Anthony Sinisuka Ginting berhasil juara Singapore Open 2022. (CNNIndonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anthony Ginting membanting raket ke lapangan setelah poin ke-21 didapat dalam duel lawan Kodai Naraoka. Raket miliknya rusak berantakan, namun di balik itu rasa lapar dan penantian panjang akan kemenangan menemukan jawaban.
Aksi Ginting membanting raket usai memastikan gelar Singapore Open 2022 adalah bentuk ekspresi sebuah kepuasan, kelegaan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Kemenangan yang sudah lama tidak datang akhirnya bisa ia temukan.
Kemenangan Ginting di Singapore Open 2022 adalah kemenangan yang telah dinantikan selama 2,5 tahun ia berlaga di lapangan. Berkali-kali kegagalan ia reguk sampai akhirnya kemenangan di Singapore Open 2022 ini terasa begitu nikmat dipeluk.
Ginting sendiri datang ke Singapura dengan perasaan yang lebih baik dibanding paruh awal tahun 2022. Dalam bulan-bulan pertama di 2022, Ginting merasa bahwa ia kebingungan dengan hal-hal yang ingin ia lakukan di lapangan.
Ginting bahkan sempat mengaku bahwa kadang ia tidak benar-benar yakin dengan penerapan pola main yang bakal ia praktekkan di lapangan.
Kondisi itu membuat Ginting bukan hanya tumbang dihajar kekalahan demi kekalahan, melainkan juga terkapar dalam pusaran ketidakyakinan dan kebimbangan.
Anthony Ginting memenangkan gelar juara Singapore Open 2022. (AFP/ROSLAN RAHMAN)
Ginting, dibantu oleh Irwansyah, mulai coba keluar dan menemukan cara untuk kembali menikmati pertandingan. Ginting mengaku bahwa ritme permainan miliknya sudah mulai membaik sejak Thomas Cup.
Setelah tiga kali dihentikan Viktor Axelsen secara beruntun lalu kemudian tumbang dari Chico Aura Dwi Wardoyo di Malaysia Masters pekan lalu, Ginting akhirnya memenangkan gelar yang telah lama dia nantikan.
Dalam perjalanan menuju gelar juara, Ginting menyingkirkan Wang Tzu Wei, Lin Chun-Yi, Ng Tze Yong, Loh Kean Yew, dan Kodai Naraoka.
Pada tiap langkah tersebut, Ginting benar-benar menampilkan hal-hal dalam dirinya yang sempat tak terlihat. Ginting seolah kembali menemukan kepingan-kepingan yang hilang dari permainannya.
Permainan Ginting yang elok dinikmati, kembali tersaji. Performa Ginting yang memanjakan mata, bisa kembali terpancar di Singapura.
Ginting adalah kombinasi gerak yang lemah lembut dengan serangan-serangan maut. Ginting bisa bergerak dengan lincah dan ringan di lapangan, terutama dalam hal netting, untuk kemudian melompat tinggi dan menghunjamkan smes keras dan tajam yang sulit untuk dikembalikan.
Pergelangan tangan Ginting seolah jadi senjata yang punya mata di atasnya. Ketika pergelangan tangan itu diayunkan, Ginting punya banyak opsi untuk mengembalikan shuttlecock, dan tentu saja musuh harus siaga bila tak ingin berada dalam situasi berbahaya.
Gambaran betapa berbahayanya serangan Ginting bisa terlihat jelas di partai final. Naraoka yang punya daya juang luar biasa, beberapa kali dibuat out of position oleh Ginting.
Naraoka berusaha keras mengembalikan posisinya ke tempat ideal, namun hal itu justru seringkali tak berdampak banyak pada Ginting yang sudah memikirkan 2-3 langkah ke depan untuk mematikan lawan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Selain ayunan kaki Ginting yang kembali melantai dengan indah di lapangan, hal lain yang patut dapat perhatian adalah kondisi mental Ginting di Singapore Open 2022.
Sebelumnya, dalam posisi lawan mengejar, Ginting seringkali seolah larut dalam pikiran-pikiran atas kesalahan-kesalahan sebelumnya.
Alih-alih fokus pada permainan yang akan datang, Ginting masih berkutat dan terjebak seolah mencari jawaban atas kesalahan yang telah lewat.
