Jakarta, CNN Indonesia -- Timnas Indonesia akan menghadapi Iran pada uji tanding di Doha, Qatar, Selasa (9/1). Ini bakal jadi 'laboratorium' terakhir Shin Tae Yong jelang Piala Asia 2023 (2024).
Laga Indonesia vs Iran adalah edisi pemungkas rangkaian uji coba jelang Piala Asia. Meski berstatus persahabatan, pertandingan ini sangat penting untuk mempersiapkan segala aspek jelang turnamen sesungguhnya.
Timnas Indonesia sudah menjalani dua kali uji tanding melawan Libya dengan torehan kekalahan 0-4 dan 1-2. Meski tak menuai kemenangan sama sekali, ada banyak hal penting yang didapatkan tim asuhan Shin Tae Yong.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berkaca dari pertandingan kedua lawan Libya, terdapat peningkatan dari laga pertama. Itu terukur dari statistik pertandingan yang menunjukkan perbaikan dari segi tembakan, catatan peluang, hingga pola bertahan
Di laga kedua kontra Libya, skuad Garuda mencatat 11 tembakan. Ini lebih baik dari pertandingan sebelumnya dengan hanya enam tembakan.
Dari segi peluang, Indonesia mencatat lima di leg kedua berbanding empat di laga pertama. Kualitas serangan juga lebih baik karena Indonesia mampu mencetak gol lebih dulu.
Jumlah kebobolan pun mengindikasikan ada perbaikan pola pertahanan Timnas Indonesia meski terdapat kesalahan sendiri yang jadi proses gol lawan. Jumlah intersep leg dua (30) dari leg pertama (22) membuktikan peningkatan skema bertahan.
Beberapa peningkatan kuantitatif yang disebutkan, terlihat Jordi Amat dan kawan-kawan mampu memperbaiki keadaan. Selanjutnya, mereka bakal berhadapan dengan ujian yang jauh lebih berat untuk terus melakukan perbaikan.
Iran bukan lawan 'kaleng-kaleng' karena berstatus tim kedua terbaik di Asia jika merujuk ranking FIFA. Saat ini, Iran berada di peringkat ke-21 sedangkan Indonesia ada di posisi ke-146.
Alhasil, di atas kertas Indonesia dan Iran bak bumi dan langit jika merujuk peringkat dunia. Karena itu, menghadapi tim yang jauh lebih kuat adalah langkah tepat sebelum bertarung di Piala Asia.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Indonesia vs Iran: Kemana Arah Eksperimen STY?
Ujian kemampuan akan dihadapi para pemain Timnas Indonesia saat meladeni Iran. (Dok. PSSI)
Langkah yang bisa dilakukan Timnas Indonesia adalah menerapkan formula terbaik untuk Piala Asia. Penjajakan ini sudah dilakukan oleh STY di leg kedua lawan Libya.
Pada leg pertama kontra Libya, STY menerapkan sistem coba-coba dalam dua babak. Hasilnya Timnas Indonesia kalah telak 0-4.
Sedangkan di leg kedua, STY lebih hati-hati dalam memilih strategi. Ia menerapkan taktik andalannya dengan menaruh tiga bek tengah dalam skema 3-4-3. Selain bisa mencetak gol lebih dulu, Indonesia juga mengurangi jumlah kebobolan.
Kini di uji tanding pemungkas, STY perlu lebih hati-hati dalam menyusun strategi. Sebab ini adalah kesempatan terakhir STY untuk coba-coba.
Di satu sisi, kehati-hatian diperlukan karena Indonesia terbilang belum dengan kekuatan penuh lantaran dua bek sayap yang masih diragukan tampil. Mereka adalah Asnawi Mangkualam yang cedera dan Shayne Pattynama yang sedang diberi waktu untuk menjenguk sang ibu di Belanda.
Asnawi dan Pattynama sama-sama absen di dua pertandingan uji coba lawan Libya. Kondisi ini memaksa STY memutar otak untuk mencari alternatif. Dengan kemungkinan besar dua pemain itu belum bisa tampil lawan Iran, maka kreativitas jadi keharusan bagi STY.
STY sempat menaruh menaruh Witan Sulaeman sebagai bek kanan di leg pertama lawan Libya. Kemudian di leg kedua, giliran Justin Hubner yang dipasang sebagai gelandang bersama Ivar Jenner.
Pola tiga bek tengah layak kembali diterapkan lawan Iran. Pemain yang berposisi sebagai gelandang juga wajib memiliki visi yang baik dengan kemampuan umpan akurat.
Begitu juga dengan lini depan. Dari dua laga kontra Libya tempo hari, belum ada striker murni yang mencetak gol di sesi uji coba. Timnas Indonesia butuh daya gedor yang lebih klinis.
Dengan status pertandingan yang tertutup, praktis STY punya 'ruang' yang lebih lega untuk bereksperimen. Publik pun hanya bisa berharap yang terbaik dari laga uji coba kontra Iran.
[Gambas:Video CNN]