ANALISIS

Bedah Istilah 'Dari 275 Juta Jiwa, Cari 11 Pemain Bagus Enggak Bisa'

Abdul Susila | CNN Indonesia
Rabu, 18 Jan 2023 08:37 WIB
Per Juni 2022, jumlah penduduk Indonesia adalah 275.361.267 jiwa. Mengapa dari jumlah itu begitu sulit mencari 11 pemain Timnas Indonesia yang berprestasi? PSSI perlu perbaiki tata kelola sepak bola Indonesia demi tingkatkan prestasi timnas. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Per Juni 2022, jumlah penduduk Indonesia adalah 275.361.267 jiwa. Mengapa dari jumlah itu begitu sulit mencari 11 pemain Timnas Indonesia yang berprestasi?

Jika jumlah penduduk menjadi acuan, China dengan 1,412 miliar jiwa seharusnya menjadi juara dunia sepak bola, disusul India dengan 1,38 miliar penduduk, dan Amerika Serikat yang berpopulasi 331,9 juta jiwa.

Argentina yang berpenduduk 45,81 juta jiwa pun tidak akan meraih gelar Piala Dunia 2022. Begitu halnya Prancis sebagai juara edisi 2018 dan ditaklukkan Argentina pada laga final, hanya berpopulasi 67,75 juta jiwa.

Namun sepak bola bukan soal jumlah penduduk. Prestasi sepak bola sangat terkait dengan skala prioritas negara.

Amerika dan China misalnya, bukan negara penggemar sepak bola. Itu mengapa mereka jawara di cabang olahraga lainnya. Keduanya adalah raja yang saling mengejar dalam pesta olahraga dunia, Olimpiade.

Status Indonesia yang 'terbelakang' di olahraga kira-kira hanya mirip dengan India. Negeri seribu dewa itu hanya menonjol di olahraga kriket, sedangkan negeri kepulauan ini bisa bangga dengan prestasi bulutangkis.

Masalahnya bulutangkis bukan olahraga nomor satu di Indonesia. Olahraga nomor satu nusantara, yang itu telah dibuktikan sejumlah penelitian dari dalam dan luar negeri, adalah sepak raga alias sepak bola.

Pemerintah Indonesia pun sangat paham dengan fakta tersebut. Semua presiden Indonesia, dari Soekarno hingga Joko Widodo, sadar bahwa sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari atau dicintai.

Sayangnya belum ada langkah strategis untuk membesarkan olahraga nomor satu ini. Sepak bola mungkin bukan anak tiri dibanding cabang olahraga lainnya, tetapi sepak bola tidak dibina dengan serius layaknya olahraga prestasi.

Petugas mengoperasikan alat berat untuk mengeruk rumput Stadion Madya Bumi Sriwijaya Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (6/10/2020). Stadion Madya Bumi Sriwijaya dipersiapkan sebagai  stadion pendukung pelaksanaan tuan rumah Piala Dunia U-20 2021 mendatang. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.Indonesia bisa membangun stadion besar, namun kerap terkendala dalam melakukan perawatan. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc)

Lapangan sepak bola berkualitas contohnya, hanya belasan jumlahnya di penjuru negeri. Stadion besar mungkin ada di setiap provinsi, tetapi kondisinya hanya bagus saat ada pesta, semisal PON, SEA Games, atau Asian Games.

Beberapa bulan setelah pesta niscaya kondisinya memprihatinkan. Tentu tidak seluruhnya, tetapi mayoritas begitu.

Negara belum benar-benar ikut membangun sepak bola sebagai cabang olahraga nomor satu bangsa. Bahkan sebagai sebuah industri pun belum. Arah menuju industri sudah, tetapi untuk jadi industri belum sepenuhnya.

Presiden Joko Widodo memang telah mengeluarkan Inpres nomor 3 tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Sepakbola Nasional, tetapi pelaksanaannya belum optimal. Inpres ini bahkan terasa nyata sampai terjadi Tragedi Kanjuruhan.

Bersambung ke halaman berikutnya...

PSSI Maunya Instan Perbaiki Sepak Bola Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER