Indonesia dan Trofi Sudirman Cup yang Hanya Melambai dari Kejauhan
Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 05 Mei 2025 19:05 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Indonesia masuk babak semifinal Sudirman Cup 2025. (AFP/ADEK BERRY)
Jakarta, CNN Indonesia --
Trofi Piala Sudirman 2025 tidak bisa dibawa pulang. Namun ada rasa puas dan kebanggaan melihat kerja keras dan perjuangan yang telah ditunjukkan Tim Badminton Indonesia selama sepekan.
Indonesia berstatus unggulan kedua tetapi kondisi yang ada jelang keberangkatan menuju Xiamen sangat bertolak belakang dengan status elite tersebut. Bagaimana tidak, Indonesia minim gelar di empat bulan awal BWF Tour 2025.
Hampa gelar adalah dua kata yang akrab dengan rombongan Tim Indonesia tiap berangkat ke BWF Tour di empat bulan awal. Karena itu, kepercayaan diri yang ada tidaklah berdiri di tempat tertinggi.
Kondisi itu masih diperparah oleh badai cedera dan sakit. Anthony Ginting sudah sejak awal dipastikan absen karena cedera bahu. Lalu menyusul Gregoria Mariska Tunjung yang jatuh sakit setelah namanya diumumkan sempat masuk dalam skuad. Ketika jelang hari keberangkatan, giliran Leo Rolly Carnando yang dipastikan batal berangkat karena kondisinya masih cedera.
Dengan berbagai hambatan dan rintangan tersebut, Tim Badminton Indonesia menunjukkan dan mengerahkan semua yang mereka punya di lapangan. Dari pertandingan ke pertandingan.
Di tengah perjuangan memburu trofi Sudirman Cup, Indonesia kembali diterpa badai cedera yang menimpa Daniel Marthin. Namun Indonesia bisa terus melangkah hingga babak semifinal.
Pada babak semifinal, Indonesia kalah dari Korea Selatan setelah pertempuran sengit yang megah. Indonesia kalah lewat rubber game di partai kelima. Bukti nyata bahwa pemain-pemain Indonesia sudah berjuang semampu mereka.
Ketika jejak Indonesia tidak berlanjut ke partai final, ada rasa sesal dan kesal. Hal itu yang terlihat dari wajah Siti Fadia Silva dan Ammalia Cahaya Pratiwi yang berlinang air mata setelah meninggalkan lapangan.
Namun bagi banyak suporter Indonesia, perjuangan Indonesia di Sudirman Cup 2025 kali ini terbilang memuaskan. Datang dengan kondisi luka, baik fisik maupun mental, Indonesia bisa menembus babak semifinal. Catatan babak semifinal adalah catatan terbaik bila dibandingkan dengan dua edisi sebelumnya yang selalu terhenti di babak perempat final.
Walaupun langkah Indonesia di Sudirman Cup 2025 dipenuhi tepuk tangan, tentu ada ruang-ruang yang patut disoroti dan diberikan kritikan. Karena bagaimanapun, kegagalan juara berarti ada hal yang perlu dibenahi agar menjadi lebih baik di masa depan.
Di Sudirman Cup 2025 kali ini, hal itu adalah nomor ganda campuran. Nomor ganda campuran, yang seringkali jadi nomor pembuka tidak mampu tampil maksimal mengimbangi wakil-wakil ganda campuran negara lainnya.
Dibanding empat nomor lainnya, wakil ganda campuran Indonesia memang mengalami tekanan paling berat. Sebagai nomor yang sering bermain di partai pembuka, tekanan wakil ganda campuran memang menjadi lebih kuat. Kemenangan di partai pembuka membuat peluang sebuah tim untuk menang menjadi lebih besar karena dalam laga beregu,satu kemenangan bisa mempengaruhi mental tim di laga berikutnya.
Putri Kusuma Wardani jadi salah satu pemain yang tampil apik di Sudirman Cup 2025. (Arsip PBSI)
Sedangkan empat nomor lainnya terbilang tampil impresif. Putri Kusuma Wardani benar-benar menunjukkan diri sebagai tulang punggung tunggal putri yang tampil tanpa Gregoria. Walau kalah dari An Se Young di semifinal, Putri KW benar-benar memberikan perlawanan mati-matian. Ester Nurumi Tri Wardoyo juga sempat tampil dan menyumbangkan kemenangan.
