Indonesia vs Malaysia di Piala AFF U-23: Awas, Sindrom 'Darah Panas'
Abdul Susila | CNN Indonesia
Senin, 21 Jul 2025 07:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Pelatih Timnas Indonesia U-23 Gerald Vanenburg saat memimpin latihan. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Sebagai juara Piala Eropa 1988 dan Liga Champions Eropa 1987/1988, saat masih aktif bermain, Gerald Vanenburg tahu betul dampak tekanan psikologis.
Peraih dua gelar Dutch Golden Boot, sama seperti Ruud Gullit, Ronald Koeman, Dennis Bergkamp, dan Rood van Nistelrooy, ini perlu memberikan tuahnya.
Pemain seperti Jens Raven, Arkhan Fikri, dan Dony Tri Pamungkas butuh serum juara. Bakat mereka kuat, seperti diakui Vanenburg, tetapi kematangannya belum teruji.
Melawan tim seperti Malaysia dengan bumbu sejarah rivalitas yang panjang, bisa jadi sarana bagus untuk mengasah mentalitas dan daya juang di atas lapangan.
Dari dua laga sebelumnya, Vanenburg melakukan rotasi. Muhammad Ferarri dan Brandon Scheunemann yang starter lawan Brunei, sengaja tidak dimainkan pada laga kedua.
Sebagai gantinya Kadek Arel dan Kakang Rudianto diduetkan. Bek sayap Alfahrezzi Buffon juga tak kalah baik dari Frenky Missa atau Achmad Maulana saat dipercaya.
Dengan kata lain, Vanenburg punya pilihan bek yang sama baiknya untuk melawan Malaysia. Tinggal siapa yang dianggap cocok untuk meredam agresivitas lawan.
Beralih ke tengah, trio Robi Darwis, Arkhan Fikri, dan Toni Firmansyah juga solid. Victor Dethan yang dijadikan pelapis juga bisa memberi warna terang saat dimainkan.
Kiranya, hanya tinggal lini depan yang belum menjanjikan. Raven memang melesakkan double hattrick saat melawan Brunei, tetapi nirgol ketika jumpa Filipina.
Hokky Caraka juga belum menemukan hokinya. Pemain PSS Sleman ini masih kesulitan saat duel satu lawan satu dan tembakannya belum klinis saat punya peluang.
Akankah Timnas Indonesia U-23 menaklukkan Malaysia? Peluangnya sangat besar. Selama sindrom 'darah panas' pemain bisa diatasi Vanenburg, kemenangan bisa tercipta.
(rhr/rhr)
Jakarta, CNN Indonesia --
Duel Timnas Indonesia U-23 vs Malaysia di Piala AFF U-23 2025, Senin (21/7), berpotensi memicu sindrom 'darah panas' bagi Garuda.
Indonesia dan Malaysia adalah tetangga dekat, sekaligus rival kuat. Karena itu tak heran, tiap perbandingan soal Indonesia dan Malaysia, bukan hanya di dunia olahraga, selalu memicu suasana panas.
Sejarah telah membuktikan, pemain Indonesia mudah tersulut emosi saat jumpa Malaysia. Dipancing sedikit, psikologis atau kesehatan mental pemain langsung luntur.
Dampaknya, teknik dan kualitas individu pemain menurun. Pada saat yang sama rencana main yang disusun pelatih tak bisa dijalankan dengan baik seperti diasah dalam latihan.
Selama Piala AFF U-23, sejak digelar pada 2005, Indonesia juga belum pernah menang atas Malaysia. pada 2023 kalah 1-2 di babak grup dan pada 2019 bermain imbang 2-2 di fase grup.
Apalagi sindrom 'darah panas' ini sedikit tampak saat melawan Filipina. Pada 15 menit awal laga melawan Filipina, permainan Arkhan Fikri dan kawan-kawan tak stabil.
Saat lawan melakukan pressing ketat dan main keras, tim asuhan Gerald Vanenburg ini terjebak masuk ke dalam labirin yang sengaja dibuat. Seru dan intens, tetapi agak sporadis.
Dan, seperti sudah jadi ilmu warisan, pemain Malaysia sadar betul kondisi ini. Setiap jumpa Indonesia, ada saja situasi di lapangan yang membuat emosi pemain terpancing.
Jika Vanenburg tak bisa mencegah erupsi emosi para pemain, badai bisa tercipta. Bukan tidak mungkin Harimau Malaya Muda menjalankan taktik dan strateginya dengan nyaman.
Dua kemenangan Garuda Muda atas Filipina dan Brunei Darussalam pun bisa tak ada artinya. Kalah dari Malaysia, apalagi sampai selisih dua gol, kans lolos ke semifinal bisa kandas.
Agar Indonesia bisa lolos ke semifinal, minimal bermain imbang dengan Malaysia. Situasi ini: jangan sampai kalah dari Malaysia, adalah pemicu sindrom 'darah panas' itu.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Menanti Petuah Si Golden Boot di Laga Indonesia vs Malaysia
Pelatih Timnas Indonesia U-23 Gerald Vanenburg saat memimpin latihan. (ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA S)
Sebagai juara Piala Eropa 1988 dan Liga Champions Eropa 1987/1988, saat masih aktif bermain, Gerald Vanenburg tahu betul dampak tekanan psikologis.
Peraih dua gelar Dutch Golden Boot, sama seperti Ruud Gullit, Ronald Koeman, Dennis Bergkamp, dan Rood van Nistelrooy, ini perlu memberikan tuahnya.
Pemain seperti Jens Raven, Arkhan Fikri, dan Dony Tri Pamungkas butuh serum juara. Bakat mereka kuat, seperti diakui Vanenburg, tetapi kematangannya belum teruji.
Melawan tim seperti Malaysia dengan bumbu sejarah rivalitas yang panjang, bisa jadi sarana bagus untuk mengasah mentalitas dan daya juang di atas lapangan.
Dari dua laga sebelumnya, Vanenburg melakukan rotasi. Muhammad Ferarri dan Brandon Scheunemann yang starter lawan Brunei, sengaja tidak dimainkan pada laga kedua.
Sebagai gantinya Kadek Arel dan Kakang Rudianto diduetkan. Bek sayap Alfahrezzi Buffon juga tak kalah baik dari Frenky Missa atau Achmad Maulana saat dipercaya.
Dengan kata lain, Vanenburg punya pilihan bek yang sama baiknya untuk melawan Malaysia. Tinggal siapa yang dianggap cocok untuk meredam agresivitas lawan.
Beralih ke tengah, trio Robi Darwis, Arkhan Fikri, dan Toni Firmansyah juga solid. Victor Dethan yang dijadikan pelapis juga bisa memberi warna terang saat dimainkan.
Kiranya, hanya tinggal lini depan yang belum menjanjikan. Raven memang melesakkan double hattrick saat melawan Brunei, tetapi nirgol ketika jumpa Filipina.
Hokky Caraka juga belum menemukan hokinya. Pemain PSS Sleman ini masih kesulitan saat duel satu lawan satu dan tembakannya belum klinis saat punya peluang.
Akankah Timnas Indonesia U-23 menaklukkan Malaysia? Peluangnya sangat besar. Selama sindrom 'darah panas' pemain bisa diatasi Vanenburg, kemenangan bisa tercipta.