Panggung Pertama 'Pembelot' Liverpool di Real Madrid vs Al Hilal
Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Rabu, 18 Jun 2025 08:06 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Xabi Alonso akan menjalani debut menangani Real Madrid. (REUTERS/Juan Medina)
Harapan akan penyegaran menyertai kedatangan Xabi Alonso. Gaya permainan dari buah pikiran juru taktik asal Spanyol itu jadi hal yang ditunggu-tunggu.
Xabi Alonso punya pakem 3-4-2-1 atau 3-4-3 dalam menyusun formasi. Pola ini populer di kalangan pelatih masa kini dan terasa begitu berbeda dengan para entrenador senior.
Setidaknya dalam dua dekade terakhir, identitas Real Madrid cenderung tradisional dengan empat pemain bertahan. Karenanya, wajar jika publik menanti perubahan ekstrem pada gaya permainan El Real.
Menjadi hal logis pula saat Real Madrid mendatangkan Dean Huijsen untuk memperkuat tulang punggung pada skema tiga bek tengah. Ini berkaitan dengan sederet pemain bertahan yang cedera.
Begitupun dengan kedatangan Trent-Alexander Arnold untuk mengisi pos bek sayap kanan. Cederanya Daniel Carvajal memaksa Lucas Vazquez mundur ke posisi bek kanan selama hampir sepanjang musim lalu.
Dengan pakem gaya Xabi Alonso, Real Madrid otomatis butuh pemain yang gesit, cerdik, sekaligus bernapas panjang. Trent Alexander-Arnold adalah orang yang tepat untuk menyisir sisi kanan karena punya insting bertahan dan menyerang yang relatif seimbang.
Alexander-Arnold punya kemampuan lari, umpan silang, hingga eksekusi bola mati yang mumpuni. Ia bahkan bisa dipasang sebagai gelandang bertahan jika dibutuhkan.
Modifikasi bek sayap berperan sebagai gelandang populer disebut inverted fullback dalam sepak bola modern. Tugas ini diemban oleh Philipp Lahm, Konrad Laimer, dan Joshua Kimmich di Bayern Munchen.
Jurgen Klopp pernah menerapkan perlakuan serupa kepada Alexander-Arnold ketika lini tengah sedang kemarau. Di Real Madrid kondisi serupa berlangsung musim lalu hingga kini karena Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga bergantian cedera.
Di sisi lain, mampukah Alexander-Arnold cepat beradaptasi dengan perubahan signifikan? Sebab, pemain 26 tahun itu tak pernah berhadapan pelatih yang menerapkan pola tiga bek tengah baik di Liverpool maupun timnas Inggris.
Adaptasi ini yang perlu dimaksimalkan oleh Xabi Alonso terhadap Alexander-Arnold di sesi latihan dan juga pertandingan. Duel Real Madrid vs Al Hilal bakal jadi pembuktian bagi mereka.
(nva)
Jakarta, CNN Indonesia --
Laga Real Madrid vs Al Hilal di Piala Dunia Antarklub akan jadi panggung pertama sosok yang meninggalkan Liverpool, Xabi Alonso dan Trent Alexander-Arnold.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Hard Rock, Miami, Kamis (19/6) dini hari WIB itu jadi momen pertama Xabi Alonso sebagai pelatih Real Madrid. Pun halnya untuk Trent Alexander-Arnold berbalut seragam Los Blancos.
Xabi Alonso resmi jadi pelatih Real Madrid per 1 Juni 2025 menggantikan Carlo Ancelotti yang hijrah menangani timnas Brasil. Sedangkan Trent Alexander-Arnold hengkang dari Anfield demi meneruskan cita-citanya bermarkas di Santiago Bernabeu.
Dalam konteks profesionalisme, tidak ada yang salah dalam perpindahan pelatih maupun pemain ke tim lain. Tapi jika memerhatikan cerita di balik panggung, hengkangnya Xabi Alonso dan Trent Alexander-Arnold terbilang sarat drama.
Perpisahan Xabi Alonso dengan Liverpool terjadi pada 2009 lalu. Kala itu Premier League menerapkan regulasi baru tentang kewajiban klub memiliki minimal delapan pemain homegrown atau mereka yang jebolan akademi klub Inggris dan Wales.
