Siasat Mohammad Ahsan Memburu 'Kemenangan' saat Ramadan
CNN Indonesia
Jumat, 29 Apr 2022 16:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mohammad Ahsan sering kesulitan mencari makanan untuk berbuka saat (Dok. Humas PBSI)
Bicara soal Ramadan, Mohammad Ahsan juga menceritakan pengalaman menjalankan puasa di luar negeri. Sebagai atlet pergi jauh ke negeri orang merupakan hal biasa termasuk di bulan puasa.
Ahsan sadar kompetisi internasional kerap tak mengindahkan momen-momen tertentu seperti Ramadan. Untuk itu pengoleksi tiga gelar juara dunia itu memilih untuk menyesuaikan diri dalam mengikuti turnamen sambil tetap menjalankan ibadah puasa.
Selain suasana tantangan lain yang Ahsan temui saat menjalani turnamen di luar negeri ketika bulan Ramadan adalah mencari makanan halal. Sebagai muslim ia berusaha maksimal mencari makanan yang halal di manapun berada.
"Tantangan pasti soal makanan, terutama buat sahur karena susah cari makanan halal. Saya tetap beli [makanan] di luar untuk buka puasa, tapi sekalian dibungkus untuk sahur," kata Ahsan.
"Makanan yang saya beli paling nasi, udang atau seafood lain, terus sayur. Yang aman-aman saja," ujarnya menambahkan.
Bolak-balik ke luar negeri termasuk di bulan Ramadan sudah menjadi bagian dari hidup atlet 34 tahun itu. Ia ingat ketika pertama kali merasakan pengalaman Ramadan di luar negeri saat menjalani sebuah turnamen tingkat junior, 12 tahun silam.
"Sudah lama banget, dari junior kayaknya. Sekitar 2010 mungkin ya [pertama puasa di luar negeri], negaranya saya lupa, masih di Asia deh kayaknya. Rasanya saat itu tentu berbeda karena saya terbiasa sahur di rumah, jadi pas ke luar negeri harus siapkan sahur sendiri," kata dia.
"Kalau dulu masih sendiri, masih tidak apa-apa. Tapi sekarang karena sudah berkeluarga, puasa di luar negeri itu kadang rasanya sedih," ujar Ahsan.
(ikh/har)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pebulutangkis Indonesia Mohammad Ahsan memandang bulan Ramadan sebagai ajang pencarian kemenangan bagi umat Islam.
Baginya Ahsan, Ramadan merupakan saat-saat terbaik bagi seorang muslim untuk meningkatkan iman apapun profesi dan aktivitasnya. Atlet kelahiran 7 September 1987 itu mengaku tetap berpuasa di tengah padatnya jadwal latihan dan turnamen.
Ahsan mengatakan niat dari dalam hati adalah awal dari keyakinannya tetap menahan hal-hal duniawi dari subuh hingga magrib tiba.
"Pokoknya niat saja kalau mau puasa. Yang penting dari diri sendiri dulu harus punya niat, tapi memang berat banget dan enggak mudah. Saya akui memang berat banget karena latihan pagi sampai sore, tapi harus tetap jaga kondisi," kata Ahsan saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Agar tetap tampil prima bersama Hendra Setiawan di lapangan selama Ramadan, Ahsan memiliki cara khusus. Sebagai atlet profesional ia harus pandai-pandai mengelola waktu dan nutrisi karena adanya perubahan pola makan dan istirahat bagi orang yang berpuasa.
"Perhatikan makan sahurnya dan minum vitamin. Latihan juga perlu ada penyesuaian. Di bulan puasa paling cuma beberapa jam, di bawah porsi biasa pokoknya. Tapi program latihan itu normal, di pelatnas juga [program latihan] normal," ujarnya.
Makanan penuh gizi menjadi syarat Ahsan dalam menyantap menu buka puasa dan sahur. Ia pun menyantap makanan yang tersedia, tanpa memilih-milih makanan tertentu selama jelas kehalalannya.
Bagi pebulutangkis 34 tahun itu bulan Ramadan tidak boleh menjadi alasan bagi seorang atlet untuk mengendurkan perjuangan di medan laga.
"Kalau saya, menu makanan khusus sih enggak ada, makan yang banyak aja asal bervitamin. Atlet yang berpuasa sudah seharusnya semangat tetap terjaga. Saya juga berharap kemenangan [terhadap pengendalian diri] bukan hanya di bulan Ramadan saja," kata Ahsan.
Bersambung ke halaman kedua >>>
Berburu Santapan Buka Puasa
Mohammad Ahsan sering kesulitan mencari makanan untuk berbuka saat (Dok. Humas PBSI)
Bicara soal Ramadan, Mohammad Ahsan juga menceritakan pengalaman menjalankan puasa di luar negeri. Sebagai atlet pergi jauh ke negeri orang merupakan hal biasa termasuk di bulan puasa.
Ahsan sadar kompetisi internasional kerap tak mengindahkan momen-momen tertentu seperti Ramadan. Untuk itu pengoleksi tiga gelar juara dunia itu memilih untuk menyesuaikan diri dalam mengikuti turnamen sambil tetap menjalankan ibadah puasa.
Selain suasana tantangan lain yang Ahsan temui saat menjalani turnamen di luar negeri ketika bulan Ramadan adalah mencari makanan halal. Sebagai muslim ia berusaha maksimal mencari makanan yang halal di manapun berada.
"Tantangan pasti soal makanan, terutama buat sahur karena susah cari makanan halal. Saya tetap beli [makanan] di luar untuk buka puasa, tapi sekalian dibungkus untuk sahur," kata Ahsan.
"Makanan yang saya beli paling nasi, udang atau seafood lain, terus sayur. Yang aman-aman saja," ujarnya menambahkan.
Bolak-balik ke luar negeri termasuk di bulan Ramadan sudah menjadi bagian dari hidup atlet 34 tahun itu. Ia ingat ketika pertama kali merasakan pengalaman Ramadan di luar negeri saat menjalani sebuah turnamen tingkat junior, 12 tahun silam.
"Sudah lama banget, dari junior kayaknya. Sekitar 2010 mungkin ya [pertama puasa di luar negeri], negaranya saya lupa, masih di Asia deh kayaknya. Rasanya saat itu tentu berbeda karena saya terbiasa sahur di rumah, jadi pas ke luar negeri harus siapkan sahur sendiri," kata dia.
"Kalau dulu masih sendiri, masih tidak apa-apa. Tapi sekarang karena sudah berkeluarga, puasa di luar negeri itu kadang rasanya sedih," ujar Ahsan.