Namun hal itu tidak terlihat di Singapore Open. Ginting yang melakukan kesalahan dan membiarkan Naraoka mengejar, bahkan mendapat game point lebih dulu, bisa tetap menguasai keadaan dengan tenang.
Ginting seolah kembali menemukan jalan yang hilang. Jalan yang membuatnya banyak ditakuti oleh lawan-lawannya selama beberapa tahun belakangan.
Kemenangan Ginting, dan kembalinya ia menemukan cara main yang sempat hilang, adalah berita menggembirakan saat Kejuaraan Dunia tinggal berjarak satu bulan di depan.
Sejak jadi andalan Indonesia di usia belasan, Ginting sudah banyak diramalkan bakal jadi salah satu pemain papan atas yang akan jadi penantang serius dalam perburuan gelar-gelar besar.
Anthony Ginting tampil apik di Singapore Open 2022, (Dok. PBSI)
Ginting telah berhasil menyabet medali perunggu Olimpiade 2020, namun ia belum bisa berbicara banyak di Kejuaraan Dunia.
Pada keikutsertaannya yang terakhir di Kejuaraan Dunia, edisi 2019, Ginting terhenti di tangan Sai Praneeth. Sedangkan di tahun lalu, wakil-wakil Indonesia memutuskan tak ikut serta Kejuaraan Dunia.
Kemenangan di Singapura tak lantas memberikan jaminan Ginting akan lancar-lancar pada perburuan gelar di Kejuaraan Dunia. Masih ada sejumlah lawan tangguh yang patut diwaspadai, yang tidak ia temui di Singapura, mulai dari Lakshya Sen, Kento Momota, Chou Tien Chen, dan sejumlah nama lainnya.
Lepas dari itu, ada pula Viktor Axelsen, yang namanya saat ini bisa dibilang punya keunggulan kelas dibanding pebulutangkis tunggal putra lainnya di muka bumi saat ini.
Namun bila Ginting bisa mempertahankan cara main seperti yang ia tampilkan di Singapura, cara main yang sudah sejak lama dikagumi banyak orang, hal itu adalah sebuah langkah awal yang progresif untuk membuka semua kemungkinan.
Anthony Ginting membanting raket ke lapangan setelah poin ke-21 didapat dalam duel lawan Kodai Naraoka. Raket miliknya rusak berantakan, namun di balik itu rasa lapar dan penantian panjang akan kemenangan menemukan jawaban.
Aksi Ginting membanting raket usai memastikan gelar Singapore Open 2022 adalah bentuk ekspresi sebuah kepuasan, kelegaan, kegembiraan, dan kebahagiaan. Kemenangan yang sudah lama tidak datang akhirnya bisa ia temukan.
Kemenangan Ginting di Singapore Open 2022 adalah kemenangan yang telah dinantikan selama 2,5 tahun ia berlaga di lapangan. Berkali-kali kegagalan ia reguk sampai akhirnya kemenangan di Singapore Open 2022 ini terasa begitu nikmat dipeluk.
Ginting sendiri datang ke Singapura dengan perasaan yang lebih baik dibanding paruh awal tahun 2022. Dalam bulan-bulan pertama di 2022, Ginting merasa bahwa ia kebingungan dengan hal-hal yang ingin ia lakukan di lapangan.
Ginting bahkan sempat mengaku bahwa kadang ia tidak benar-benar yakin dengan penerapan pola main yang bakal ia praktekkan di lapangan.
Kondisi itu membuat Ginting bukan hanya tumbang dihajar kekalahan demi kekalahan, melainkan juga terkapar dalam pusaran ketidakyakinan dan kebimbangan.
Anthony Ginting memenangkan gelar juara Singapore Open 2022. (AFP/ROSLAN RAHMAN)
Ginting, dibantu oleh Irwansyah, mulai coba keluar dan menemukan cara untuk kembali menikmati pertandingan. Ginting mengaku bahwa ritme permainan miliknya sudah mulai membaik sejak Thomas Cup.
Setelah tiga kali dihentikan Viktor Axelsen secara beruntun lalu kemudian tumbang dari Chico Aura Dwi Wardoyo di Malaysia Masters pekan lalu, Ginting akhirnya memenangkan gelar yang telah lama dia nantikan.
Dalam perjalanan menuju gelar juara, Ginting menyingkirkan Wang Tzu Wei, Lin Chun-Yi, Ng Tze Yong, Loh Kean Yew, dan Kodai Naraoka.
