Badminton Indonesia di 2023: Alarm Berdering, Peringatan Makin Nyaring
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Minggu, 31 Des 2023 19:35 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Fajar/Rian sempat mengkilap di awal 202 namun setelah itu menunjukkan penurunan. (PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tahun 2023 benar-benar jadi tahun penuh peringatan serius bagi Tim Badminton Indonesia. Pukulan-pukulan telak menghantam Tim Badminton Indonesia.
Tahun 2023 dibuka dengan manis lewat kegemilangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka naik ke posisi nomor satu dunia dan kemudian memenangkan dua turnamen Super 1000 yaitu Malaysia Open dan All England.
Namun setelah itu Fajar/Rian seolah tenggelam. Mereka kesulitan mencapai level terbaik. Sejumlah kendala termasuk faktor cedera jadi penghambat Fajar/Rian menampilkan kekuatan maksimal mereka di lapangan.
Di awal 2023, Fajar/Rian jelas jadi tumpuan dan wajah utama Tim Badminton Indonesia. Ketika Fajar/Rian gagal, kemudian tak ada pemain lain yang bisa keluar sebagai tulang punggung Indonesia di ajang-ajang besar.
Kejuaraan Dunia tanpa gelar juara, begitu juga dengan BWF World Tour Finals. Pukulan lebih telak tercatat di ajang Asian Games. Tim Badminton Indonesia bukan sekadar gagal menyumbang emas, melainkan juga tidak mampu memberikan sumbangsih medali untuk kontingen Indonesia.
Kegagalan di tiga ajang besar tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Indonesia secara konsisten tidak mampu meraih gelar juara dan berarti ada yang salah dengan perjalanan Tim Badminton Indonesia di 2023.
Hal ini bukan semata persaingan badminton di dunia yang makin ketat. Pasalnya kubu Indonesia selalu jadi pihak yang gagal naik podium tertinggi dan jadi pihak yang pulang lebih cepat.
Tiga turnamen besar itu bisa dibilang jadi gambaran untuk ajang Olimpiade tahun depan. Tekanan dan persaingan di tiga ajang tersebut bisa mendekati besarnya tekanan di Olimpiade. Karena itu ketika kegagalan datang, artinya ada alarm berbahaya yang berbunyi dan berdentang.
Kegagalan demi kegagalan di ajang besar itu jelas merupakan pukulan telak yang bertubi-tubi bagi Tim Badminton Indonesia. Makin lengkap karena Indonesia juga tidak bisa berbicara banyak di Sudirman Cup.
Anthony Ginting dan kawan-kawan tidak mampu menyumbang medali di Asian Games. (PBSI)
Di tengah situasi kering prestasi, kondisi makin diperparah oleh kenyataan-kenyataan menyesakkan di luar lapangan. Misal saja soal kondisi asupan nutrisi, penanganan cedera, dan kedisiplinan atlet yang masih jadi bahan pertanyaan banyak orang.
Daniel Marthin, Fajar Alfian, Apriyani Rahayu, Christian Adinata, Muhammad Rian Ardianto, dan Gregoria Mariska Tunjung adalah sejumlah nama andalan yang merasakan cedera di 2023.
Gambaran tersebut seolah jadi mengapungkan sebuah kesimpulan bahwa kegagalan-kegagalan yang menerpa Tim Badminton Indonesia terjadi lantaran masih banyak aspek-aspek penting yang terlewatkan dan belum dipenuhi sesuai standar yang diharapkan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Tahun 2023 Indonesia gagal di ajang-ajang besar. Namun tidak seluruhnya lembar-lembar perjalanan di 2023 berisi kegagalan total. Ada kemenangan-kemenangan yang juga patut dirayakan.
Selain Fajar/Rian sempat mengkilap di awal 2023, Gregoria Mariska Tunjung dan Jonatan Christie jadi pebulutangkis yang terbilang bersinar di 2023.
Gregoria sukses menembus 10 besar dunia dan duduk di peringkat ketujuh. Pencapaian Gregoria ini terbilang pencapaian besar untuk tunggal putri Indonesia mengingat Indonesia sudah lama tak memiliki pemain tunggal putri di jajaran 10 besar.
