Maria Kristin menderita cedera lutut dan hamstring di Olimpiade Beijing 2008. (AFP/JEWEL SAMAD)
Jakarta, CNN Indonesia --
Perjalanan saya menjadi atlet bulutangkis Indonesia penuh jalan terjal. Mulai karena 'terpaksa' hingga jatuh cinta. Sempat down dan berniat berhenti, tapi akhirnya bisa bangkit dan meraih prestasi.
Perkenalan saya dengan bulutangkis dimulai sejak usia enam tahun. Peran besar ayahlah yang mengantar saya hingga yakin memilih jalan hidup sebagai pebulutangkis.
Ayah saya bukan seorang atlet. Dia hanya pencinta bulutangkis. Tapi anehnya sebelum punya anak, dia sudah merancang agar saya kelak bisa jadi atlet bulutangkis nasional.
Itulah kenapa saya merasa dipaksa jadi atlet. Karena bapak memaksakan impiannya kepada saya sejak kecil.
Sebagai anak, semula saya hanya manut orang tua. Belum berani menolak. Dari usia enam tahun sudah diajari teknik badminton bapak. Bukan sekadar main untuk senang-senang.
Ketika kelas 4 SD atau sekitar 10 tahun, bapak mulai memasukkan saya ke tempat latihan bagi para pemula di Kudus. Setahun kemudian kami pindah ke Jember dan mulai masuk klub badminton.
Tahun 1998 bapak bawa saya ikut tes audisi PB Djarum di Kudus. Puji Tuhan bisa lolos dan tergabung di salah satu klub badminton ternama di Indonesia.
Jadi, jalan hidup saya sebagai atlet bulutangkis itu mungkin impian bapak yang tidak kesampaian. Bukan karena pilihan sendiri. Hehehe...
Maria Kristin tunggal putri terakhir dari Indonesia yang sukses raih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008. (AFP/INDRANIL MUKHERJEE)
Saya baru benar-benar jatuh cinta bulutangkis saat SMA atau ketika menginjak usia remaja sekitar 15-16 tahun. Mungkin itu terjadi pada tahun 2000, di mana saya merasa bulutangkis bisa jadi masa depan saya.
Karier saya meningkat terbilang cepat hingga dua tahun kemudian dipercaya masuk pelatnas tim bulutangkis Indonesia untuk tunggal putri. Saya makin rutin bermain di ajang internasional meski harus memulai di level yang rendah.
Namun bencana datang di tahun 2004. Saya mengalami cedera lutut kanan. Rasanya nyeri sekali dan cedera itu sering muncul dan cukup mengganggu performa saya di lapangan.
Mental saya juga sempat down karena sulit juara saat membawa nama Indonesia. Performa saya masih naik-turun dan merasa belum matang karena sering kali mentok di babak 16 besar atau 8 besar di kejuaraan badminton super series. Ini yang membuat saya tidak yakin dengan diri sendiri.
Saya sempat berpikir berhenti jadi atlet karena ternyata meraih prestasi internasional itu susahnya minta ampun. Tapi Tuhan punya rencana berbeda. Gelar yang saya impikan terwujud di SEA Games 2007 dengan menyabet dua emas sekaligus. Masing-masing di nomor tunggal putri dan beregu putri.
Perjuangan saya meraih dua medali emas bukan perkara mudah. Saya harus melawan dua cedera. Selain lutut kanan yang sering kambuh, otot paha di bagian yang sama juga sobek atau hamstring.
Saat itu saya harus berpikir logis dan tak mau membebani diri harus juara. Jadi main tidak terlalu beban.
"Sudahlah dijalani saja sebisa saya menahan sakit. Kalau tidak bisa ya sudah berhenti," kata saya dalam hati.
Saya juga bermain tidak terlalu ngotot. Kalau masih bisa ya terus, kalau tidak bisa ya sudah. Eh, ternyata menang-menang terus, masuk final, hingga akhirnya meraih medali emas.
Ini menjadi perasaan yang luar biasa karena saya bertanding tidak dalam kondisi 100 persen. Prestasi inilah yang membuat kepercayaan diri saya makin meningkat.
