Pemain-pemain muda di Tim Uber Indonesia sukses menjawab tantangan dengan baik. ( ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tim Indonesia datang ke Uber Cup 2022 dengan materi pemain muda dan mereka sukses menjawab tantangan yang diberikan dengan sangat baik.
Uber Cup tahun ini diselenggarakan dalam waktu yang berhimpitan dengan SEA Games. PBSI lalu mengambil keputusan untuk mengirimkan tim utama ke SEA Games.
Pilihan PBSI terbilang logis lantaran di atas kertas peluang juara Indonesia dengan materi tim utama di Uber Cup pun terbilang tidak terlalu besar. Sedangkan peluang meraih medali di SEA Games di atas kertas jauh lebih besar.
Latar belakang itu yang kemudian mendorong PBSI mengambil langkah mengirim tim muda ke Bangkok untuk gelaran Uber Cup.
Nama-nama seperti Komang Ayu Cahya Dewi, Aisyah Sativa Fatetani, dan Bilqis Prasista adalah nama-nama pemain usia belasan yang peringkatnya masih di luar 300 besar ketika turnamen belum dimulai.
Hal yang sama juga ada di nomor ganda. Pemain-pemain yang ada di dalamnya masih di luar 100 besar. Hanya ada Nita Violina Marwah yang menghuni posisi 41 dunia ketika berpasangan dengan Putri Syaikah, tetapi Putri Syaikah tidak ada dalam daftar skuad Uber Cup di tahun ini.
Walaupun muda dan minim jam terbang di level senior, beban tetap ada di pundak masing-masing pemain. Nama yang mereka bawa di punggung adalah nama Indonesia, negara yang dianggap kekuatan besar di dunia badminton.
Karena itulah ketika Indonesia tergabung dengan Jepang, Prancis, dan Jerman, target lolos dari fase grup tetap dicanangkan.
Menimbang kekuatan Jepang yang dianggap lebih unggul dari tiga negara lain di grup A, pertarungan yang bakal terjadi untuk Indonesia adalah perburuan dengan Prancis dan Jerman. Dua laga lawan Prancis dan Jerman itu bisa dibilang 'final' bagi Tim Uber Indonesia.
Prancis dan Jerman memang bukan kekuatan utama di dunia badminton. Namun menimbang materi pemain mereka di Uber Cup tahun ini, ada pemain-pemain Prancis dan Jerman punya peringkat lebih tinggi dibanding pemain-pemain Indonesia.
Tantangan besar itu yang kemudian sukses dijawab oleh Komang Ayu dan kawan-kawan. Dari dua laga yang telah berjalan, Indonesia pulang dengan kemenangan 5-0 di tangan.
Nita/Lanny dan kawan-kawan berhasil menjawab tantangan dengan baik di Uber Cup 2022. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Kemenangan dengan skor yang sangat meyakinkan. Kemenangan yang didapat lewat perjuangan keras melawan sejumlah pemain yang lebih berpengalaman.
Kini tiket perempat final Uber Cup sudah di tangan. Tim muda Indonesia telah memberikan jawaban dan kini tiba waktunya mereka untuk terus bermain dan bersenang-senang di Uber Cup.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dengan dua kemenangan di tangan, Indonesia kini akan menghadapi Jepang untuk memperebutkan status sebagai juara grup A. Indonesia juga sudah menggaransi satu tempat di perempat final Uber Cup.
Walaupun lawan-lawan lebih berat bakal hadir di hadapan, Tim Indonesia diyakini bakal lebih menikmati permainan dan atmosfer pertandingan level atas yang selama ini mereka mimpikan.
Langkah-langkah putri-putri Indonesia di Uber Cup 2022 sudah dinyatakan berhasil. Semakin jauh melangkah di turnamen ini, berarti semakin tinggi level keberhasilan yang mereka dapatkan.
Sambil menanti hasil akhir yang bakal ditorehkan oleh Tim Uber Indonesia, hal yang menarik untuk disikapi adalah percepatan perbaikan peringkat pemain-pemain Indonesia di ranking BWF.
Terkadang, perbedaan kualitas antara pemain-pemain di luar 100 atau 200 besar dengan pemain peringkat 50-100 besar tidaklah signifikan. Perbedaan peringkat mereka terkadang hanya didasarkan pada perbedaan kesempatan mengikuti turnamen.
PBSI harus jeli dalam perencanaan turnamen untuk pemain-pemain muda yang masih berada di luar 100 dunia. (Arsip PBSI)
Semakin rutin seorang pemain mengikuti turnamen, maka semakin besar peluang untuk mengumpulkan poin. Permasalahannya, untuk bisa masuk ke sebuah turnamen, kuota pemain untuk turnamen itu terbatas sehingga penyusunannya kembali merujuk pada peringkat dan poin yang dimiliki seorang pemain.
Karena itu, PBSI sebagai induk organisasi dalam hal ini harus jeli untuk bisa memilih turnamen-turnamen yang bisa jadi batu loncatan pemain-pemain muda untuk selekasnya masuk 100 besar kemudian 50 besar dan 30 besar.
Ketika sudah sampai di titik itu, barulah mereka bisa rutin mengikuti turnamen BWF Super 300 dan turnamen di atasnya serta berupaya keras bersaing di level atas.
Tanpa pemilihan turnamen yang tepat dan perencanaan yang matang, pemain-pemain muda akan kesulitan mendapat kesempatan tampil dan menerobos persaingan level elite dalam waktu cepat.
