Biaggio Walsh: Cucu Muhammad Ali yang Banting Setir ke MMA
CNN Indonesia
Rabu, 19 Okt 2022 20:29 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Biaggio Ali Walsh memulai petualangan di MMA bersama PFL. (Icon Sportswire via Getty Image)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kakeknya adalah Muhammad Ali, legenda tinju dan atlet paling terkenal di dunia. Namun Biaggio Ali Walsh memutuskan banting setir menjadi atlet Mixed Martial Arts (MMA) setelah sempat berkarier sebagai atlet American Football.
Biaggio adalah salah satu cucu legenda tinju dunia, Muhammad Ali. Atlet 24 tahun itu merupakan anak dari pasangan Robert Walsh dan Rasheda Ali.
Dunia bela diri, terutama tinju, sudah mendarah daging dalam keluarga Biaggio. Adiknya, Nico Ali Walsh, adalah seorang petinju profesional. Begitu juga dengan sang bibi, Laila Ali.
Awalnya pria kelahiran 4 September 1998 itu menjajaki American Football ketika masih bersekolah dan pernah membela sebuah tim di Nevada, Las Vegas.
Namun pada September 2022, Biaggio menyita perhatian usai menandatangani kontrak profesional dengan Professional Fighters League (PFL).
Dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com, Biaggio mengungkap alasannya memilih MMA ketimbang tinju.
Tak hanya itu, Biaggio juga menceritakan potongan-potongan memori indah bersama sang kakek, Muhammad Ali.
Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Biaggio Ali Walsh:
Bisa dijelaskan jalur karier Anda sebagai atlet? Awalnya Anda berkarier sebagai American Football?
Ya, saya pernah bermain [American] Football di SMA, saya bermain di sebuah tim di Nevada, Las Vegas. Itu adalah tim yang sangat bagus, tapi saya tidak pernah mendapat kesempatan di sana. Saat itu saya hanya mencoba untuk tetap bermain di tim kampus dan terus berusaha.
Saya sempat tidak tahu hidup saya akan seperti apa nantinya, karena itu saya mencoba berlatih MMA dan jatuh cinta dengan olahraga ini.
Biaggio (kiri) bersama sang ibu, Rasheda Ali-Walsh, dan adiknya, Nico. (Ethan Miller/Getty Images for Caesars Palace/AFP)
Saya mulai berlatih MMA sejak usia 21 tahun dan saya sekarang memilih jalur karier ini. Saya menatap ke depan.
Kakek Anda legenda tinju, adik Anda juga petinju. Kenapa pilih MMA?
Saya sudah menonton MMA sejak SMA, saya menonton UFC. Saya sudah menonton Conor McGregor saat juara di kelas bulu. Saya jatuh cinta pada seluruh aspek pada bela diri yang banyak bermain dengan tangan dalam sebuah pertarungan.
Saya jatuh cinta dengan ide itu. Saya adalah penggemar MMA dan senang sekali bisa ada di olahraga ini.
Rekor Anda satu menang, satu kalah. Menang lewat strike, tapi kalah lewat submission. Apakah Anda lebih suka pertarungan langsung daripada grappling?
Ya, saya suka strike tapi saya juga akan mengedepankan grappling. Saya latihan strike, tapi saya sekarang juga latihan grappling dan mulai suka dengan grappling, semoga saya bisa terus berkembang.
Saya pikir masih sulit dipercaya. Favorit saya adalah Petr Yan, dia adalah mantan petinju dan saya sangat menyukai gayanya. Dia sangat pintar dalam perhitungan saat bertarung.
Biaggio memiliki kenangan indah bersama Muhammad Ali. (AFP PHOTO JOHN MACDOUGALL)
Rasanya seperti apa membawa nama Ali dalam diri Anda?
Rasanya normal. Saya hidup dengan nama ini sepanjang hidup saya, termasuk ketika bermain [American] Football. Saya sudah menjalani beberapa wawancara dan ditanya soal kakek saya. Anda tahu awalnya saya merahasiakan [nama Ali]. Tapi ketika saya bermain bagus di Football, banyak orang yang mulai mencari tahu tentang saya. Mereka mencari melalui website sekolah siapa saya.
Bagaimana Anda melihat sosok Muhammad Ali?