Gregoria di tahun 2023 berhasil memenangkan Spain Masters dan Japan Masters. Ia juga sukses memetik kemenangan terhadap sejumlah pebulutangkis papan atas seperti Chen Yufei, Carolina Marin, dan P.V Sindhu.
Keberhasilan Gregoria ini jelas jadi salah satu angin segar bagi Indonesia di tahun 2023. Gregoria sudah bisa naik level dibandingkan penampilan yang ia tunjukkan di tahun sebelumnya. Kini ia makin berjarak dekat dengan persaingan di papan atas.
Sementara itu Jonatan Christie memang tak berdaya di Kejuaraan Dunia dan Asian Games. Namun ia berhasil merebut tiga gelar di tahun ini yaitu Indonesia Masters, Hong Kong Open, dan French Open.
Jonatan Christie berhasil merebut tiga gelar di 2023. (Arsip PBSI)
Keberhasilan itu membuat Jonatan mematahkan kutukan yang selama ini mendekapnya yaitu gagal memenangkan turnamen Super 500 ke atas. Kini, ia sudah punya koleksi gelar Super 500 dan juga Super 750.
Selain itu ada keberhasilan-keberhasilan lain yaitu Anthony Ginting yang juara Asia dan Leo/Daniel yang sempat merebut gelar Indonesia Masters dan Thailand Masters. Juga ada Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva yang tetap mampu bertahan di 10 besar pada tahun ini dan merebut medali perak Kejuaraan Dunia.
Kondisi itu membuat posisi Tim Badminton Indonesia tak sepenuhnya terpuruk hingga ke dasar. Ada modal untuk bisa bangkit dalam waktu cepat.
Namun satu hal yang harus diingat, alarm peringatan sudah berulang kali berdering seiring kegagalan-kegagalan di ajang akbar. Peringatan tanda bahaya sudah berbunyi nyaring, sehingga hanya respons bagus dari PBSI yang bisa menyelamatkan Tim Badminton Indonesia dari bencana yang lebih besar.
Tahun 2023 benar-benar jadi tahun penuh peringatan serius bagi Tim Badminton Indonesia. Pukulan-pukulan telak menghantam Tim Badminton Indonesia.
Tahun 2023 dibuka dengan manis lewat kegemilangan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Mereka naik ke posisi nomor satu dunia dan kemudian memenangkan dua turnamen Super 1000 yaitu Malaysia Open dan All England.
Namun setelah itu Fajar/Rian seolah tenggelam. Mereka kesulitan mencapai level terbaik. Sejumlah kendala termasuk faktor cedera jadi penghambat Fajar/Rian menampilkan kekuatan maksimal mereka di lapangan.
Di awal 2023, Fajar/Rian jelas jadi tumpuan dan wajah utama Tim Badminton Indonesia. Ketika Fajar/Rian gagal, kemudian tak ada pemain lain yang bisa keluar sebagai tulang punggung Indonesia di ajang-ajang besar.
Kejuaraan Dunia tanpa gelar juara, begitu juga dengan BWF World Tour Finals. Pukulan lebih telak tercatat di ajang Asian Games. Tim Badminton Indonesia bukan sekadar gagal menyumbang emas, melainkan juga tidak mampu memberikan sumbangsih medali untuk kontingen Indonesia.
Kegagalan di tiga ajang besar tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja. Indonesia secara konsisten tidak mampu meraih gelar juara dan berarti ada yang salah dengan perjalanan Tim Badminton Indonesia di 2023.
Hal ini bukan semata persaingan badminton di dunia yang makin ketat. Pasalnya kubu Indonesia selalu jadi pihak yang gagal naik podium tertinggi dan jadi pihak yang pulang lebih cepat.
Tiga turnamen besar itu bisa dibilang jadi gambaran untuk ajang Olimpiade tahun depan. Tekanan dan persaingan di tiga ajang tersebut bisa mendekati besarnya tekanan di Olimpiade. Karena itu ketika kegagalan datang, artinya ada alarm berbahaya yang berbunyi dan berdentang.
