Jakarta, CNN Indonesia -- Baru sebulan lewat tiga hari Liga 1 2022/2023 bergulir, lima pelatih telah gugur. Mengapa begitu mudah pelatih-pelatih tersebut dipecat atau mundur?
Kepergian lima pelatih ini menjadi rekor dalam era Liga 1. Sejak 2017, baru kali ini perpisahan pelatih dengan klub pada awal musim merupakan yang tertinggi sekaligus mengalahkan rekor sebelumnya pada musim 2019.
Pada musim ketiga Liga 1 tersebut empat pelatih dipecat pada Juni dan satu pelatih pada Juli. Jika dihitung sejak kick off kompetisi hingga pemecatan pelatih kelima memakan waktu satu bulan 23 hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelatih pertama yang tumbang dalam Liga 1 2022/2023 adalah Robert Rene Alberts dari Persib Bandung. Terbaru pelatih Barito Putera, Dejan Antonic yang terpaksa ditendang manajemen klub.
Jika melihat persaingan kompetisi musim ini, bukan tak mungkin dalam waktu dekat ada lagi pelatih yang dipecat. Hingga pekan keenam setidaknya ada tiga pelatih yang sudah diultimatum.
Ketiga pelatih tersebut adalah Eduardo Almeida bersama Arema FC, Nil Maizar dengan Dewa United, dan Rahmad Darmawan di Rans Nusantara FC. Utamanya Almeida telah ditekan fans untuk mundur.
Mengapa banyak klub mudah bercerai dengan pelatihnya pada awal musim? Berikut tiga alasan kemungkinan hal tersebut terjadi, yang diamati berdasarkan pola dan tanda sebelum adanya pengumuman perpisahan.
Tekanan Fans
Dalam banyak kasus, mundur atau dipecatnya pelatih sering berawal dari tekanan fans klub. Saat suporter semakin gencar menekan pergantian pelatih, kebanyakan klub tak punya posisi tawar.
Selama era Liga 1 cara menekan klub pun makin mudah. Pertama lewat aksi memainkan tanda pagar (tagar) di media sosial. Kedua dengan membuat pernyataan tak akan hadir di stadion jika pelatih tak diganti.
Sebelum era media sosial, fans biasanya menyampaikan protes lewat spanduk di stadion atau mengganggu waktu latihan tim yang bertujuan memberi tekanan mental ke pelatih.
'Intervensi' semacam ini masih dilakukan sejumlah klub, umumnya eks-perserikatan yang memiliki basis massa besar. Namun demikian pola bergerilya di media sosial jadi cara kekinian yang terbilang cukup ampuh.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Kontras Isi Kontrak dan Prestasi
Robert Rene Alberts menjadi pelatih yang harus hengkang dari Liga 1 2022/2023. (Bima Bagaskara/detikJabar)
Kontrak Tak Bersahabat
Menjadi rahasia umum di Liga Indonesia bahwa sejatinya jarang ada pelatih yang dipecat. Jika ada pelatih yang disebut dipecat, sebenarnya diminta mundur lewat diskusi yang sifatnya kekeluargaan.
Jalan ini ditempuh karena pelatih yang mundur mendapat biaya kompensasi. Namun lewat 'jalan kekeluargaan' tersebut pelatih tetap mendapat dana perpisahan yang angkanya tidak sebesar pemecatan.
Pada satu sisi kontrak pelatih-pelatih Liga 1 kurang bersahabat. Dalam kontrak yang disepakati tidak ada jaminan bahwa klub akan memberi waktu kepada pelatih menunjukkan kualitasnya minimal setengah musim.
Hal ini penting sebab beberapa pelatih datang saat skuad tim sudah terbentuk. Pelatih tidak memiliki waktu mencari pemain yang sesuai dengan karakternya. Sebaliknya rapor buruk awal musim langsung jadi kambing hitam.
Orientasi Prestasi
Sudah lazim dikritisi bahwa kebanyakan klub Indonesia dominan berorientasi prestasi. Ini bukan hal yang negatif, tetapi bisa menjadi bumerang bagi klub yang tidak punya cukup fondasi.
Untuk klub kaya dengan basis massa besar dan langganan papan atas, hasil negatif awal musim cukup bisa diterima untuk dijadikan tekanan. Namun hal ini akan menjadi aneh jika klub medioker mematok hal sama.
Orientasi klub besar dengan dana menggunung tentu saja juara, sedangkan klub lebih kecil harus sadar diri. Hal semacam ini yang sering kali tidak dipahami sehingga orientasi klub menjadi abu-abu.
Idealnya klub-klub yang secara ekonomi di papan tengah dan bawah baru mengganti pelatih menjelang tengah musim, jika performa tim sudah melorot. Ini dilakukan agar pelatih bisa belanja pemain di jendela transfer.
[Gambas:Video CNN]