Saya dan adik saya memanggilnya 'Poppy' karena dia kakek saya. Ketika saya mendengar nama Muhammad Ali, saya melihat sosok 'Poppy', sekaligus orang yang menjadi bagian dari diri saya. Dia adalah ikon yang banyak diketahui orang, tidak hanya di tinju, tapi juga sebagai manusia.
Ketika saya menjabat tangannya, saya membayangkan 'Ini adalah tangan yang menumbangkan George Foreman'. Itu gila. Tapi di saat yang sama dia adalah kakek saya, memang rasanya sedikit aneh karena dia adalah ikon sekaligus keluarga.
Kapan Anda menyadari Muhammad Ali adalah seorang legenda?
Saat saya masih kecil, kami pergi ke sebuah bioskop dan restoran bersamanya. Dan ketika di restoran, ada satu orang yang sadar Muhammad Ali datang, lalu semua orang juga ikut melihat ke arah kami dan bertepuk tangan. Saya tidak pernah merasakan hal seperti itu dalam hidup saya sebelumnya. Sebagai anak-anak saat itu saya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Setelah itu saya sadar kakek saya orang penting, tapi saat itu saya tidak begitu tahu seberapa besar dampak yang sudah diberikan [Muhammad Ali] sampai saya SMA. Ketika kelas tiga saya mengerjakan sebuah tugas dengan topik tentang kakek saya, tapi teman-teman sekelas saya tidak ada yang kenal. Tapi setelah itu orang-orang sadar saya cucunya dan betapa besar dampak yang dibuat kakek saya.
Lanjut ke halaman kedua >>>
Apa memori terbaik bersama kakek Anda?
Ada banyak momen yang indah bersamanya. Saya dan adik saya sering menunjukkan trik sulap dengannya karena dia suka sulap. Dia banyak menonton video sulap. Saya dan adik saya sering melakukan sulap ketika berkunjung ke rumahnya.
Kami juga suka menonton film bersama, film-film barat seperti drakula dan lain-lain. Kami juga merayakan Thanksgiving setiap tahun dan seluruh anggota keluarga berkumpul di rumahnya. Ada banyak momen yang tak terhitung.
Apa makanan dan aktivitas favoritnya Muhammad Ali setelah pensiun?
Dia sangat suka menonton film dan membaca buku. Dia punya buku tentang dirinya sendiri dan menunjukkan kepada kami. Lalu kami bertanya apakah dia ingat memori pertarungan melawan George Foreman, kemudian dia menceritakannya.
Dia menderita parkinson dan semakin parah di setiap tahunnya. Kami ingat dia suka duduk di kursi besar di rumahnya, kemudian kami menonton film, melakukan trik sulap dan aktivitas keluarga lainnya.
Apakah Muhammad Ali menjadi inspirasi Anda menjadi petarung?
Ya dan tidak. [Tidak] karena saya menjadi petarung setelah merasa 'tersesat' di Football. Saya sempat tidak suka hidup saya, tapi ketika mulai berlatih MMA, itu memberi saya kesempatan dan kepercayaan diri untuk hidup sehat lagi. Itu yang membuat saya seperti ini.
Untuk bagian 'Ya' karena kakek saya sudah menunjukkan apapun yang dia lakukan dan itu menakjubkan. Adik saya petarung, bibi saya petarung, saya merasa mungkin takdir saya juga menjadi petarung.
Jadi saya menonton video inspirasinya, dia punya mentalitas yang belum pernah ditunjukkan orang lain sebelumnya. Dia punya mentalitas yang masih saya pegang sampai sekarang.
Muhammad Ali adalah seorang aktivis antiperang semasa perang Vietnam. Apakah akan membawa misi perdamaian juga seperti kakek Anda?
Ya tentu saja, karena dia memberi pengaruh. Dia juga fokus pada kesehatan mental selain antiperang. Dia juga fokus pada pengendalian penggunaan senjata api. Saya juga ingin memberi dampak seperti dirinya sebisa mungkin, itu yang akan saya lakukan.
Orang Indonesia sangat mencintai Muhammad Ali. Orang-orang Indonesia rela menghentikan aktivitasnya ketika MuhammadAli bertanding. Dia juga sudah datang tiga kali ke Indonesia. Apakah anda tahu sesuatu tentang Indonesia?