Nomor tunggal putra juga tampil gemilang dengan selalu menyumbang poin kemenangan. Alwi Farhan bisa diandalkan di samping Jonatan Christie, sedangkan Moh Zaki Ubaidillah juga merasakan kesempatan tampil di panggung besar.
Nomor ganda putra juga tampil ganas. Walau Daniel cedera, kombinasi Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri yang kembali reuni bisa jadi bukti perlawanan sekuat tenaga Indonesia terhadap Korea.
Nomor ganda putri juga menunjukkan pertarungan sepadan di duel lawan Korea. Dengan kombinasi Fadia/Tiwi yang dipasangkan demi kebutuhan perubahan susunan pertandingan, Fadia/Tiwi bisa menyulitkan Baek Ha Na/Lee So Hee yang berstatus ranking tiga dunia.
Di titik saat ini, trofi Sudirman Cup hanya terlihat melambai-lambai dari kejauhan. Tim Badminton Indonesia belum punya cukup kekuatan untuk membawa kembali trofi tersebut pulang.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Piala Sudirman memang seperti jadi trofi yang sulit dimenangkan bagi Indonesia. Setelah jadi juara lewat cara dramatis di edisi perdana, Indonesia justru menemui kegagalan demi kegagalan.
Bahkan di era 90-an ketika Indonesia punya kekuatan papan atas di semua nomor, Indonesia hanya tiga kali jadi runner up.
Hal serupa terjadi di era 2000-an. Indonesia yang kuat di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran juga harus puas tiga kali jadi runner up.
Masuk ke era 2010-an, Indonesia tidak pernah lagi menyentuh babak final. Semifinal adalah babak tertinggi yang dicapai dan dihiasi satu kali gagal di fase grup.
Bahkan ketika masuk ke era 2020-an, Indonesia sempat dua kali beruntun gagal masuk ke semifinal. Barulah kali ini, Indonesia kembali ke babak semifinal Sudirman Cup 2025.
Latar belakang itulah yang turut membuat perjuangan Tim Badminton Indonesia di Sudirman Cup 2025 kali ini menjadi sangat diapresiasi. Penampilan di edisi kali ini dinilai jauh lebih baik dibanding dua edisi sebelumnya.
Pujian yang mengalir tidak lantas membuat standar Indonesia di dunia badminton menjadi menurun karena terbilang puas dengan hasil babak semifinal. Pujian yang ada saat ini adalah cerminan kepuasan atas perjuangan mati-matian pemain di lapangan dan tim pendukung di luar lapangan di tengah berbagai kendala dan keterbatasan.
Bagas/Fikri tampil apik saat Indonesia menghadapi Korea. (AFP/ADEK BERRY)
Karena itulah PBSI, yang menginjak usia 74 tahun pada 5 Mei 2025, wajib untuk tetap berbenah diri. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bila ingin melihat Indonesia kembali disegani.
Satu hal yang bisa jadi modal kuat dan terlihat jelas di Sudirman Cup adalah kengototan dan daya juang para pemain di lapangan. Tugas PBSI adalah memastikan daya juang yang pemain tunjukkan di Sudirman Cup itu bisa terus terlihat di tiap turnamen yang mereka ikuti.
PBSI harus berlomba dengan waktu karena bukan Sudirman Cup 2027 yang jadi pembuktian selanjutnya. Masih ada banyak ajang bergengsi, baik perorangan maupun beregu, termasuk Thomas dan Uber Cup tahun depan.
Di kategori perorangan, PBSI harus segera memutus tren buruk yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Jangan jadikan hampa gelar sebagai kata-kata yang makin akrab di telinga ketika disandingkan dengan Tim Badminton Indonesia.
Selain BWF Tour, ada Kejuaraan Dunia yang merupakan level tertinggi turnamen perorangan tahun ini. Indonesia sudah tak punya juara dunia di tiga edisi terakhir.
Untuk nomor beregu, Thomas dan Uber Cup tahun depan akan lebih dulu datang. Indonesia menjadi runner up di edisi terakhir dan tentu peningkatan prestasi jadi tuntutan yang diharapkan terpenuhi.
Bila dalam 1-2 tahun ke depan PBSI bisa benar-benar membuat perubahan besar-besaran, terutama mendorong pemain muda masuk ke kelompok elite dunia, trofi-trofi bergengsi di dunia badminton bukan hanya sekadar melambai-lambai dari kejauhan, melainkan bisa kembali jatuh dalam pelukan.
