Irwansyah: Saya Ingin Lihat All Indonesian Final di Turnamen Besar
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Kamis, 02 Feb 2023 19:10 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Irwansyah selalu mencoba membesarkan hati dan jiwa para pemain di tiap laga. ( ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung PBSI, Irwansyah, punya tanggung jawab besar membangkitkan kejayaan tunggal putra Indonesia. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Irwansyah.
Irwansyah, pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung PBSI, ikut mendapat sorotan seiring terjadinya All Indonesian Final di Indonesia Masters 2023 antara Jonatan Christie vs Chico Aura Dwi Wardoyo.
Tak hanya itu, kini ada tiga pemain Indonesia yang duduk di posisi 15 besar dunia yaitu Jonatan di peringkat kedua, Anthony Ginting di posisi ketiga, dan Chico di peringkat ke-15.
Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Irwansyah terkait pandangannya terhadap atlet-atlet Indonesia, badminton, dan kehidupan:
Kini ada tiga pemain tunggal putra di 15 besar. Bagaimana komentar Anda?
Sangat bagus, mereka bisa naik peringkatnya. Tetapi memang kalau dari saya pribadi, juara itu juga penting. Jadi tidak ranking saja yang dipikirkan. Banyak orang yang mengejar ranking itu dengan banyak ikut kejuaraan saja agar rankingnya tinggi.
Buat saya, titel itu penting. Jadi kalau juara sudah dapat dan hasil bagus, ranking pasti naik. Sejauh ini mereka dapat ranking yang bagus. Hal ini bagus juga, tetapi yang mau saya buat adalah bagaimana konsisten untuk juara karena ranking bakal menyusul.
Apa tantangan yang perlu ditaklukkan agar pemain-pemain Indonesia bisa konsisten juara?
Kalau menurut saya pribadi, level pemain-pemain saya ini sudah level juara. Tetapi kadang-kadang di lapangan itu cara mereka berpikir untuk strategi kadang-kadang enggak keluar karena dari diri mereka sendiri.
Tekanan yang ada harus diolah oleh mereka. Kan ada tekanan angin di sisi lapangan mungkin lebih kencang, di sebelah sana lebih berat jadi bolanya ke mana-mana. Situasi seperti itu yang mau dibuat lebih dibiasakan lagi di latihan dan saya sebagai pelatih harus mengarahkan agar pemain bisa meng-handle situasi tersebut.
Pemain kita merasakan itu dan musuh juga, jadi adaptasi harus cepat. Saya berharap dengan kepercayaan diri mereka yang ingin saya ubah, mudah-mudahan bisa konsisten.
Berarti permasalahannya kurang lebih sama antara Jonatan, Ginting, Chico, dan pemain lainnya?
Ya, karena ekspektasi di lapangan itu mereka jadi membebani diri sendiri.
Oke saja pemain mau juara, tapi musuh juga mau juara.
Untuk handle pikiran mereka, itu yang ingin terus saya olah. Kalau sudah dapat momen itu, mereka bisa juara dan stabil.
Dari tiga turnamen di bulan Januari dalam laga saat pemain Indonesia kalah, lebih banyak karena faktor pikiran dan kesalahan sendiri atau memang lawannya berat?
Kita tidak bisa bilang murni kesalahan kita saja karena musuh juga bagus dari strategi dan pertahanan. Tapi memang di situ tekanan harus bisa di-handle.
Awal tahun kan baru mulai kejuaraan lagi. Situasi itu tidak mudah untuk adaptasi. Musuh pun bagus-bagus. Strategi di lapangan itu penting. Setiap hari kami sudah bicara selalu soal strategi, di malam sebelumnya juga kami diskusi dengan pemain.
Kalau kita takut untuk mengeluarkan strategi, kita bakal takut juga untuk melaksanakan strategi.
Apakah berarti tetap ada arahan sebelum laga All Indonesian Final di Indonesia Masters kemarin?
Itu saya cuma kasih arahan bermain dengan bagus. Dua-duanya di final sudah bagus.
"Contohkan ke masyarakat bahwa kamu yang the best."
Mereka sama-sama berteman dan kompak, jadi kompak di luar dan di dalam lapangan. Mereka kan mau dilihat orang, jadi harus ada mental dan semangat tinggi tapi tetap harus jadi contoh.
Irwansyah gembira melihat Jonatan dan Chico bisa memanggungkan All Indonesian Final di Indonesia Masters. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Bagaimana perasaan coach Irwansyah waktu melihat All Indonesian Final di Indonesia Masters?
Saya terharu, saya bangga walaupun bukan Olimpiade. Saya berharap satu hari nanti pemain-pemain saya bisa melakukannya di kejuaraan yang lebih penting.
Saya juga senang karena mereka melakukannya di Indonesia. Semifinal itu sulit banget si Jonatan dan Chico.
Level mereka sudah terlihat dan pantas juara dari Ginting, Jonatan, Chico, dan Vito. Kemudian di lapis duanya juga sudah pantas menjadi juara. Makanya pas nonton kemarin itu bangga karena saya tinggal nonton saja mereka main di final.
Tetapi coach Irwansyah masih tetap terlihat sibuk mencatat di final Indonesia Masters kemarin?
Saya catat untuk kekurangannya. Saya ingin ada yang dibaguskan lagi. Bertemu teman kan sudah hafal tetapi ada situasi yang terbaca sama teman, mereka harus tahu juga. Kalau ketemu musuh yang sudah hafal pola main, mereka harus bisa cari jalan keluar juga.