Situasi ini dipandang jadi kambing hitam karena Liverpool berusaha mendatangkan Gareth Barry. Sayangnya, Gareth Barry tak dapat, Xabi Alonso pun kadung terpincut pinangan Real Madrid yang sedang membangun Los Galacticos edisi kedua bersama Cristiano Ronaldo dan Ricardo Kaka.
Situasi seperti ini kembali terjadi 16 tahun kemudian ketika Trent Alexander-Arnold pindah ke Real Madrid pada musim panas 2025. Suporter Liverpool kecewa bukan main mengetahui pemain yang dibina di akademi The Reds sejak kecil memilih pergi.
Alexander-Arnold mengaku butuh tantangan lebih. Ini pula yang dilakukan oleh senior-seniornya dari Inggris yang merantau ke Real Madrid.
Ada Steve McManaman, David Beckham, Jonathan Woodgate dan Michael Owen yang meninggalkan panggung Premier League ke La Liga. Meski kerap dipandang materialistis, pindah ke Real Madrid pantas jadi sebuah pencapaian.
Di sisi lain, Trent Alexander-Arnold harus siap dengan ekspektasi tinggi dari para penggemar. Tentunya ia tak ingin seperti Jonathan Woodgate atau Michael Owen yang jadi 'ban serep' ketika bergabung dengan Real Madrid demi keluar dari zona nyaman di Liga Inggris.
Begitu juga dengan Xabi Alonso dengan petualangan barunya di kursi kepelatihan tim utama. Pengalamannya menangani akademi Real Madrid, Real Sociedad B, dan Bayer Leverkusen kiranya jadi portofolio yang cukup.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Xabi Alonso akan menjalani debut menangani Real Madrid. (REUTERS/Juan Medina)
Harapan akan penyegaran menyertai kedatangan Xabi Alonso. Gaya permainan dari buah pikiran juru taktik asal Spanyol itu jadi hal yang ditunggu-tunggu.
Xabi Alonso punya pakem 3-4-2-1 atau 3-4-3 dalam menyusun formasi. Pola ini populer di kalangan pelatih masa kini dan terasa begitu berbeda dengan para entrenador senior.
Setidaknya dalam dua dekade terakhir, identitas Real Madrid cenderung tradisional dengan empat pemain bertahan. Karenanya, wajar jika publik menanti perubahan ekstrem pada gaya permainan El Real.
Menjadi hal logis pula saat Real Madrid mendatangkan Dean Huijsen untuk memperkuat tulang punggung pada skema tiga bek tengah. Ini berkaitan dengan sederet pemain bertahan yang cedera.
Begitupun dengan kedatangan Trent-Alexander Arnold untuk mengisi pos bek sayap kanan. Cederanya Daniel Carvajal memaksa Lucas Vazquez mundur ke posisi bek kanan selama hampir sepanjang musim lalu.
Dengan pakem gaya Xabi Alonso, Real Madrid otomatis butuh pemain yang gesit, cerdik, sekaligus bernapas panjang. Trent Alexander-Arnold adalah orang yang tepat untuk menyisir sisi kanan karena punya insting bertahan dan menyerang yang relatif seimbang.
Alexander-Arnold punya kemampuan lari, umpan silang, hingga eksekusi bola mati yang mumpuni. Ia bahkan bisa dipasang sebagai gelandang bertahan jika dibutuhkan.
Modifikasi bek sayap berperan sebagai gelandang populer disebut inverted fullback dalam sepak bola modern. Tugas ini diemban oleh Philipp Lahm, Konrad Laimer, dan Joshua Kimmich di Bayern Munchen.
Jurgen Klopp pernah menerapkan perlakuan serupa kepada Alexander-Arnold ketika lini tengah sedang kemarau. Di Real Madrid kondisi serupa berlangsung musim lalu hingga kini karena Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga bergantian cedera.
Di sisi lain, mampukah Alexander-Arnold cepat beradaptasi dengan perubahan signifikan? Sebab, pemain 26 tahun itu tak pernah berhadapan pelatih yang menerapkan pola tiga bek tengah baik di Liverpool maupun timnas Inggris.
Adaptasi ini yang perlu dimaksimalkan oleh Xabi Alonso terhadap Alexander-Arnold di sesi latihan dan juga pertandingan. Duel Real Madrid vs Al Hilal bakal jadi pembuktian bagi mereka.