuad Garuda meraih 57 kemenangan, 14 hasil imbang, dan 40 kali kalah. Dari jumlah itu ajang terbanyak yang diikuti adalah Merdeka Tournament di Malaysia.

Kadir tampil 36 kali dalam ajang yang berlangsung di Kuala Lumpur itu dan menyumbang 22 gol. Berikutnya Jakarta Tournament dan King's Cup di Thailand sebanyak 18, serta President Cup di Korea Selatan 12 kali.

Kadir debut bersama Timnas Indonesia saat melawan Korea Selatan pada 11 Agustus 1967. Saat itu usianya masih 19 tahun. Dalam debutnya ini Timnas Indonesia kalah 1-3 dan Kadir melesakkan satu gol.

Selama membela Timnas Indonesia, Kadir menyumbang beberapa gelar, di antaranya King's Cup 1968, Merdeka Games 1969, juga Pesta Sukan Singapura 1972. Ia juga menjadi top skor Merdeka Tournament 1969 dengan 6 gol.

Pemain berposisi sayap kiri ini lahir di Denpasar pada 27 Desember 1948. Ia disebutkan menggeluti sepak bola sejak belia, namun mulai terasah saat membela klub amatir Assyabaab Surabaya.

Baca lanjutan artikel di halaman kedua >>>

Abdul Kadir Sukses di Level Klub

Ilustrasi sepak bola. (Istockphoto/FOTOKITA)

Talenta Abdul Kadir mulai terpantau pelatih timnas usia muda Indonesia pada 1965. Ada peran besar Ernest Alberth Mangindaan, pelatih Timnas Indonesia, yang mempromosikannya pada 1967.

Moncer sejak laga perdananya, banyak klub meminati Kadir. Namun pemain bertubuh mungil ini memilih membela PSMS Medan pada 1969. Di musim perdana ia langsung menyumbang gelar Perserikatan.

Setelah itu Kadir membela Persebaya. Bersama klub berjuluk Bajul Ijo ini, Kadir tampil garang. Dua gelar runner-up dan satu trofi juara Perserikatan ia persembahkan pada kurun 1971-1979.

Memasuki era Galatama, yang disebut sebagai kompetisi semi profesional kala itu, Kadir membela Arseto, klub internal Persija. Setelah itu Kadir membela Perkesa 78 dan pensiun sebagai pemain Jaka Utama.

Banner Testimoni

Setelah pensiun Kadir meneruskan karier sepak bolanya sebagai pelatih. Pada 1983 ia ditunjuk PSSI menjadi pelatih Timnas Indonesia bersama Muhammad Basri dan Iswadi Idris.

Selepas dari Timnas Indonesia, setelah gagal di King's Cup 1984, PSSI tak memperpanjang kontrak tiga sekawan tersebut. Ia lantas dipinang Krama Yudha Tiga Berlian, klub asal Palembang.

Sebelum meninggal dunia dalam usia 55 tahun pada 4 April 2003, kehidupan Kadir kurang sejahtera. Kadir sempat didiagnosis mengidap sejumlah penyakit seperti ginjal, jantung, dan darah tinggi.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2