Kalau saat mencatat di buku dalam sebuah pertandingan, biasanya habis berapa lembar?
Tidak pasti, tetapi setiap kejuaraan itu selalu saya tulis. Sekali main Jonatan lawan Lakshya Sen misalnya, saya catat yang spesifiknya. Kalau saya memang suka catat.
Tiap pelatih berbeda-beda, ada yang suka diingat saja, ada yang dicatat. Kalau saya dari dulu, saya suka catat, waktu jadi pemain juga saya mencatat kelebihan dan kekurangan.
Saya ada satu buku untuk evaluasi, satu minggu, satu bulan. Apa kekurangan dan kelebihan saya catat. Misal: "Tenaga saya sudah bagus, defense bagus. Tapi defense ke kiri kurang enak."
Nah kekurangan itu yang saya perbaiki.
Sejak saya jadi pelatih, saya cari apa kekurangan anak-anak ini. Poin salah-salahnya itu ketahuan nanti. Dengan mencatat, saya juga tak khawatir lupa.
Irwansyah selalu mencatat kelebihan dan kekurangan ketika mengawasi pemain menjalani sebuah laga. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Berarti Anda juga mewajibkan pemain-pemain tunggal putra saat ini untuk mencatat?
Saya arahkan untuk mencatat. Mereka punya catatan masing-masing, tapi saya tidak mau memaksa. Kalau mereka rasa itu benar, ya jalankan. Kalau tidak mau, ya bagaimana lagi. Tapi kalau mau maju, mereka harus mencatat kelemahan dan kelebihan.
Mereka itu kan di sini [Pelatnas Cipayung] seperti orang yang belajar terus. Mereka harus tahu musuh-musuhnya makanya ada video analisa. Dengan kita mencatat itu kita bisa ingat, anak-anak juga harus begitu.
Jadi Sabtu-Minggu mereka bisa lihat lagi catatannya. Jadi jangan yang dicatat kelemahan saja, tapi juga kelebihan. Saya kasih tahu kekurangan mereka, juga kelebihannya.
Saat Anda melakukan evaluasi, apakah pemain yang kalah juga dilakukan evaluasi sesaat setelah pertandingan juga?
Habis mereka main pasti datang ke saya, kalah atau menang. Tetapi kalau kalah pasti down. Kalau kalah, arahannya yang penting bukan mengenai kalahnya terlebih dahulu, namun agar membuat jiwanya tetap besar.
Poin-poin kalahnya tetap pasti saya kasih tahu tapi harus kita besarkan jiwanya terlebih dahulu. Perkataan negatif itu saya coba hindari.
Setelah main, saya selalu menunggu mereka keluar lapangan. Nanti di luar saya tunggu mereka, bila mereka menang, saya bilang, "Hebat banget lu mainnya".
Tetap saya puji juga ketika mereka menang atau kalah. Salah strategi, salah bermain, tentu bukan keinginan pemain. Jadi saya arahkan lebih positif lagi. "It's ok, tidak apa-apa".
Kalau dari gesture, Anda dengan pemain seperti bapak sama anak atau kakak adik, bagaimana proses pembentukannya?
Saya dekat sama mereka, bukan berarti hilang respek. Saya sudah punya pengalaman sejak dari pemain, banyak pelatih yang saya lihat. Semua itu saya kumpulkan yang bagus-bagus, yang tidak bagus tidak saya ambil.
Saya sebagai pelatih sekarang ini ingin menjadikan pemain dengan cara saya. Waktu tahun 2016 saya sebagai asisten Koh Hendri Saputra saat itu kerjasamanya juga sangat bagus.
Ketika baru di sini saya mencoba mendekatkan diri dengan anak-anak, misalnya saya ajak ke rumah untuk coba masakan istri. Jadi begitulah, enak atau tidaknya masakan itu kan urusan lain, tetapi yang penting berkumpul.
Kadang-kadang pemain dan pelatih itu ada jarak banget, nah saya tidak mau. Karena saya maunya mereka bicara ke saya kalau ada apa-apa. Hidup ini kan tidak lempeng-lempeng saja jadi mereka bisa bicara dan saya juga bisa jaga rahasia.
Saya ingin atlet terbuka, karena kalau atlet itu pikirannya lepas di lapangan, itu lebih berani tidak mikir yang lain.
Berapa bulan yang dibutuhkan sampai akhirnya atlet bisa banyak bercerita pada coach Irwansyah?
Tidak lama, waktu itu saya masih asisten yang penting sering ngobrol. Nggak lama menurut saya. Cuma kan di sini disiplin memang harus diterapkan. Makanya mereka nyaman sama saya bukan berarti respek itu hilang. Kalau sudah kelewatan, saya tegur. Jadi tetap menghargai.
Makanya saya bangga dengan mereka karena mereka bisa begitu terbuka dengan saya. Dari yang senior dan junior sama-sama perasaannya seperti semuanya.
Sekarang ada Alwi yang paling muda, perlakuan saya ke dia juga sama seperti saya ke senior.
Sebagai pelatih, bagaimana merasakan momen harus melakukan degradasi pada atlet?
Setiap pelatih memang berat untuk memutuskan, tapi semua itu kan memang harus terjadi karena pemain yang di bawah [Pratama] juga mau naik. Kami tidak bisa simpan semua, kalau tidak berprestasi, kami tidak bisa apa-apa.
