ANALISIS

Arsenal vs PSG: Adu Cerdik Dua Kutub Magnet Matador

Abdul Susila | CNN Indonesia
Selasa, 29 Apr 2025 08:08 WIB
Arsenal vs PSG: Adu Cerdik Dua Kutub Magnet Matador
Foto: Action Images via Reuters/Jason Cairnduff

Opta, mesin superkomputer yang fokus pada sepak bola, menyebut probabilitas Arsenal menjadi juara Liga Champions Eropa 2024/2025 dibanding tiga tim lainnya, yakni 31,3 persen.

Peluang Arsenal untuk menjadi yang klub nomor satu di Eropa dianggap paling tinggi, disusul Barcelona, kemudian Paris Saint-Germain, dan terakhir Inter Milan.

Ini memang prediksi berdasar data, fakta, dan statistik, tetapi kerap akurat. Karenanya pula Arsenal diyakini akan meraih kemenangan dalam laga leg pertama di Stadion Emirates.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu kekuatan Arsenal, sebagai sebuah tolok ukur, saat mengalahkan Real Madrid adalah jarak tempuh. Pemain Arsenal menempuh jarak lebih jauh dibandingkan Madrid.

Ini mengindikasikan bahwa Arsenal bermain menekan. Dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan serangan lewat sayap, Arsenal tak memberikan lawan ruang bebas mengembangkan ide main.

Bagi Enrique, meredam gaya bermain seperti ini tak sulit-sulit amat. Buktinya tim Inggris lainnya, Aston Villa, dilumat. Kalau hanya mengandalkan fisik, Arsenal bisa dikalahkan PSG.

Keseimbangan dan kematangan. Inilah yang ditampilkan Les Parisien dalam asuhan Enrique. Mantan pelatih timnas Spanyol ini sudah punya serum untuk meredam agresivitas tuan rumah.

Karena itu pula Enrique menyimpan pemain-pemain andalannya dalam kompetisi domestik. Istirahat pada laga terakhir, sebab sudah pasti juara League 1, disebutkan jadi serum.

Bisakah Arsenal yang 'pincang' meredam tim tamu yang datang setelah 'tidur nyenyak'? Arteta dengan tegas mengatakan tak ada yang mustahil bagi Arsenal pada musim ini.

Langkah awal yang perlu dicipta Arteta hanya tinggal meraih kemenangan laga leg pertama. Untuk mencapai itu, gaya pragmatis yang dikombinasi dinamis, akan dijadikan sarana.

Yang pasti, Arsenal tak boleh besar kepala. Isi kepala Arteta akan diuji dengan 'pertanyaan' kritis yang bisa membuat pusing. Pada saat yang sama Enrique juga bisa dibuat kaku berdiri.

(abs/jun)
Jakarta, CNN Indonesia --

Dua pelatih asal Spanyol akan adu kecerdikan dalam duel Arsenal vs Paris Saint Germain (PSG) pada leg pertama semifinal Liga Champions Eropa 2024/2025.

Pertandingan ini akan berlangsung di Stadion Emirates, London pada Selasa (29/4) waktu Inggris atau Rabu (30/4) dini hari WIB. Tuan rumah diunggulkan, tetapi tim tamu siap menggebrak.

Kubu Arsenal sejatinya tidak baik-baik saja. Banyak pemain yang berhalangan tampil karena cedera dan akumulasi kartu. Meski, sekilas, absennya pemain tersebut dianggap bukan masalah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pemain The Gunners yang berhalangan adalah Riccardo Calafiori, Jorginho, Gabriel Jesus, Kai Havertz, Takehiro Tomiyasu, Gabriel Magalhaes, dan Thomas Partey.

Absennya nama terakhir kiranya sangat vital. Ia adalah tandem Declan Rice di lini tengah Arsenal. Dengan situasi ini, mau tidak mau Mikel Arteta harus memutar otak mencari alternatif strategi.