Kegagalan demi kegagalan di ajang besar itu jelas merupakan pukulan telak yang bertubi-tubi bagi Tim Badminton Indonesia. Makin lengkap karena Indonesia juga tidak bisa berbicara banyak di Sudirman Cup.
Anthony Ginting dan kawan-kawan tidak mampu menyumbang medali di Asian Games. (PBSI)
Di tengah situasi kering prestasi, kondisi makin diperparah oleh kenyataan-kenyataan menyesakkan di luar lapangan. Misal saja soal kondisi asupan nutrisi, penanganan cedera, dan kedisiplinan atlet yang masih jadi bahan pertanyaan banyak orang.
Daniel Marthin, Fajar Alfian, Apriyani Rahayu, Christian Adinata, Muhammad Rian Ardianto, dan Gregoria Mariska Tunjung adalah sejumlah nama andalan yang merasakan cedera di 2023.
Gambaran tersebut seolah jadi mengapungkan sebuah kesimpulan bahwa kegagalan-kegagalan yang menerpa Tim Badminton Indonesia terjadi lantaran masih banyak aspek-aspek penting yang terlewatkan dan belum dipenuhi sesuai standar yang diharapkan.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Gregoria dan Jonatan Mengkilap
Gregoria Mariska Tunjung berhasil menembus 10 besar di tahun 2023. (Arsip PBSI)
Tahun 2023 Indonesia gagal di ajang-ajang besar. Namun tidak seluruhnya lembar-lembar perjalanan di 2023 berisi kegagalan total. Ada kemenangan-kemenangan yang juga patut dirayakan.
Selain Fajar/Rian sempat mengkilap di awal 2023, Gregoria Mariska Tunjung dan Jonatan Christie jadi pebulutangkis yang terbilang bersinar di 2023.
Gregoria sukses menembus 10 besar dunia dan duduk di peringkat ketujuh. Pencapaian Gregoria ini terbilang pencapaian besar untuk tunggal putri Indonesia mengingat Indonesia sudah lama tak memiliki pemain tunggal putri di jajaran 10 besar.
Gregoria di tahun 2023 berhasil memenangkan Spain Masters dan Japan Masters. Ia juga sukses memetik kemenangan terhadap sejumlah pebulutangkis papan atas seperti Chen Yufei, Carolina Marin, dan P.V Sindhu.
Keberhasilan Gregoria ini jelas jadi salah satu angin segar bagi Indonesia di tahun 2023. Gregoria sudah bisa naik level dibandingkan penampilan yang ia tunjukkan di tahun sebelumnya. Kini ia makin berjarak dekat dengan persaingan di papan atas.
Sementara itu Jonatan Christie memang tak berdaya di Kejuaraan Dunia dan Asian Games. Namun ia berhasil merebut tiga gelar di tahun ini yaitu Indonesia Masters, Hong Kong Open, dan French Open.
Jonatan Christie berhasil merebut tiga gelar di 2023. (Arsip PBSI)
Keberhasilan itu membuat Jonatan mematahkan kutukan yang selama ini mendekapnya yaitu gagal memenangkan turnamen Super 500 ke atas. Kini, ia sudah punya koleksi gelar Super 500 dan juga Super 750.
Selain itu ada keberhasilan-keberhasilan lain yaitu Anthony Ginting yang juara Asia dan Leo/Daniel yang sempat merebut gelar Indonesia Masters dan Thailand Masters. Juga ada Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva yang tetap mampu bertahan di 10 besar pada tahun ini dan merebut medali perak Kejuaraan Dunia.
Kondisi itu membuat posisi Tim Badminton Indonesia tak sepenuhnya terpuruk hingga ke dasar. Ada modal untuk bisa bangkit dalam waktu cepat.
Namun satu hal yang harus diingat, alarm peringatan sudah berulang kali berdering seiring kegagalan-kegagalan di ajang akbar. Peringatan tanda bahaya sudah berbunyi nyaring, sehingga hanya respons bagus dari PBSI yang bisa menyelamatkan Tim Badminton Indonesia dari bencana yang lebih besar.