Jakarta, CNN Indonesia -- Sepak bola Indonesia terlihat lebih segar dalam wajah agak sangar dengan intonasi yang belum gempar pada pekan pertama Liga 1 2023/2024.
Dari mulai pertandingan pembuka antara Bali United lawan PSS Sleman (1/7) hingga Persija versus PSM Makassar (3/7), ada nilai-nilai positif yang naik. Meski begitu sisi negatifnya juga masih ada.
Pertama performa wasit. Dari sembilan pertandingan pekan pertama, hanya ada dua keputusan wasit yang menjadi kontroversi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama saat wasit Choirudin mengeluarkan keputusan kontroversial lantaran hanya memberikan kartu kuning usai bek Persik Anderson yang jadi orang terakhir di depan gawang Macan Putih menjatuhkan penyerang Borneo FC Stefano Lilipaly pada menit ke-43 yang berpotensi mencetak gol.
Kedua, keputusan wasit Naufal Adya Fairuski yang mengesahkan gol penyerang Gali Freitas yang diduga terjebak offside ketika menerima assist dari Taisei Marukawa.
Namun, kekurangan tetaplah kekurangan. Ini tak boleh dinilai biasa saja. Meski ini pekan awal, yang biasanya ada pemakluman dari PSSI, evaluasi kinerja korps berbaju hitam harus dikupas serius.
Di sisi lain, kehadiran pemain ASEAN membuat gema sepak bola Indonesia mulai meninggi. Pemain-pemain asal Thailand, Filipina, Myanmar, Singapura, hingga Timor Leste cukup dilirik media massa asal pemain.
Bahkan, bisa dibilang penampilan pemain asal Asia Tenggara tak kalah mentereng dari pemain asing lain. Jacob Maehler asal Singapura yang membela Madura United misalnya, dapat banyak pujian.
Begitu juga dengan Win Naing Tun (Myanmar) yang membela Borneo FC, mendapat sambutan positif. Gali Freitas asal Timor Leste bahkan langsung mencetak gol di laga debutnya bersama PSIS Semarang.
Ketiga, bakat-bakat muda makin bersaing. Beberapa nama yang langsung mencuri perhatian di antaranya Muhammad Ragil (Bhayangkara FC), Toni Firmansyah (Persebaya), dan I Made Tito Wiratama (Bali United).
Terlepas ada kewajiban klub memainkan pemain U-23, pelatih-pelatih Liga 1 2023/2024 mulai yakin dengan bakat muda. Semakin banyak pemain muda diberi menit main, makin cerah pula masa depan Indonesia.
Aturan dari PT Liga Indonesia Baru (LIB) mungkin hanya stimulus, tetapi kuncinya adalah kepercayaan pelatih. Bakat-bakat besar akan tumbuh jika makin sering diberi kesempatan main.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Egy Maulana Vikri Mulai Bangkit
Penyerang Dewa United Egy Maulana Vikri kawal striker Arema Muhammad Rafli. (Dok LIB)
Egy Maulana Vikri yang musim sebelumnya tampil jeblok bersama Dewa United sepulang dari perantauan di Eropa, kini mulai bangkit di Liga 1.
Pemain yang akan genap 23 tahun pada 7 Juli mendatang ini membantu Dewa United menang 1-0 atas Arema FC. Aksi-aksi Egy terlihat gemilang lagi dan sentuhannya terasa matang kembali.
Sebaliknya Witan Sulaeman, yang juga baru pulang dari perantauan di Semenanjung Balkan, belum menemukan sentuhan terbaiknya. Pemain Persija ini seperti baru mengeluarkan 65 persen dari total kemampuannya.
Witan dan Egy hanyalah contoh kecil. Ada banyak nama yang bisa disebutkan untuk menggambarkan bagaimana Liga 1 2023/2024 membuat atlet kembali bekerja keras agar mendapat pentas di kompetisi.
Amiruddin Bagus Kahfi, yang sempat dilupakan saat mencoba peruntungan di Yunani musim lalu misalnya, terlihat segar di Barito Putera. Sentuhan Rahmad Darmawan akan menjadi kunci kembalinya.
Jajaran tim pelatih Timnas Indonesia pun terlihat memantau pertandingan Liga 1 musim ini di stadion. Ini menjadi semacam sinyal bahwa semua bakat terbaik Indonesia sedang dipantau.
[Gambas:Photo CNN]
Pada September nanti akan ada kalender internasional FIFA Matchday, sehingga beberapa mungkin saja dipanggil. Tak peduli itu muda atau tua, kans sama-sama terbuka untuk dipanggil.
Namun, secercah harapan yang manis dari bergulirnya Liga 1 2023/2024, setelah melewati musim pahit dengan Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa, niscaya sirna jika kebiasaan lama dibiarkan.
Atmosfer yang positif dari pekan pertama Liga 1 2023/2024 sekiranya terus ditingkatkan PSSI. Perubahan jadwal jangan sampai terulang kembali seperti dialami Persija.
Tak kalah penting, gemuruh yang dibuat suporter harus diperhatikan serius. Jangan sampai benih-benih benci membesar yang akhirnya dirawat sejumlah orang untuk merusak situasi yang kondusif.
Ingat, ini tahun politik. Sejarah membuktikan, sepak bola Indonesia selalu bisa jadi lahan empuk perseteruan dan perpecahan. Ini tugas PSSI meruwat kondisi ingar-bingar yang masih sumir.
[Gambas:Video CNN]