Saya tidak begitu tahu, tapi tentu sangat ingin mengunjungi ke sana. Saya ingin ke negara di luar AS seperti Indonesia, Thailand, Jepang. Itu adalah tempat yang saya ingin ke sana, mungkin untuk liburan dan mencoba makanan lokal. Saya suka sekali makanan dari budaya luar.
Apakah Anda suka makanan Asia?
Suka, memang aneh karena makanan Asia di Amerika terasa kurang otentik. Di sini lebih ke percampuran makanan Amerika dan Asia.
Apa target anda di MMA? Mungkin bergabung dengan UFC?
Nama saya sudah berat [karena ada namaAli]. Tujuan utama saya adalah memberi dampak untuk diri sendiri dulu, karena hidup saya selalu terbayangi oleh nama kakek saya. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi setiap petarung punya misi yang sama.
Mereka ingin membawa namanya sendiri dan membuat dinastinya sendiri. Saya tidak berbeda dengan petarung lain. Saya akan melakukan hal yang sama seperti petarung lain meski kakek saya adalah orang terkenal dan sosok yang ikonik.
Biaggio Ali Walsh akan melawan Tom Greaser pada 25 November. (Tangkapan Layar Instagram @biaggioaliwalsh)
Anda akan bertarung melawan Tom Greaser tanggal 25 November. Apa persiapan Anda?
Saya melihat video pertarungan dan mencatat poin-poin penting. Saya mempelajari gayanya, tapi saya tidak akan tahu sampai pertarungan itu terjadi. Sekarang saya fokus berlatih keras dan bersiap-siap atas semua kemungkinan.
Saya menonton pertarungan Tom, ketika dia bertarung melawan rekan setim saya. Menurut saya rekan setim saya sukses menyakitinya dan jika Tom mengetahui ini, dia perlu tahu saya akan menghajar tubuhnya. Saya pikir dia tidak satu level dengan saya.
Anda mempelajari kelemahannya?
Dari video itu saya melihat beberapa kelemahannya.
Apa keunggulan yang Anda punya sebelum bertarung dengannya?
Saya pikir saya punya kecepatan dan eksplosivitas karena saya sangat atletis. Tapi yang paling penting adalah kesiapan mental saya sebagai sebuah keuntungan.
Kakeknya adalah Muhammad Ali, legenda tinju dan atlet paling terkenal di dunia. Namun Biaggio Ali Walsh memutuskan banting setir menjadi atlet Mixed Martial Arts (MMA) setelah sempat berkarier sebagai atlet American Football.
Biaggio adalah salah satu cucu legenda tinju dunia, Muhammad Ali. Atlet 24 tahun itu merupakan anak dari pasangan Robert Walsh dan Rasheda Ali.
Dunia bela diri, terutama tinju, sudah mendarah daging dalam keluarga Biaggio. Adiknya, Nico Ali Walsh, adalah seorang petinju profesional. Begitu juga dengan sang bibi, Laila Ali.
Awalnya pria kelahiran 4 September 1998 itu menjajaki American Football ketika masih bersekolah dan pernah membela sebuah tim di Nevada, Las Vegas.
Namun pada September 2022, Biaggio menyita perhatian usai menandatangani kontrak profesional dengan Professional Fighters League (PFL).
Dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com, Biaggio mengungkap alasannya memilih MMA ketimbang tinju.
Tak hanya itu, Biaggio juga menceritakan potongan-potongan memori indah bersama sang kakek, Muhammad Ali.
Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Biaggio Ali Walsh:
Bisa dijelaskan jalur karier Anda sebagai atlet? Awalnya Anda berkarier sebagai American Football?
Ya, saya pernah bermain [American] Football di SMA, saya bermain di sebuah tim di Nevada, Las Vegas. Itu adalah tim yang sangat bagus, tapi saya tidak pernah mendapat kesempatan di sana. Saat itu saya hanya mencoba untuk tetap bermain di tim kampus dan terus berusaha.
Saya sempat tidak tahu hidup saya akan seperti apa nantinya, karena itu saya mencoba berlatih MMA dan jatuh cinta dengan olahraga ini.
Biaggio (kiri) bersama sang ibu, Rasheda Ali-Walsh, dan adiknya, Nico. (Ethan Miller/Getty Images for Caesars Palace/AFP)
Saya mulai berlatih MMA sejak usia 21 tahun dan saya sekarang memilih jalur karier ini. Saya menatap ke depan.
