Racikan taktik terbaik Patrick Kluivert dinanti bersama Timnas Indonesia. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Jakarta, CNN Indonesia --
Benarkah Patrick Kluivert hanya boneka di Timnas Indonesia? Sudah ada alat bukti, tetapi itu tak bisa dijadikan sebuah konklusi.
Sehari setelah kekalahan 1-5 Indonesia dari Australia, beredar potongan video Kluivert di pinggir lapangan. Ia berdiri mematung saat ada jeda singkat pertandingan.
Sebaliknya Alex Pastoor, sang asisten, yang sibuk berbicara kepada pemain; memberi instruksi. Potongan video ini tentu bisa membangun persepsi soal peran Kluivert di tim Garuda.
Ini anomali jika dibanding dengan pelatih sebelumnya, Shin Tae Yong. Pria Korea Selatan ini sangat ekspresif. Ia bisa berdiri hampir di 90 menit pertandingan. Ia kurator dan oratornya.
Tentu saja Kluivert bukan Shin. Kluivert adalah Kluivert. Ia hadir dengan versinya sendiri; dengan gayanya; dengan pembawaannya, dengan filosofinya; dengan isi kepalanya.
Orang bisa saja berasumsi Alex Pastoor adalah pelatih Timnas Indonesia sebenarnya. Ia dalang strategi permainan tim Merah Putih. Pengalaman Pastoor lebih ideologis dari Kluivert.
Satu yang bisa dipastikan, Kluivert bukan benda mati. Ia punya citarasa dan adicita yang dibangun sejak merintis karier sebagai pemain. Nama Kluivert lebih besar dari semua asistennya.
Dengan jam terbang ditangani pelatih-pelatih kawakan di Ajax Amsterdam, AC Milan, Barcelona, Newcastle United, dan timnas Belanda, Kluivert punya banyak senjata rahasia.
Anggapan bahwa Kluivert membawa total football ke Timnas Indonesia kiranya tak sepenuhnya benar. Pria 48 tahun ini bukan pengusung sejati strategi permainan progresif kolektif tersebut.
Pecinta sepak bola Curacao setidaknya bisa jadi sandaran empiris. Pada kurun 2015-2016, Kluivert memberi warna cerah pada sepak bola Curacao. Bukan dengan filosofi total football.
Namun, Indonesia bukan Curacao. Indonesia adalah Indonesia. Untuk saat ini, kiranya cerita magis Kluivert hanya mitos. Kalau ingin asumsi ini diruntuhkan, menanglah atas Bahrain.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Duel Timnas Indonesia versus Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Selasa (25/3) malam, bagi suporter bukan sekadar menjaga peluang lolos ke Piala Dunia 2026.
Lebih dari itu. Laga ini sarat gengsi. Hasil pertandingan leg pertama pada 10 Oktober 2024 adalah pemantiknya. Ketika itu peluang menang Indonesia hilang di depan mata.
Narasi, asumsi, persepsi, juga anggapan yang muncul adalah Indonesia dicurangi. Bahrain menyamakan kedudukan pada menit ke-90+9, padahal masa injury time hanya enam menit.
Sampai di sini kiranya Kluivert bisa memahami dinamika menjelang laga ini. Mungkin amarah suporter Timnas Indonesia sudah agak mereda, tetapi jangan pancing erupsi lagi.
Satu-satunya cara agar tak ada erupsi di GBK dan goncangan stabilitas di media sosial seusai laga, kalahkan Bahrain. Kemenangan atas Bahrain sama sekali tak bisa ditawar.
Kemenangan akan jadi serum sakit hati. Kalau saat ini Kluivert belum dicintai, inilah saat paling tepat untuk mengambil hati. Bahasa populernya, jadikan malam di GBK jadi malam lailatul qadar. Indah.
Soal bagaimana cara menang melawan Bahrain, Kluivert tentu lebih tahu. Sombongnya, tak ada satu orang pun di Indonesia yang lebih mengerti sepak bola dibanding Kluivert.
Tentu saja ini hiperbola. Saat ini Kluivert bukan siapa-siapa di belantika sepak bola dunia. Sama seperti Indonesia. Indonesia dan Kluivert hanya 'remahan rengginang di kaleng khong guan'.
Namun, seperti kata pepatah "roda berputar", Kluivert bisa mengubah tinta sejarah. Indonesia yang masih dianggap liliput sepak bola, sudah saatnya dilentingkan kastanya.
Dari laga melawan Australia, setidaknya ada dua hal yang bisa diperbaiki Kluivert. Pertama stabilitas agresivitas penyerangan, dan kedua konsistensi pragmatisme pertahanan.
Meminjam bahasa Johan Cruyff, "Kualitas tanpa hasil tidak ada artinya. Hasil tanpa kualitas membosankan." Dan, sejarah menulis, keseimbangan hasil dan kualitas tak pernah hadir dari seorang boneka.
