Jakarta, CNN Indonesia -- Badminton World Federation (BWF) harus mengkaji ulang sejumlah peraturan yang mereka tetapkan terkait pertandingan. Berikut dua kontroversi yang terjadi di Sudirman Cup 2025 yang harus jadi pelajaran bagi BWF.
Sudirman Cup 2025 telah selesai. China berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Korea Selatan dengan skor 3-1 di babak final. Indonesia dan Jepang mengakhiri turnamen sebagai semifinalis.
Laga Sudirman Cup 2025 juga diisi pertandingan-pertandingan menarik. Namun ada sejumlah kontroversi yang terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut 2 kontroversi umpire di Sudirman yang harus jadi pelajaran bagi BWF.
1. Rinov Rivaldy/Gloria Emanuelle Widjaja vs Jesper Toft/Amalie Magelund
Duel Rinov/Gloria vs Toft/Magelund diwarnai kontroversi di akhir gim pertama. Pukulan Toft melebar dan jatuh di luar lapangan ketika Rinov coba menjangkau shuttlecock sambil menjatuhkan diri.
Dalam tayangan ulang, Rinov terlihat jelas tidak menyentuh shuttlecock meskipun ia terjatuh di dekat shuttlecock. Dalam posisi itu, umpire menyatakan poin bagi Toft/Magelund sekaligus mengakhiri gim pertama dengan skor 22-20 untuk ganda Denmark tersebut.
Rinov/Gloria melakukan protes keras atas keputusan itu. Umpire menganggap Rinov melakukan touch pada shuttlecock sehingga poin jadi milik Denmark. Referee yang bertugas sampai masuk ke arena pertandingan untuk berdiskusi namun tidak ada yang berubah. Umpire tetap pada keputusannya dan Rinov/Gloria kalah 20-22 akibat blunder umpire.
Sejauh ini, BWF tidak punya aturan untuk melakukan challenge ataupun review lewat tayangan ulang seperti halnya di bola voli. Challenge yang ada di badminton hanya lewat teknologi hawk eye.
Hawk eye hanya memberikan gambaran alur jatuhnya shuttlecock, di dalam atau luar lapangan. Teknologi tersebut tidak bisa digunakan untuk mengetahui pemain menyentuh atau tidak shuttlecock dalam sebuah momen.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Huang Dongping Kena Kartu karena Izin ke Toilet
Huang Dongping sempat izin ke toilet di tengah masa menstruasi saat jeda jelang gim ketiga. (AFP/ADEK BERRY)
2. Huang Dongping Kena Kartu karena Izin ke Toilet di tengah Masa Menstruasi
Kontroversi lainnya datang di laga final antara Feng Yanzhe/Huang Dongping vs Seo Seung Jae/Chae Yu Jung.
Saat jeda gim kedua dan gim ketiga, Huang Dongping meminta izin untuk ke toilet. Namun sekembalinya dari toilet, umpire mengangkat kartu merah untuk Huang Dongping. Alhasil, satu poin bagi lawan. Kartu merah ini juga akumulasi dari kartu kuning yang sempat didapat Feng/Huang di gim sebelumnya.
Huang Dongping coba memberikan argumen dan melakukan protes atas hal itu. Namun umpire tetap pada keputusannya. Setelah laga usai, Huang Dongping menyatakan ia harus ke toilet karena keperluan pribadi dalam masa menstruasi. Dengan kondisi tersebut, wasit tetap berpegang pada aturan interval hanya dua menit.
"Saya sangat bingung saat itu. Saya tidak menduga terkena hukuman lantaran keterlambatan waktu yang singkat. Saya sangat tidak menerima hal itu."
"Namun saat itu saya berkata pada diri saya bahwa saya harus mengembalikan poin tersebut dengan tangan sendiri," kata Huang Dongping.
BWF mesti melakukan evaluasi terkait hal ini dengan serius. Di tengah jadwal turnamen yang padat, tentu ada banyak atlet wanita yang harus bertanding di tengah masa menstruasi. BWF mesti memberikan ruang dan waktu yang layak bagi atlet wanita, termasuk soal kelonggaran jeda di tengah pertandingan.
[Gambas:Video CNN]