Pulang dari SEA Games 2007, saya fokus memulihkan cedera karena ingin ambil bagian di Olimpiade Beijing. Puji Tuhan saya jadi salah satu pemain yang terpilih mewakili tunggal putri Indonesia di Olimpiade Beijing 2008.
Sayangnya cedera lutut saya belum pulih benar. Mungkin karena tim medis dan teknologi pendukungnya tidak sebagus sekarang, jadi saya tidak mau operasi. Khawatir nama saya dicoret dari tim Olimpiade jika belum pulih pascaoperasi.
Maria Kristin sering dihadapkan cedera lutut kambuhan. (AFP/SAEED KHAN)
Jadi saya pilih tetap bertahan dengan kondisi yang ada. Hanya saja latihan diatur. Intensitasnya dikurangi sesuai dengan kondisi lutut saya. Misalnya dalam seminggu, dua harinya saya tidak latihan fisik yang keras. Tapi ditambah latihan teknik.
Di Olimpiade saya juga tanpa target. Dalam hati saya: "Kalau kambuh parah ya sudah berhenti."
Cedera lutut kambuhan ini bukan karena jatuh, tapi bantalan lututnya habis. Bisa dibilang karena terus dipakai latihan berat hingga tulang ketemu tulang jadi terkikis dikit-dikit. Naik tangga saja kadang-kadang terasa sakit. Pokoknya kondisi saya tidak normal saat itu.
Tapi saya kalau sudah bertekad maksa ya lanjut terus. Kalah atau menang urusan nanti!
Dari awal berangkat saya memang tidak ditargetkan medali karena pesaing lainnya 10 besar dunia yang rata-rata berasal dari tuan rumah China. Otomatis peluang mereka lebih besar dari saya.
Tapi pelatih bilang jangan berhenti bermimpi meski tidak ada target. Jangan hanya jadi partisipan tapi tetap harus berjuang dan melakukan yang terbaik.
Di semifinal saya kalah dua gim langsung dari Zhang Ning yang akhirnya sukses meraih medali emas. Setelah pertandingan saya sudah down. Tapi setelah keluar lapangan pelatih saya, Kak Hendrawan, memberikan pesan mendalam.
"Perjuangan belum selesai. Kamu sekarang tinggal pilih, mau dikenal sebagai semifinalis Olimpiade atau peraih medali perunggu Olimpiade di Beijing?"
Ketika kembali ke hotel, kata-kata itu terus menggerayangi pikiran saya. Saya jadi kepikiran terus dan memantapkan pilihan untuk berusaha merebut medali perunggu. Momen yang belum tentu bisa terulang kembali.
Baca di halaman berikutnya>>>
Saya tampil sekuat tenaga. Di gim pertama, saya mainnya belum in. Saya kalah jauh 11-21 di gim pertama. Sebab lawan yang saya hadapi atlet tuan rumah yang rankingnya jauh di atas saya. Percaya dirinya juga lebih besar saat itu.
Di gim kedua, pelatih bilang saya tidak usah mikir strategi ribet-ribet. Yang penting kuat dan enggak gampang mati sendiri. Dengan kata lain, yang penting pukulan masuk.
Saya lakukan itu dan membuat lawan jadi mendapat tekanan di depan publik sendiri. Saya berhasil rebut gim kedua 21-13 dan memaksa rubber game.
Di gim ketiga, saya merasa harus tampil habis-habisan. Saya makin percaya diri, sementara dia malah tertekan. Ya sudah, saya mainnya makin enjoy dan akhirnya menang 21-15.
Setelah pertandingan rasanya lega sekali. Bukan karena menang tapi karena capeknya sudah berakhir dan sudah bisa bernapas lega. Saya nggak nangis, tapi lebih merasa capek yang luar biasa.
Setelah seremoni, saya baru mulai menangis. Enggak menyangka ternyata saya bisa mendapatkan perunggu. Dengan kondisi cedera dan underdog saya bisa menang. Sangat bangga dengan perjuangan saya sendiri.
Ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya karena sangat-sangat tidak terduga. Saat itu saya tak masuk 10 besar dunia. Tapi ternyata saya bisa. Jadi benar-benar momen tak terlupakan.