Jangan akhir tahun itu kami justru jadi tidak tega. Akhir tahun, tergantung pemain bisa jadi yang terbaik atau tidak.
Bagaimana melihat persaingan di tunggal putra Pelatnas Cipayung saat ini?
Persaingan dan saingan itu harus banyak karena kalau tidak, itu bisa terlalu nyaman bagi pemain. Senior tidak boleh lengah karena Pratama juga mau naik.
Itu kalau yang di atas tidak juara kita pertahankan, kasihan yang di bawah juga. Makanya pemain itu harus sadar bahwa di sinilah mereka bisa berproses jadi pemain hebat.
Baca lanjutan wawancara ini di halaman berikut >>>
Bagaimana penilaian Anda terhadap karier Anda sebagai pemain dahulu? Apakah merasa jadi pemain yang gagal?
Saya tidak pernah menyesal, memang saya tidak seperti teman-teman saya yang berprestasi tapi saya sudah melakukan semuanya. Saya disiplin dan bekerja keras. Namun memang ada sejumlah kendala cedera.
Ada saraf di pinggang yang terjepit, kata profesor juga bilang bisa lumpuh. Ada di sini [kaki] yang sobek.
Dahulu saya sering latihan tambahan, teman-teman sudah pulang saya masih latihan. Pagi-pagi jam 5 saya skipping, apa saja, tapi kondisi badan tidak mengizinkan.
Tidak ada penyesalan bagi saya, mungkin Allah kasih jalan yang berbeda.
Tetapi dahulu ketika saya cedera pinggang, saya 21 hari harus dirawat. Saat itu saya sempat berpikir," Kenapa kok bisa begini padahal saya sudah melakukan semuanya?"
Dahulu makanan dan sepatu kan berbeda dibanding sekarang. Sepatu dulu tidak bagus dan lari juga di aspal. Sekarang sudah ada latihan fisik yang benar-benar tahu detail, kalau dulu itu kami semangat saja tapi tidak ada yang mengarahkan.
Kalau dibilang gagal, saya tidak tahu, tetapi memang cedera saya banyak banget. Saya banyak sakit ketika sedang tampil bagus. Jadi itulah saya putuskan ketika ada tawaran di Wales saya terima.
Berapa lama Anda di Pelatnas Cipayung saat jadi pemain?
Di sini saya masuk tahun 1996 bulan November, saya lahir tahun 1974. Saya baru masuk pelatnas usia 22, tapi saya akhirnya dipanggil juga dan rezeki tidak kemana.
Saya masuk pelatnas itu terlambat, jadi memang saya terus berprinsip, kalau memang sudah rezeki pasti bisa. Untungnya ada dukungan dari orangtua, pelatih, termasuk Koh Hendry Saputra, pelatih saya dulu.
Saya sampai tahun 2000 di Pelatnas. Karena generasi yang di bawah-bawah mulai ada, jadi saya terima tawaran tahun ke Wales pada 2001.
Irwansyah menilai ia sudah mengerahkan segala hal yang ia bisa selama jadi pemain sehingga tak punya penyesalan. (Arsip PBSI)
Pelajaran yang mau diberikan kepada pemain berdasarkan pengalaman Anda sebagai pemain dahulu?
Kalau dari pengalaman saya, saya ingin mereka harus berusaha 100 persen. Mereka harus 100 persen disiplin dan jaga kondisi. Setelah itu kita serahkan ke Allah.
Percaya enggak percaya, kerja keras itu penting. Rezeki itu tidak akan ke mana-mana dan itu yang menguatkan saya sampai sekarang.
Kalau belum juara tidak apa-apa, pasti suatu hari dapat. Pertama yang penting kerja keras dan disiplin. Kalau tidak bakal saya coret, itu prinsip saya.
Orang yang punya bakat hebat tapi malas, itu saya juga tidak mau. Mending orang yang bekerja keras tapi biasa-biasa saja karena bisa diarahkan.
Ada satu dongeng yang pernah saya ceritakan pada para pemain tunggal putra. Begini ceritanya:
Suatu ketika ada orang tua dan keledai tua hidup di tempat yang jauh dari kota. Karena sudah tua, dia ingin pergi ke kota dan melihat kota sebelum meninggal dunia. Agar ia bisa meninggal dengan tidak lagi penasaran terhadap bayangan tentang kota."
Pergilah dia dengan menaiki keledai. Di tengah gurun, ia mendengar komentar,'Bodoh sekali, keledai sudah tua di cuaca panas seperti ini, malah dinaiki'.
Mendengar komentar itu, Pak Tua itu turun dan menuntun keledai miliknya. Lalu ia berpapasan dengan orang lain dan mendengar komentar,'Bodoh orang itu, punya keledai, tetapi tidak dinaiki padahal dia sudah tua. Apa salahnya dinaiki'.
Pak Tua itu bingung, karena dinaiki salah, dituntun juga salah.
Karena perjalanan menuju kota masih jauh, keledai milik Pak Tua sudah terlihat lelah. Namun Pak Tua tak mau menyerah begitu saja dan ia merasa masih kuat. Karena sebelum malam harus tiba di kota, Pak Tua lalu menggendong keledai tersebut dan terus berjalan agar tiba di kota lebih cepat.
Lalu mereka berpapasan lagi dengan orang lain. Terdengarlah komentar,'Ini orang sarap atau gimana, punya keledai kok bisa digendong'.
