Indonesia vs Uzbekistan: Saatnya Garuda Ukir Sejarah Baru Asian Games
Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 28 Sep 2023 12:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia harus memperbaiki sejumlah kesalahan di babak penyisihan bila ingin kualitas permainan meningkat di babak 16 besar. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kabar baiknya Indonesia U-24 akan diperkuat Ramadhan Sananta. Pemain Persis Solo ini datang menyusul setelah lolos ke babak 16 besar.
Soal chemistry sepertinya tidak akan ada kendala. Semua pemain ini sudah biasa tampil bersama. Hanya tinggal siapa dan bagaimana Sananta ditempatkan dalam permainan nantinya.
Kelebihan utama Sananta adalah lihai dalam mencari ruang kosong. Saat menguasai bola, pemain 21 tahun ini bisa melepas tembakan dari berbagai sudut permainan.
Yang tak kalah penting adalah membuat Egy Maulana Vikri kembali percaya diri. Pemain Dewa United ini belum bisa mengeluarkan performa terbaiknya. Egy masih terlihat linglung.
Namun, dengan hadirnya Sananta, Egy jadi punya ruang gerak lebih bebas di sayap. Perhatian utama bek tidak lagi pada Egy, melainkan pada Sananta. Ini situasi positif bagi Egy.
Saat lawan lebih fokus mengadang striker, saat itulah akselerasi Egy sangat dibutuhkan. Tusukan tiba-tibanya bisa menjadi senjata yang mengejutkan barisan pertahanan lawan.
Ramadhan Sananta jadi harapan baru di lini depan Timnas Indonesia u-24. (REUTERS/CHALINEE THIRASUPA)
Begitu pula dengan Ramai Rumakiek. Satu gol pemain Persipura ini saat melawan Kirgistan jadi bukti. Rumakiek jadi enak melepas tembakan saat striker Indonesia diperhitungkan.
Untuk memuluskan rencana serangan trio Sananta, Egy, dan Rumakiek, peran Syahrian Abimanyu sangat dinanti. Umpan-umpan terobosan pemain Persija belum terlihat dalam laga sebelumnya.
Melawan Uzbekistan yang memiliki postur lebih tinggi dari Indonesia, umpan silang bisa tidak efektif. Apalagi terbukti umpan silang Indonesia selama Asian Games 2023 belum efektif.
Terakhir, sisi pertahanan belum solid. Konektivitas Ridho dengan Andy Setyo dan Alfeandra Dewangga harus diakui masih labil. Lawan masih mudah menembus pagar yang dibangun.
Jika Indra ingin memperbaiki sejarah, inilah saatnya. Pasalnya pencapaian Indonesia di Asian Games 2014 dan 2018 adalah lolos grup, tetapi gagal ke babak delapan besar.
(ptr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Indonesia U-24 berpeluang membuat sejarah baru saat melawan Uzbekistan pada babak 16 besar Asian Games 2023 di Stadion Shangcheng Sports Centre, Kamis (28/9).
Uzbekistan datang ke Hangzhou, China dengan modal meyakinkan. Tim asuhan Timur Kapadze ini memenangi enam pertandingan beruntun sebelum tampil di Asian Games. Dua kemenangan lantas diraih pada babak grup.
Lawan Uzbekistan pada babak grup memang hanya Hong Kong, tetapi kualitasnya cukup terukur. Dalam dua laga tersebut Uzbekistan membukukan dua gol dan hanya sekali kebobolan.
Pada saat yang sama Indonesia U-24 dua kali kalah dan hanya sekali menang. Performa Rizky Ridho dan kawan-kawan menurun dalam dua laga terakhir setelah menang 2-0 atas Kirgistan.
Garuda Muda secara mengejutkan ditumpas Taiwan dengan skor 0-1 dan kembali takluk dengan skor tipis 0-1 dari Korea Utara. Namun tim asuhan Indra Sjafri ini tetap lolos ke babak 16 besar dengan status peringkat ketiga terbaik.
