Kenapa Liga 1 Tak Bisa Terapkan Bursa Transfer Modern?

CNN Indonesia
Jumat, 08 Apr 2022 10:24 WIB
Kenapa Liga 1 Tak Bisa Terapkan Bursa Transfer Modern?
Hnsamu Yama hijrah ke Persija Jakarta. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Situasi ini membuat klub yang keuangannya stabil bisa belanja dengan leluasa. Sebaliknya, klub yang kesulitan mencari sponsor belanja pemain apa adanya dan umumnya dilakukan menjelang kompetisi dimulai.

Contoh kasus hal ini dialami Persipura menjelang Liga 1 2021/2022. Ketika itu Persipura ditinggal manajer Rudy Maswi, sponsor tak kunjung datang, dan terjadi disharmoni di dalam internal tim. Ujungnya Persipura degradasi.

"Padahal dulu Persipura itu kalau beli pemain asing itu selalu bagus. Kemarin Persipura dapat pemain asing yang kualitasnya abu-abu. Ini akibat dari situasi industri yang tidak menentu," ucap Yuke, sapaannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlepas dari itu, saat ini ada fenomena baru menjelang Liga 1 2022/2023 bergulir. Saat ini seperti ada kecenderungan klub melakukan pembelian pemain secara panik. Ada klub yang buru-buru, ada pula yang santai-santai.

Persija Jakarta contohnya. Belum juga memiliki pelatih, klub berlambang Monumen Nasional (Monas) tersebut sudah membeli tiga pemain baru. Terlepas pemain itu berkualitas, konsep belanja klub bukan sesuai kebutuhan pelatih.

Kabar baiknya, saat ini klub-klub Liga 1 2022/2023 sudah menerapkan kontrak dengan harga normal. Jika sebelumnya membayar pemain sebesar 50 persen dari kontrak, kini situasinya sudah normal kembali.

"Situasinya klub sekarang buru-buru karena jeda kompetisi singkat. Juni kompetisi sudah akan mulai, jadi April paling tepat belanja. Mei klub harus sudah mulai persiapan. Sebulan itu waktu yang minim," ucap Yusuf.

Terlepas dari sulitnya memberlakukan nilai transfer pemain, kompetisi Liga 1 tetap bergeliat. Para pemain top Indonesia dan juga legiun asing tetap hadir untuk menambah persaingan.

(abs/jun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dari musim ke musim, ada tiga gaya bursa transfer pemain Liga 1 dan kasta di bawahnya tak pernah berubah sehingga terkesan tak mengikuti sepak bola modern.

Ketiga gaya kolot bursa transfer tersebut adalah kontrak berdurasi semusim, pemain dulu baru pelatih, dan jor-joran beli pemain ketimbang aset. Hal ini pula yang disinyalir jadi alasan sepak bola Indonesia tak berkembang.

Sejatinya kecenderungan kontrak jangka panjang sudah tak tabu. Makin banyak klub yang berani mengontrak pemain dengan durasi panjang, tetapi dominan pemain muda. Untuk pemain berpengalaman jarang diberlakukan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kalaupun kontrak panjang diterapkan, jarang ada pemain yang dilepas klub saat statusnya masih terikat. Umumnya pemain akan pergi dari klub saat kontraknya kedaluwarsa atau dilepas klub karena alasan tak sesuai ekspektasi.

Contoh kasus klub melepas pemainnya dengan status transfer di Indonesia, bisa dihitung jari. Dari jumlah minim itu di antaranya adalah Borneo FC melepas Nadeo Argawinata ke Bali United atau Hambali dari Persela ke Persebaya.

Pengamat sepak bola nasional, Yusuf Kurniawan mengatakan gaya kolot bursa transfer langgeng di Indonesia karena tidak ada jaminan industri. Dalam artian, segala hal mengenai kompetisi serba tak pasti.

Banner live streaming MotoGP 2022

"Harapan adanya kontrak jangka panjang itu sulit terjadi karena industrinya tidak pasti. Industri kita tidak mendukung itu. Maksudnya, regulasinya, tata pelaksanaannya, izin dari pemerintah, berubah terus," kata Yusuf.

"Jadi banyak hal-hal non teknis yang membuat klub tidak berani membuat kontrak panjang. Jadi akhirnya pragmatis saja. Ditambah lagi tuntutan suporter prestasi, prestasi, dan prestasi. Kalau prestasi kan instan," ucapnya.

Baca di halaman selanjutnya>>>

Sponsor Minim Jadi Kendala Utama

Hnsamu Yama hijrah ke Persija Jakarta. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Situasi ini membuat klub yang keuangannya stabil bisa belanja dengan leluasa. Sebaliknya, klub yang kesulitan mencari sponsor belanja pemain apa adanya dan umumnya dilakukan menjelang kompetisi dimulai.

Contoh kasus hal ini dialami Persipura menjelang Liga 1 2021/2022. Ketika itu Persipura ditinggal manajer Rudy Maswi, sponsor tak kunjung datang, dan terjadi disharmoni di dalam internal tim. Ujungnya Persipura degradasi.

"Padahal dulu Persipura itu kalau beli pemain asing itu selalu bagus. Kemarin Persipura dapat pemain asing yang kualitasnya abu-abu. Ini akibat dari situasi industri yang tidak menentu," ucap Yuke, sapaannya.

Terlepas dari itu, saat ini ada fenomena baru menjelang Liga 1 2022/2023 bergulir. Saat ini seperti ada kecenderungan klub melakukan pembelian pemain secara panik. Ada klub yang buru-buru, ada pula yang santai-santai.

Persija Jakarta contohnya. Belum juga memiliki pelatih, klub berlambang Monumen Nasional (Monas) tersebut sudah membeli tiga pemain baru. Terlepas pemain itu berkualitas, konsep belanja klub bukan sesuai kebutuhan pelatih.

Kabar baiknya, saat ini klub-klub Liga 1 2022/2023 sudah menerapkan kontrak dengan harga normal. Jika sebelumnya membayar pemain sebesar 50 persen dari kontrak, kini situasinya sudah normal kembali.

[Gambas:Photo CNN]

"Situasinya klub sekarang buru-buru karena jeda kompetisi singkat. Juni kompetisi sudah akan mulai, jadi April paling tepat belanja. Mei klub harus sudah mulai persiapan. Sebulan itu waktu yang minim," ucap Yusuf.

Terlepas dari sulitnya memberlakukan nilai transfer pemain, kompetisi Liga 1 tetap bergeliat. Para pemain top Indonesia dan juga legiun asing tetap hadir untuk menambah persaingan.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2