Jalan Terjal Man City dan Peluang Renaisans Guardiola
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Selasa, 11 Apr 2023 08:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Sederet gelar Manchester City belum lengkap tanpa kehadiran trofi Liga Champions. (AP/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester City bakal melewati jalan terjal pada leg pertama babak perempat final Liga Champions2022/2023 karena bertemu dengan Bayern Munchen di Etihad Stadium, Rabu (12/4) dini hari WIB.
Tak hanya bertemu dengan tim raksasa, pertandingan Manchester City vs Bayern Munchen di Liga Champions merupakan laga emosional bagi Pep Guardiola.
Pelatih asal Spanyol itu pernah tiga tahun menangani Bayern Munchen. Guardiola yang sempat minggir dari dunia sepak bola usai menukangi Barcelona, kemudian luluh ketika klub elite Jerman tersebut menawarkannya kerjasama prospektif.
Rezim Guardiola pun bertabur gelar di panggung domestik dan internasional dengan torehan tiga gelar Bundesliga beruntun, dua trofi DFB Pokal, satu UEFA Super Cup, dan satu trofi Piala Dunia Antarklub. Namun, masih ada ganjalan yang tak sempat ditorehkan oleh juru taktik Katalan tersebut, yakni Liga Champions untuk Die Roten.
Belum sempat mengangkat trofi 'Si Kuping Besar' bersama Munchen, Guardiola sudah keburu menerima pinangan Manchester City. Petualangannya bersama The Citizens sejauh ini berjalan manis.
Di musim ketujuh bersama Manchester Biru, Guardiola berhasil menyapu bersih seluruh trofi yang bisa dimenangkan di level domestik. Empat gelar Premier League, satu Piala FA, dua Community Shield, dan empat trofi Carabao Cup tentu masuk ke dalam catatan yang apik untuk ukuran pelatih yang tak pernah berpengalaman memegang tim Inggris sebelum mendarat ke Etihad Stadium.
Namun lagi-lagi, masih ada yang menyangkut dalam Curriculum Vitae kepelatihan Guardiola. Seperti halnya di Bayern Munchen, kariernya seakan belum lengkap tanpa torehan gelar Liga Champions bersama Manchester City.
Ini adalah percobaan ketujuh sekaligus yang terlama Guardiola dalam upaya mengangkat piala paling bergengsi antarklub Eropa. Pasalnya bersama Barcelona, Guardiola sukses menyabet dua gelar Liga Champions dalam empat musim kepelatihannya.
Gelar Liga Champions tentu akan menjadi momen renaisans atau kelahiran kembali bagi Guardiola ke masa keemasan. Sebab setelah meninggalkan Barcelona, dirinya sama sekali belum pernah menjuarai Liga Champions.
Kesempatan terbaik Guardiola mengecup trofi Liga Champions bersama City terjadi pada musim 2020/2021 ketika berhasil mencapai final. Sayangnya, asa itu pupus di tangan Chelsea dengan skor tipis 0-1.
Uniknya lagi, City dikalahkan oleh Chelsea yang kala itu masih dilatih oleh Thomas Tuchel. Kini Tuchel merupakan pelatih Bayern Munchen yang akan dihadapi oleh City.
Berangkat dari kebetulan itu, jelas pertandingan Manchester City vs Bayern Munchen di leg pertama perempat final Liga Champions 2022/2023 bukan sekadar bentrok taktik, melainkan adu gengsi sekaligus ajang balas dendam terutama bagi Guardiola.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Guardiola tentu punya keuntungan karena punya pengalaman melatih Bayern Munchen. Ia dapat lebih mengenal karakter permainan FC Hollywood jika berkaca dari tiga tahun kepelatihannya.
Di satu sisi, Guardiola juga mungkin bakal mendapat kejutan dari Tuchel yang belum genap satu bulan melatih Bayern. Terdapat kemungkinan Tuchel memberi kejutan dengan taktik yang dihadirkan di markas City.
Namun bak dua mata pisau, rezim Tuchel yang masih seumur jagung dapat mempersulit Bayern untuk merebut kemenangan. Melirik tiga pertandingan terakhir di era Tuchel, Thomas Muller dan kawan-kawan mencatat dua kemenangan dan satu kekalahan.
