Chemistry Hijau Timnas Indonesia U-23 dan Bahaya Laten Ego Gol

Abdul Susila | CNN Indonesia
Senin, 11 Sep 2023 08:41 WIB
Chemistry Hijau Timnas Indonesia U-23 dan Bahaya Laten Ego Gol
Ivar Jenner padu mengisi lini tengah bersama Marselino Ferdinan dan Arkhan Fikri. (Dok. PSSI)

Selain jumlah gol Timnas Indonesia U-23 yang membuat puas mata, kinerja tiga gelandang pilihan Shin Tae Yong memperlihatkan sentuhan berbeda.

Maksudnya, berbeda dengan permainan Timnas Indonesia yang sehari sebelumnya menang 2-0 atas Turkmenistan. Permainan Timnas Indonesia di Surabaya kurang enak dilihat, tidak seperti U-23.

Marselino yang punya gocekan lihai, tendangan terukur, dan kecerdikan berpikir cepat, membuat lini tengah Garuda Muda hidup. Bisa dibilang pemain KMSK Deinze ini adalah ruh permainan tim.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada saat yang sama Ivar memperlihatkan kelasnya sebagai pemain trah Belanda. Sentuhan pertamanya visioner dan umpan-umpan panjang serta terobosannya membuat lawan kewalahan.

Adapun Arkhan bisa menjadi box to box midfielder yang cakap. Pemain Arema FC ini seperti punya tabung oksigen tambahan saat bertanding. Ia selalu terlihat di arena mana saja permainan berjalan.

Karenanya tak mengherankan jika Marselino mencetak dua gol dan satu assist, serta Ivar menyumbang dua assist. Dua pemain ini tak hanya bekerja dengan keras, tetapi juga dengan cerdas.

Ketika gelandang baru masuk, Rayhan Hannan, daya ledaknya agak berkurang. Namun ini masih dalam batas kewajaran, sebab pemain Persija ini baru debut bersama Indonesia U-23 di laga tersebut.

Untuk posisi kiper, lini belakang, hingga depan, tak banyak celah yang tampak. Hanya soal chemistry antarpemain dan ego di kotak penalti saja yang belum terjalin dengan sangat baik.

Jika Penampilan Marselino, Jenner, juga Arkhan, banyak dipuji publik seusai laga, tidak demikian dengan Hokky Caraka. Aksi Hokky setelah mencetak gol disorot negatif oleh publik.

Selepas mencetak gol kedelapan Indonesia, Hokky berselebrasi dengan telunjuk kanan menutup lubang kuping dan telunjuk kiri tegak di depan bibir. Ini bisa diartikan, 'diam kalian.'

Hokky menikmati selebrasi itu, sampai mengabaikan ajakan tos dari Fajar Faturrahman. Entah kepada siapa selebrasi itu ditujukan, tetapi hal semacam ini bisa mereduksi.

(nva)
Jakarta, CNN Indonesia --

Delapan dari starter Indonesia U-23 saat membantai Taiwan U-23 adalah skuad Timnas Indonesia saat melawan Argentina. Tim ini kelasnya bukan level usia.

Kedelapan pemain tersebut adalah Ernando Ari Sutaryadi, Rizky Ridho, Elkan Baggott, Pratama Arhan, Rafael Struick, Ivar Jenner, Marselino Ferdinan, dan Witan Sulaeman.

Kelas pemain-pemain ini, ditambah kematangan Ramadhan Sananta, Arkhan Fikri, dan Ilham Rio Fahmi, membuat Taiwan tak berkutik. Sembilan gol dilesakkan tanpa mampu dibalas Taiwan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejatinya, sembilan gol ini statistik yang kurang impresif. Pasalnya ada 27 tembakan yang berhasil dilepaskan ke gawang Taiwan. Dari 27 kali itu, 15 di antaranya tepat sasaran.

Jika saja pemain tampil lebih tenang dengan kerja sama lebih solid, belasan gol mungkin tercipta. Dengan kualitas Taiwan yang jauh di bawah Indonesia, belasan gol sangat pantas diciptakan.

