Jakarta, CNN Indonesia -- Pengalaman berkesan saya rasakan saat Timnas Indonesia menghadapi Santos dalam laga uji coba di Stadion Gelora Bung Karno pada 1972.
Ketika itu kami menghadapi Santos yang diperkuat oleh Pele, bintang besar sepak bola dunia pada zamannya. Pesepakbola yang secara pribadi juga begitu saya idolakan.
Kami kalah 2-3 di pertandingan tersebut dan saya memborong semua gol timnas. Namun meski bisa dua kali membobol gawang Santos, saya tidak terlalu menikmati pertandingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jujur fokus saya ketika itu hanya melihat bagaimana cara Pele bermain. Sebagai pemain yang mengidolakan dan sama-sama berposisi sebagai penyerang, saya ingin menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari pertemuan singkat tersebut.
Saya yang masih berusia 22 tahun terus memperhatikan betul gerak-gerik Pele di lapangan hijau. Saat berjalan saja, Pele tampak begitu anggun di mata saya. Di lapangan saat Timnas diserang, semua terpaku melihat gerak-gerik Pele.
Di lapangan Pele bermain begitu sederhana. Tidak banyak trik yang ia perlihatkan. Hanya momen-momen tertentu saja.
Jadi tidak setiap saat ketika menguasai bola, Pele menunjukkan kalau dirinya adalah seorang Pele, bintang besar di sepak bola dunia.
 Risdianto jadi pemain langganan Timnas Indonesia era 1970-an. (Arsip Istimewa) |
Pele malah banyak bermain satu sentuhan dan main sederhana saja di laga uji coba ini. Dari situ saya saya sebagai pemain muda dapat pelajaran bahwa permainan sederhana itu yang terbaik.
Bagian lain yang paling saya ingat ketika Pele mengeksekusi tendangan penalti. Tidak banyak gaya yang dia tunjukkan. Ancang-ancangnya bahkan hanya satu langkah saja sebelum membobol gawang Timnas.
Begitu pertandingan berakhir, saya punya keinginan untuk bisa bertukar kostum dengan Pele tetapi tidak kesampaian. Seingat saya, Pele bertukar kostum dengan Jacob Sihasale, senior saya di Timnas Indonesia.
Saya sebenarnya sangat ingin bertukar kostum dengan Pele tetapi ya sudah ada Jacob Sihasale. Karena dia pemain senior maka pemain senior yang dapat duluan ha..ha..ha..
Saya juga terbilang beruntung karena tidak hanya bisa bertemu pemain kelas dunia seperti Pele semasa aktif. Kesempatan bertemu Franz Beckenbauer dan Johan Cruyff juga saya dapatkan.
Beckenbauer datang saat mendekati akhir kariernya. Sedangkan Cruyff masih sangat bagus pergerakannya, saat kami melawan mereka. Dia seperti ada di mana-mana saat bermain di lapangan, tidak kenal capek.
Dari pengalaman bertemu tiga pemain besar itu, pelajaran terbesar yang saya dapat tetap saat bermain satu lapangan bersama Pele. Pengalaman singkat menimba ilmu langsung dengan pemain idola yang penuh kesan.
Tetapi jangan dikira perjuangan saya mudah untuk bisa bermain satu lapangan dengan Pele. Perjuangan untuk bisa memperkuat Timnas pada zaman itu bukan perkara mudah. Persaingannya ketat.
Saya ingat betul awal masuk Timnas hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Saya jadi pengganti pemain asal Persebaya Surabaya, Waskito, jika ditarik keluar oleh pelatih.
Kemudian perlahan saya bisa menembus posisi inti dan giliran Waskito yang jadi pemain cadangan. Setelah itu Waskito digeser bermain sebagai pemain di kanan luar dan Iswadi Idris yang biasa menempati posisi tersebut diplot sebagai gelandang tengah.
Persaingan di Timnas masa itu kental unsur kedaerahan. Ada kelompok pemain Persija, Persebaya, PSMS, hingga PSM. Saat latih tanding permainan cenderung keras menjurus kasar karena kental unsur kedaerahan tadi.
Contohnya kalau ada pemain dari Medan yang dilanggar oleh pemain dari Surabaya maka pemain Medan yang lain akan membalas. Pemain dari tim yang sama juga akan berlaku sama karena cenderung unsur kedaerahan itu.
Kalau dibandingkan pemain pada zaman itu dan sekarang, memang yang saat ini dari segi skill lebih bagus. Bisa dikatakan lebih komplet pemain era sekarang.
Bedanya pemain dulu karakternya lebih unggul, lebih ngotot. Modal skillnya sedikit tapi berani bertarung melawan pemain manapun.
Semasa memperkuat Timnas, saya juga merasa paling cocok bermain dengan Ronny Pattinasarani dan Iswadi Idris. Dua pemain yang juga jadi rekan saya di Persija.
Saat bermain di klub saya lebih banyak sekamar dengan Iswadi. Akan tetapi saat dipanggil memperkuat Timnas maka saya kerap sekamar dengan Ronny.
Kedekatan itu terbawa ke lapangan dan dampaknya positif. Meskipun ada sisi menarik karena Ronny dan Iswadi sebenarnya selalu berbeda pendapat. Kedua pemain ini sulit akur meski tidak pernah bertengkar.
Ini kisah yang saya jarang ceritakan. Ronny dan Iswadi tidak pernah ada masalah tetapi entah kenapa sulit cocok. Mereka tidak bisa jalan berdua atau sekadar ngobrol.
Tidak akurnya kedua pemain ini sampai ke lapangan. Saat bermain Ronny akan lebih memilih untuk mengumpan saya daripada memberikan bola kepada Iswadi.
