Menebak Siasat Shin Tae Yong di Indonesia vs Libya Leg 2
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Jumat, 05 Jan 2024 08:20 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Timnas Indonesia akan kembali menghadapi Libya dalam laga uji coba leg 2. (Dok. PSSI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Timnas Indonesia akan kembali menghadapi Libya dalam laga uji coba jelang Piala Asia 2023, Jumat (5/1). Ke mana arah eksperimen Shin Tae Yong kali ini?
Pertandingan lawan Libya adalah yang kedua dalam rangkaian pemusatan latihan atau Training Camp (TC) sebelum Piala Asia 2023. Setelah babak belur di babak pertama, Timnas Indonesia perlu memperbaiki keadaan di laga berikutnya.
Perbaikan situasi tidak hanya melulu soal skor yang mudah terlihat tapi juga dari banyak aspek lain seperti efektivitas taktik, pemilihan pemain, hingga kondisi fisik yang jadi sorotan Shin Tae Yong dari laga pertama.
Di pertandingan sebelumnya, STY menerapkan dua susunan pemain dan taktik yang berbeda pada masing-masing babak. Selain itu, STY juga menugaskan pemain di tempat baru yang tak biasa.
Pada babak pertama, STY menerapkan formasi klasik 4-4-2. Dengan pola itu, Timnas Indonesia sebenarnya bermain agresif di awal babak pertama. Pergerakan pemain pun berlangsung dinamis ketika membangun serangan.
Namun Libya punya kemampuan penjagaan wilayah dan pemain lebih baik. Selain itu, pemain lawan juga menunjukkan pergerakan tanpa bola yang lebih efektif. Ini membuat bomber Libya Ahmed Ekrawa berhasil memecah kebuntuan lewat golnya di menit ke-25.
Efektivitas Libya terlihat dari statistik di babak pertama. Meski Indonesia unggul penguasaan bola mencapai 60 persen, Libya mencatat sembilan tendangan yang dua di antaranya tepat sasaran dari enam peluang yang tercipta.
Angka itu berbanding dengan empat tembakan yang dilesakkan Timnas Indonesia, dengan tiga di antaranya tepat sasaran. Selain itu, hanya ada dua peluang yang ditorehkan Rafael Struick dan kawan-kawan.
Di babak kedua, STY melakukan perubahan total. Sebanyak 10 pemain outfield dimasukkan untuk mengganti susunan pemain di babak pertama.
Satu hal yang unik adalah saat Witan Sulaeman dimainkan sebagai bek kanan. Pemain yang biasa main cenderung di depan itu diminta menyisir sisi kanan dari belakang.
Selain itu STY juga mengubah formasi dari 4-4-2 di babak pertama menjadi 4-2-2-2 pada babak kedua. Ini untuk mengisi ruang di bagian tengah yang sempat kosong di babak pertama.
Dari formasi ini, Timnas Indonesia punya peluang emas saat operan cutback Witan Sulaeman disambar oleh Adam Alis. Sayangnya tendangan masih dimentahkan kiper dan membentur tiang.
Meski dengan pola baru melahirkan peluang terbaik, Indonesia justru hancur lebur di babak kedua. Ini karena Libya mampu menceploskan tiga gol sekaligus.
Blunder pemain jadi salah satu penyebab Libya memberi hukuman. Selain itu, kesalahan dalam mengambil keputusan juga dilakukan pemain yang berujung blunder fatal.
Ini membuat pertandingan berakhir 4-0 meski secara statistik, Indonesia masih unggul penguasaan bola hingga 61 persen begitu juga dengan jumlah umpan sukses (403 berbanding 252).
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Dari hasil pertandingan pertama, taktik racikan STY tidak sepenuhnya bisa dibilang gagal. Kembali lagi, itu merupakan laga uji coba dan kesalahan sangat bisa terjadi.
Setidaknya, STY bisa mengetahui kondisi terkini seluruh pemain yang diturunkan dalam pertandingan. Ini sejalan dengan pernyataan juru taktik asal Korea Selatan itu selepas pertandingan.
