5 Pekerjaan Besar Ketua PSSI Erick Thohir
3. Kualitas Wasit
Salah satu masalah terbesar sepak bola Indonesia adalah wasit. Dari pekan ke pekan, bahkan dari pertandingan ke pertandingan, selalu saja muncul kontroversial dari kepemimpinan wasit di Liga 1.
Banyak wasit Indonesia seperti tidak punya kecakapan dan cukup integritas untuk disegani. Ini tak lain karena kelalaian pengambilan keputusan terkait dengan hal-hal dasar seperti offside.
Kurangnya pelatihan dari PSSI disinyalir sebagai penyebab utama. Evaluasi kinerja wasit dari pertandingan ke pertandingan atau pekan ke pekan, baik secara daring maupun luring tidak digelar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kualitas wasit di level Liga 2 dan 3 tak kalah merisaukan. Bisa dibilang kondisi lebih parah. Karenanya PSSI harus menjadikan pelatihan wasit sebagai salah satu program yang harus ditingkatkan.
4. Kursus pelatih
Pemain hebat lahir dari pelatih yang kuat. Itu kata orang-orang lama yang nyatanya masih relevan hingga kini. Sayangnya jumlah pelatih Indonesia masih sangat minim untuk jutaan potensi pemain.
PSSI sempat menggenjot kursus kepelatihan wasit pada Edy Rahmayadi, tetapi jumlah menurun tajam di era Iriawan. Pandemi Covid-19 jadi alasan. Setelah pandemi menurun, jumlahnya tetap belum naik.
Selama kepemimpinan Iriawan baru berlangsung satu kali kursus Pro AFC. Ini membuat banyak pelatih tak bisa menangani klub profesional. Sudah begitu pelatih lokal kurang dipercaya oleh klub.
Oleh karena itu PSSI harus menggalakkan lagi kursus kepelatihan. Jika rumusnya berjalan baik, semakin banyak pemain yang dimiliki Indonesia, semakin banyak pula talenta yang akan lahir.
Lihat Juga : |
5. Kantor dan Training Center
Sebagai organisasi yang tahun ini akan berusia 93 tahun, PSSI termasuk sebagai organisasi miskin. Hingga kini PSSI tidak punya kantor sendiri, meski ada sumber pemasukan yang dikelola PSSI.
PSSI juga tidak memiliki training center untuk Timnas Indonesia. Selama bertahun-tahun PSSI bergantung pada PPKGBK untuk mengelola salah satu lapangan di komplek olahraga, antara A, B, C, atau D.
Situasi ini membuat pelatih asing yang didatangkan PSSI mengeluh. Pada awal kedatangannya pelatih-pelatih itu kaget bahwa PSSI tak punya fasilitas penunjang untuk mencipta prestasi Timnas Indonesia.
Selama bertahun-tahun PSSI lebih memilih jalan pintas melakukan pemusatan latihan di luar negeri. Untuk biaya yang menghabiskan miliaran rupiah itu dananya ada, tetapi untuk membangun lapangan latihan tidak.
(abs/jun)Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI dengan agenda pemilihan pengurus periode 2023-2027 menghasilkan Erick Thohir sebagai ketua umum. Berikut pekerjaan rumah yang sudah menanti Erick.
Selama periode kepengurusan Mochamad Iriawan pada 2019-2023, terkendala sejumlah situasi. Pandemi Covid-19 selama hampir dua tahun membuat program kerja Iriawan tidak berjalan dengan lancar.
Janji politik Iriawan untuk memberi subsidi ke klub Liga 1 sebesar Rp15 miliar semusim, tidak terwujud. Ambisi pria yang akrab disapa Iwan Bule untuk membangun training center pun tidak terwujud.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini PSSI dalam asuhan pengurus baru. Harapan publik ada perbaikan besar agar sepak bola Indonesia membaik. Tidak hanya soal prestasi Timnas Indonesia tercipta, tetapi juga soal kompetisi sebagai industri.
Berikut ini lima pekerjaan rumah pengurus PSSI periode 2023-2027 yang dirangkum CNNIndonesia.com dari observasi selama masa kepengurusan Iriawan.
1. Mimpi Kompetisi Industri
Dari musim ke musim persoalan Liga Indonesia tak jauh dari persoalan jadwal kompetisi. Jadwal biasanya diumumkan hanya beberapa pekan menjelang kick off. Sudah begitu izin keramaian sulit keluar.
Setelah Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa, izin semakin sulit didapat. Jadwal kompetisi yang telah ditetapkan PT Liga Indonesia Baru selaku operator pun sering mengalami perubahan.
