Ruben Amorim gagal total bersama Manchester United di musim 2024/2025. (REUTERS/Juan Medina)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ruben Amorimdisambut gembira pendukung Manchester Unitedketika diumumkan sebagai pelatih baru tim tersebut. Namun belum sampai setahun, nama Amorim tidak lagi seharum dulu.
Amorim punya rekam jejak yang luar biasa di Sporting Lisbon. Ia mampu merebut dua gelar liga, dua gelar Piala Portugal, dan satu gelar Piala Super.
Di awal musim ini, Manchester United masih menaruh kepercayaan pada Erik Ten Hag. Amorim pun masih fokus menangani Sporting. Namun keputusan MU untuk memecat Ten Hag membawa perubahan luar biasa.
MU memburu Amorim dan bahkan rela mengeluarkan 10 juta euro untuk memenuhi klausul pelepasan yang mengikat Amorim. Langkah MU memenuhi klausul pelepasan pelatih ini termasuk hal yang jarang terjadi di dunia sepak bola.
Hal tersebut menunjukkan hasrat besar MU untuk cepat kembali bangkit dan menjadi tim kuat. Terlebih di laga perpisahan Amorim, Sporting bisa menang telak 4-1 atas Manchester City. Hasil itu jelas membuat pendukung MU berbunga-bunga dan yakin Amorim punya sesuatu hal besar yang bisa membawa perubahan.
Namun pada akhirnya ketika musim berjalan, hanya kegagalan demi kegagalan yang tampak di tangan Amorim beserta rekor-rekor buruk yang datang silih-berganti. Tidak bisa juara liga mungkin bisa dimaklumi karena Amorim tidak memulai dari awal musim, namun finis di posisi 16 adalah hal yang tidak terbayangkan oleh suporter MU.
Saat David Moyes datang dan tidak menyelesaikan satu musim penuh karena dipecat di bulan April, MU ketika itu finis di posisi ketujuh. Finis di posisi ketujuh saat itu sudah dinilai jadi kegagalan besar. Karena itu ketika MU finis di posisi 14-17, ini adalah sesuatu hal buruk yang sangat jauh melampaui bayangan terburuk pendukung MU.
Kegagalan di Liga Inggris kemudian disertai kegagalan di Piala Liga dan Piala FA. Padahal dua turnamen ini juga bisa diharapkan meredam kekecewaan suporter.
Kuncian terakhir Amorim musim ini jelas ajang Liga Europa. Amorim sukses mengantar Manchester United tak terkalahkan dan melaju hingga partai final. Namun perjalanan itu berujung hampa gelar karena mereka kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur.
Tanpa gelar Liga Europa, plus tiket Liga Champions musim depan, kekecewaan yang masih ditahan sebagian pendukung MU pun tumpah. Penampilan buruk di Liga Inggris tentu kembali diungkit.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
"Saya tidak punya apa pun yang harus dibuktikan kepada para suporter, jadi saat ini saya hanya punya sedikit keyakinan."
"Tapi, mari kita lihat nanti. Saya selalu terbuka dengan segala kemungkinan. Jika dewan direksi dan fans merasa saya bukan sosok pelatih yang tepat, saya akan pergi tanpa membicarakan kompensasi. Tetapi saya tidak akan mundur," kata Amorim sebagaimana dilansir ESPN.
Di awal kedatangan, kehadiran Amorim di saat musim berjalan dianggap sebagai hal yang bagus. Musim 2024/2025 dinilai bisa jadi musim adaptasi bagi Amorim sebelum menghadirkan formula yang matang di musim 2025/2026.
Namun kegagalan meraih juara, bahkan dengan torehan buruk yang melampaui bayangan terburuk suporter Manchester United, membuat posisi Amorim bisa saja tidak sepenuhnya aman.
Amorim memang punya keyakinan kuat terhadap pola tiga bek sejajar. Sedangkan MU sebelumnya bermain dengan pola empat bek sejajar.
Amorim tidak bisa mengubah skuad yang ada di MU saat ini untuk terbiasa bermain dengan pola tiga bek sejajar. Pola tiga bek sejajar yang berjalan lancar di Sporting tidak berjalan baik di 'Setan Merah'.
Untuk mempertahankan Amorim, MU harus merekrut pemain-pemain yang dinilai Amorim sesuai dengan karakter formasi yang diinginkan karena skuad saat ini terbukti tidak berjalan dengan baik. Tanpa perubahan besar-besaran dari skuad, sulit bagi Amorim untuk diharapkan bisa mengukir prestasi musim depan.
Pilihan untuk mengganti pelatih pun bisa diambil namun dengan segera di saat jeda kompetisi. Pasalnya bila MU masih ragu dengan masa depan Amorim dan memberikan tenggat waktu hingga akhir tahun, bisa jadi bakal ada musim yang kembali terbuang.
Satu hal yang pasti, Amorim dan MU sepertinya telah salah mengambil keputusan dengan mengikat kontrak saat musim berjalan. Amorim tak punya banyak waktu persiapan sehingga keyakinan yang sempat mengelilingi dirinya menjadi kecaman hingga kritikan ketika musim berakhir.
