Timnas Indonesia vs Lebanon Jilid 2: Pantang Salah Lagi
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Minggu, 16 Apr 2023 07:08 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia U-22 akan kembali menghadapi Lebanon. (CNNIndonesia/Adi Maulana Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Indonesia U-22 akan menjalani laga ujicoba jilid kedua melawan Lebanon, Minggu (16/4) mendatang. Menghindari kesalahan yang sama adalah cara keluar dari jurang nestapa.
Di laga pertama, Jumat (14/4), skuad Garuda Muda melakukan beberapa 'dosa' kontra Lebanon. Satu hal yang paling disorot adalah kualitas penyelesaian akhir ketika mendapat peluang.
Kemudian masalah lain adalah konsentrasi pemain yang dinilai tak sesuai harapan. Pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri pun menyadari hal ini. Selepas laga, pelatih asal Pesisir Selatan, Sumatera Barat itu membenarkan ketajaman dan fokus jadi masalah utama kekalahan 1-2 dari Lebanon.
Bagaimana tidak, eksplositivitas yang begitu terasa di awal laga perlahan menyusut seiring berjalannya waktu. Itu terlihat dalam rapor babak pertama ketika Indonesia mencatat total tujuh tendangan yang dua di antaranya tepat sasaran, berbanding dengan empat sepakan dan satu shot on goal milik Lebanon.
Di paruh pertama pun tuan rumah merekam 56 persen penguasaan bola dengan total 241 operan, sedangkan Lebanon hanya bisa membukukan 180 operan. Ini membuktikan Indonesia lebih dominan di awal laga.
Sebab setelah wasit meniup peluit panjang, terlihat jelas kebangkitan Lebanon karena bisa menyeimbangkan penguasaan bola hingga 50 persen. Kemudian tim asuhan Miguel Moreira itu menggoreskan total 14 tendangan dengan tujuh sepakan mengarah ke gawang.
Aspek konsentrasi yang disinggung Indra Sjafri nampak jelang akhir babak kedua. Indonesia memang sukses mencetak gol lebih dulu meski berkat blunder pemain lawan di menit ke-84. Namun sisa enam menit waktu normal dan enam menit waktu tambahan gagal dimaksimalkan oleh Rizky Ridho dan kawan-kawan untuk mempertahankan keunggulan.
Akibatnya Lebanon sukses menjebol gawang lewat Mohamed Mahdi Sabbah di menit ke-90. Petaka semakin menjadi kala Mohammad Nasser membawa timnya berbalik unggul di menit ke-96.
Kebobolan di akhir laga merupakan buntut dari sederet 'dosa' yang dilakukan seperti yang disebut Indra Sjafri dan nampak di layar kaca. Selain fokus dan ketajaman, kesalahan dalam mengoper juga kerap terjadi ketika sedang membangun serangan.
Indra Sjafri hanya punya jeda waktu satu hari untuk mengoreksi apa-apa saja yang perlu dibenahi oleh para pemain. Meski berstatus ujicoba, rangkaian pertandingan ini sejatinya perlu dianggap sebagai laga sesungguhnya untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan tim.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Menghadapi lawan yang sama di laga kedua dapat jadi keuntungan bagi Timnas Indonesia U-22 karena semestinya sudah bisa mengenal karakter permainan lawan. Timnas Indonesia U-22 juga diharapkan telah memberi tanda bagi pemain-pemain Lebanon yang berbahaya.
Selain itu, laga jilid kedua juga bisa dijadikan Indra Sjafri sebagai laboratorium percobaan dalam meracik strategi yang tepat. Dalam hal ini, perubahan komposisi pemain dapat menjadi opsi pilihan.
Duet Jeam Kelly Sroyer dan Titan Agung di lini depan sudah cukup baik dengan pergerakan dan positioning yang tepat, terlepas dari kemampuan finishing-nya. Begitu juga dengan dua full back Bagas Kaffa dan Haykal Alhafiz yang kerap menusuk ke depan lalu memberi umpan cutback.
Kebiasaan para pemain mengandalkan operan cutback atau crossing dari tepi lapangan harus diseimbangkan dengan penyelesaian yang maksimal. Pemain depan seperti Ramadhan Sananta dan Hokky Caraka dapat menjadi opsi tepat untuk memperbesar kans mencetak gol.
Beckham Putra yang kerap memberi umpan-umpan kunci layak dipertahankan. Namun mengingat dirinya menjadi incaran tekel kasar pemain Lebanon di laga pertama, agaknya meminggirkan sejenak pemain Persib itu menjadi pilihan bijak.
Achmad Maulana Syarif atau David Maulana bisa mengisi pos yang ditempatkan oleh Beckham di lini tengah sebagai distributor bola. Beckham dapat kembali diturunkan saat situasi pertandingan mengalami kebuntuan.
Pergantian pemain juga bisa dilakukan di posisi penjaga gawang. Ernando Ari sejatinya tampil impresif dengan catatan lima penyelamatan dan memiliki visibilitas tinggi untuk langsung mengalirkan bola ke depan.
Namun untuk laga kedua, Indra Sjafri patut memberi kesempatan pada kiper yang lebih muda, Daffa Fasya. Penjaga gawang 18 tahun itu harus diberi jam terbang demi menjaga kualitas setelah batal tampil di Piala Dunia U-20 2023.
Mengingat rangkaian ujicoba adalah panggung seleksi jelang SEA Games 2023, stok pemain yang dimiliki harus dimanfaatkan oleh Indra Sjafri. Kualitas pemain benar-benar harus sesuai standar dan tujuan dalam merebut medali emas. Hasil pertandingan adalah bonus yang didapatkan dari seluruh kerja keras.
