Rencananya VAR akan digunakan di Championship Liga 1. (ANTARA/FAJAR SATRIYO)
VAR jadi barang penting saat ini bagi sepak bola Indonesia. Pasalnya, rentetan momen aneh bin ajaib masih terjadi di liga Indonesia dari level amatir hingga kasta tertinggi.
Belum lama ini, terjadi insiden brutal di pertandingan Persebaya Surabaya vs PSS Sleman. Salah satu pemain PSS Sleman, Wahyudi Hamisi, terlihat menendang kepala penggawa Persebaya, Bruno Moreira yang sudah terkapar di lapangan.
Wasit pertandingan itu, Ginanjar Rahman Latief, terlihat berada di dekat kejadian. Ia mengeluarkan kartu kuning kepada Wahyudi Hamisi. Perdebatan pun muncul, apakah keputusan wasit itu sudah benar?
Konteks ini bisa memunculkan perdebatan panjang. Namun seandainya ada VAR, mungkin wasit bisa lebih melakukan peninjauan agar keputusan yang diambil lebih tepat.
Pertanyaan lain adalah apabila ada VAR, apakah keputusan wasit sudah pasti tepat? Keraguan ini hanya bisa dijawab saat VAR sudah benar-benar dipakai di lapangan.
Berkaca dari laporan Sky Sports, ada peningkatan dalam hasil keputusan wasit setelah ada VAR di Premier League. Angkanya cukup signifikan dengan kenaikan hingga 14 persen.
"Statistik terbaru Premier League menunjukkan bahwa sebelum VAR diperkenalkan, keputusan wasit yang tepat sebesar 82 persen. Sekarang setelah VAR diterapkan, keputusan wasit yang benar mencapai 96 persen," tulis laporan tersebut.
Itu untuk Liga Inggris yang memasuki musim kelima menggunakan VAR sejak pertama kali dipakai secara penuh pada musim 2019/2020. Untuk Liga Indonesia, tentu statistik belum bisa terlihat sebelum benar-benar diterapkan.
Ujicoba VAR di final EPA Liga 1 U-20 kemudian dipakai di championship series Liga 1 dapat jadi gambaran untuk penerapan utuh di musim kompetisi 2024/2025.
Perjalanan VAR di Liga Indonesia pun masih panjang karena PT LIB menjalin kontrak empat musim bernilai Rp100 miliar untuk pemakaian teknologi ini.
Karena itu, Liga Indonesia benar-benar butuh atau bahkan darurat VAR. Dengan kemajuan teknologi dan kualitas SDM yang memadai dalam konteks ini, semoga sepak bola Indonesia berada di jalur yang benar.
(ikw/jun)
Jakarta, CNN Indonesia --
Video Assistant Referee (VAR) di Liga 1 akan segera diterapkan dalam waktu dekat. Penggunaan teknologi ini mengundang pertanyaan, benarkah sepak bola Indonesia butuh VAR?
Penerapan VAR dijadwalkan bergulir pada putaran championship series Liga 1 2023/2024 yang bergulir 4-26 Mei mendatang, seperti ditegaskan Ketua Umum PSSI Erick Thohir pada Rabu (6/3). Itu bukanlah waktu yang lama karena tinggal menyisakan dua bulan lagi.
Pertanyaan lain yang mungkin hadir adalah apakan jadwal penerapan VAR itu terlalu dini? Sebab, penggunaan di championship series pun sejatinya merupakan jadwal tunda karena sebelumnya direncanakan mulai dipakai di pekan ke-24, Februari lalu.
Tapi kemudian PT Liga Indonesia Baru (LIB) mengulur waktu pelaksanaan hingga tiga bulan. Ada dua alasan utama penundaan ini, yaitu perubahan operasional penggunaan VAR serta faktor sumber daya manusia (SDM).
Untuk perubahan operasional penggunaan VAR, maksudnya adalah penyesuaian pilihan menggunakan ruangan permanen atau menerapkan 'studio' mini VAR di dalam mobil.