Satu-satunya kekalahan pun lahir di pertandingan yang cukup penting, yakni perempat final DFB Pokal. Ini mengindikasikan formula yang disusun Tuchel belum sepenuhnya padu.
Belum lagi karena kondisi Eric Maxim Choupo-Moting dan Sadio Mane yang belum prima akibat cedera. Lini depan Munchen kini harus bergantung pada Thomas Muller dengan bantuan Kingsley Coman dan Jamal Musiala.
Beban di pundak Tuchel semakin berat dengan ekspektasi tinggi dari berbagai pihak setelah dirinya mengendalikan Bayern. Sebab, perjalanan Bayern di Liga Champions musim ini paling mulus dibandingkan tim lain.
Bayern adalah satu-satunya tim di Liga Champions 2022/2023 yang selalu memperoleh kemenangan di semua pertandingan dari babak penyisihan hingga 16 besar. Jika tak meneruskan tren kemenangan, tentu rekor Bayern akan ternodai.
Erling Haaland bisa menjadi harapan Pep Guardiola di Liga Champions. (REUTERS/PETER NICHOLLS)
Bekal sempurna Bayern di Liga Champions musim ini dapat menjadi motivasi sekaligus bumerang bagi Tuchel. Terlebih lagi Manchester City tak punya masalah berarti dalam susunan skuad jelang pertandingan ini.
Beberapa pemain penting seperti Bernardo Silva, Kevin De Bruyne, hingga Erling Haaland diprediksi kuat bisa tampil kontra Bayern. Lini belakang hingga depan The Citizens praktis tak memiliki masalah berarti ihwal kesiapan pemain.
Susunan skuad mumpuni plus motivasi pemain yang sedang tinggi karena kemenangan beruntun dalam lima pertandingan terakhir di Premier League dapat menjadi modal kuat untuk mengalahkan Bayern.
Menang atas Bayern di leg pertama dan memastikan tiket semifinal di leg kedua akan membuka pintu bagi City menuju asa juara. Gelar Liga Champions bagi Guardiola untuk City tentu akan membuatnya terlahir kembali sebagai pelatih kelas wahid.
Manchester City bakal melewati jalan terjal pada leg pertama babak perempat final Liga Champions2022/2023 karena bertemu dengan Bayern Munchen di Etihad Stadium, Rabu (12/4) dini hari WIB.
Tak hanya bertemu dengan tim raksasa, pertandingan Manchester City vs Bayern Munchen di Liga Champions merupakan laga emosional bagi Pep Guardiola.
Pelatih asal Spanyol itu pernah tiga tahun menangani Bayern Munchen. Guardiola yang sempat minggir dari dunia sepak bola usai menukangi Barcelona, kemudian luluh ketika klub elite Jerman tersebut menawarkannya kerjasama prospektif.
Rezim Guardiola pun bertabur gelar di panggung domestik dan internasional dengan torehan tiga gelar Bundesliga beruntun, dua trofi DFB Pokal, satu UEFA Super Cup, dan satu trofi Piala Dunia Antarklub. Namun, masih ada ganjalan yang tak sempat ditorehkan oleh juru taktik Katalan tersebut, yakni Liga Champions untuk Die Roten.
Belum sempat mengangkat trofi 'Si Kuping Besar' bersama Munchen, Guardiola sudah keburu menerima pinangan Manchester City. Petualangannya bersama The Citizens sejauh ini berjalan manis.
Di musim ketujuh bersama Manchester Biru, Guardiola berhasil menyapu bersih seluruh trofi yang bisa dimenangkan di level domestik. Empat gelar Premier League, satu Piala FA, dua Community Shield, dan empat trofi Carabao Cup tentu masuk ke dalam catatan yang apik untuk ukuran pelatih yang tak pernah berpengalaman memegang tim Inggris sebelum mendarat ke Etihad Stadium.
Namun lagi-lagi, masih ada yang menyangkut dalam Curriculum Vitae kepelatihan Guardiola. Seperti halnya di Bayern Munchen, kariernya seakan belum lengkap tanpa torehan gelar Liga Champions bersama Manchester City.