Setelah Olimpiade 2008 karier saya langsung drop karena cedera saya makin parah. Saya tak bisa maksimal menjalani latihan berat karena lutut saya sering bengkak.
Maria Kristin sempat down dan nyaris layu sebelum berprestasi. (AFP/SAEED KHAN)
Tahun 2010 saya masih dipercaya ikut Uber. Sebenarnya saya sudah merasa tidak sanggup dan merasa atlet lain lebih layak. Alhasil saya tak bisa berbuat banyak.
Tahun 2011 saya akhirnya putuskan untuk mundur dari pelatnas. Saya merasa posisi saya lebih baik diganti orang lain. Karena sayang sekali tetap di pelatnas tapi sudah tak yakin bisa berprestasi.
Setelah mundur dari pelatnas, saya balik ke PB Djarum. Dua tahun kemudian saya pensiun di usia 27 tahun karena tak sanggup lagi menghadapi cedera.
Banyak orang bertanya kenapa saya pensiun di usia muda?
Saya ingin jelaskan, mental saya sebagai atlet sudah tidak bisa lagi mengatasi cedera saat bertanding. Rasa sakit dan lelah itu tak sanggup lagi saya jalani. Lebih baik istirahat.
Saya sempat melatih pemain-pemain muda di PB Djarum tapi berhenti di 2016 karena menikah. Saat ini saya sudah tidak terlalu terlibat di bulutangkis. Paling-paling hanya jadi juri audisi PB Djarum.
Saat ini saya punya dua anak dan tidak mau mengulangi cara mendidik bapak saya. Meskipun dia berhasil membuat saya sebagai atlet.
Keinginan melihat anak jadi pemain bulutangkis memang ada. Tapi saya tak mau paksa atau bahkan merancang sedemikian rupa. Biar mengalir begitu saja. Terserah dia mau jadi apa, yang penting baik dan sesuai kesukaannya. Tugas saya hanya memberikan dukungan.
Surat Cinta untuk Tunggal Putri Indonesia
Saya pernah berpikir untuk pensiun bukan karena cedera melainkan sulit raih juara. Kalau cedera mungkin zaman sekarang lebih mudah diatasi tapi mental sulit diobati.
Mungkin saat ini yang dialami pemain-pemain muda, khususnya Gregoria Mariska sama seperti yang saya alami dulu. Selalu dinantikan kapan bisa juara karena kita dulu punya Susy Susanti. Itu jadi beban sekali.
Jujur saya sedih melihat Gregoria ketika kalah. Saya saja sedih bagaimana dia? Tapi, mungkin tekanan atlet sekarang jauh lebih besar karena faktor luar lapangan.
Mungkin tekanan di medsos menambah beban atlet sekarang lebih besar dari kami-kami dulu. Saya tahu apa yang dirasakan Gregoria.
Beban atlet sekarang lebih berat karena perkembangan teknologi. Yang sering juara saja sering diserang kalau sesekali kalah, bagaimana yang belum juara?
Maria Kristin pernah mengalami tekanan psikologi sebagai atlet minim prestasi. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Saya berharap pelan-pelan muncul lagi tunggal putri yang lebih prestasi lagi dari saya. Butuh kesabaran.
Mereka juga harus jeli mengukur kemampuan. Apa yang harus diperkuat lagi dan apa yang harus dilatih lebih intens. Mungkin porsi latihan perlu ditambah.
Semoga kepercayaan diri tunggal putri Indonesia, terutama Gregoria lebih percaya diri lagi setelah runner up kemarin. Selain itu pemain-pemain yang di bawah Gregoria lebih sabar lagi.
Sebab menjadi juara itu tidak bisa instan. Paling tidak kita harus jalani prosesnya dengan baik. Jika kerja keras kita saat ini belum ada hasil, porsi latihan atau usahanya harus dilipatgandakan lagi.
Berusaha lebih keras lagi. Disiplin dalam hal apapun harus ditingkatkan. Semoga dua-tiga tahun kedepan Gregoria dan tunggal putri lain bisa berprestasi lebih jauh lagi.