Kemudian soal SDM, PT LIB menyebut bahwa pemangku teknis VAR seperti wasit, asisten wasit, hingga Replay Operator (RO) masih butuh pendalaman materi. Pertimbangan seperti ini yang membuat operator liga memutuskan untuk memundurkan penerapan VAR.
Sebelum benar-benar digunakan pun, LIB ingin VAR sudah dijajal pada pertandingan resmi. Ajang EPA Liga 1 2023/2024 dipilih sebagai laboratorium percobaan itu.
Pertandingan yang dipakai sebagai bahan percobaan VAR adalah final EPA Liga 1 2023/2024 yang mempertemukan Persis Solo melawan Persita Tangerang. Laga ini akan berlangsung di Stadion Manahan, Kamis (7/3).
Laga tersebut diklaim sebagai percobaan VAR pertama kalinya di turnamen resmi domestik. Dari momen ini, diharapkan pelaku teknis VAR dapat merasakan situasi pertandingan yang sebenarnya.
Sebab ketika penggunaan VAR di Indonesia pertama kali diterapkan pada Piala Dunia U-17 2023 lalu, pelaku teknis VAR tidak terlibat langsung dalam situasi pertandingan. Karena itu uji coba VAR benar-benar diperlukan.
Baca di halaman berikutnya>>>
Urgensi VAR di Tengah Rentetan Momen Ajaib Liga Indonesia
Rencananya VAR akan digunakan di Championship Liga 1. (ANTARA/FAJAR SATRIYO)
VAR jadi barang penting saat ini bagi sepak bola Indonesia. Pasalnya, rentetan momen aneh bin ajaib masih terjadi di liga Indonesia dari level amatir hingga kasta tertinggi.
Belum lama ini, terjadi insiden brutal di pertandingan Persebaya Surabaya vs PSS Sleman. Salah satu pemain PSS Sleman, Wahyudi Hamisi, terlihat menendang kepala penggawa Persebaya, Bruno Moreira yang sudah terkapar di lapangan.
Wasit pertandingan itu, Ginanjar Rahman Latief, terlihat berada di dekat kejadian. Ia mengeluarkan kartu kuning kepada Wahyudi Hamisi. Perdebatan pun muncul, apakah keputusan wasit itu sudah benar?
Konteks ini bisa memunculkan perdebatan panjang. Namun seandainya ada VAR, mungkin wasit bisa lebih melakukan peninjauan agar keputusan yang diambil lebih tepat.
Pertanyaan lain adalah apabila ada VAR, apakah keputusan wasit sudah pasti tepat? Keraguan ini hanya bisa dijawab saat VAR sudah benar-benar dipakai di lapangan.
Berkaca dari laporan Sky Sports, ada peningkatan dalam hasil keputusan wasit setelah ada VAR di Premier League. Angkanya cukup signifikan dengan kenaikan hingga 14 persen.
"Statistik terbaru Premier League menunjukkan bahwa sebelum VAR diperkenalkan, keputusan wasit yang tepat sebesar 82 persen. Sekarang setelah VAR diterapkan, keputusan wasit yang benar mencapai 96 persen," tulis laporan tersebut.
Itu untuk Liga Inggris yang memasuki musim kelima menggunakan VAR sejak pertama kali dipakai secara penuh pada musim 2019/2020. Untuk Liga Indonesia, tentu statistik belum bisa terlihat sebelum benar-benar diterapkan.
Ujicoba VAR di final EPA Liga 1 U-20 kemudian dipakai di championship series Liga 1 dapat jadi gambaran untuk penerapan utuh di musim kompetisi 2024/2025.
Perjalanan VAR di Liga Indonesia pun masih panjang karena PT LIB menjalin kontrak empat musim bernilai Rp100 miliar untuk pemakaian teknologi ini.
Karena itu, Liga Indonesia benar-benar butuh atau bahkan darurat VAR. Dengan kemajuan teknologi dan kualitas SDM yang memadai dalam konteks ini, semoga sepak bola Indonesia berada di jalur yang benar.