Bukan Pinang Dibelah Dua, Italia Lebih Berbahaya dari Kroasia
Abdul Susila | CNN Indonesia
Senin, 24 Jun 2024 07:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Magis Luka Modric dinanti saat Kroasia vs Italia. (REUTERS/Carmen Jaspersen)
Rumus yang dijadikan candaan itu, 'matikan Luka Modric, selesailah Kroasia' ternyata masih ampuh. Kroasia masih belum berubah.
Saat pemain Real Madrid berusia 38 itu tak berkutik mengatur jalannya laga, Kroasia tak berkembang. Spanyol membuktikan itu dan juga tersirat saat imbang dengan Albania.
Statistik memperlihatkan, Modric hanya empat kali main penuh bersama Real Madrid pada musim lalu. Dari 33 kali main di Liga Spanyol, 14 kali menggantikan dan 15 kali diganti.
Ritme di klub ini membuat Modric tak punya kapasitas daya tahan yang stabil. Kebiasaan di klub membuat kondisi tubuhnya jadi terbiasa main prima hanya 60 hingga 70 menit.
Kendati demikian, Modric tetaplah Modric. Kecerdikan sepak bola dan mentalitasnya tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam situasi genting, Modric bisa saja bersemangat ganda.
Siapa pemain Italia yang akan membuat Modric tak berkutik? Jorginho dan Nicolo Barella akan mengemban tugas itu. Utamanya Barella mungkin akan diminta demikian oleh Spalletti.
Mengacu laga Italia kontra Spanyol, Bryan Cristante berpeluang jadi pilihan. Aksinya saat menggantikan Jorginho terbukti membuat lini tengah Spanyol tak segarang babak pertama.
Dengan gaya main yang lebih progresif di bawah kendali Spalletti, Gli Azzurri lebih berani membangun serangan dari bawah. Serangan balik bukan lagi senjata utama.
Tenaga muda Italia membuat Spalletti berani bermain terbuka, menaikkan garis pertahanan, dan menusuk dari tengah. Sayangnya Italia belum punya striker yang disegani.
Untuk lini depan, kiranya hanya Federico Chiesa yang dinilai berbahaya. Namun posisi aslinya adalah winger. Adapun Gianluca Scamacca dan Giacomo Raspadori masih dipandang sebelah mata.
Bila berharap kejutan, yang ditunggu adalah Matei Retegui. Mantan topskor Liga Argentina yang berkiprah bersama Genoa ini bisa jadi 'Kartu As' untuk menekuk Kroasia.
(jun)
Jakarta, CNN Indonesia --
Wajah Kroasia sebagai semifinalis Piala Dunia 2022 sama sekali tak terlihat di Euro 2024. Namun, skuad Italia juga tak menjanjikan.
Kroasia dan Italia akan bentrok dalam laga terakhir Grup B di Stadion Red Bull Arena, Leipzig pada Senin (24/6) malam waktu Jerman atau Selasa (25/6) dini hari WIB.
Luka Modric dan kawan-kawan membuka penampilan di Piala Eropa 2024 ini dengan terbantai 0-3 dari Spanyol. Selanjutnya di laga kedua bermain imbang 2-2 dengan Albania.
Situasi ini membuat tim asuhan Zlatko Dalic ini harus menang atas Italia. Hanya kemenangan yang bisa membuka peluang The Vatreni bisa lolos ke babak 16 besar.
Menang atas Italia sama artinya menjadi runner up Grup B. Kalau imbang, peluang lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik memang masih memungkinkan, tetapi dengan dua poin kansnya sangat kecil.
Karena itu, jika ingin habis-habisan, inilah saat yang tepat bagi Kroasia untuk mati-matian. Performa yang buruk dalam dua laga sebelumnya harus ditingkatkan di laga ini.
Berkaca dari dua laga sebelumnya, Kroasia memang tampak rapuh. Keberadaan pemain-pemain kaliber macam Modric, Josko Gvardiol, Mateo Kovacic, hingga Mario Pasalic tak mengangkat.
Kroasia diolok-olok jadi tim sepuh yang payah. Padahal, mengacu rerata usia kontestan Piala eropa 2024 yang dirilis Transfermarkt, Kroasia bukan yang tertua. Jerman lebih uzur.
Pada saat yang sama Italia diisi banyak pemain muda. Pondasi yang dibangun Luciano Spalletti belum matang, tetapi soliditas di belakang hingga depan terbilang lumayan.
Buktinya Italia menang 2-1 atas Albania yang '100 persen pemain impor' dan kalah 0-1 dari Spanyol karena kurang beruntung. Kekuatan Italia jelas lebih menjanjikan dari Kroasia.
Karenanya tak mengherankan jika Italia lebih diunggulkan. Dari mulai superkomputer hingga kecerdasan buatan (AI) menyebut peluang menang Italia atas Kroasia di atas 50 persen.
Baca di halaman berikutnya>>>
Kunci Jitu Kroasia Mudah Patah
Magis Luka Modric dinanti saat Kroasia vs Italia. (REUTERS/Carmen Jaspersen)
Rumus yang dijadikan candaan itu, 'matikan Luka Modric, selesailah Kroasia' ternyata masih ampuh. Kroasia masih belum berubah.
Saat pemain Real Madrid berusia 38 itu tak berkutik mengatur jalannya laga, Kroasia tak berkembang. Spanyol membuktikan itu dan juga tersirat saat imbang dengan Albania.
Statistik memperlihatkan, Modric hanya empat kali main penuh bersama Real Madrid pada musim lalu. Dari 33 kali main di Liga Spanyol, 14 kali menggantikan dan 15 kali diganti.
Ritme di klub ini membuat Modric tak punya kapasitas daya tahan yang stabil. Kebiasaan di klub membuat kondisi tubuhnya jadi terbiasa main prima hanya 60 hingga 70 menit.
Kendati demikian, Modric tetaplah Modric. Kecerdikan sepak bola dan mentalitasnya tak bisa dipandang sebelah mata. Dalam situasi genting, Modric bisa saja bersemangat ganda.
Siapa pemain Italia yang akan membuat Modric tak berkutik? Jorginho dan Nicolo Barella akan mengemban tugas itu. Utamanya Barella mungkin akan diminta demikian oleh Spalletti.
Mengacu laga Italia kontra Spanyol, Bryan Cristante berpeluang jadi pilihan. Aksinya saat menggantikan Jorginho terbukti membuat lini tengah Spanyol tak segarang babak pertama.
Dengan gaya main yang lebih progresif di bawah kendali Spalletti, Gli Azzurri lebih berani membangun serangan dari bawah. Serangan balik bukan lagi senjata utama.
Tenaga muda Italia membuat Spalletti berani bermain terbuka, menaikkan garis pertahanan, dan menusuk dari tengah. Sayangnya Italia belum punya striker yang disegani.
Untuk lini depan, kiranya hanya Federico Chiesa yang dinilai berbahaya. Namun posisi aslinya adalah winger. Adapun Gianluca Scamacca dan Giacomo Raspadori masih dipandang sebelah mata.
Bila berharap kejutan, yang ditunggu adalah Matei Retegui. Mantan topskor Liga Argentina yang berkiprah bersama Genoa ini bisa jadi 'Kartu As' untuk menekuk Kroasia.