Ini adalah percobaan ketujuh sekaligus yang terlama Guardiola dalam upaya mengangkat piala paling bergengsi antarklub Eropa. Pasalnya bersama Barcelona, Guardiola sukses menyabet dua gelar Liga Champions dalam empat musim kepelatihannya.
Gelar Liga Champions tentu akan menjadi momen renaisans atau kelahiran kembali bagi Guardiola ke masa keemasan. Sebab setelah meninggalkan Barcelona, dirinya sama sekali belum pernah menjuarai Liga Champions.
Kesempatan terbaik Guardiola mengecup trofi Liga Champions bersama City terjadi pada musim 2020/2021 ketika berhasil mencapai final. Sayangnya, asa itu pupus di tangan Chelsea dengan skor tipis 0-1.
Uniknya lagi, City dikalahkan oleh Chelsea yang kala itu masih dilatih oleh Thomas Tuchel. Kini Tuchel merupakan pelatih Bayern Munchen yang akan dihadapi oleh City.
Berangkat dari kebetulan itu, jelas pertandingan Manchester City vs Bayern Munchen di leg pertama perempat final Liga Champions 2022/2023 bukan sekadar bentrok taktik, melainkan adu gengsi sekaligus ajang balas dendam terutama bagi Guardiola.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Upaya Guardiola Mengintip Kelemahan Munchen Era Tuchel
Pep Guardiola masih belum bisa meraih gelar Liga Champions di luar Barcelona. (REUTERS/PHIL NOBLE)
Guardiola tentu punya keuntungan karena punya pengalaman melatih Bayern Munchen. Ia dapat lebih mengenal karakter permainan FC Hollywood jika berkaca dari tiga tahun kepelatihannya.
Di satu sisi, Guardiola juga mungkin bakal mendapat kejutan dari Tuchel yang belum genap satu bulan melatih Bayern. Terdapat kemungkinan Tuchel memberi kejutan dengan taktik yang dihadirkan di markas City.
Namun bak dua mata pisau, rezim Tuchel yang masih seumur jagung dapat mempersulit Bayern untuk merebut kemenangan. Melirik tiga pertandingan terakhir di era Tuchel, Thomas Muller dan kawan-kawan mencatat dua kemenangan dan satu kekalahan.
Satu-satunya kekalahan pun lahir di pertandingan yang cukup penting, yakni perempat final DFB Pokal. Ini mengindikasikan formula yang disusun Tuchel belum sepenuhnya padu.
Belum lagi karena kondisi Eric Maxim Choupo-Moting dan Sadio Mane yang belum prima akibat cedera. Lini depan Munchen kini harus bergantung pada Thomas Muller dengan bantuan Kingsley Coman dan Jamal Musiala.
Beban di pundak Tuchel semakin berat dengan ekspektasi tinggi dari berbagai pihak setelah dirinya mengendalikan Bayern. Sebab, perjalanan Bayern di Liga Champions musim ini paling mulus dibandingkan tim lain.
Bayern adalah satu-satunya tim di Liga Champions 2022/2023 yang selalu memperoleh kemenangan di semua pertandingan dari babak penyisihan hingga 16 besar. Jika tak meneruskan tren kemenangan, tentu rekor Bayern akan ternodai.
Erling Haaland bisa menjadi harapan Pep Guardiola di Liga Champions. (REUTERS/PETER NICHOLLS)
Bekal sempurna Bayern di Liga Champions musim ini dapat menjadi motivasi sekaligus bumerang bagi Tuchel. Terlebih lagi Manchester City tak punya masalah berarti dalam susunan skuad jelang pertandingan ini.
Beberapa pemain penting seperti Bernardo Silva, Kevin De Bruyne, hingga Erling Haaland diprediksi kuat bisa tampil kontra Bayern. Lini belakang hingga depan The Citizens praktis tak memiliki masalah berarti ihwal kesiapan pemain.
Susunan skuad mumpuni plus motivasi pemain yang sedang tinggi karena kemenangan beruntun dalam lima pertandingan terakhir di Premier League dapat menjadi modal kuat untuk mengalahkan Bayern.
Menang atas Bayern di leg pertama dan memastikan tiket semifinal di leg kedua akan membuka pintu bagi City menuju asa juara. Gelar Liga Champions bagi Guardiola untuk City tentu akan membuatnya terlahir kembali sebagai pelatih kelas wahid.