Kakek Anda legenda tinju, adik Anda juga petinju. Kenapa pilih MMA?
Saya sudah menonton MMA sejak SMA, saya menonton UFC. Saya sudah menonton Conor McGregor saat juara di kelas bulu. Saya jatuh cinta pada seluruh aspek pada bela diri yang banyak bermain dengan tangan dalam sebuah pertarungan.
Saya jatuh cinta dengan ide itu. Saya adalah penggemar MMA dan senang sekali bisa ada di olahraga ini.
Rekor Anda satu menang, satu kalah. Menang lewat strike, tapi kalah lewat submission. Apakah Anda lebih suka pertarungan langsung daripada grappling?
Ya, saya suka strike tapi saya juga akan mengedepankan grappling. Saya latihan strike, tapi saya sekarang juga latihan grappling dan mulai suka dengan grappling, semoga saya bisa terus berkembang.
Saya pikir masih sulit dipercaya. Favorit saya adalah Petr Yan, dia adalah mantan petinju dan saya sangat menyukai gayanya. Dia sangat pintar dalam perhitungan saat bertarung.
Biaggio memiliki kenangan indah bersama Muhammad Ali. (AFP PHOTO JOHN MACDOUGALL)
Rasanya seperti apa membawa nama Ali dalam diri Anda?
Rasanya normal. Saya hidup dengan nama ini sepanjang hidup saya, termasuk ketika bermain [American] Football. Saya sudah menjalani beberapa wawancara dan ditanya soal kakek saya. Anda tahu awalnya saya merahasiakan [nama Ali]. Tapi ketika saya bermain bagus di Football, banyak orang yang mulai mencari tahu tentang saya. Mereka mencari melalui website sekolah siapa saya.
Bagaimana Anda melihat sosok Muhammad Ali?
Saya dan adik saya memanggilnya 'Poppy' karena dia kakek saya. Ketika saya mendengar nama Muhammad Ali, saya melihat sosok 'Poppy', sekaligus orang yang menjadi bagian dari diri saya. Dia adalah ikon yang banyak diketahui orang, tidak hanya di tinju, tapi juga sebagai manusia.
Ketika saya menjabat tangannya, saya membayangkan 'Ini adalah tangan yang menumbangkan George Foreman'. Itu gila. Tapi di saat yang sama dia adalah kakek saya, memang rasanya sedikit aneh karena dia adalah ikon sekaligus keluarga.
Kapan Anda menyadari Muhammad Ali adalah seorang legenda?
Saat saya masih kecil, kami pergi ke sebuah bioskop dan restoran bersamanya. Dan ketika di restoran, ada satu orang yang sadar Muhammad Ali datang, lalu semua orang juga ikut melihat ke arah kami dan bertepuk tangan. Saya tidak pernah merasakan hal seperti itu dalam hidup saya sebelumnya. Sebagai anak-anak saat itu saya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Setelah itu saya sadar kakek saya orang penting, tapi saat itu saya tidak begitu tahu seberapa besar dampak yang sudah diberikan [Muhammad Ali] sampai saya SMA. Ketika kelas tiga saya mengerjakan sebuah tugas dengan topik tentang kakek saya, tapi teman-teman sekelas saya tidak ada yang kenal. Tapi setelah itu orang-orang sadar saya cucunya dan betapa besar dampak yang dibuat kakek saya.
Lanjut ke halaman kedua >>>
Tertarik ke Indonesia
Biaggio Ali Walsh tidak memiliki target muluk-muluk di MMA. (Tangkapan Layar Instagram @biaggioaliwalsh)
Apa memori terbaik bersama kakek Anda?
Ada banyak momen yang indah bersamanya. Saya dan adik saya sering menunjukkan trik sulap dengannya karena dia suka sulap. Dia banyak menonton video sulap. Saya dan adik saya sering melakukan sulap ketika berkunjung ke rumahnya.
Kami juga suka menonton film bersama, film-film barat seperti drakula dan lain-lain. Kami juga merayakan Thanksgiving setiap tahun dan seluruh anggota keluarga berkumpul di rumahnya. Ada banyak momen yang tak terhitung.
Apa makanan dan aktivitas favoritnya Muhammad Ali setelah pensiun?