Duel Indonesia versus Uzbekistan ini adalah perdana di kejuaraan. Kedua tim pernah bertemu dalam laga persahabatan pada 3 Mei 2018 di Stadion Pakansari, Jawa Barat. Pertandingan ini berakhir dengan skor 0-0.
Ini jadi pertanda bahwa Indonesia tak perlu inferior. Rizky Ridho dan kawan-kawan hanya perlu tampil percaya diri dan bekerja keras. Kecerdasan Indra meracik strategi akan benar-benar diuji.
Dalam tiga laga sebelumnya, terutama saat melawan Korea Utara, Indra berani menggunakan formasi tiga bek. Formasi ini sempat menghadirkan senyuman, tetapi pada akhirnya tidak sesuai ekspektasi.
Gaya main Indonesia mengalami degradasi. Dari awalnya berani main cepat umpan pendek, malah menjadi dominan umpan panjang. Ini seperti permainan Timnas Indonesia di awal milenium.
Filosofi pendek pendek panjang atau pepepa yang selalu diusung Indra, tak terlihat dalam laga terakhir. Falsafah ini yang perlu ditekankan kembali oleh Indra dalam pertandingan ini.
Namun demikian Indra harus segera menetapkan pemain tengah yang bisa mengatur permainan. Sosok inilah yang belum ada dalam Indonesia U-24 selama tampil di Asian Games 2023.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Menanti Trio Sananta Egy Rumakiek
Timnas Indonesia harus memperbaiki sejumlah kesalahan di babak penyisihan bila ingin kualitas permainan meningkat di babak 16 besar. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Kabar baiknya Indonesia U-24 akan diperkuat Ramadhan Sananta. Pemain Persis Solo ini datang menyusul setelah lolos ke babak 16 besar.
Soal chemistry sepertinya tidak akan ada kendala. Semua pemain ini sudah biasa tampil bersama. Hanya tinggal siapa dan bagaimana Sananta ditempatkan dalam permainan nantinya.
Kelebihan utama Sananta adalah lihai dalam mencari ruang kosong. Saat menguasai bola, pemain 21 tahun ini bisa melepas tembakan dari berbagai sudut permainan.
Yang tak kalah penting adalah membuat Egy Maulana Vikri kembali percaya diri. Pemain Dewa United ini belum bisa mengeluarkan performa terbaiknya. Egy masih terlihat linglung.
Namun, dengan hadirnya Sananta, Egy jadi punya ruang gerak lebih bebas di sayap. Perhatian utama bek tidak lagi pada Egy, melainkan pada Sananta. Ini situasi positif bagi Egy.
Saat lawan lebih fokus mengadang striker, saat itulah akselerasi Egy sangat dibutuhkan. Tusukan tiba-tibanya bisa menjadi senjata yang mengejutkan barisan pertahanan lawan.
Ramadhan Sananta jadi harapan baru di lini depan Timnas Indonesia u-24. (REUTERS/CHALINEE THIRASUPA)
Begitu pula dengan Ramai Rumakiek. Satu gol pemain Persipura ini saat melawan Kirgistan jadi bukti. Rumakiek jadi enak melepas tembakan saat striker Indonesia diperhitungkan.
Untuk memuluskan rencana serangan trio Sananta, Egy, dan Rumakiek, peran Syahrian Abimanyu sangat dinanti. Umpan-umpan terobosan pemain Persija belum terlihat dalam laga sebelumnya.
Melawan Uzbekistan yang memiliki postur lebih tinggi dari Indonesia, umpan silang bisa tidak efektif. Apalagi terbukti umpan silang Indonesia selama Asian Games 2023 belum efektif.
Terakhir, sisi pertahanan belum solid. Konektivitas Ridho dengan Andy Setyo dan Alfeandra Dewangga harus diakui masih labil. Lawan masih mudah menembus pagar yang dibangun.
Jika Indra ingin memperbaiki sejarah, inilah saatnya. Pasalnya pencapaian Indonesia di Asian Games 2014 dan 2018 adalah lolos grup, tetapi gagal ke babak delapan besar.