Karenanya PSSI punya tugas membuat dan menjamin jadwal kompetisi bisa dijalankan dengan baik. PSSI harus bisa meyakinkan polisi bahwa izin harus diberikan dan tinggal urusan tingkat pengamanannya yang dikawal.
Pada saat yang sama Liga 2 tidak bisa berjalan dengan maksimal. Jumlah pertandingan kompetisi kasta kedua sangat minim dan tidak standar FIFA, yakni minimal 30 laga dalam semusim. Liga 2 pun belum laku dijual.
2. Perbaikan Kompetisi Usia Muda
Sejak dari era kepengurusan Edy Rahmayadi PSSI sudah menggulirkan Elite Pro Academy dari usia 15 hingga 19. Hanya saja jumlah kompetisi yang dipertandingkan sangat minim dan seperti sekadar ada.
Kekurangan biaya menjadi kendala. Sudah sebegitu belum semua klub kasta tertinggi punya tim usia muda. Sejumlah tim baru membentuk tim usia saat ada kompetisi lantas membubarkannya seusai liga.
Kondisi klub yang tidak punya tim usia muda ini terkait dengan fakta klub tidak punya lapangan latihan sendiri. Sejumlah klub belum menjadikan tim usia muda sebagai kewajiban sebuah tim profesional.
Hal sama berlaku untuk kompetisi sepak bola putri. Kompetisi dengan kondisi ala kadarnya sempat bergulir pada 2019, tetapi sama sekali tak berjalan selama era Iriawan menjabat sejak akhir 2019.
Baca di halaman berikutnya>>>
Perbaikan Kualitas Wasit Jadi Sorotan
Erick Thohir resmi jadi Ketua Umum PSSI 2023-2027. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
3. Kualitas Wasit
Salah satu masalah terbesar sepak bola Indonesia adalah wasit. Dari pekan ke pekan, bahkan dari pertandingan ke pertandingan, selalu saja muncul kontroversial dari kepemimpinan wasit di Liga 1.
Banyak wasit Indonesia seperti tidak punya kecakapan dan cukup integritas untuk disegani. Ini tak lain karena kelalaian pengambilan keputusan terkait dengan hal-hal dasar seperti offside.
Kurangnya pelatihan dari PSSI disinyalir sebagai penyebab utama. Evaluasi kinerja wasit dari pertandingan ke pertandingan atau pekan ke pekan, baik secara daring maupun luring tidak digelar.
Kualitas wasit di level Liga 2 dan 3 tak kalah merisaukan. Bisa dibilang kondisi lebih parah. Karenanya PSSI harus menjadikan pelatihan wasit sebagai salah satu program yang harus ditingkatkan.
4. Kursus pelatih
Pemain hebat lahir dari pelatih yang kuat. Itu kata orang-orang lama yang nyatanya masih relevan hingga kini. Sayangnya jumlah pelatih Indonesia masih sangat minim untuk jutaan potensi pemain.
PSSI sempat menggenjot kursus kepelatihan wasit pada Edy Rahmayadi, tetapi jumlah menurun tajam di era Iriawan. Pandemi Covid-19 jadi alasan. Setelah pandemi menurun, jumlahnya tetap belum naik.
Selama kepemimpinan Iriawan baru berlangsung satu kali kursus Pro AFC. Ini membuat banyak pelatih tak bisa menangani klub profesional. Sudah begitu pelatih lokal kurang dipercaya oleh klub.
Oleh karena itu PSSI harus menggalakkan lagi kursus kepelatihan. Jika rumusnya berjalan baik, semakin banyak pemain yang dimiliki Indonesia, semakin banyak pula talenta yang akan lahir.
Lihat Juga : |
5. Kantor dan Training Center
Sebagai organisasi yang tahun ini akan berusia 93 tahun, PSSI termasuk sebagai organisasi miskin. Hingga kini PSSI tidak punya kantor sendiri, meski ada sumber pemasukan yang dikelola PSSI.
PSSI juga tidak memiliki training center untuk Timnas Indonesia. Selama bertahun-tahun PSSI bergantung pada PPKGBK untuk mengelola salah satu lapangan di komplek olahraga, antara A, B, C, atau D.
Situasi ini membuat pelatih asing yang didatangkan PSSI mengeluh. Pada awal kedatangannya pelatih-pelatih itu kaget bahwa PSSI tak punya fasilitas penunjang untuk mencipta prestasi Timnas Indonesia.
Selama bertahun-tahun PSSI lebih memilih jalan pintas melakukan pemusatan latihan di luar negeri. Untuk biaya yang menghabiskan miliaran rupiah itu dananya ada, tetapi untuk membangun lapangan latihan tidak.