Tim Indonesia datang ke Uber Cup 2022 dengan materi pemain muda dan mereka sukses menjawab tantangan yang diberikan dengan sangat baik.
Uber Cup tahun ini diselenggarakan dalam waktu yang berhimpitan dengan SEA Games. PBSI lalu mengambil keputusan untuk mengirimkan tim utama ke SEA Games.
Pilihan PBSI terbilang logis lantaran di atas kertas peluang juara Indonesia dengan materi tim utama di Uber Cup pun terbilang tidak terlalu besar. Sedangkan peluang meraih medali di SEA Games di atas kertas jauh lebih besar.
Latar belakang itu yang kemudian mendorong PBSI mengambil langkah mengirim tim muda ke Bangkok untuk gelaran Uber Cup.
Nama-nama seperti Komang Ayu Cahya Dewi, Aisyah Sativa Fatetani, dan Bilqis Prasista adalah nama-nama pemain usia belasan yang peringkatnya masih di luar 300 besar ketika turnamen belum dimulai.
Hal yang sama juga ada di nomor ganda. Pemain-pemain yang ada di dalamnya masih di luar 100 besar. Hanya ada Nita Violina Marwah yang menghuni posisi 41 dunia ketika berpasangan dengan Putri Syaikah, tetapi Putri Syaikah tidak ada dalam daftar skuad Uber Cup di tahun ini.
Walaupun muda dan minim jam terbang di level senior, beban tetap ada di pundak masing-masing pemain. Nama yang mereka bawa di punggung adalah nama Indonesia, negara yang dianggap kekuatan besar di dunia badminton.
Karena itulah ketika Indonesia tergabung dengan Jepang, Prancis, dan Jerman, target lolos dari fase grup tetap dicanangkan.
Menimbang kekuatan Jepang yang dianggap lebih unggul dari tiga negara lain di grup A, pertarungan yang bakal terjadi untuk Indonesia adalah perburuan dengan Prancis dan Jerman. Dua laga lawan Prancis dan Jerman itu bisa dibilang 'final' bagi Tim Uber Indonesia.
Prancis dan Jerman memang bukan kekuatan utama di dunia badminton. Namun menimbang materi pemain mereka di Uber Cup tahun ini, ada pemain-pemain Prancis dan Jerman punya peringkat lebih tinggi dibanding pemain-pemain Indonesia.
Tantangan besar itu yang kemudian sukses dijawab oleh Komang Ayu dan kawan-kawan. Dari dua laga yang telah berjalan, Indonesia pulang dengan kemenangan 5-0 di tangan.
Nita/Lanny dan kawan-kawan berhasil menjawab tantangan dengan baik di Uber Cup 2022. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Kemenangan dengan skor yang sangat meyakinkan. Kemenangan yang didapat lewat perjuangan keras melawan sejumlah pemain yang lebih berpengalaman.
Kini tiket perempat final Uber Cup sudah di tangan. Tim muda Indonesia telah memberikan jawaban dan kini tiba waktunya mereka untuk terus bermain dan bersenang-senang di Uber Cup.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Mendorong Pemain-pemain putri Melangkah Cepat
Ana/Tiwi dan kawan-kawan sukses melangkah ke perempat final Uber Cup 2022. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Dengan dua kemenangan di tangan, Indonesia kini akan menghadapi Jepang untuk memperebutkan status sebagai juara grup A. Indonesia juga sudah menggaransi satu tempat di perempat final Uber Cup.
Walaupun lawan-lawan lebih berat bakal hadir di hadapan, Tim Indonesia diyakini bakal lebih menikmati permainan dan atmosfer pertandingan level atas yang selama ini mereka mimpikan.
Langkah-langkah putri-putri Indonesia di Uber Cup 2022 sudah dinyatakan berhasil. Semakin jauh melangkah di turnamen ini, berarti semakin tinggi level keberhasilan yang mereka dapatkan.
Sambil menanti hasil akhir yang bakal ditorehkan oleh Tim Uber Indonesia, hal yang menarik untuk disikapi adalah percepatan perbaikan peringkat pemain-pemain Indonesia di ranking BWF.
Terkadang, perbedaan kualitas antara pemain-pemain di luar 100 atau 200 besar dengan pemain peringkat 50-100 besar tidaklah signifikan. Perbedaan peringkat mereka terkadang hanya didasarkan pada perbedaan kesempatan mengikuti turnamen.
PBSI harus jeli dalam perencanaan turnamen untuk pemain-pemain muda yang masih berada di luar 100 dunia. (Arsip PBSI)
Semakin rutin seorang pemain mengikuti turnamen, maka semakin besar peluang untuk mengumpulkan poin. Permasalahannya, untuk bisa masuk ke sebuah turnamen, kuota pemain untuk turnamen itu terbatas sehingga penyusunannya kembali merujuk pada peringkat dan poin yang dimiliki seorang pemain.
Karena itu, PBSI sebagai induk organisasi dalam hal ini harus jeli untuk bisa memilih turnamen-turnamen yang bisa jadi batu loncatan pemain-pemain muda untuk selekasnya masuk 100 besar kemudian 50 besar dan 30 besar.
Ketika sudah sampai di titik itu, barulah mereka bisa rutin mengikuti turnamen BWF Super 300 dan turnamen di atasnya serta berupaya keras bersaing di level atas.
Tanpa pemilihan turnamen yang tepat dan perencanaan yang matang, pemain-pemain muda akan kesulitan mendapat kesempatan tampil dan menerobos persaingan level elite dalam waktu cepat.