Jerman Berpotensi Jadi Keledai Spanyol di Piala Dunia 2022
Abdul Susila | CNN Indonesia
Minggu, 27 Nov 2022 17:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jerman dalam posisi yang sulit jelang melawan Spanyol di Piala Dunia 2022. (REUTERS/KAI PFAFFENBACH)
Jakarta, CNN Indonesia --
Jerman berpotensi menjadi keledai: jatuh di lubang yang sama saat bersua Spanyol. Kekalahan dalam ajang UEFA Nations League bisa saja terulang di Piala Dunia 2022.
Pada 17 November 2020, Jerman dipermalukan Spanyol. Der Panzer yang saat itu masuk diarsiteki Joachim Low dipermak 0-6 oleh Spanyol. Jerman benar-benar kehilangan daya tahan dan dobrak.
Jika melihat hasil pertandingan pertama Grup E Piala Dunia 2022, hal itu kemungkinan terjadi lagi. Ini karena Jerman habis dilumat Jepang 1-2, sedangkan Spanyol pesta gol 7-0 ke gawang Kosta Rika.
Jerman dalam asuhan Hansi Flick tak berkembang pesat. Dari 17 laga, Manuel Neuer dan kawan-kawan kalah dua kali dan lima kali imbang dengan sisanya berhasil dimenangkan.
Yang menarik, dua kekalahan tersebut tercipta saat melawan tim-tim kuda hitam. Selain kalah oleh Jepang, Jerman juga kalah dari Hungaria. Seolah Jerman suka meremehkan tim-tim lemah.
Tetapi bukan itu. Saat melawan jagoan-jagoan Eropa, seperti Inggris, Italia, dan Belanda, Jerman tak berkutik. Strategi yang dikembangkan Flick tak cukup ampuh untuk meraih kemenangan.
Pada saat yang sama Spanyol makin matang bersama Luis Enrique. Dengan skuad muda, yakni hanya ada enam pemain dengan usia di atas 30 yang itu pun cadangan, Spanyol tampil garang.
Kombinasi Dani Olmo, Gavi, Pedri, juga Ferran Torres membuat lini depan La Furia Roja meyakinkan. Kecepatan dan kelincahan pemain-pemain muda ini mulai memperlihatkan soliditas permainan.
Memang terlalu dini untuk menyebut Spanyol mulai tampil seperti era Xavi dan Iniesta saat juara Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, tetapi arah ke sana seakan tampak nyata.
Statistik memperlihatkan, umpan-umpan yang dilepas pemain Spanyol, baik umpan pendek maupun panjang, dominan akurat. Ini berbeda dengan pemain Jerman yang sering melakukan kesalahan.
Kisah di Piala Dunia 2022 ini seperti mengulangi kisah Piala Dunia 2018, yang kalah di laga pembuka berujung tidak lolos ke babak 16 besar. Jerman benar-benar dalam situasi tidak menguntungkan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Dalam tujuh pertemuan terakhir dengan Spanyol, Jerman hanya menang sekali. Itu terjadi pada 18 November 2014. Ini fakta Jerman lemah dihadapan matador.
Fakta lainnya, Spanyol ibarat mesin kendaraan modifikasi yang bisa tancap gas sejak mesin dihidupkan dan makin ngebut saat sudah panas. Jerman malah antitesis dari performa Spanyol.
Buktinya 17 dari 21 gol yang diciptakan Spanyol selama 2022 tercipta pada 15 menit babak pertama dan 15 menit akhir laga. Jika lawan tak benar-benar siaga, Spanyol dipastikan akan menghabisi.
Adapun Jerman, dari 12 kali kebobolan selama 2022, tujuh di antaranya tercipta di 10 menit akhir laga. Sisanya, tiga kebobolan tercipta di 10 menit awal dan dua lainnya di tengah pertandingan.
Ini seolah jadi isyarat bahwa fokus permainan Jerman agak bermasalah dan daya tahan mereka lemah. Jika diibaratkan mesin, Jerman main dengan setelan pabrik yang lambat panas.
Publik Jerman pun sedang dilanda keraguan atas kinerja Hansi Flick dan tim asuhan. Selama 2022 mereka hanya menang dua kali. Kemenangan itu sama-sama melawan tim guram, Israel dan Oman.
Pemain-pemain senior Jerman seperti Manuel Neuer, Ilkay Gundogan, dan Thomas Muller pun belum bisa menjadi pembeda. Mereka malah seperti mesin tua yang kehilangan daya pikat.
Urusan pemain senior, Spanyol lebih menonjol. Sergio Busquets sebagai pemain tertua dan kapten tim serta satu-satunya pemain tersisa dari generasi emas, bermain inspiratif.
Gelandang Barcelona itu menjadi nyawa permainan Spanyol di lini tengah. Visi bermain Busquets membuat gelandang lain seperti Gavi dan Pedri tampil lebih lepas dan sederhana.
Soal strategi, Enrique juga ibarat mekanik andal. Ia sudah khatam dengan formula false nine, tetapi tak asing juga dengan formasi klasik tiga bek. Strategi-strategi itu telah dicoba Enrique.
Apakah Jerman akan kembali dijadikan keledai oleh Spanyol? Pertanyaan yang belum bisa dijawab, tetapi tanda-tandanya mengarah ke sana. Psikologis Jerman kiranya yang akan menentukan.
