Sikap Otoriter Hodak dan Tantangan Kursi Panas Persib
Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 27 Jul 2023 08:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Bojan Hodak telah resmi ditunjuk sebagai pelatih anyar Persib Bandung. (Detikcom/Rifikianto Nugroho)
Jakarta, CNN Indonesia --
Persib Bandung resmi mengontrak Bojan Hodak, pelatih asal Kroasia, Rabu (26/7). Bisakah Hodak membuat Maung Bandung melejit di Liga 1 2023/2024?
Kalau melihat statistik, kansnya sangat besar. Karier kepelatihan Hodak banyak dihabiskan di Asia Tenggara. Ia mengawali karier di Malaysia lantas ke Kamboja, sebentar ke China dan kembali ke Malaysia lagi, kemudian ke Indonesia dan balik ke Malaysia lagi.
Semua tim yang ditangani Hodak, kecuali PSM, berbuah gelar. Tak adanya gelar saat bersama Juku Eja, julukan PSM, tak lain karena kariernya seumur jagung. Hodak pergi meninggalkan tim saat datang wabah mematikan Covid-19.
Namun statistik mentereng Hodak tak bisa jadi acuan saat menangani Persib. Ini karena Persib punya latar belakang yang berbeda dari klub lainnya. Jajaran pelatih Persib selama era Liga 1 bisa menjadi acuan.
Mario Gomez, Miljan Radovic, Robert Rene Alberts, hingga Luis Milla Aspas, bukan pelatih kaleng-kaleng. Kendati demikian pelatih-pelatih ini tak ada yang bisa memberikan prestasi dan usianya terbilang singkat di Kota Kembang.
Dengan ratusan ribu pendukung Persib, Hodak dipastikan tak bisa tenang menangani tim. Tekanan besar akan dihadapi pelatih 52 tahun tersebut. Belum lagi gejolak internal di tubuh Persib sering jadi sandungan.
Satu memori yang masih terngiang di publik Makassar saat menangani PSM, Hodak relatif otoriter. Pemain yang tidak bisa diatur, Willem Jan Pluim misalnya, bisa dipaksa Hodak tunduk seperti keinginannya.
Bisakah hal sama berlaku di Persib? Kiranya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, atmosfer di dalam Persib tak akan sama dengan klub yang pernah ditangani sebelumnya, termasuk Johor Darul Ta'zim dan Kuala Lumpur City FC.
Setidaknya tiga hingga lima hasil pertandingan Persib di Liga 1 musim ini, pekan kelima hingga ke-10, akan menjadi kunci. Jika bisa membawa Persib merangkak naik dari zona degradasi, kepercayaan bahkan cinta akan tumbuh.
Sebaliknya, ketika hasil negatif yang diraih, suara sumbang akan menggema. Bahkan bukan tidak mungkin kampanye 'Hodak Out' akan menggema. Ini biasa, sebab klub Indonesia punya kebiasaan seperti itu di era media sosial.
Yang belum juga terjawab, siapa yang akan mendampingi Hodak dalam menakhodai Persib. Pasalnya Milla pergi diiringi hengkangnya tiga asisten pelatih kepercayaan. Siapa yang mendampingi Hodak hingga kini belum terjawab.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Ada yang percaya, otak di balik sukses Hodak di Asia Tenggara adalah asisten pelatih Nenad Bacina. Kini pria Kroasia itu tak ikut Hodak melatih Persib.
Bacina saat ini terikat kontrak dengan klub Arab Saudi, Al Fayha FC. Bacina menjadi direktur akademi klub kasta teratas Liga Arab Saudi tersebut pada Desember 2022. Bacina terpaksa berpisah dengan Hodak.
Sejak ditinggal Bacina, performa Kuala Lumpur City FC, dianggap kurang mentereng, meski tak sepenuhnya akurat. Saat ini Kuala Lumpur City FC menempati peringkat ketujuh klasemen sementara Liga Super Malaysia 2023. Tidak terlalu buruk.