Perjalanan saya menjadi atlet bulutangkis Indonesia penuh jalan terjal. Mulai karena 'terpaksa' hingga jatuh cinta. Sempat down dan berniat berhenti, tapi akhirnya bisa bangkit dan meraih prestasi.
Perkenalan saya dengan bulutangkis dimulai sejak usia enam tahun. Peran besar ayahlah yang mengantar saya hingga yakin memilih jalan hidup sebagai pebulutangkis.
Ayah saya bukan seorang atlet. Dia hanya pencinta bulutangkis. Tapi anehnya sebelum punya anak, dia sudah merancang agar saya kelak bisa jadi atlet bulutangkis nasional.
Itulah kenapa saya merasa dipaksa jadi atlet. Karena bapak memaksakan impiannya kepada saya sejak kecil.
Sebagai anak, semula saya hanya manut orang tua. Belum berani menolak. Dari usia enam tahun sudah diajari teknik badminton bapak. Bukan sekadar main untuk senang-senang.
Ketika kelas 4 SD atau sekitar 10 tahun, bapak mulai memasukkan saya ke tempat latihan bagi para pemula di Kudus. Setahun kemudian kami pindah ke Jember dan mulai masuk klub badminton.
Tahun 1998 bapak bawa saya ikut tes audisi PB Djarum di Kudus. Puji Tuhan bisa lolos dan tergabung di salah satu klub badminton ternama di Indonesia.
Jadi, jalan hidup saya sebagai atlet bulutangkis itu mungkin impian bapak yang tidak kesampaian. Bukan karena pilihan sendiri. Hehehe...
Maria Kristin tunggal putri terakhir dari Indonesia yang sukses raih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008. (AFP/INDRANIL MUKHERJEE)
Saya baru benar-benar jatuh cinta bulutangkis saat SMA atau ketika menginjak usia remaja sekitar 15-16 tahun. Mungkin itu terjadi pada tahun 2000, di mana saya merasa bulutangkis bisa jadi masa depan saya.
Karier saya meningkat terbilang cepat hingga dua tahun kemudian dipercaya masuk pelatnas tim bulutangkis Indonesia untuk tunggal putri. Saya makin rutin bermain di ajang internasional meski harus memulai di level yang rendah.
Namun bencana datang di tahun 2004. Saya mengalami cedera lutut kanan. Rasanya nyeri sekali dan cedera itu sering muncul dan cukup mengganggu performa saya di lapangan.
Mental saya juga sempat down karena sulit juara saat membawa nama Indonesia. Performa saya masih naik-turun dan merasa belum matang karena sering kali mentok di babak 16 besar atau 8 besar di kejuaraan badminton super series. Ini yang membuat saya tidak yakin dengan diri sendiri.
Saya sempat berpikir berhenti jadi atlet karena ternyata meraih prestasi internasional itu susahnya minta ampun. Tapi Tuhan punya rencana berbeda. Gelar yang saya impikan terwujud di SEA Games 2007 dengan menyabet dua emas sekaligus. Masing-masing di nomor tunggal putri dan beregu putri.
Perjuangan saya meraih dua medali emas bukan perkara mudah. Saya harus melawan dua cedera. Selain lutut kanan yang sering kambuh, otot paha di bagian yang sama juga sobek atau hamstring.
Saat itu saya harus berpikir logis dan tak mau membebani diri harus juara. Jadi main tidak terlalu beban.
"Sudahlah dijalani saja sebisa saya menahan sakit. Kalau tidak bisa ya sudah berhenti," kata saya dalam hati.
Saya juga bermain tidak terlalu ngotot. Kalau masih bisa ya terus, kalau tidak bisa ya sudah. Eh, ternyata menang-menang terus, masuk final, hingga akhirnya meraih medali emas.
Ini menjadi perasaan yang luar biasa karena saya bertanding tidak dalam kondisi 100 persen. Prestasi inilah yang membuat kepercayaan diri saya makin meningkat.
Pulang dari SEA Games 2007, saya fokus memulihkan cedera karena ingin ambil bagian di Olimpiade Beijing. Puji Tuhan saya jadi salah satu pemain yang terpilih mewakili tunggal putri Indonesia di Olimpiade Beijing 2008.
