Jakarta, CNN Indonesia -- Kalah telak lawan Jepang adalah realita yang mesti diterima Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Tapi skor 0-6 bukan akhir dari cerita, karena A Luta Continua atau perjuangan tetap berlanjut.
Digulung Jepang enam gol tanpa balas sejatinya tak berarti apa-apa dalam konteks menuju putaran keempat. Namun melihat pertandingan itu, jelas kesenjangan level antara Timnas Indonesia dan Jepang.
Tim besutan Patrick Kluivert kalah dalam semua aspek, mulai dari penguasaan bola 71 persen berbanding 29 persen, hingga jumlah tembakan 22 kali dari Jepang sedangkan Indonesia tidak ada satupun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari gaya permainan pun demikian. Jepang tak henti-hentinya menerapkan high press dalam situasi off-ball. Wataru Endo dan kolega nyaris selalu unggul jumlah ketika berusaha merebut bola.
Pergerakan tanpa bola tim asuhan Hajime Moriyasu juga begitu padu saat membangun serangan. Setiap pemain Samurai Biru tahu ke mana harus melangkah. Semua gol tercipta dari permainan terbuka.
Ini berbanding dengan Indonesia. Kluivert agaknya belajar dari kekalahan lawan Australia saat babak belur akibat melancarkan high press. Ketika melawan Jepang, Jay Idzes dan kawan-kawan cenderung bermain di zona sendiri. Tapi gempuran Jepang yang tak berseri membuat Indonesia bobol lagi, bobol lagi.
Jepang unggul dalam duel udara, satu lawan satu, segalanya. Tiga gol di babak pertama dan tiga gol di babak kedua kian memantapkan status raksasa Asia bagi mereka.
Jalannya laga dan skor akhir nampak begitu kejam bagi tim Garuda. Tapi begitulah sepak bola. Andai kata Indonesia lolos Piala Dunia, maka lawan-lawan yang dihadapi niscaya bakal lebih berat dari Jepang.
Di satu sisi, Indonesia perlu belajar dari proses panjang Jepang menuju Piala Dunia. Sebab jika ditarik ke belakang, negeri Sakura harus menapak jalur berliku menuju panggung tertinggi sepak bola.
Peningkatan Jepang terlihat jelas seiring berjalannya waktu. Dari gugur di fase awal Kualifikasi Piala Dunia 1990, hingga nyaris lolos Piala Dunia 1994 andai tak kalah selisih gol dari Korea Selatan.
Jepang kemudian lolos Piala Dunia untuk pertama kalinya pada 1998. Di turnamen akhir milenium itu, Hidetoshi Nakata dan kawan-kawan babak belur karena tiga kali kalah beruntun di babak penyisihan.
Tapi Jepang pelan-pelan mampu bersaing dari tiap edisi Piala Dunia. Mereka jadi langganan peserta hingga saat ini. Sudah tujuh kali jadi peserta dan akan jadi edisi kedelapan di Piala Dunia 2026.
Perjalanan Jepang menuju Piala Dunia juga tidak berdiri sendiri. Sejak dekade 1970-an mereka membentuk kompetisi berjenjang dari awalnya dua kasta hingga kini sampai tujuh level.
Piramida kompetisinya jelas dan ajeg dari level profesional, amatir, hingga level sekolah. Dengan industri sepak bola yang juga sehat, regenerasi pemain Jepang cenderung progresif hingga mampu mencetak nama-nama kelas dunia.
Cerita Jepang menuju Piala Dunia boleh saja diadaptasi oleh Indonesia. Tapi kini, skuad Garuda harus fokus menyongsong putaran keempat demi asa menuju Piala Dunia.
Baca lanjutan analisis ini di halaman berikutnya >>>
Apa Saja yang Mesti Dilakukan?
Perjuangan belum berakhir, Timnas Indonesia mesti berbenah. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert punya segudang pekerjaan rumah untuk membawa timnya ke Piala Dunia 2026. Ini bukan misi yang mudah, tapi bukan pula sebuah kemustahilan.
Indonesia mengamankan tiket putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia berkat finis di peringkat keempat. Tim Garuda mendulang 12 poin dari tiga kemenangan, tiga kali imbang, dan empat laga menelan kekalahan.
Peringkat FIFA membuat Indonesia berada di Pot 3 dalam undian putaran keempat kualifikasi yang akan bergulir pada 17 Juli mendatang. Artinya, lawan-lawan yang tak kalah berat dari putaran ketiga bakal dihadapi Marselino Ferdinan dan rekan-rekan.
Bayangan lawan di putaran keempat sebenarnya sudah bisa diproyeksi. Seluruhnya adalah negara-negara Timur Tengah dan sebagian besar adalah bangsa Arab.
Empat bakal calon lawan Indonesia adalah Arab Saudi, Qatar, Irak, dan Uni Emirat Arab. PSSI, Badan Tim Nasional (BTN), dan staf kepelatihan perlu menyusun program selama kurang lebih empat hingga lima bulan ke depan sebelum putaran keempat kualifikasi bergulir mulai 8 Oktober 2025.
Selama rentang waktu yang tersedia, salah satu opsi yang memungkinkan adalah menambah pemain naturalisasi. Nama-nama yang bertebaran di jagad maya adalah Jairo Riedewald, Miliano Jonathans, Mauro Ziljstra, Tristan Gooijer, dan Laurin Ulrich.
Kendati demikian, dari nama-nama tersebut hanya Jairo Riedewald yang terbilang punya kualitas matang. Sedangkan yang lain masih jadi pelapis atau penggawa tim muda.
 Patrick Kluivert (kiri) dan jajaran pelatih Timnas Indonesia harus memutar otak guna menghadapi fase lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026. (AFP/YASUYOSHI CHIBA) |
Di samping menggantungkan harapan pada pemain nan jauh di sana, Kluivert bisa memaksimalkan komposisi yang ada. Dari dua kemenangan dalam empat laga yang sudah dipimpinnya, sudah terlihat formula padu racikan Kluivert terutama di lini belakang dan tengah.
Tiga bek tengah berisi Rizky Ridho, Jay Idzes, dan Justin Hubner pantas dipertahankan. Begitu pula duet Joey Pelupessy dan Thom Haye. Tinggal utak-atik pemain sayap perlu yang belum punya penghuni pasti. Kualitas penyelesaian juga perlu ditingkatkan lagi meski Ole Romeny produktif di lini depan.
Timnas Indonesia punya kesempatan emas untuk meracik kekuatan di sesi FIFA Matchday pada September mendatang. Ada dua pertandingan yang bisa dijalani sebagai simulasi.
Dengan calon lawan di putaran keempat yang berasal dari Asia Barat, maka jadi hal logis bila Timnas Indonesia menghadapi tim dari kawasan yang sama. Lebanon dan Kuwait disebut-sebut jadi kandidat kuat untuk uji coba.
Belum lagi kemungkinan lokasi putaran keempat kualifikasi bergulir di Timur Tengah. Karenanya, menghadapi awan yang tepat pada laga uji coba akan membekali Timnas Indonesia dengan segala aspek yang diperlukan untuk memperjuangkan hasil terbaik di pentas sesungguhnya.
[Gambas:Video CNN]