Dongeng ini menceritakan kehidupan, apapun yang kita buat, bisa tetap salah di mata orang. Jadi saya bilang ke anak-anak bahwa kalian tidak perlu khawatir apa kata orang.
Yang penting kalian lakukan yang terbaik. Selagi tidak ganggu orang.
Irwansyah berpesan pada Chico Aura Dwi Wardoyo dan kawan-kawan untuk tidak terlalu mengkhwatirkan pandangan orang lain. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jonatan Christie peringkat dua, Anthony Ginting peringkat tiga. Tetapi Viktor Axelsen seperti masih terlalu dominan sebagai pemain peringkat pertama. Bagaimana melihat persaingan di tunggal putra dunia secara keseluruhan dengan sosok Axelsen dominan saat ini?
Persaingan itu ketat, memang ketemu Axelsen itu berbeda karena tinggi. Pemain lain rata-rata tingginya sama, kalau Axelsen itu tinggi dan bisa bermain seperti orang yang tidak tinggi.
Agak bingungnya di situ, tetapi Kunlavut bisa menang, berarti semua orang juga bisa menang.
Strategi sudah ada, tapi penyelesaian seperti angin dan situasi di lapangan kerap membuat pemain kita ragu. Itu yang perlu diubah.
Kepercayaan diri Axelsen itu tinggi setelah juara di banyak kejuaraan. Jadi buat dia kayak enak di lapangan. Saya mau pemain kita kalau lawan Axelsen itu harus percaya diri melebihi dia.
Soal mental kan siapa yang berani di lapangan, jadi bisa buat musuh itu meredup. Itu yang masih diproses. Saya yakin pemain saya bisa mengalahkan Axelsen.
Sudah ada pembicaraan soal Race to Olympics ke pemain-pemain tunggal putra?
Kami sudah membicarakan tapi saya tidak mau mereka terlalu panik. Semua kejuaraan itu penting. Olimpiade itu penting tapi tidak boleh begitu-begitu banget. Tidak perlu seperti dikejar-kejar, yang penting persiapan bagus terus.
Super series itu juga penting, yang penting fokus tapi tetap enjoy. Tidak boleh tertekan.
Olimpiade slot-nya maksimal cuma dua. Bagaimana melihat peta persaingan di tunggal putra?
Pasti semua punya peluang, mereka punya kesempatan dan saya ngomong itu ke semuanya. Buat Jonatan dan Ginting juga bagus karena tidak mau lengah walaupun teman baik. Mereka tidak boleh ketinggalan satu sama lain.
Kehadiran Chico dan Vito itu buat Jonatan dan Ginting tidak lengah.
Tetapi mereka semua harus tetap enjoy tidak boleh panik.
Siapa tunggal putra Indonesia terbaik sepanjang masa?
Banyak, saya tidak bisa sebut satu-satu. Saya menghargai kerja keras dan prestasi para legenda yang mengharumkan nama bangsa. Jadi kalau disebut satu, susah.
Saya sebagai pelatih juga ingin menjadikan pemain-pemain saat ini seperti legenda-legenda yang ada.
Itu kan buat kepentingan bangsa dan negara, bukan buat saya pribadi.
Kenapa dipanggil bang Aboy?
Saya itu dari Medan, papa saya ada keturunan India. Orang keturunan India di Medan itu, anak kecilnya dipanggil Aboy. Aboy itu anak laki-laki.
Jadi seiring berjalan waktu, setelah pindah dari tempat nenek lalu ke tempat saya tumbuh, saya dipanggilnya juga Aboy dari kecil. Kebawa sampai besar.
Papa dan Mama saya sering manggil, "Mana si Aboy?"
Panggilan itu dari keluarga dan akhirnya kebawa sampai besar. Kalau di luar-luar sih tetap Irwan. tapi sampai sekarang orang yang kenal dekat sama saya itu memanggil saya Aboy.
Oke saja mana saja nama yang dipilih orang yang manggil.
Kadang-kadang orang memanggil saya 'Ir' karena untuk menyingkat saja. Atau 'Wan' juga oke saja, tapi kalau di bulutangkis panggilnya sering Irwan atau karena sekarang jadi pelatih, jadinya coach Irwan. Itulah asal-usulnya Aboy.
Irwansyah kini ditemani Harry Hartono untuk menangani pelatih tunggal putra utama Pelatnas Cipayung PBSI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Akhirnya ada Harry Hartono yang menemani membimbing tunggal putra utama. Bagaimana soal itu?
Sekarang ada berdua sama Harry ya lebih enak lagi dibanding tahun lalu. Harry kan ke iran, nanti bergantian dan nggak nitip sana-sini. Tahun lalu repotnya saya titip ke Pratama.
Kalau sekarang lebih jelas jalannya bagaimana. Saya sama Harry kan bisa terus mengasah speed dan power para pemain supaya tidak hilang. Lebih enak begini sih.
Target tunggal putra tahun ini?
Kalau dibilang target, kepingin anak-anak juara terus. Makanya yang saya bilang, latihannya bagus Insya Allah titel di kejuaraan mereka bisa ambil.
Tapi itu kan rencana kita, rezeki Allah yang atur.
Di tahun ini banyak ada Super Series, All England, apalagi sebentar lagi juga bakal ada Olimpiade.
Yang penting mereka, semangatnya 100 persen melakukan apa yang diinstruksikan pelatih. Mau kerja keras. Insya Allah hasilnya bagus.
Pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung PBSI, Irwansyah, punya tanggung jawab besar membangkitkan kejayaan tunggal putra Indonesia. Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Irwansyah.
Irwansyah, pelatih tunggal putra Pelatnas Cipayung PBSI, ikut mendapat sorotan seiring terjadinya All Indonesian Final di Indonesia Masters 2023 antara Jonatan Christie vs Chico Aura Dwi Wardoyo.
Tak hanya itu, kini ada tiga pemain Indonesia yang duduk di posisi 15 besar dunia yaitu Jonatan di peringkat kedua, Anthony Ginting di posisi ketiga, dan Chico di peringkat ke-15.
Berikut wawancara CNNIndonesia.com dengan Irwansyah terkait pandangannya terhadap atlet-atlet Indonesia, badminton, dan kehidupan:
Kini ada tiga pemain tunggal putra di 15 besar. Bagaimana komentar Anda?
Sangat bagus, mereka bisa naik peringkatnya. Tetapi memang kalau dari saya pribadi, juara itu juga penting. Jadi tidak ranking saja yang dipikirkan. Banyak orang yang mengejar ranking itu dengan banyak ikut kejuaraan saja agar rankingnya tinggi.
Buat saya, titel itu penting. Jadi kalau juara sudah dapat dan hasil bagus, ranking pasti naik. Sejauh ini mereka dapat ranking yang bagus. Hal ini bagus juga, tetapi yang mau saya buat adalah bagaimana konsisten untuk juara karena ranking bakal menyusul.
Apa tantangan yang perlu ditaklukkan agar pemain-pemain Indonesia bisa konsisten juara?
Kalau menurut saya pribadi, level pemain-pemain saya ini sudah level juara. Tetapi kadang-kadang di lapangan itu cara mereka berpikir untuk strategi kadang-kadang enggak keluar karena dari diri mereka sendiri.
Tekanan yang ada harus diolah oleh mereka. Kan ada tekanan angin di sisi lapangan mungkin lebih kencang, di sebelah sana lebih berat jadi bolanya ke mana-mana. Situasi seperti itu yang mau dibuat lebih dibiasakan lagi di latihan dan saya sebagai pelatih harus mengarahkan agar pemain bisa meng-handle situasi tersebut.
Pemain kita merasakan itu dan musuh juga, jadi adaptasi harus cepat. Saya berharap dengan kepercayaan diri mereka yang ingin saya ubah, mudah-mudahan bisa konsisten.
Berarti permasalahannya kurang lebih sama antara Jonatan, Ginting, Chico, dan pemain lainnya?
Ya, karena ekspektasi di lapangan itu mereka jadi membebani diri sendiri.
Oke saja pemain mau juara, tapi musuh juga mau juara.
Untuk handle pikiran mereka, itu yang ingin terus saya olah. Kalau sudah dapat momen itu, mereka bisa juara dan stabil.
Dari tiga turnamen di bulan Januari dalam laga saat pemain Indonesia kalah, lebih banyak karena faktor pikiran dan kesalahan sendiri atau memang lawannya berat?
Kita tidak bisa bilang murni kesalahan kita saja karena musuh juga bagus dari strategi dan pertahanan. Tapi memang di situ tekanan harus bisa di-handle.
Awal tahun kan baru mulai kejuaraan lagi. Situasi itu tidak mudah untuk adaptasi. Musuh pun bagus-bagus. Strategi di lapangan itu penting. Setiap hari kami sudah bicara selalu soal strategi, di malam sebelumnya juga kami diskusi dengan pemain.
Kalau kita takut untuk mengeluarkan strategi, kita bakal takut juga untuk melaksanakan strategi.
Apakah berarti tetap ada arahan sebelum laga All Indonesian Final di Indonesia Masters kemarin?
Itu saya cuma kasih arahan bermain dengan bagus. Dua-duanya di final sudah bagus.
"Contohkan ke masyarakat bahwa kamu yang the best."
Mereka sama-sama berteman dan kompak, jadi kompak di luar dan di dalam lapangan. Mereka kan mau dilihat orang, jadi harus ada mental dan semangat tinggi tapi tetap harus jadi contoh.
Irwansyah gembira melihat Jonatan dan Chico bisa memanggungkan All Indonesian Final di Indonesia Masters. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Bagaimana perasaan coach Irwansyah waktu melihat All Indonesian Final di Indonesia Masters?
Saya terharu, saya bangga walaupun bukan Olimpiade. Saya berharap satu hari nanti pemain-pemain saya bisa melakukannya di kejuaraan yang lebih penting.
Saya juga senang karena mereka melakukannya di Indonesia. Semifinal itu sulit banget si Jonatan dan Chico.
Level mereka sudah terlihat dan pantas juara dari Ginting, Jonatan, Chico, dan Vito. Kemudian di lapis duanya juga sudah pantas menjadi juara. Makanya pas nonton kemarin itu bangga karena saya tinggal nonton saja mereka main di final.
Tetapi coach Irwansyah masih tetap terlihat sibuk mencatat di final Indonesia Masters kemarin?
Saya catat untuk kekurangannya. Saya ingin ada yang dibaguskan lagi. Bertemu teman kan sudah hafal tetapi ada situasi yang terbaca sama teman, mereka harus tahu juga. Kalau ketemu musuh yang sudah hafal pola main, mereka harus bisa cari jalan keluar juga.
Kalau saat mencatat di buku dalam sebuah pertandingan, biasanya habis berapa lembar?