Sayangnya cedera lutut saya belum pulih benar. Mungkin karena tim medis dan teknologi pendukungnya tidak sebagus sekarang, jadi saya tidak mau operasi. Khawatir nama saya dicoret dari tim Olimpiade jika belum pulih pascaoperasi.
Maria Kristin sering dihadapkan cedera lutut kambuhan. (AFP/SAEED KHAN)
Jadi saya pilih tetap bertahan dengan kondisi yang ada. Hanya saja latihan diatur. Intensitasnya dikurangi sesuai dengan kondisi lutut saya. Misalnya dalam seminggu, dua harinya saya tidak latihan fisik yang keras. Tapi ditambah latihan teknik.
Di Olimpiade saya juga tanpa target. Dalam hati saya: "Kalau kambuh parah ya sudah berhenti."
Cedera lutut kambuhan ini bukan karena jatuh, tapi bantalan lututnya habis. Bisa dibilang karena terus dipakai latihan berat hingga tulang ketemu tulang jadi terkikis dikit-dikit. Naik tangga saja kadang-kadang terasa sakit. Pokoknya kondisi saya tidak normal saat itu.
Tapi saya kalau sudah bertekad maksa ya lanjut terus. Kalah atau menang urusan nanti!
Dari awal berangkat saya memang tidak ditargetkan medali karena pesaing lainnya 10 besar dunia yang rata-rata berasal dari tuan rumah China. Otomatis peluang mereka lebih besar dari saya.
Tapi pelatih bilang jangan berhenti bermimpi meski tidak ada target. Jangan hanya jadi partisipan tapi tetap harus berjuang dan melakukan yang terbaik.
Di semifinal saya kalah dua gim langsung dari Zhang Ning yang akhirnya sukses meraih medali emas. Setelah pertandingan saya sudah down. Tapi setelah keluar lapangan pelatih saya, Kak Hendrawan, memberikan pesan mendalam.
"Perjuangan belum selesai. Kamu sekarang tinggal pilih, mau dikenal sebagai semifinalis Olimpiade atau peraih medali perunggu Olimpiade di Beijing?"
Ketika kembali ke hotel, kata-kata itu terus menggerayangi pikiran saya. Saya jadi kepikiran terus dan memantapkan pilihan untuk berusaha merebut medali perunggu. Momen yang belum tentu bisa terulang kembali.
Baca di halaman berikutnya>>>
Perjuangan Melawan Cedera hingga Pensiun Muda
Maria Kristin tak pernah menyangka bisa merebut perunggu Olimpiade Beijing 2008. (AFP/INDRANIL MUKHERJEE)
Saya tampil sekuat tenaga. Di gim pertama, saya mainnya belum in. Saya kalah jauh 11-21 di gim pertama. Sebab lawan yang saya hadapi atlet tuan rumah yang rankingnya jauh di atas saya. Percaya dirinya juga lebih besar saat itu.
Di gim kedua, pelatih bilang saya tidak usah mikir strategi ribet-ribet. Yang penting kuat dan enggak gampang mati sendiri. Dengan kata lain, yang penting pukulan masuk.
Saya lakukan itu dan membuat lawan jadi mendapat tekanan di depan publik sendiri. Saya berhasil rebut gim kedua 21-13 dan memaksa rubber game.
Di gim ketiga, saya merasa harus tampil habis-habisan. Saya makin percaya diri, sementara dia malah tertekan. Ya sudah, saya mainnya makin enjoy dan akhirnya menang 21-15.
Setelah pertandingan rasanya lega sekali. Bukan karena menang tapi karena capeknya sudah berakhir dan sudah bisa bernapas lega. Saya nggak nangis, tapi lebih merasa capek yang luar biasa.
Setelah seremoni, saya baru mulai menangis. Enggak menyangka ternyata saya bisa mendapatkan perunggu. Dengan kondisi cedera dan underdog saya bisa menang. Sangat bangga dengan perjuangan saya sendiri.
Ini adalah salah satu momen terbaik dalam hidup saya karena sangat-sangat tidak terduga. Saat itu saya tak masuk 10 besar dunia. Tapi ternyata saya bisa. Jadi benar-benar momen tak terlupakan.