Trofi Piala Sudirman 2025 tidak bisa dibawa pulang. Namun ada rasa puas dan kebanggaan melihat kerja keras dan perjuangan yang telah ditunjukkan Tim Badminton Indonesia selama sepekan.
Indonesia berstatus unggulan kedua tetapi kondisi yang ada jelang keberangkatan menuju Xiamen sangat bertolak belakang dengan status elite tersebut. Bagaimana tidak, Indonesia minim gelar di empat bulan awal BWF Tour 2025.
Hampa gelar adalah dua kata yang akrab dengan rombongan Tim Indonesia tiap berangkat ke BWF Tour di empat bulan awal. Karena itu, kepercayaan diri yang ada tidaklah berdiri di tempat tertinggi.
Kondisi itu masih diperparah oleh badai cedera dan sakit. Anthony Ginting sudah sejak awal dipastikan absen karena cedera bahu. Lalu menyusul Gregoria Mariska Tunjung yang jatuh sakit setelah namanya diumumkan sempat masuk dalam skuad. Ketika jelang hari keberangkatan, giliran Leo Rolly Carnando yang dipastikan batal berangkat karena kondisinya masih cedera.
Dengan berbagai hambatan dan rintangan tersebut, Tim Badminton Indonesia menunjukkan dan mengerahkan semua yang mereka punya di lapangan. Dari pertandingan ke pertandingan.
Di tengah perjuangan memburu trofi Sudirman Cup, Indonesia kembali diterpa badai cedera yang menimpa Daniel Marthin. Namun Indonesia bisa terus melangkah hingga babak semifinal.
Pada babak semifinal, Indonesia kalah dari Korea Selatan setelah pertempuran sengit yang megah. Indonesia kalah lewat rubber game di partai kelima. Bukti nyata bahwa pemain-pemain Indonesia sudah berjuang semampu mereka.
Ketika jejak Indonesia tidak berlanjut ke partai final, ada rasa sesal dan kesal. Hal itu yang terlihat dari wajah Siti Fadia Silva dan Ammalia Cahaya Pratiwi yang berlinang air mata setelah meninggalkan lapangan.
Namun bagi banyak suporter Indonesia, perjuangan Indonesia di Sudirman Cup 2025 kali ini terbilang memuaskan. Datang dengan kondisi luka, baik fisik maupun mental, Indonesia bisa menembus babak semifinal. Catatan babak semifinal adalah catatan terbaik bila dibandingkan dengan dua edisi sebelumnya yang selalu terhenti di babak perempat final.
Walaupun langkah Indonesia di Sudirman Cup 2025 dipenuhi tepuk tangan, tentu ada ruang-ruang yang patut disoroti dan diberikan kritikan. Karena bagaimanapun, kegagalan juara berarti ada hal yang perlu dibenahi agar menjadi lebih baik di masa depan.
Di Sudirman Cup 2025 kali ini, hal itu adalah nomor ganda campuran. Nomor ganda campuran, yang seringkali jadi nomor pembuka tidak mampu tampil maksimal mengimbangi wakil-wakil ganda campuran negara lainnya.
Dibanding empat nomor lainnya, wakil ganda campuran Indonesia memang mengalami tekanan paling berat. Sebagai nomor yang sering bermain di partai pembuka, tekanan wakil ganda campuran memang menjadi lebih kuat. Kemenangan di partai pembuka membuat peluang sebuah tim untuk menang menjadi lebih besar karena dalam laga beregu,satu kemenangan bisa mempengaruhi mental tim di laga berikutnya.
Putri Kusuma Wardani jadi salah satu pemain yang tampil apik di Sudirman Cup 2025. (Arsip PBSI)
Sedangkan empat nomor lainnya terbilang tampil impresif. Putri Kusuma Wardani benar-benar menunjukkan diri sebagai tulang punggung tunggal putri yang tampil tanpa Gregoria. Walau kalah dari An Se Young di semifinal, Putri KW benar-benar memberikan perlawanan mati-matian. Ester Nurumi Tri Wardoyo juga sempat tampil dan menyumbangkan kemenangan.
Nomor tunggal putra juga tampil gemilang dengan selalu menyumbang poin kemenangan. Alwi Farhan bisa diandalkan di samping Jonatan Christie, sedangkan Moh Zaki Ubaidillah juga merasakan kesempatan tampil di panggung besar.