Itu pula yang jadi alasan Witan sengaja dimainkan sebagai bek kanan demi memberi menit bermain sekaligus mencoba-coba posisi alternatif jika menemui kebuntuan, termasuk badai cedera. Dengan batas 26 pemain yang masuk skuad Piala Asia 2023, STY harus siap dengan segala keadaan sehingga harus memanfaatkan seluruh potensi dari setiap pemain.
Alhasil, kekalahan 0-4 dari Libya pada laga sebelumnya adalah 'trial and error' yang biasa dilakukan pelatih. Walaupun hasilnya petaka, tinggal diperbaiki saja.
Namun memperbaiki keadaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Tanggung jawab STY akan semakin besar karena pertandingan kedua melawan Libya masuk ke dalam hitung-hitungan FIFA.
Jika menang atas Libya, Indonesia bakal mendapatkan tambahan 2,93 poin. Sementara itu, jika imbang, Indonesia meraup 0,43 poin dan jika kalah kehilangan 2,07 poin
Meski terbilang kecil, pertandingan kedua melawan Libya akan berpengaruh pada poin FIFA. Melihat situasi ini, maka keputusan bergantung pada prioritas STY untuk kembali melakukan eksperimen atau mencari poin.
Misi paling realistis tentu kembali membangun pondasi tim dengan percobaan strategi baru atau penguatan taktik yang sudah berjalan baik di laga sebelumnya. Poin yang dipetik hasil dari pertandingan biarlah jadi bonus dan konsekuensi pengorbanan yang dilakukan.
Sebab ada agenda lebih penting yang sudah di depan mata, yakni putaran final Piala Asia 2023. Pada turnamen itulah ujian sesungguhnya Timnas Indonesia.
Sengaja hancur pada laga persahabatan juga dapat jadi taktik non teknis untuk mengelabui lawan di Piala Asia. Ini bisa jadi siasat STY karena lawan bisa dengan mudah memperhatikan pertandingan Timnas Indonesia karena disiarkan televisi.
Karena itu, wajar bagi STY jika kembali melakukan coba-coba. Evaluasi dari setiap pertandingan memang perlu dilakukan, tapi skala prioritas jelang Piala Asia 2023 juga harus ditentukan.
Timnas Indonesia akan kembali menghadapi Libya dalam laga uji coba jelang Piala Asia 2023, Jumat (5/1). Ke mana arah eksperimen Shin Tae Yong kali ini?
Pertandingan lawan Libya adalah yang kedua dalam rangkaian pemusatan latihan atau Training Camp (TC) sebelum Piala Asia 2023. Setelah babak belur di babak pertama, Timnas Indonesia perlu memperbaiki keadaan di laga berikutnya.
Perbaikan situasi tidak hanya melulu soal skor yang mudah terlihat tapi juga dari banyak aspek lain seperti efektivitas taktik, pemilihan pemain, hingga kondisi fisik yang jadi sorotan Shin Tae Yong dari laga pertama.
Di pertandingan sebelumnya, STY menerapkan dua susunan pemain dan taktik yang berbeda pada masing-masing babak. Selain itu, STY juga menugaskan pemain di tempat baru yang tak biasa.
Pada babak pertama, STY menerapkan formasi klasik 4-4-2. Dengan pola itu, Timnas Indonesia sebenarnya bermain agresif di awal babak pertama. Pergerakan pemain pun berlangsung dinamis ketika membangun serangan.
Namun Libya punya kemampuan penjagaan wilayah dan pemain lebih baik. Selain itu, pemain lawan juga menunjukkan pergerakan tanpa bola yang lebih efektif. Ini membuat bomber Libya Ahmed Ekrawa berhasil memecah kebuntuan lewat golnya di menit ke-25.
Efektivitas Libya terlihat dari statistik di babak pertama. Meski Indonesia unggul penguasaan bola mencapai 60 persen, Libya mencatat sembilan tendangan yang dua di antaranya tepat sasaran dari enam peluang yang tercipta.
Angka itu berbanding dengan empat tembakan yang dilesakkan Timnas Indonesia, dengan tiga di antaranya tepat sasaran. Selain itu, hanya ada dua peluang yang ditorehkan Rafael Struick dan kawan-kawan.