Setelah Olimpiade 2008 karier saya langsung drop karena cedera saya makin parah. Saya tak bisa maksimal menjalani latihan berat karena lutut saya sering bengkak.
Maria Kristin sempat down dan nyaris layu sebelum berprestasi. (AFP/SAEED KHAN)
Tahun 2010 saya masih dipercaya ikut Uber. Sebenarnya saya sudah merasa tidak sanggup dan merasa atlet lain lebih layak. Alhasil saya tak bisa berbuat banyak.
Tahun 2011 saya akhirnya putuskan untuk mundur dari pelatnas. Saya merasa posisi saya lebih baik diganti orang lain. Karena sayang sekali tetap di pelatnas tapi sudah tak yakin bisa berprestasi.
Setelah mundur dari pelatnas, saya balik ke PB Djarum. Dua tahun kemudian saya pensiun di usia 27 tahun karena tak sanggup lagi menghadapi cedera.
Banyak orang bertanya kenapa saya pensiun di usia muda?
Saya ingin jelaskan, mental saya sebagai atlet sudah tidak bisa lagi mengatasi cedera saat bertanding. Rasa sakit dan lelah itu tak sanggup lagi saya jalani. Lebih baik istirahat.
Saya sempat melatih pemain-pemain muda di PB Djarum tapi berhenti di 2016 karena menikah. Saat ini saya sudah tidak terlalu terlibat di bulutangkis. Paling-paling hanya jadi juri audisi PB Djarum.
Saat ini saya punya dua anak dan tidak mau mengulangi cara mendidik bapak saya. Meskipun dia berhasil membuat saya sebagai atlet.
Keinginan melihat anak jadi pemain bulutangkis memang ada. Tapi saya tak mau paksa atau bahkan merancang sedemikian rupa. Biar mengalir begitu saja. Terserah dia mau jadi apa, yang penting baik dan sesuai kesukaannya. Tugas saya hanya memberikan dukungan.
Surat Cinta untuk Tunggal Putri Indonesia
Saya pernah berpikir untuk pensiun bukan karena cedera melainkan sulit raih juara. Kalau cedera mungkin zaman sekarang lebih mudah diatasi tapi mental sulit diobati.
Mungkin saat ini yang dialami pemain-pemain muda, khususnya Gregoria Mariska sama seperti yang saya alami dulu. Selalu dinantikan kapan bisa juara karena kita dulu punya Susy Susanti. Itu jadi beban sekali.
Jujur saya sedih melihat Gregoria ketika kalah. Saya saja sedih bagaimana dia? Tapi, mungkin tekanan atlet sekarang jauh lebih besar karena faktor luar lapangan.
Mungkin tekanan di medsos menambah beban atlet sekarang lebih besar dari kami-kami dulu. Saya tahu apa yang dirasakan Gregoria.
Beban atlet sekarang lebih berat karena perkembangan teknologi. Yang sering juara saja sering diserang kalau sesekali kalah, bagaimana yang belum juara?
Maria Kristin pernah mengalami tekanan psikologi sebagai atlet minim prestasi. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar)
Saya berharap pelan-pelan muncul lagi tunggal putri yang lebih prestasi lagi dari saya. Butuh kesabaran.
Mereka juga harus jeli mengukur kemampuan. Apa yang harus diperkuat lagi dan apa yang harus dilatih lebih intens. Mungkin porsi latihan perlu ditambah.
Semoga kepercayaan diri tunggal putri Indonesia, terutama Gregoria lebih percaya diri lagi setelah runner up kemarin. Selain itu pemain-pemain yang di bawah Gregoria lebih sabar lagi.
Sebab menjadi juara itu tidak bisa instan. Paling tidak kita harus jalani prosesnya dengan baik. Jika kerja keras kita saat ini belum ada hasil, porsi latihan atau usahanya harus dilipatgandakan lagi.
Berusaha lebih keras lagi. Disiplin dalam hal apapun harus ditingkatkan. Semoga dua-tiga tahun kedepan Gregoria dan tunggal putri lain bisa berprestasi lebih jauh lagi.