Pada tiap langkah tersebut, Ginting benar-benar menampilkan hal-hal dalam dirinya yang sempat tak terlihat. Ginting seolah kembali menemukan kepingan-kepingan yang hilang dari permainannya.
Permainan Ginting yang elok dinikmati, kembali tersaji. Performa Ginting yang memanjakan mata, bisa kembali terpancar di Singapura.
Ginting adalah kombinasi gerak yang lemah lembut dengan serangan-serangan maut. Ginting bisa bergerak dengan lincah dan ringan di lapangan, terutama dalam hal netting, untuk kemudian melompat tinggi dan menghunjamkan smes keras dan tajam yang sulit untuk dikembalikan.
Pergelangan tangan Ginting seolah jadi senjata yang punya mata di atasnya. Ketika pergelangan tangan itu diayunkan, Ginting punya banyak opsi untuk mengembalikan shuttlecock, dan tentu saja musuh harus siaga bila tak ingin berada dalam situasi berbahaya.
Gambaran betapa berbahayanya serangan Ginting bisa terlihat jelas di partai final. Naraoka yang punya daya juang luar biasa, beberapa kali dibuat out of position oleh Ginting.
Naraoka berusaha keras mengembalikan posisinya ke tempat ideal, namun hal itu justru seringkali tak berdampak banyak pada Ginting yang sudah memikirkan 2-3 langkah ke depan untuk mematikan lawan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Sebulan Jelang Kejuaraan Dunia
Kemenangan Singapore Open 2022 akhiri penantian panjang Ginting. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Selain ayunan kaki Ginting yang kembali melantai dengan indah di lapangan, hal lain yang patut dapat perhatian adalah kondisi mental Ginting di Singapore Open 2022.
Sebelumnya, dalam posisi lawan mengejar, Ginting seringkali seolah larut dalam pikiran-pikiran atas kesalahan-kesalahan sebelumnya.
Alih-alih fokus pada permainan yang akan datang, Ginting masih berkutat dan terjebak seolah mencari jawaban atas kesalahan yang telah lewat.
Namun hal itu tidak terlihat di Singapore Open. Ginting yang melakukan kesalahan dan membiarkan Naraoka mengejar, bahkan mendapat game point lebih dulu, bisa tetap menguasai keadaan dengan tenang.
Ginting seolah kembali menemukan jalan yang hilang. Jalan yang membuatnya banyak ditakuti oleh lawan-lawannya selama beberapa tahun belakangan.
Kemenangan Ginting, dan kembalinya ia menemukan cara main yang sempat hilang, adalah berita menggembirakan saat Kejuaraan Dunia tinggal berjarak satu bulan di depan.
Sejak jadi andalan Indonesia di usia belasan, Ginting sudah banyak diramalkan bakal jadi salah satu pemain papan atas yang akan jadi penantang serius dalam perburuan gelar-gelar besar.
Anthony Ginting tampil apik di Singapore Open 2022, (Dok. PBSI)
Ginting telah berhasil menyabet medali perunggu Olimpiade 2020, namun ia belum bisa berbicara banyak di Kejuaraan Dunia.
Pada keikutsertaannya yang terakhir di Kejuaraan Dunia, edisi 2019, Ginting terhenti di tangan Sai Praneeth. Sedangkan di tahun lalu, wakil-wakil Indonesia memutuskan tak ikut serta Kejuaraan Dunia.
Kemenangan di Singapura tak lantas memberikan jaminan Ginting akan lancar-lancar pada perburuan gelar di Kejuaraan Dunia. Masih ada sejumlah lawan tangguh yang patut diwaspadai, yang tidak ia temui di Singapura, mulai dari Lakshya Sen, Kento Momota, Chou Tien Chen, dan sejumlah nama lainnya.
Lepas dari itu, ada pula Viktor Axelsen, yang namanya saat ini bisa dibilang punya keunggulan kelas dibanding pebulutangkis tunggal putra lainnya di muka bumi saat ini.
Namun bila Ginting bisa mempertahankan cara main seperti yang ia tampilkan di Singapura, cara main yang sudah sejak lama dikagumi banyak orang, hal itu adalah sebuah langkah awal yang progresif untuk membuka semua kemungkinan.