Benarkah Patrick Kluivert hanya boneka di Timnas Indonesia? Sudah ada alat bukti, tetapi itu tak bisa dijadikan sebuah konklusi.
Sehari setelah kekalahan 1-5 Indonesia dari Australia, beredar potongan video Kluivert di pinggir lapangan. Ia berdiri mematung saat ada jeda singkat pertandingan.
Sebaliknya Alex Pastoor, sang asisten, yang sibuk berbicara kepada pemain; memberi instruksi. Potongan video ini tentu bisa membangun persepsi soal peran Kluivert di tim Garuda.
Ini anomali jika dibanding dengan pelatih sebelumnya, Shin Tae Yong. Pria Korea Selatan ini sangat ekspresif. Ia bisa berdiri hampir di 90 menit pertandingan. Ia kurator dan oratornya.
Tentu saja Kluivert bukan Shin. Kluivert adalah Kluivert. Ia hadir dengan versinya sendiri; dengan gayanya; dengan pembawaannya, dengan filosofinya; dengan isi kepalanya.
Orang bisa saja berasumsi Alex Pastoor adalah pelatih Timnas Indonesia sebenarnya. Ia dalang strategi permainan tim Merah Putih. Pengalaman Pastoor lebih ideologis dari Kluivert.
Satu yang bisa dipastikan, Kluivert bukan benda mati. Ia punya citarasa dan adicita yang dibangun sejak merintis karier sebagai pemain. Nama Kluivert lebih besar dari semua asistennya.
Dengan jam terbang ditangani pelatih-pelatih kawakan di Ajax Amsterdam, AC Milan, Barcelona, Newcastle United, dan timnas Belanda, Kluivert punya banyak senjata rahasia.
Anggapan bahwa Kluivert membawa total football ke Timnas Indonesia kiranya tak sepenuhnya benar. Pria 48 tahun ini bukan pengusung sejati strategi permainan progresif kolektif tersebut.
Pecinta sepak bola Curacao setidaknya bisa jadi sandaran empiris. Pada kurun 2015-2016, Kluivert memberi warna cerah pada sepak bola Curacao. Bukan dengan filosofi total football.
Namun, Indonesia bukan Curacao. Indonesia adalah Indonesia. Untuk saat ini, kiranya cerita magis Kluivert hanya mitos. Kalau ingin asumsi ini diruntuhkan, menanglah atas Bahrain.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
Menjaga Kans ke Piala Dunia dengan Kualitas
Timnas Indonesia akan menghadapi Bahrain dalam laga yang dibalut aroma dendam. (dok. PSSI)
Duel Timnas Indonesia versus Bahrain di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Selasa (25/3) malam, bagi suporter bukan sekadar menjaga peluang lolos ke Piala Dunia 2026.
Lebih dari itu. Laga ini sarat gengsi. Hasil pertandingan leg pertama pada 10 Oktober 2024 adalah pemantiknya. Ketika itu peluang menang Indonesia hilang di depan mata.
Narasi, asumsi, persepsi, juga anggapan yang muncul adalah Indonesia dicurangi. Bahrain menyamakan kedudukan pada menit ke-90+9, padahal masa injury time hanya enam menit.
Sampai di sini kiranya Kluivert bisa memahami dinamika menjelang laga ini. Mungkin amarah suporter Timnas Indonesia sudah agak mereda, tetapi jangan pancing erupsi lagi.
Satu-satunya cara agar tak ada erupsi di GBK dan goncangan stabilitas di media sosial seusai laga, kalahkan Bahrain. Kemenangan atas Bahrain sama sekali tak bisa ditawar.
Kemenangan akan jadi serum sakit hati. Kalau saat ini Kluivert belum dicintai, inilah saat paling tepat untuk mengambil hati. Bahasa populernya, jadikan malam di GBK jadi malam lailatul qadar. Indah.
Soal bagaimana cara menang melawan Bahrain, Kluivert tentu lebih tahu. Sombongnya, tak ada satu orang pun di Indonesia yang lebih mengerti sepak bola dibanding Kluivert.
Tentu saja ini hiperbola. Saat ini Kluivert bukan siapa-siapa di belantika sepak bola dunia. Sama seperti Indonesia. Indonesia dan Kluivert hanya 'remahan rengginang di kaleng khong guan'.
Namun, seperti kata pepatah "roda berputar", Kluivert bisa mengubah tinta sejarah. Indonesia yang masih dianggap liliput sepak bola, sudah saatnya dilentingkan kastanya.
Dari laga melawan Australia, setidaknya ada dua hal yang bisa diperbaiki Kluivert. Pertama stabilitas agresivitas penyerangan, dan kedua konsistensi pragmatisme pertahanan.
Meminjam bahasa Johan Cruyff, "Kualitas tanpa hasil tidak ada artinya. Hasil tanpa kualitas membosankan." Dan, sejarah menulis, keseimbangan hasil dan kualitas tak pernah hadir dari seorang boneka.