Nomor ganda putra juga tampil ganas. Walau Daniel cedera, kombinasi Bagas Maulana/Muhammad Shohibul Fikri yang kembali reuni bisa jadi bukti perlawanan sekuat tenaga Indonesia terhadap Korea.
Nomor ganda putri juga menunjukkan pertarungan sepadan di duel lawan Korea. Dengan kombinasi Fadia/Tiwi yang dipasangkan demi kebutuhan perubahan susunan pertandingan, Fadia/Tiwi bisa menyulitkan Baek Ha Na/Lee So Hee yang berstatus ranking tiga dunia.
Di titik saat ini, trofi Sudirman Cup hanya terlihat melambai-lambai dari kejauhan. Tim Badminton Indonesia belum punya cukup kekuatan untuk membawa kembali trofi tersebut pulang.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Modal Berharga dari Sudirman Cup 2025
Indonesia berjuang mati-matian sepanjang Sudirman Cup 2025 berlangsung. (AFP/ADEK BERRY)
Piala Sudirman memang seperti jadi trofi yang sulit dimenangkan bagi Indonesia. Setelah jadi juara lewat cara dramatis di edisi perdana, Indonesia justru menemui kegagalan demi kegagalan.
Bahkan di era 90-an ketika Indonesia punya kekuatan papan atas di semua nomor, Indonesia hanya tiga kali jadi runner up.
Hal serupa terjadi di era 2000-an. Indonesia yang kuat di nomor tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran juga harus puas tiga kali jadi runner up.
Masuk ke era 2010-an, Indonesia tidak pernah lagi menyentuh babak final. Semifinal adalah babak tertinggi yang dicapai dan dihiasi satu kali gagal di fase grup.
Bahkan ketika masuk ke era 2020-an, Indonesia sempat dua kali beruntun gagal masuk ke semifinal. Barulah kali ini, Indonesia kembali ke babak semifinal Sudirman Cup 2025.
Latar belakang itulah yang turut membuat perjuangan Tim Badminton Indonesia di Sudirman Cup 2025 kali ini menjadi sangat diapresiasi. Penampilan di edisi kali ini dinilai jauh lebih baik dibanding dua edisi sebelumnya.
Pujian yang mengalir tidak lantas membuat standar Indonesia di dunia badminton menjadi menurun karena terbilang puas dengan hasil babak semifinal. Pujian yang ada saat ini adalah cerminan kepuasan atas perjuangan mati-matian pemain di lapangan dan tim pendukung di luar lapangan di tengah berbagai kendala dan keterbatasan.
Bagas/Fikri tampil apik saat Indonesia menghadapi Korea. (AFP/ADEK BERRY)
Karena itulah PBSI, yang menginjak usia 74 tahun pada 5 Mei 2025, wajib untuk tetap berbenah diri. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bila ingin melihat Indonesia kembali disegani.
Satu hal yang bisa jadi modal kuat dan terlihat jelas di Sudirman Cup adalah kengototan dan daya juang para pemain di lapangan. Tugas PBSI adalah memastikan daya juang yang pemain tunjukkan di Sudirman Cup itu bisa terus terlihat di tiap turnamen yang mereka ikuti.
PBSI harus berlomba dengan waktu karena bukan Sudirman Cup 2027 yang jadi pembuktian selanjutnya. Masih ada banyak ajang bergengsi, baik perorangan maupun beregu, termasuk Thomas dan Uber Cup tahun depan.
Di kategori perorangan, PBSI harus segera memutus tren buruk yang sudah berlangsung sejak awal tahun. Jangan jadikan hampa gelar sebagai kata-kata yang makin akrab di telinga ketika disandingkan dengan Tim Badminton Indonesia.
Selain BWF Tour, ada Kejuaraan Dunia yang merupakan level tertinggi turnamen perorangan tahun ini. Indonesia sudah tak punya juara dunia di tiga edisi terakhir.
Untuk nomor beregu, Thomas dan Uber Cup tahun depan akan lebih dulu datang. Indonesia menjadi runner up di edisi terakhir dan tentu peningkatan prestasi jadi tuntutan yang diharapkan terpenuhi.
Bila dalam 1-2 tahun ke depan PBSI bisa benar-benar membuat perubahan besar-besaran, terutama mendorong pemain muda masuk ke kelompok elite dunia, trofi-trofi bergengsi di dunia badminton bukan hanya sekadar melambai-lambai dari kejauhan, melainkan bisa kembali jatuh dalam pelukan.