Dia sangat suka menonton film dan membaca buku. Dia punya buku tentang dirinya sendiri dan menunjukkan kepada kami. Lalu kami bertanya apakah dia ingat memori pertarungan melawan George Foreman, kemudian dia menceritakannya.
Dia menderita parkinson dan semakin parah di setiap tahunnya. Kami ingat dia suka duduk di kursi besar di rumahnya, kemudian kami menonton film, melakukan trik sulap dan aktivitas keluarga lainnya.
Apakah Muhammad Ali menjadi inspirasi Anda menjadi petarung?
Ya dan tidak. [Tidak] karena saya menjadi petarung setelah merasa 'tersesat' di Football. Saya sempat tidak suka hidup saya, tapi ketika mulai berlatih MMA, itu memberi saya kesempatan dan kepercayaan diri untuk hidup sehat lagi. Itu yang membuat saya seperti ini.
Untuk bagian 'Ya' karena kakek saya sudah menunjukkan apapun yang dia lakukan dan itu menakjubkan. Adik saya petarung, bibi saya petarung, saya merasa mungkin takdir saya juga menjadi petarung.
Jadi saya menonton video inspirasinya, dia punya mentalitas yang belum pernah ditunjukkan orang lain sebelumnya. Dia punya mentalitas yang masih saya pegang sampai sekarang.
Muhammad Ali adalah seorang aktivis antiperang semasa perang Vietnam. Apakah akan membawa misi perdamaian juga seperti kakek Anda?
Ya tentu saja, karena dia memberi pengaruh. Dia juga fokus pada kesehatan mental selain antiperang. Dia juga fokus pada pengendalian penggunaan senjata api. Saya juga ingin memberi dampak seperti dirinya sebisa mungkin, itu yang akan saya lakukan.
Orang Indonesia sangat mencintai Muhammad Ali. Orang-orang Indonesia rela menghentikan aktivitasnya ketika MuhammadAli bertanding. Dia juga sudah datang tiga kali ke Indonesia. Apakah anda tahu sesuatu tentang Indonesia?
Saya tidak begitu tahu, tapi tentu sangat ingin mengunjungi ke sana. Saya ingin ke negara di luar AS seperti Indonesia, Thailand, Jepang. Itu adalah tempat yang saya ingin ke sana, mungkin untuk liburan dan mencoba makanan lokal. Saya suka sekali makanan dari budaya luar.
Apakah Anda suka makanan Asia?
Suka, memang aneh karena makanan Asia di Amerika terasa kurang otentik. Di sini lebih ke percampuran makanan Amerika dan Asia.
Apa target anda di MMA? Mungkin bergabung dengan UFC?
Nama saya sudah berat [karena ada namaAli]. Tujuan utama saya adalah memberi dampak untuk diri sendiri dulu, karena hidup saya selalu terbayangi oleh nama kakek saya. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi setiap petarung punya misi yang sama.
Mereka ingin membawa namanya sendiri dan membuat dinastinya sendiri. Saya tidak berbeda dengan petarung lain. Saya akan melakukan hal yang sama seperti petarung lain meski kakek saya adalah orang terkenal dan sosok yang ikonik.
Biaggio Ali Walsh akan melawan Tom Greaser pada 25 November. (Tangkapan Layar Instagram @biaggioaliwalsh)
Anda akan bertarung melawan Tom Greaser tanggal 25 November. Apa persiapan Anda?
Saya melihat video pertarungan dan mencatat poin-poin penting. Saya mempelajari gayanya, tapi saya tidak akan tahu sampai pertarungan itu terjadi. Sekarang saya fokus berlatih keras dan bersiap-siap atas semua kemungkinan.
Saya menonton pertarungan Tom, ketika dia bertarung melawan rekan setim saya. Menurut saya rekan setim saya sukses menyakitinya dan jika Tom mengetahui ini, dia perlu tahu saya akan menghajar tubuhnya. Saya pikir dia tidak satu level dengan saya.
Anda mempelajari kelemahannya?
Dari video itu saya melihat beberapa kelemahannya.
Apa keunggulan yang Anda punya sebelum bertarung dengannya?
Saya pikir saya punya kecepatan dan eksplosivitas karena saya sangat atletis. Tapi yang paling penting adalah kesiapan mental saya sebagai sebuah keuntungan.