Musim ini, di tangan Arteta, Arsenal jadi tim yang berani, spartan, dan garang di depan gawang. Kendati sering 'kehabisan bensin' tetap saja Arsenal selalu punya pendekatan strategi jitu.

Kemenangan Arsenal atas Real Madrid adalah bukti sahih kejeniusan Arteta. Melawan tim yang lebih bertabur bintang dan punya sejarah ganas di kontinental tak membuat Arsenal ciut nyali.

Namun, kini yang dihadapi adalah PSG yang juga diarsiteki pelatih asal Spanyol, Luis Enrique. PSG juga menjelma jadi tim yang bermain dengan gaya lebih efektif dalam arahan Enrique.

Banner Artikel - Pencak Silat CNN Indonesia

Karena itu pula tak salah kiranya jika duel Arsenal versus PSG disebut sebagai adu kecerdikan dua matador asal Spanyol. Kelihaian keduanya akan menentukan hasil akhir laga ini.

Sejarah membuktikan, Arsenal tidak pernah kalah dalam tiga pertemuan di Liga Champions Eropa. Arsenal sekali meraih kemenangan dan dua laga lainnya berakhir imbang.

Ini tantangan tersendiri bagi Enrique. Bisakah PSG memetik poin di London? Potensi ada, tetapi Arteta sudah menyiapkan kejutan sehingga PSG lunglai seperti dialami Real Madrid.

Baca di halaman berikutnya>>>

Mencari Solusi Kritis atau Kaku Berdiri

Foto: Action Images via Reuters/Jason Cairnduff

Opta, mesin superkomputer yang fokus pada sepak bola, menyebut probabilitas Arsenal menjadi juara Liga Champions Eropa 2024/2025 dibanding tiga tim lainnya, yakni 31,3 persen.

Peluang Arsenal untuk menjadi yang klub nomor satu di Eropa dianggap paling tinggi, disusul Barcelona, kemudian Paris Saint-Germain, dan terakhir Inter Milan.

Ini memang prediksi berdasar data, fakta, dan statistik, tetapi kerap akurat. Karenanya pula Arsenal diyakini akan meraih kemenangan dalam laga leg pertama di Stadion Emirates.

Salah satu kekuatan Arsenal, sebagai sebuah tolok ukur, saat mengalahkan Real Madrid adalah jarak tempuh. Pemain Arsenal menempuh jarak lebih jauh dibandingkan Madrid.

Ini mengindikasikan bahwa Arsenal bermain menekan. Dengan formasi 4-3-3 yang mengandalkan serangan lewat sayap, Arsenal tak memberikan lawan ruang bebas mengembangkan ide main.

Bagi Enrique, meredam gaya bermain seperti ini tak sulit-sulit amat. Buktinya tim Inggris lainnya, Aston Villa, dilumat. Kalau hanya mengandalkan fisik, Arsenal bisa dikalahkan PSG.

Keseimbangan dan kematangan. Inilah yang ditampilkan Les Parisien dalam asuhan Enrique. Mantan pelatih timnas Spanyol ini sudah punya serum untuk meredam agresivitas tuan rumah.

[Gambas:Photo CNN]

Karena itu pula Enrique menyimpan pemain-pemain andalannya dalam kompetisi domestik. Istirahat pada laga terakhir, sebab sudah pasti juara League 1, disebutkan jadi serum.

Bisakah Arsenal yang 'pincang' meredam tim tamu yang datang setelah 'tidur nyenyak'? Arteta dengan tegas mengatakan tak ada yang mustahil bagi Arsenal pada musim ini.

Langkah awal yang perlu dicipta Arteta hanya tinggal meraih kemenangan laga leg pertama. Untuk mencapai itu, gaya pragmatis yang dikombinasi dinamis, akan dijadikan sarana.

Yang pasti, Arsenal tak boleh besar kepala. Isi kepala Arteta akan diuji dengan 'pertanyaan' kritis yang bisa membuat pusing. Pada saat yang sama Enrique juga bisa dibuat kaku berdiri.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2