Tidak pasti, tetapi setiap kejuaraan itu selalu saya tulis. Sekali main Jonatan lawan Lakshya Sen misalnya, saya catat yang spesifiknya. Kalau saya memang suka catat.
Tiap pelatih berbeda-beda, ada yang suka diingat saja, ada yang dicatat. Kalau saya dari dulu, saya suka catat, waktu jadi pemain juga saya mencatat kelebihan dan kekurangan.
Saya ada satu buku untuk evaluasi, satu minggu, satu bulan. Apa kekurangan dan kelebihan saya catat. Misal: "Tenaga saya sudah bagus, defense bagus. Tapi defense ke kiri kurang enak."
Nah kekurangan itu yang saya perbaiki.
Sejak saya jadi pelatih, saya cari apa kekurangan anak-anak ini. Poin salah-salahnya itu ketahuan nanti. Dengan mencatat, saya juga tak khawatir lupa.
Irwansyah selalu mencatat kelebihan dan kekurangan ketika mengawasi pemain menjalani sebuah laga. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Berarti Anda juga mewajibkan pemain-pemain tunggal putra saat ini untuk mencatat?
Saya arahkan untuk mencatat. Mereka punya catatan masing-masing, tapi saya tidak mau memaksa. Kalau mereka rasa itu benar, ya jalankan. Kalau tidak mau, ya bagaimana lagi. Tapi kalau mau maju, mereka harus mencatat kelemahan dan kelebihan.
Mereka itu kan di sini [Pelatnas Cipayung] seperti orang yang belajar terus. Mereka harus tahu musuh-musuhnya makanya ada video analisa. Dengan kita mencatat itu kita bisa ingat, anak-anak juga harus begitu.
Jadi Sabtu-Minggu mereka bisa lihat lagi catatannya. Jadi jangan yang dicatat kelemahan saja, tapi juga kelebihan. Saya kasih tahu kekurangan mereka, juga kelebihannya.
Saat Anda melakukan evaluasi, apakah pemain yang kalah juga dilakukan evaluasi sesaat setelah pertandingan juga?
Habis mereka main pasti datang ke saya, kalah atau menang. Tetapi kalau kalah pasti down. Kalau kalah, arahannya yang penting bukan mengenai kalahnya terlebih dahulu, namun agar membuat jiwanya tetap besar.
Poin-poin kalahnya tetap pasti saya kasih tahu tapi harus kita besarkan jiwanya terlebih dahulu. Perkataan negatif itu saya coba hindari.
Setelah main, saya selalu menunggu mereka keluar lapangan. Nanti di luar saya tunggu mereka, bila mereka menang, saya bilang, "Hebat banget lu mainnya".
Tetap saya puji juga ketika mereka menang atau kalah. Salah strategi, salah bermain, tentu bukan keinginan pemain. Jadi saya arahkan lebih positif lagi. "It's ok, tidak apa-apa".
Kalau dari gesture, Anda dengan pemain seperti bapak sama anak atau kakak adik, bagaimana proses pembentukannya?
Saya dekat sama mereka, bukan berarti hilang respek. Saya sudah punya pengalaman sejak dari pemain, banyak pelatih yang saya lihat. Semua itu saya kumpulkan yang bagus-bagus, yang tidak bagus tidak saya ambil.
Saya sebagai pelatih sekarang ini ingin menjadikan pemain dengan cara saya. Waktu tahun 2016 saya sebagai asisten Koh Hendri Saputra saat itu kerjasamanya juga sangat bagus.
Ketika baru di sini saya mencoba mendekatkan diri dengan anak-anak, misalnya saya ajak ke rumah untuk coba masakan istri. Jadi begitulah, enak atau tidaknya masakan itu kan urusan lain, tetapi yang penting berkumpul.
Kadang-kadang pemain dan pelatih itu ada jarak banget, nah saya tidak mau. Karena saya maunya mereka bicara ke saya kalau ada apa-apa. Hidup ini kan tidak lempeng-lempeng saja jadi mereka bisa bicara dan saya juga bisa jaga rahasia.
Saya ingin atlet terbuka, karena kalau atlet itu pikirannya lepas di lapangan, itu lebih berani tidak mikir yang lain.
Berapa bulan yang dibutuhkan sampai akhirnya atlet bisa banyak bercerita pada coach Irwansyah?
Tidak lama, waktu itu saya masih asisten yang penting sering ngobrol. Nggak lama menurut saya. Cuma kan di sini disiplin memang harus diterapkan. Makanya mereka nyaman sama saya bukan berarti respek itu hilang. Kalau sudah kelewatan, saya tegur. Jadi tetap menghargai.
Makanya saya bangga dengan mereka karena mereka bisa begitu terbuka dengan saya. Dari yang senior dan junior sama-sama perasaannya seperti semuanya.
Sekarang ada Alwi yang paling muda, perlakuan saya ke dia juga sama seperti saya ke senior.
Sebagai pelatih, bagaimana merasakan momen harus melakukan degradasi pada atlet?
Setiap pelatih memang berat untuk memutuskan, tapi semua itu kan memang harus terjadi karena pemain yang di bawah [Pratama] juga mau naik. Kami tidak bisa simpan semua, kalau tidak berprestasi, kami tidak bisa apa-apa.
Jangan akhir tahun itu kami justru jadi tidak tega. Akhir tahun, tergantung pemain bisa jadi yang terbaik atau tidak.
