ANALISIS

Tanpa Uji Coba, Bisa Apa Timnas Indonesia U-23 di Piala AFF?

Abdul Susila | CNN Indonesia
Kamis, 10 Jul 2025 08:05 WIB
Tanpa Uji Coba, Bisa Apa Timnas Indonesia U-23 di Piala AFF?
Pemain-pemain Timnas Indonesia U-23 akan menghadapi tantangan pada Piala AFF U-23 2025. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Membangun chemistry antarpemain bisa dilakukan lewat banyak cara. Tidak melulu lewat pertandingan melawan tim lain. Uji coba hanya sarana evaluasi performa atas latihan.

Latihan adalah sarana utama menjalin chemistry. Kolektivitas permainan coba dibangun dalam interaksi yang intens di dalam latihan tim. Dalam latihan ini juga ada uji coba internal.

Pemain dipisahkan dalam dua kelompok dan ditandingkan. Ada kalanya pemain tampil di kelompok A dan ada kalanya di kelompok B. Dari sini coba dibangun satu tim yang mumpuni.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Soal chemistry ini sepertinya bukan perkara yang terlalu sulit. Sebagain besar pemain Indonesia U-23 sudah pernah bermain di kelompok usia sebelumnya, U-17 dan U-20.

Pemain seperti Cahya Supriyadi, Muhammad Ferarri, Dony Tri Pamungkas, Kakang Rudianto, Ananda Raehan, Tony Firmansyah, hingga Hokky Caraka sudah sering main bersama.

Persoalannya tinggal bagaimana pemain menjalani filosofi sepak bola yang diterapkan Vanenburg. Pria asal Belanda ini punya nama besar sebagai pemain dan ingin menurunkan ilmunya.

Vanenburg adalah mantan pemain timnas Belanda saat juara Piala Eropa 1988. Ia juga meraih gelar juara Liga Champions Eropa 1987/1988 bersama Ajax Amsterdam.

Pengalaman tampil dalam kompetisi level nomor satu dunia ini membuatnya percaya diri. Ia yakin ilmu sepak bolanya akan sangat membantu generasi muda Indonesia untuk berkembang.

Banner Testimoni

Seperti apakah gaya main yang dipakai Vanenburg? Layaknya pelatih modern Belanda, Vanenburg mengusung sepak bola menyerang. Mendominasi permainan jadi salah satu kunci.

Bagaimanapun genetika (DNA) total football tak pernah ditinggalkan pelatih-pelatih asal Negeri Kincir Angin tersebut. Hanya pendekatannya saja yang makin modern dan dimodifikasi.

Biasanya filosofi begini akan diuji dalam laga uji coba. Namun Timnas Indonesia U-23 tak bisa menggelarnya. Percaya dirikah Vanenburg gaya sepak bolanya bisa dijalankan? Mari kita nantikan.

(nva)
Jakarta, CNN Indonesia --

Timnas Indonesia U-23 akan tampil di Piala AFF U-23 2025 tanpa menjalani pertandingan uji coba. Cukup percaya dirikah Gerald Vanenburg?

Biasanya, untuk semua level usia, tim Garuda selalu menggelar minimal dua laga uji coba sebelum tampil dalam sebuah kejuaraan. Bahkan sampai pemusatan latihan di luar negeri.

Namun kali ini tak ada agenda begitu. Vanenburg menegaskan tak ada latih tanding sebelum berlangsungnya Piala AFF U-23 2025 di Jakarta dan Bekasi pada 15-29 Juli.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kejuaraan ini Indonesia tergabung di Grup A bersama Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. Semua pertandingan Indonesia U-23 akan berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Garuda Muda, sebutan Indonesia U-23, mulai menjalani pemusatan latihan di Jakarta pada 22 Juni 2025. Sebanyak 30 pemain dipanggil, tapi dua di antaranya sudah dipulangkan.

Target Indonesia U-23 dalam ajang ini, karena bertindak sebagai tuan rumah, adalah meraih gelar juara. Namun, Piala AFF U-23 bukan target utama yang dibidik oleh PSSI.



PSSI ingin tim ini lolos ke putaran final Piala Asia U-23 2026. Kualifikasi ajang ini akan berlangsung pada 3-9 September 2025. Setelah itu ingin meraih medali emas SEA Games 2025.

Dengan kata lain Piala AFF U-23 hanya dijadikan batu loncatan. Persiapan lebih serius akan digelar untuk menyambut dua ajang selanjutnya. Karena itu persiapan tim ini didanai negara.

Persiapan menuju Piala AFF U-23 memang singkat, sekitar tiga pekan. Saat datang ke pemusatan latihan, pemain juga sedang dalam mode rehat setelah Liga 1 2024/2025 usai.

Karena itu materi utama yang diberikan pada sesi-sesi awal pemusatan latihan adalah penguatan kondisi fisik. Kebugaran pemain coba dikembalikan dan ditingkatkan.

Vanenburg mengatakan, pendekatan yang dipakai untuk penguatan fisik adalah dengan bola. Dalam artian pemain digembleng fisiknya lewat taktik dan intensitas permainan.

Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>

Membangun Filosofi Main Vanenburg

Pemain-pemain Timnas Indonesia U-23 akan menghadapi tantangan pada Piala AFF U-23 2025. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)

Membangun chemistry antarpemain bisa dilakukan lewat banyak cara. Tidak melulu lewat pertandingan melawan tim lain. Uji coba hanya sarana evaluasi performa atas latihan.

Latihan adalah sarana utama menjalin chemistry. Kolektivitas permainan coba dibangun dalam interaksi yang intens di dalam latihan tim. Dalam latihan ini juga ada uji coba internal.

Pemain dipisahkan dalam dua kelompok dan ditandingkan. Ada kalanya pemain tampil di kelompok A dan ada kalanya di kelompok B. Dari sini coba dibangun satu tim yang mumpuni.

Soal chemistry ini sepertinya bukan perkara yang terlalu sulit. Sebagain besar pemain Indonesia U-23 sudah pernah bermain di kelompok usia sebelumnya, U-17 dan U-20.

Pemain seperti Cahya Supriyadi, Muhammad Ferarri, Dony Tri Pamungkas, Kakang Rudianto, Ananda Raehan, Tony Firmansyah, hingga Hokky Caraka sudah sering main bersama.

Persoalannya tinggal bagaimana pemain menjalani filosofi sepak bola yang diterapkan Vanenburg. Pria asal Belanda ini punya nama besar sebagai pemain dan ingin menurunkan ilmunya.

Vanenburg adalah mantan pemain timnas Belanda saat juara Piala Eropa 1988. Ia juga meraih gelar juara Liga Champions Eropa 1987/1988 bersama Ajax Amsterdam.

Pengalaman tampil dalam kompetisi level nomor satu dunia ini membuatnya percaya diri. Ia yakin ilmu sepak bolanya akan sangat membantu generasi muda Indonesia untuk berkembang.

Banner Testimoni

Seperti apakah gaya main yang dipakai Vanenburg? Layaknya pelatih modern Belanda, Vanenburg mengusung sepak bola menyerang. Mendominasi permainan jadi salah satu kunci.

Bagaimanapun genetika (DNA) total football tak pernah ditinggalkan pelatih-pelatih asal Negeri Kincir Angin tersebut. Hanya pendekatannya saja yang makin modern dan dimodifikasi.

Biasanya filosofi begini akan diuji dalam laga uji coba. Namun Timnas Indonesia U-23 tak bisa menggelarnya. Percaya dirikah Vanenburg gaya sepak bolanya bisa dijalankan? Mari kita nantikan.

[Gambas:Video CNN]


HALAMAN:
1 2