Dengan kualitas lawan yang rendah, performa pemain pun belum bisa diuji. Semua pemain terlihat tampil hebat, kuat, akurat, dan juga brilian, karena musuh yang tidak bisa melawan.

Malahan kerja sama, soliditas, dan chemistry antarpemain terlihat belum terlalu tinggi. Begitu gol keempat tercipta, individual pemain menonjol. Hasrat atau ego mencetak gol naik tajam.

Ini membuat pola serangan tidak klinis. Hal ini pula yang membuat Taiwan bisa sedikit menekan. Bola cepat yang diterapkan membuat pertahanan Indonesia beberapa kali ditekan Taiwan.

Beruntung lini depan Taiwan sudah kehilangan imajinasi. Mereka tak punya lagi cara membobol gawang Indonesia, sehingga menyerang dengan sporadis. Tentu saja mudah dipatahkan.

Dalam laga itu Taiwan hanya bisa melepas dua tendangan, yang dua-duanya tak tepat sasaran. Dengan penguasaan bola hanya 31 persen, ini tidak terlalu buruk untuk pemain kelas universitas.

Karenanya pula Shin Tae Yong tidak boleh membiarkan para pemainnya besar kepala. Kemenangan atas Taiwan sama sekali tidak menggambarkan kedigdayaan sepak bola Indonesia di pentas Asia.

Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>

Kombinasi Apik Marselino Arkhan Ivar

Ivar Jenner padu mengisi lini tengah bersama Marselino Ferdinan dan Arkhan Fikri. (Dok. PSSI)

Selain jumlah gol Timnas Indonesia U-23 yang membuat puas mata, kinerja tiga gelandang pilihan Shin Tae Yong memperlihatkan sentuhan berbeda.

Maksudnya, berbeda dengan permainan Timnas Indonesia yang sehari sebelumnya menang 2-0 atas Turkmenistan. Permainan Timnas Indonesia di Surabaya kurang enak dilihat, tidak seperti U-23.

Marselino yang punya gocekan lihai, tendangan terukur, dan kecerdikan berpikir cepat, membuat lini tengah Garuda Muda hidup. Bisa dibilang pemain KMSK Deinze ini adalah ruh permainan tim.

Pada saat yang sama Ivar memperlihatkan kelasnya sebagai pemain trah Belanda. Sentuhan pertamanya visioner dan umpan-umpan panjang serta terobosannya membuat lawan kewalahan.

Adapun Arkhan bisa menjadi box to box midfielder yang cakap. Pemain Arema FC ini seperti punya tabung oksigen tambahan saat bertanding. Ia selalu terlihat di arena mana saja permainan berjalan.

Karenanya tak mengherankan jika Marselino mencetak dua gol dan satu assist, serta Ivar menyumbang dua assist. Dua pemain ini tak hanya bekerja dengan keras, tetapi juga dengan cerdas.

Ketika gelandang baru masuk, Rayhan Hannan, daya ledaknya agak berkurang. Namun ini masih dalam batas kewajaran, sebab pemain Persija ini baru debut bersama Indonesia U-23 di laga tersebut.

Untuk posisi kiper, lini belakang, hingga depan, tak banyak celah yang tampak. Hanya soal chemistry antarpemain dan ego di kotak penalti saja yang belum terjalin dengan sangat baik.

[Gambas:Photo CNN]

Jika Penampilan Marselino, Jenner, juga Arkhan, banyak dipuji publik seusai laga, tidak demikian dengan Hokky Caraka. Aksi Hokky setelah mencetak gol disorot negatif oleh publik.

Selepas mencetak gol kedelapan Indonesia, Hokky berselebrasi dengan telunjuk kanan menutup lubang kuping dan telunjuk kiri tegak di depan bibir. Ini bisa diartikan, 'diam kalian.'

Hokky menikmati selebrasi itu, sampai mengabaikan ajakan tos dari Fajar Faturrahman. Entah kepada siapa selebrasi itu ditujukan, tetapi hal semacam ini bisa mereduksi.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2