Bagaimana melihat persaingan di tunggal putra Pelatnas Cipayung saat ini?
Persaingan dan saingan itu harus banyak karena kalau tidak, itu bisa terlalu nyaman bagi pemain. Senior tidak boleh lengah karena Pratama juga mau naik.
Itu kalau yang di atas tidak juara kita pertahankan, kasihan yang di bawah juga. Makanya pemain itu harus sadar bahwa di sinilah mereka bisa berproses jadi pemain hebat.
Baca lanjutan wawancara ini di halaman berikut >>>
Sejarah Panggilan Aboy dan Dongeng untuk Pemain
Irwansyah yakin persaingan di sektor tunggal putra Pelatnas Cipayung bakal ketat menuju Race to Olympics. (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)
Bagaimana penilaian Anda terhadap karier Anda sebagai pemain dahulu? Apakah merasa jadi pemain yang gagal?
Saya tidak pernah menyesal, memang saya tidak seperti teman-teman saya yang berprestasi tapi saya sudah melakukan semuanya. Saya disiplin dan bekerja keras. Namun memang ada sejumlah kendala cedera.
Ada saraf di pinggang yang terjepit, kata profesor juga bilang bisa lumpuh. Ada di sini [kaki] yang sobek.
Dahulu saya sering latihan tambahan, teman-teman sudah pulang saya masih latihan. Pagi-pagi jam 5 saya skipping, apa saja, tapi kondisi badan tidak mengizinkan.
Tidak ada penyesalan bagi saya, mungkin Allah kasih jalan yang berbeda.
Tetapi dahulu ketika saya cedera pinggang, saya 21 hari harus dirawat. Saat itu saya sempat berpikir," Kenapa kok bisa begini padahal saya sudah melakukan semuanya?"
Dahulu makanan dan sepatu kan berbeda dibanding sekarang. Sepatu dulu tidak bagus dan lari juga di aspal. Sekarang sudah ada latihan fisik yang benar-benar tahu detail, kalau dulu itu kami semangat saja tapi tidak ada yang mengarahkan.
Kalau dibilang gagal, saya tidak tahu, tetapi memang cedera saya banyak banget. Saya banyak sakit ketika sedang tampil bagus. Jadi itulah saya putuskan ketika ada tawaran di Wales saya terima.
Berapa lama Anda di Pelatnas Cipayung saat jadi pemain?
Di sini saya masuk tahun 1996 bulan November, saya lahir tahun 1974. Saya baru masuk pelatnas usia 22, tapi saya akhirnya dipanggil juga dan rezeki tidak kemana.
Saya masuk pelatnas itu terlambat, jadi memang saya terus berprinsip, kalau memang sudah rezeki pasti bisa. Untungnya ada dukungan dari orangtua, pelatih, termasuk Koh Hendry Saputra, pelatih saya dulu.
Saya sampai tahun 2000 di Pelatnas. Karena generasi yang di bawah-bawah mulai ada, jadi saya terima tawaran tahun ke Wales pada 2001.
Irwansyah menilai ia sudah mengerahkan segala hal yang ia bisa selama jadi pemain sehingga tak punya penyesalan. (Arsip PBSI)
Pelajaran yang mau diberikan kepada pemain berdasarkan pengalaman Anda sebagai pemain dahulu?
Kalau dari pengalaman saya, saya ingin mereka harus berusaha 100 persen. Mereka harus 100 persen disiplin dan jaga kondisi. Setelah itu kita serahkan ke Allah.
Percaya enggak percaya, kerja keras itu penting. Rezeki itu tidak akan ke mana-mana dan itu yang menguatkan saya sampai sekarang.
Kalau belum juara tidak apa-apa, pasti suatu hari dapat. Pertama yang penting kerja keras dan disiplin. Kalau tidak bakal saya coret, itu prinsip saya.
Orang yang punya bakat hebat tapi malas, itu saya juga tidak mau. Mending orang yang bekerja keras tapi biasa-biasa saja karena bisa diarahkan.
Ada satu dongeng yang pernah saya ceritakan pada para pemain tunggal putra. Begini ceritanya:
Suatu ketika ada orang tua dan keledai tua hidup di tempat yang jauh dari kota. Karena sudah tua, dia ingin pergi ke kota dan melihat kota sebelum meninggal dunia. Agar ia bisa meninggal dengan tidak lagi penasaran terhadap bayangan tentang kota."
Pergilah dia dengan menaiki keledai. Di tengah gurun, ia mendengar komentar,'Bodoh sekali, keledai sudah tua di cuaca panas seperti ini, malah dinaiki'.
Mendengar komentar itu, Pak Tua itu turun dan menuntun keledai miliknya. Lalu ia berpapasan dengan orang lain dan mendengar komentar,'Bodoh orang itu, punya keledai, tetapi tidak dinaiki padahal dia sudah tua. Apa salahnya dinaiki'.
Pak Tua itu bingung, karena dinaiki salah, dituntun juga salah.
Karena perjalanan menuju kota masih jauh, keledai milik Pak Tua sudah terlihat lelah. Namun Pak Tua tak mau menyerah begitu saja dan ia merasa masih kuat. Karena sebelum malam harus tiba di kota, Pak Tua lalu menggendong keledai tersebut dan terus berjalan agar tiba di kota lebih cepat.
Lalu mereka berpapasan lagi dengan orang lain. Terdengarlah komentar,'Ini orang sarap atau gimana, punya keledai kok bisa digendong'.