Di babak kedua, STY melakukan perubahan total. Sebanyak 10 pemain outfield dimasukkan untuk mengganti susunan pemain di babak pertama.
Satu hal yang unik adalah saat Witan Sulaeman dimainkan sebagai bek kanan. Pemain yang biasa main cenderung di depan itu diminta menyisir sisi kanan dari belakang.
Selain itu STY juga mengubah formasi dari 4-4-2 di babak pertama menjadi 4-2-2-2 pada babak kedua. Ini untuk mengisi ruang di bagian tengah yang sempat kosong di babak pertama.
Dari formasi ini, Timnas Indonesia punya peluang emas saat operan cutback Witan Sulaeman disambar oleh Adam Alis. Sayangnya tendangan masih dimentahkan kiper dan membentur tiang.
Meski dengan pola baru melahirkan peluang terbaik, Indonesia justru hancur lebur di babak kedua. Ini karena Libya mampu menceploskan tiga gol sekaligus.
Blunder pemain jadi salah satu penyebab Libya memberi hukuman. Selain itu, kesalahan dalam mengambil keputusan juga dilakukan pemain yang berujung blunder fatal.
Ini membuat pertandingan berakhir 4-0 meski secara statistik, Indonesia masih unggul penguasaan bola hingga 61 persen begitu juga dengan jumlah umpan sukses (403 berbanding 252).
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Racikan taktik Shin Tae Yong bakal jadi perhatian di Indonesia vs Libya leg 2. (Dok. PSSI)
Dari hasil pertandingan pertama, taktik racikan STY tidak sepenuhnya bisa dibilang gagal. Kembali lagi, itu merupakan laga uji coba dan kesalahan sangat bisa terjadi.
Setidaknya, STY bisa mengetahui kondisi terkini seluruh pemain yang diturunkan dalam pertandingan. Ini sejalan dengan pernyataan juru taktik asal Korea Selatan itu selepas pertandingan.
Itu pula yang jadi alasan Witan sengaja dimainkan sebagai bek kanan demi memberi menit bermain sekaligus mencoba-coba posisi alternatif jika menemui kebuntuan, termasuk badai cedera. Dengan batas 26 pemain yang masuk skuad Piala Asia 2023, STY harus siap dengan segala keadaan sehingga harus memanfaatkan seluruh potensi dari setiap pemain.
Alhasil, kekalahan 0-4 dari Libya pada laga sebelumnya adalah 'trial and error' yang biasa dilakukan pelatih. Walaupun hasilnya petaka, tinggal diperbaiki saja.
Namun memperbaiki keadaan tak semudah membalikkan telapak tangan. Tanggung jawab STY akan semakin besar karena pertandingan kedua melawan Libya masuk ke dalam hitung-hitungan FIFA.
Jika menang atas Libya, Indonesia bakal mendapatkan tambahan 2,93 poin. Sementara itu, jika imbang, Indonesia meraup 0,43 poin dan jika kalah kehilangan 2,07 poin
Meski terbilang kecil, pertandingan kedua melawan Libya akan berpengaruh pada poin FIFA. Melihat situasi ini, maka keputusan bergantung pada prioritas STY untuk kembali melakukan eksperimen atau mencari poin.
Misi paling realistis tentu kembali membangun pondasi tim dengan percobaan strategi baru atau penguatan taktik yang sudah berjalan baik di laga sebelumnya. Poin yang dipetik hasil dari pertandingan biarlah jadi bonus dan konsekuensi pengorbanan yang dilakukan.
Sebab ada agenda lebih penting yang sudah di depan mata, yakni putaran final Piala Asia 2023. Pada turnamen itulah ujian sesungguhnya Timnas Indonesia.
Sengaja hancur pada laga persahabatan juga dapat jadi taktik non teknis untuk mengelabui lawan di Piala Asia. Ini bisa jadi siasat STY karena lawan bisa dengan mudah memperhatikan pertandingan Timnas Indonesia karena disiarkan televisi.
Karena itu, wajar bagi STY jika kembali melakukan coba-coba. Evaluasi dari setiap pertandingan memang perlu dilakukan, tapi skala prioritas jelang Piala Asia 2023 juga harus ditentukan.