Timnas Indonesia U-22 akan menjalani laga ujicoba jilid kedua melawan Lebanon, Minggu (16/4) mendatang. Menghindari kesalahan yang sama adalah cara keluar dari jurang nestapa.
Di laga pertama, Jumat (14/4), skuad Garuda Muda melakukan beberapa 'dosa' kontra Lebanon. Satu hal yang paling disorot adalah kualitas penyelesaian akhir ketika mendapat peluang.
Kemudian masalah lain adalah konsentrasi pemain yang dinilai tak sesuai harapan. Pelatih Timnas Indonesia U-22 Indra Sjafri pun menyadari hal ini. Selepas laga, pelatih asal Pesisir Selatan, Sumatera Barat itu membenarkan ketajaman dan fokus jadi masalah utama kekalahan 1-2 dari Lebanon.
Bagaimana tidak, eksplositivitas yang begitu terasa di awal laga perlahan menyusut seiring berjalannya waktu. Itu terlihat dalam rapor babak pertama ketika Indonesia mencatat total tujuh tendangan yang dua di antaranya tepat sasaran, berbanding dengan empat sepakan dan satu shot on goal milik Lebanon.
Di paruh pertama pun tuan rumah merekam 56 persen penguasaan bola dengan total 241 operan, sedangkan Lebanon hanya bisa membukukan 180 operan. Ini membuktikan Indonesia lebih dominan di awal laga.
Sebab setelah wasit meniup peluit panjang, terlihat jelas kebangkitan Lebanon karena bisa menyeimbangkan penguasaan bola hingga 50 persen. Kemudian tim asuhan Miguel Moreira itu menggoreskan total 14 tendangan dengan tujuh sepakan mengarah ke gawang.
Aspek konsentrasi yang disinggung Indra Sjafri nampak jelang akhir babak kedua. Indonesia memang sukses mencetak gol lebih dulu meski berkat blunder pemain lawan di menit ke-84. Namun sisa enam menit waktu normal dan enam menit waktu tambahan gagal dimaksimalkan oleh Rizky Ridho dan kawan-kawan untuk mempertahankan keunggulan.
Akibatnya Lebanon sukses menjebol gawang lewat Mohamed Mahdi Sabbah di menit ke-90. Petaka semakin menjadi kala Mohammad Nasser membawa timnya berbalik unggul di menit ke-96.
Kebobolan di akhir laga merupakan buntut dari sederet 'dosa' yang dilakukan seperti yang disebut Indra Sjafri dan nampak di layar kaca. Selain fokus dan ketajaman, kesalahan dalam mengoper juga kerap terjadi ketika sedang membangun serangan.
Indra Sjafri hanya punya jeda waktu satu hari untuk mengoreksi apa-apa saja yang perlu dibenahi oleh para pemain. Meski berstatus ujicoba, rangkaian pertandingan ini sejatinya perlu dianggap sebagai laga sesungguhnya untuk mengetahui kelemahan dan kekurangan tim.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Menghadapi lawan yang sama di laga kedua dapat jadi keuntungan bagi Timnas Indonesia U-22 karena semestinya sudah bisa mengenal karakter permainan lawan. Timnas Indonesia U-22 juga diharapkan telah memberi tanda bagi pemain-pemain Lebanon yang berbahaya.
Selain itu, laga jilid kedua juga bisa dijadikan Indra Sjafri sebagai laboratorium percobaan dalam meracik strategi yang tepat. Dalam hal ini, perubahan komposisi pemain dapat menjadi opsi pilihan.
Duet Jeam Kelly Sroyer dan Titan Agung di lini depan sudah cukup baik dengan pergerakan dan positioning yang tepat, terlepas dari kemampuan finishing-nya. Begitu juga dengan dua full back Bagas Kaffa dan Haykal Alhafiz yang kerap menusuk ke depan lalu memberi umpan cutback.
Kebiasaan para pemain mengandalkan operan cutback atau crossing dari tepi lapangan harus diseimbangkan dengan penyelesaian yang maksimal. Pemain depan seperti Ramadhan Sananta dan Hokky Caraka dapat menjadi opsi tepat untuk memperbesar kans mencetak gol.
Beckham Putra yang kerap memberi umpan-umpan kunci layak dipertahankan. Namun mengingat dirinya menjadi incaran tekel kasar pemain Lebanon di laga pertama, agaknya meminggirkan sejenak pemain Persib itu menjadi pilihan bijak.
Achmad Maulana Syarif atau David Maulana bisa mengisi pos yang ditempatkan oleh Beckham di lini tengah sebagai distributor bola. Beckham dapat kembali diturunkan saat situasi pertandingan mengalami kebuntuan.
Pergantian pemain juga bisa dilakukan di posisi penjaga gawang. Ernando Ari sejatinya tampil impresif dengan catatan lima penyelamatan dan memiliki visibilitas tinggi untuk langsung mengalirkan bola ke depan.
Namun untuk laga kedua, Indra Sjafri patut memberi kesempatan pada kiper yang lebih muda, Daffa Fasya. Penjaga gawang 18 tahun itu harus diberi jam terbang demi menjaga kualitas setelah batal tampil di Piala Dunia U-20 2023.
Mengingat rangkaian ujicoba adalah panggung seleksi jelang SEA Games 2023, stok pemain yang dimiliki harus dimanfaatkan oleh Indra Sjafri. Kualitas pemain benar-benar harus sesuai standar dan tujuan dalam merebut medali emas. Hasil pertandingan adalah bonus yang didapatkan dari seluruh kerja keras.