Dongeng ini menceritakan kehidupan, apapun yang kita buat, bisa tetap salah di mata orang. Jadi saya bilang ke anak-anak bahwa kalian tidak perlu khawatir apa kata orang.
Yang penting kalian lakukan yang terbaik. Selagi tidak ganggu orang.
Irwansyah berpesan pada Chico Aura Dwi Wardoyo dan kawan-kawan untuk tidak terlalu mengkhwatirkan pandangan orang lain. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jonatan Christie peringkat dua, Anthony Ginting peringkat tiga. Tetapi Viktor Axelsen seperti masih terlalu dominan sebagai pemain peringkat pertama. Bagaimana melihat persaingan di tunggal putra dunia secara keseluruhan dengan sosok Axelsen dominan saat ini?
Persaingan itu ketat, memang ketemu Axelsen itu berbeda karena tinggi. Pemain lain rata-rata tingginya sama, kalau Axelsen itu tinggi dan bisa bermain seperti orang yang tidak tinggi.
Agak bingungnya di situ, tetapi Kunlavut bisa menang, berarti semua orang juga bisa menang.
Strategi sudah ada, tapi penyelesaian seperti angin dan situasi di lapangan kerap membuat pemain kita ragu. Itu yang perlu diubah.
Kepercayaan diri Axelsen itu tinggi setelah juara di banyak kejuaraan. Jadi buat dia kayak enak di lapangan. Saya mau pemain kita kalau lawan Axelsen itu harus percaya diri melebihi dia.
Soal mental kan siapa yang berani di lapangan, jadi bisa buat musuh itu meredup. Itu yang masih diproses. Saya yakin pemain saya bisa mengalahkan Axelsen.
Sudah ada pembicaraan soal Race to Olympics ke pemain-pemain tunggal putra?
Kami sudah membicarakan tapi saya tidak mau mereka terlalu panik. Semua kejuaraan itu penting. Olimpiade itu penting tapi tidak boleh begitu-begitu banget. Tidak perlu seperti dikejar-kejar, yang penting persiapan bagus terus.
Super series itu juga penting, yang penting fokus tapi tetap enjoy. Tidak boleh tertekan.
Olimpiade slot-nya maksimal cuma dua. Bagaimana melihat peta persaingan di tunggal putra?
Pasti semua punya peluang, mereka punya kesempatan dan saya ngomong itu ke semuanya. Buat Jonatan dan Ginting juga bagus karena tidak mau lengah walaupun teman baik. Mereka tidak boleh ketinggalan satu sama lain.
Kehadiran Chico dan Vito itu buat Jonatan dan Ginting tidak lengah.
Tetapi mereka semua harus tetap enjoy tidak boleh panik.
Siapa tunggal putra Indonesia terbaik sepanjang masa?
Banyak, saya tidak bisa sebut satu-satu. Saya menghargai kerja keras dan prestasi para legenda yang mengharumkan nama bangsa. Jadi kalau disebut satu, susah.
Saya sebagai pelatih juga ingin menjadikan pemain-pemain saat ini seperti legenda-legenda yang ada.
Itu kan buat kepentingan bangsa dan negara, bukan buat saya pribadi.
Kenapa dipanggil bang Aboy?
Saya itu dari Medan, papa saya ada keturunan India. Orang keturunan India di Medan itu, anak kecilnya dipanggil Aboy. Aboy itu anak laki-laki.
Jadi seiring berjalan waktu, setelah pindah dari tempat nenek lalu ke tempat saya tumbuh, saya dipanggilnya juga Aboy dari kecil. Kebawa sampai besar.
Papa dan Mama saya sering manggil, "Mana si Aboy?"
Panggilan itu dari keluarga dan akhirnya kebawa sampai besar. Kalau di luar-luar sih tetap Irwan. tapi sampai sekarang orang yang kenal dekat sama saya itu memanggil saya Aboy.
Oke saja mana saja nama yang dipilih orang yang manggil.
Kadang-kadang orang memanggil saya 'Ir' karena untuk menyingkat saja. Atau 'Wan' juga oke saja, tapi kalau di bulutangkis panggilnya sering Irwan atau karena sekarang jadi pelatih, jadinya coach Irwan. Itulah asal-usulnya Aboy.
Irwansyah kini ditemani Harry Hartono untuk menangani pelatih tunggal putra utama Pelatnas Cipayung PBSI. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Akhirnya ada Harry Hartono yang menemani membimbing tunggal putra utama. Bagaimana soal itu?
Sekarang ada berdua sama Harry ya lebih enak lagi dibanding tahun lalu. Harry kan ke iran, nanti bergantian dan nggak nitip sana-sini. Tahun lalu repotnya saya titip ke Pratama.
Kalau sekarang lebih jelas jalannya bagaimana. Saya sama Harry kan bisa terus mengasah speed dan power para pemain supaya tidak hilang. Lebih enak begini sih.
Target tunggal putra tahun ini?
Kalau dibilang target, kepingin anak-anak juara terus. Makanya yang saya bilang, latihannya bagus Insya Allah titel di kejuaraan mereka bisa ambil.
Tapi itu kan rencana kita, rezeki Allah yang atur.
Di tahun ini banyak ada Super Series, All England, apalagi sebentar lagi juga bakal ada Olimpiade.
Yang penting mereka, semangatnya 100 persen melakukan apa yang diinstruksikan pelatih. Mau kerja keras. Insya Allah hasilnya bagus.