Kuala Lumpur City FC juga baru mencapai laga final Piala FA Malaysia 2023. Pada partai puncak itu tim asuhan Hodak menyerah 0-2 dari Johor Darul Ta'zim (JDT). Kekalahan ini disebut wajar sebab JDT jauh lebih superior.
Laju Kuala Lumpur City hingga partai final disebut sebagai bukti Hodak masih bertangan dingin. Tanpa Bacina, tim yang tidak bertabur bintang itu bisa melaju ke kejuaraan paling bergengsi di Malaysia tersebut.
Setidaknya ini sedikit menjawab keraguan akan kualitas kepelatihan Hodak. Memang ada peran besar asisten pelatih, tetapi dalang besarnya tetaplah pelatih kepala, dalam hal ini Hodak itu sendiri.
Yang menarik, Hodak diperkenalkan Persib sebagai pelatih baru hanya sejam setelah diumumkan berpisah dengan Kuala Lumpur City. Dengan kata lain ada operasi senyap yang dilakukan Persib sehingga Hodak lebih memilih ke Indonesia.
Pemain Persib seperti Ezra Walian mungkin salah satu yang bahagia dengan kehadiran Hodak. Saat Hodak menangani PSM, Ezra menjadi striker andalan meski ada striker asing sebagai pesaing utama Ezra.
Yakob Sayuri juga mencuat dalam asuhan Hodak. Pemain berposisi bek sayap atau winger itu tampil garang dalam ajang kontinental, Piala AFC 2020. Padahal sebelumnya nama Sayuri belum terlalu diperhitungkan.
Ini jadi isyarat bahwa pemain-pemain Persib yang sebelumnya kurang mendapat jam terbang bisa dapat kepercayaan Hodak. Tak bisa dimungkiri saat Milla melatih, pemain bawaannya yang dominan dimainkan.
Pembawaan kepelatihan Hodak yang disebut otoriter dan tak punya relasi psikologis dengan pemain Persib kiranya bisa menjadi pencerah. Namun itu harus dibuktikan dalam lima laga Liga 1 2023/2024 atau sebelum jeda kalender internasional.
Persib Bandung resmi mengontrak Bojan Hodak, pelatih asal Kroasia, Rabu (26/7). Bisakah Hodak membuat Maung Bandung melejit di Liga 1 2023/2024?
Kalau melihat statistik, kansnya sangat besar. Karier kepelatihan Hodak banyak dihabiskan di Asia Tenggara. Ia mengawali karier di Malaysia lantas ke Kamboja, sebentar ke China dan kembali ke Malaysia lagi, kemudian ke Indonesia dan balik ke Malaysia lagi.
Semua tim yang ditangani Hodak, kecuali PSM, berbuah gelar. Tak adanya gelar saat bersama Juku Eja, julukan PSM, tak lain karena kariernya seumur jagung. Hodak pergi meninggalkan tim saat datang wabah mematikan Covid-19.
Namun statistik mentereng Hodak tak bisa jadi acuan saat menangani Persib. Ini karena Persib punya latar belakang yang berbeda dari klub lainnya. Jajaran pelatih Persib selama era Liga 1 bisa menjadi acuan.
Mario Gomez, Miljan Radovic, Robert Rene Alberts, hingga Luis Milla Aspas, bukan pelatih kaleng-kaleng. Kendati demikian pelatih-pelatih ini tak ada yang bisa memberikan prestasi dan usianya terbilang singkat di Kota Kembang.
Dengan ratusan ribu pendukung Persib, Hodak dipastikan tak bisa tenang menangani tim. Tekanan besar akan dihadapi pelatih 52 tahun tersebut. Belum lagi gejolak internal di tubuh Persib sering jadi sandungan.
Satu memori yang masih terngiang di publik Makassar saat menangani PSM, Hodak relatif otoriter. Pemain yang tidak bisa diatur, Willem Jan Pluim misalnya, bisa dipaksa Hodak tunduk seperti keinginannya.
Bisakah hal sama berlaku di Persib? Kiranya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, atmosfer di dalam Persib tak akan sama dengan klub yang pernah ditangani sebelumnya, termasuk Johor Darul Ta'zim dan Kuala Lumpur City FC.