Ruben Amorimdisambut gembira pendukung Manchester Unitedketika diumumkan sebagai pelatih baru tim tersebut. Namun belum sampai setahun, nama Amorim tidak lagi seharum dulu.
Amorim punya rekam jejak yang luar biasa di Sporting Lisbon. Ia mampu merebut dua gelar liga, dua gelar Piala Portugal, dan satu gelar Piala Super.
Di awal musim ini, Manchester United masih menaruh kepercayaan pada Erik Ten Hag. Amorim pun masih fokus menangani Sporting. Namun keputusan MU untuk memecat Ten Hag membawa perubahan luar biasa.
MU memburu Amorim dan bahkan rela mengeluarkan 10 juta euro untuk memenuhi klausul pelepasan yang mengikat Amorim. Langkah MU memenuhi klausul pelepasan pelatih ini termasuk hal yang jarang terjadi di dunia sepak bola.
Hal tersebut menunjukkan hasrat besar MU untuk cepat kembali bangkit dan menjadi tim kuat. Terlebih di laga perpisahan Amorim, Sporting bisa menang telak 4-1 atas Manchester City. Hasil itu jelas membuat pendukung MU berbunga-bunga dan yakin Amorim punya sesuatu hal besar yang bisa membawa perubahan.
Namun pada akhirnya ketika musim berjalan, hanya kegagalan demi kegagalan yang tampak di tangan Amorim beserta rekor-rekor buruk yang datang silih-berganti. Tidak bisa juara liga mungkin bisa dimaklumi karena Amorim tidak memulai dari awal musim, namun finis di posisi 16 adalah hal yang tidak terbayangkan oleh suporter MU.
Saat David Moyes datang dan tidak menyelesaikan satu musim penuh karena dipecat di bulan April, MU ketika itu finis di posisi ketujuh. Finis di posisi ketujuh saat itu sudah dinilai jadi kegagalan besar. Karena itu ketika MU finis di posisi 14-17, ini adalah sesuatu hal buruk yang sangat jauh melampaui bayangan terburuk pendukung MU.
Kegagalan di Liga Inggris kemudian disertai kegagalan di Piala Liga dan Piala FA. Padahal dua turnamen ini juga bisa diharapkan meredam kekecewaan suporter.
Kuncian terakhir Amorim musim ini jelas ajang Liga Europa. Amorim sukses mengantar Manchester United tak terkalahkan dan melaju hingga partai final. Namun perjalanan itu berujung hampa gelar karena mereka kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur.
Tanpa gelar Liga Europa, plus tiket Liga Champions musim depan, kekecewaan yang masih ditahan sebagian pendukung MU pun tumpah. Penampilan buruk di Liga Inggris tentu kembali diungkit.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Amorim Pasrah tapi Tak Menyerah
Adaptasi strategi Ruben Amorim tidak berjalan mulus. (REUTERS/Andrew Couldridge)
"Saya tidak punya apa pun yang harus dibuktikan kepada para suporter, jadi saat ini saya hanya punya sedikit keyakinan."
"Tapi, mari kita lihat nanti. Saya selalu terbuka dengan segala kemungkinan. Jika dewan direksi dan fans merasa saya bukan sosok pelatih yang tepat, saya akan pergi tanpa membicarakan kompensasi. Tetapi saya tidak akan mundur," kata Amorim sebagaimana dilansir ESPN.
Di awal kedatangan, kehadiran Amorim di saat musim berjalan dianggap sebagai hal yang bagus. Musim 2024/2025 dinilai bisa jadi musim adaptasi bagi Amorim sebelum menghadirkan formula yang matang di musim 2025/2026.
Namun kegagalan meraih juara, bahkan dengan torehan buruk yang melampaui bayangan terburuk suporter Manchester United, membuat posisi Amorim bisa saja tidak sepenuhnya aman.
Amorim memang punya keyakinan kuat terhadap pola tiga bek sejajar. Sedangkan MU sebelumnya bermain dengan pola empat bek sejajar.
Amorim tidak bisa mengubah skuad yang ada di MU saat ini untuk terbiasa bermain dengan pola tiga bek sejajar. Pola tiga bek sejajar yang berjalan lancar di Sporting tidak berjalan baik di 'Setan Merah'.
Untuk mempertahankan Amorim, MU harus merekrut pemain-pemain yang dinilai Amorim sesuai dengan karakter formasi yang diinginkan karena skuad saat ini terbukti tidak berjalan dengan baik. Tanpa perubahan besar-besaran dari skuad, sulit bagi Amorim untuk diharapkan bisa mengukir prestasi musim depan.
Pilihan untuk mengganti pelatih pun bisa diambil namun dengan segera di saat jeda kompetisi. Pasalnya bila MU masih ragu dengan masa depan Amorim dan memberikan tenggat waktu hingga akhir tahun, bisa jadi bakal ada musim yang kembali terbuang.
Satu hal yang pasti, Amorim dan MU sepertinya telah salah mengambil keputusan dengan mengikat kontrak saat musim berjalan. Amorim tak punya banyak waktu persiapan sehingga keyakinan yang sempat mengelilingi dirinya menjadi kecaman hingga kritikan ketika musim berakhir.