Jerman berpotensi menjadi keledai: jatuh di lubang yang sama saat bersua Spanyol. Kekalahan dalam ajang UEFA Nations League bisa saja terulang di Piala Dunia 2022.
Pada 17 November 2020, Jerman dipermalukan Spanyol. Der Panzer yang saat itu masuk diarsiteki Joachim Low dipermak 0-6 oleh Spanyol. Jerman benar-benar kehilangan daya tahan dan dobrak.
Jika melihat hasil pertandingan pertama Grup E Piala Dunia 2022, hal itu kemungkinan terjadi lagi. Ini karena Jerman habis dilumat Jepang 1-2, sedangkan Spanyol pesta gol 7-0 ke gawang Kosta Rika.
Jerman dalam asuhan Hansi Flick tak berkembang pesat. Dari 17 laga, Manuel Neuer dan kawan-kawan kalah dua kali dan lima kali imbang dengan sisanya berhasil dimenangkan.
Yang menarik, dua kekalahan tersebut tercipta saat melawan tim-tim kuda hitam. Selain kalah oleh Jepang, Jerman juga kalah dari Hungaria. Seolah Jerman suka meremehkan tim-tim lemah.
Tetapi bukan itu. Saat melawan jagoan-jagoan Eropa, seperti Inggris, Italia, dan Belanda, Jerman tak berkutik. Strategi yang dikembangkan Flick tak cukup ampuh untuk meraih kemenangan.
Pada saat yang sama Spanyol makin matang bersama Luis Enrique. Dengan skuad muda, yakni hanya ada enam pemain dengan usia di atas 30 yang itu pun cadangan, Spanyol tampil garang.
Kombinasi Dani Olmo, Gavi, Pedri, juga Ferran Torres membuat lini depan La Furia Roja meyakinkan. Kecepatan dan kelincahan pemain-pemain muda ini mulai memperlihatkan soliditas permainan.
Memang terlalu dini untuk menyebut Spanyol mulai tampil seperti era Xavi dan Iniesta saat juara Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010, tetapi arah ke sana seakan tampak nyata.
Statistik memperlihatkan, umpan-umpan yang dilepas pemain Spanyol, baik umpan pendek maupun panjang, dominan akurat. Ini berbeda dengan pemain Jerman yang sering melakukan kesalahan.
Kisah di Piala Dunia 2022 ini seperti mengulangi kisah Piala Dunia 2018, yang kalah di laga pembuka berujung tidak lolos ke babak 16 besar. Jerman benar-benar dalam situasi tidak menguntungkan.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Mesin Panas vs Setelan Pabrik
Para pemain muda jadi senjata Spanyol mengalahkan Jerman. (REUTERS/DYLAN MARTINEZ)
Dalam tujuh pertemuan terakhir dengan Spanyol, Jerman hanya menang sekali. Itu terjadi pada 18 November 2014. Ini fakta Jerman lemah dihadapan matador.
Fakta lainnya, Spanyol ibarat mesin kendaraan modifikasi yang bisa tancap gas sejak mesin dihidupkan dan makin ngebut saat sudah panas. Jerman malah antitesis dari performa Spanyol.
Buktinya 17 dari 21 gol yang diciptakan Spanyol selama 2022 tercipta pada 15 menit babak pertama dan 15 menit akhir laga. Jika lawan tak benar-benar siaga, Spanyol dipastikan akan menghabisi.
Adapun Jerman, dari 12 kali kebobolan selama 2022, tujuh di antaranya tercipta di 10 menit akhir laga. Sisanya, tiga kebobolan tercipta di 10 menit awal dan dua lainnya di tengah pertandingan.
Ini seolah jadi isyarat bahwa fokus permainan Jerman agak bermasalah dan daya tahan mereka lemah. Jika diibaratkan mesin, Jerman main dengan setelan pabrik yang lambat panas.
Publik Jerman pun sedang dilanda keraguan atas kinerja Hansi Flick dan tim asuhan. Selama 2022 mereka hanya menang dua kali. Kemenangan itu sama-sama melawan tim guram, Israel dan Oman.
Pemain-pemain senior Jerman seperti Manuel Neuer, Ilkay Gundogan, dan Thomas Muller pun belum bisa menjadi pembeda. Mereka malah seperti mesin tua yang kehilangan daya pikat.
Urusan pemain senior, Spanyol lebih menonjol. Sergio Busquets sebagai pemain tertua dan kapten tim serta satu-satunya pemain tersisa dari generasi emas, bermain inspiratif.
Gelandang Barcelona itu menjadi nyawa permainan Spanyol di lini tengah. Visi bermain Busquets membuat gelandang lain seperti Gavi dan Pedri tampil lebih lepas dan sederhana.
Soal strategi, Enrique juga ibarat mekanik andal. Ia sudah khatam dengan formula false nine, tetapi tak asing juga dengan formasi klasik tiga bek. Strategi-strategi itu telah dicoba Enrique.
Apakah Jerman akan kembali dijadikan keledai oleh Spanyol? Pertanyaan yang belum bisa dijawab, tetapi tanda-tandanya mengarah ke sana. Psikologis Jerman kiranya yang akan menentukan.