Setidaknya tiga hingga lima hasil pertandingan Persib di Liga 1 musim ini, pekan kelima hingga ke-10, akan menjadi kunci. Jika bisa membawa Persib merangkak naik dari zona degradasi, kepercayaan bahkan cinta akan tumbuh.
Sebaliknya, ketika hasil negatif yang diraih, suara sumbang akan menggema. Bahkan bukan tidak mungkin kampanye 'Hodak Out' akan menggema. Ini biasa, sebab klub Indonesia punya kebiasaan seperti itu di era media sosial.
Yang belum juga terjawab, siapa yang akan mendampingi Hodak dalam menakhodai Persib. Pasalnya Milla pergi diiringi hengkangnya tiga asisten pelatih kepercayaan. Siapa yang mendampingi Hodak hingga kini belum terjawab.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Bisa Apa Hodak Tanpa Nenad Bacina
Bojan Hodak tidak akan didampingi oleh Nenad Bacina saat menukangi Persib Bandung. (Detikcom/Rifikianto Nugroho)
Ada yang percaya, otak di balik sukses Hodak di Asia Tenggara adalah asisten pelatih Nenad Bacina. Kini pria Kroasia itu tak ikut Hodak melatih Persib.
Bacina saat ini terikat kontrak dengan klub Arab Saudi, Al Fayha FC. Bacina menjadi direktur akademi klub kasta teratas Liga Arab Saudi tersebut pada Desember 2022. Bacina terpaksa berpisah dengan Hodak.
Sejak ditinggal Bacina, performa Kuala Lumpur City FC, dianggap kurang mentereng, meski tak sepenuhnya akurat. Saat ini Kuala Lumpur City FC menempati peringkat ketujuh klasemen sementara Liga Super Malaysia 2023. Tidak terlalu buruk.
Kuala Lumpur City FC juga baru mencapai laga final Piala FA Malaysia 2023. Pada partai puncak itu tim asuhan Hodak menyerah 0-2 dari Johor Darul Ta'zim (JDT). Kekalahan ini disebut wajar sebab JDT jauh lebih superior.
Laju Kuala Lumpur City hingga partai final disebut sebagai bukti Hodak masih bertangan dingin. Tanpa Bacina, tim yang tidak bertabur bintang itu bisa melaju ke kejuaraan paling bergengsi di Malaysia tersebut.
Setidaknya ini sedikit menjawab keraguan akan kualitas kepelatihan Hodak. Memang ada peran besar asisten pelatih, tetapi dalang besarnya tetaplah pelatih kepala, dalam hal ini Hodak itu sendiri.
Yang menarik, Hodak diperkenalkan Persib sebagai pelatih baru hanya sejam setelah diumumkan berpisah dengan Kuala Lumpur City. Dengan kata lain ada operasi senyap yang dilakukan Persib sehingga Hodak lebih memilih ke Indonesia.
Pemain Persib seperti Ezra Walian mungkin salah satu yang bahagia dengan kehadiran Hodak. Saat Hodak menangani PSM, Ezra menjadi striker andalan meski ada striker asing sebagai pesaing utama Ezra.
Yakob Sayuri juga mencuat dalam asuhan Hodak. Pemain berposisi bek sayap atau winger itu tampil garang dalam ajang kontinental, Piala AFC 2020. Padahal sebelumnya nama Sayuri belum terlalu diperhitungkan.
Ini jadi isyarat bahwa pemain-pemain Persib yang sebelumnya kurang mendapat jam terbang bisa dapat kepercayaan Hodak. Tak bisa dimungkiri saat Milla melatih, pemain bawaannya yang dominan dimainkan.
Pembawaan kepelatihan Hodak yang disebut otoriter dan tak punya relasi psikologis dengan pemain Persib kiranya bisa menjadi pencerah. Namun itu harus dibuktikan dalam lima laga Liga 1 2023/2024 atau sebelum jeda kalender internasional.