Iswadi juga sama. Bisa dikatakan hampir tidak pernah memberikan umpan kepada Ronni kecuali dalam keadaan terpaksa.
Jadi saya yang diuntungkan karena pilihan pertama saat Ronny dan Iswadi mengumpan bola akan diberikan kepada saya. Pemain dulu sudah tahu dua orang ini tidak cocok, makanya sudah bukan hal aneh.
Mungkin frekuensi kedua pemain ini memang berbeda. Iswadi karakternya meledak-ledak sedangkan Ronny lebih tenang meski bisa meledak juga.
Saya menghabiskan waktu satu dekade yang menyenangkan bersama dua pemain hebat ini, baik itu di timnas maupun di klub.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Tolak Tawaran Klub Juara Hong Kong
Risdianto pernah bermain di Liga Hong Kong selama satu musim. (Arsip Istimewa)
Dua gelar saya persembahkan untuk Indonesia semasa memperkuat Timnas. Kami meraihnya saat jadi juara Anniversary Cup dan Piala Pesta Sukan di Singapura tahun 1972.
Tahun tersebut bisa dikatakan menyenangkan. Setelah juara Anniversary Cup, saya berkesempatan main satu lapangan dengan Pele, dan dilanjutkan dengan gelar juar Piala Pesta Sukan.
Di final Piala Pesta Sukan, saya juara bersama Timnas Indonesia A. Kami mengalahkan Timnas Indonesia B yang sebenarnya berstatus tim cadangan dipanggil ke turnamen tersebut.
Saya berhasil menjadi top skor di ajang tersebut. Kalau tidak salah saya bisa mencetak delapan gol sepanjang turnamen.
Saat meraih gelar itu saya sudah berstatus pemain Persija. Jalan karier kemudian membawa saya ke Hong Kong untuk memperkuat Mackinnons FC klub yang bermain di Divisi Utama.
Saya tidak banyak pertimbangan saat memutuskan untuk bermain di Liga Hong Kong. Saya coba mengalir saja dalam menjalani karier sebagai pesepakbola.
Bisa dikatakan klub saya di sana tidak begitu bagus. Di musim itu kami hanya bisa finis di posisi ke-12 dari 14 tim yang berkompetisi.
Kendati begitu prestasi individu saya lumayan. Sebanyak 21 gol berhasil saya cetak pada musim pertama, terpaut hanya dua gol dari top skor Liga Hong Kong pada musim tersebut.
Bisa dibilang sekitar 50 persen gol dari tim saya yang cetak. Karena materi pemain yang tidak begitu bagus, pendekatan saya saat pertandingan jadi berbeda selama di sana. Saya nggak peduli kalah atau menang, tetapi yang saya pikirkan hanya mencetak gol.
Jelang musim baru saya sebenarnya diminta bermain untuk tim yang jadi juara Liga Hong Kong pada musim sebelumnya. Tetapi saya memutuskan hanya bermain satu musim saja di sana dan memilih kembali ke Indonesia untuk mengikuti persiapan timnas pra-Olimpiade 1976.
Keputusan saya kembali ke Indonesia dengan memperkuat Persija berujung gelar tahun 1975. Gelar itu jadi yang kedua karena sebelumnya juga saya meraih gelar juara Perserikatan pertama tahun 1973.
Saya sekitar enam tahun bermain di Persija. Kebersamaan dengan mereka kemudian berakhir setelah saya berselisih paham dengan pelatih Persija, Marek Janota.
Pangkalnya karena saya menolak permintaan Janota untuk bermain tidak sebagai penyerang. Alasannya waktu itu Janota ingin mencoba pemain muda Taufik Saleh untuk diplot sebagai striker.
Saya lantas ingin dimainkan sebagai gelandang. Padahal di lini tengah sudah ada Junaedi Abdillah. Batin saya ketika itu lebih baik saya jadi pemain cadangan saja daripada main di lini tengah.
Ketidakpuasan ini saya sampaikan ke Janota secara langsung. Tetapi dia justru marah ketika saya bilang tidak mau bermain sebagai gelandang.
Karena kondisi saat itu saya ambil keputusan untuk mundur saja dari Persija. Saya juga memastikan tidak akan membuat masalah di dalam tim. Akhirnya keputusan itu saya ambil saat pertengahan musim Perserikatan tahun 1977.
Keputusan mundur dari Persija saya sampaikan kepada manajer tim Bob Hippy. Kebetulan dia juga sama-sama pernah tahu rasanya jadi pemain sepak bola.
Saya sampaikan ke Bob Hippy kira-kira seperti ini: "Kalau Pak Bob disuruh main di tempat lain kira-kira mau apa nggak? Mungkin sama pendapatnya seperti saya," kata saya sembari tertawa.
Setelah meninggalkan Persija saya bermain dengan Warna Agung di pentas Galatama. Gelar juara kompetisi Galatama berhasil saya raih bersama Warna Agung yang saya perkuat sekitar lima tahun.
Gelar itu jadi yang ketiga dalam karier saya di level klub. Kalau dikatakan mana gelar yang lebih spesial saya sulit untuk memilih. Saya merasa semua gelar rasanya sama karena diraih lewat perjuangan panjang dan persaingan yang jelas tidak mudah.
Kendati begitu saya benar-benar bersyukur karena sempat menikmati gelar juara semasa karier saya sebagai pemain. Begitu menginjak usia 31 tahun, saya memutuskan untuk gantung sepatu karena sudah kehilangan motivasi untuk bisa terus bermain.
[Gambas:Video CNN]