Mauro Zijlstra disebut-sebut bakal gabung Timnas Indonesia. (Arsip FC Volendam)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama Mauro Zijlstra diproyeksi jadi striker Timnas Indonesiadalam waktu dekat jika proses naturalisasi rampung terlaksana. Mampukah bomber muda itu jadi jawaban lini depan Skuad Garuda?
Saat ini dokumen naturalisasi Zijlstra sudah diterima oleh Kemenpora RI untuk kemudian diteruskan ke Komisi X dan Komisi XIII DPR RI. Namun saat ini parlemen sedang berada dalam masa reses hingga 15 Agustus mendatang.
Artinya, rapat kerja dan sidang paripurna di DPR RI baru bisa bergulir setelah reses berakhir. Ada waktu kurang lebih dua pekan untuk menyelesaikan semua proses sebelum kalender FIFA Matchday bergulir pada 1-9 September 2025.
Dengan rekam jejak proses naturalisasi sebelumnya, dua pekan bukan waktu yang sempit untuk merampungkan naturalisasi pemain. Agaknya Zijlstra kemungkinan besar bisa segera membela skuad Garuda untuk FIFA Matchday lalu putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Meski diperkirakan tak bakal terganjal soal waktu, satu hal yang perlu jadi perhatian adalah adaptasi sang pemain di skuad Garuda. Terlebih Mauro Zijlstra merupakan striker muda yang sedang mencicil jam terbang.
Pemain kelahiran Zaandam, Belanda, 9 November 2004 itu baru dipromosikan ke tim utama FC Volendam pada musim lalu di kasta kedua Liga Belanda. Sebelumnya Mauro digembleng tim kelompok usia FC Volendam, NEC Breda, dan AFC Amsterdam.
Meski jadi anak bawang di timnya saat ini, Mauro mampu membuktikan ketajamannya. Tercatat ada enam gol dari 19 pertandingan di divisi kedua Liga Belanda musim lalu. Ia juga menyumbang satu gol pada satu penampilan di KNVB Cup.
Berkat kontribusinya, FC Volendam berhasil jadi juara Keuken Kamipoen 2024/2025 atau kasta kedua dan otomatis promosi ke Eredivisie atau level tertinggi Liga Belanda.
Ujian lebih berat jelas akan dihadapi oleh Mauro. Namun di saat yang sama, ini bisa jadi momen tepat untuk pembuktian sebagai pemain potensial, termasuk jika resmi membela Timnas Indonesia.
Tinggal bagaimana caranya Mauro bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Dengan semilir 'Kincir Angin' yang kian terasa di Timnas Indonesia, semestinya penyesuaian bukan persoalan.
Baca lanjutan analisis Mauro Zijlstra di halaman selanjutnya>>>
Lini depan Timnas Indonesia bisa dibilang sedang gawat karena cedera panjang Ole Romenyusai tampil di Piala Presiden 2025. Mau tak mau, sosok striker adalah kebutuhan genting untuk skuad Garuda.
Timnas Indonesia direncanakan menjalani dua laga pada FIFA Matchday di rentang 1-9 September. Pertandingan itu jadi laboratorium ujicoba sebelum putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 bergulir pada Oktober.
Sebenarnya Indonesia punya alternatif lain jika bicara soal penyerang. Nama yang potensial adalah Rafael Struick, Dimas Drajad, atau Ramadhan Sananta. Namun ketiganya dipandang kurang ganas di kotak penalti lawan.
Bisa saja Kluivert menerapkan 'False Nine' sebagai ujung tombak. Namun tentu saja, hal ini bukan tanpa risiko jika diaplikasikan untuk kualifikasi Piala Dunia.
Karenanya, Kluivert perlu memaksimalkan dua laga di jendela FIFA Matchday untuk mencoba segala taktik. Momen ini juga bisa dimanfaatkan untuk proses adaptasi Mauro Zijlstra sebagai juru gedor.
Di satu sisi, dengan usia 20 tahun Zijlstra juga sah membela Timnas Indonesia U-23. Kebetulan skuad Garuda Muda akan menjalani Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 pada 3-9 September.
Namun dengan waktu yang beririsan plus keadaan lini depan yang belum mapan, agaknya lebih masuk akal jika Zijlstra dimaksimalkan di tim senior. Sebab dirinya perlu adaptasi dengan rekan-rekan setim sesama penggawa skuad Garuda sebelum melangkah ke ujian sesungguhnya di kualifikasi Piala Dunia.
Sebab Indonesia bakal menghadapi ujian ekstra berat di putaran keempat kualifikasi. Berada di Grup B tim Merah Putih harus bersaing dengan Irak dan Arab Saudi.
Bertarung di Arab Saudi sebagai arena kualifikasi, jelas merupakan tantangan besar bagi Marselino Ferdinan dan kawan-kawan. Apalagi dengan kenyataan hanya juara grup yang mendapat tiket lolos langsung ke Piala Dunia 2026 dan runner up demi melaju ke putaran kelima kualifikasi.
Besar harapan Mauro Zijlstra bisa jadi jawaban di tengah kesulitan. Mampukah dia melakukannya?
Nama Mauro Zijlstra diproyeksi jadi striker Timnas Indonesiadalam waktu dekat jika proses naturalisasi rampung terlaksana. Mampukah bomber muda itu jadi jawaban lini depan Skuad Garuda?
Saat ini dokumen naturalisasi Zijlstra sudah diterima oleh Kemenpora RI untuk kemudian diteruskan ke Komisi X dan Komisi XIII DPR RI. Namun saat ini parlemen sedang berada dalam masa reses hingga 15 Agustus mendatang.
Artinya, rapat kerja dan sidang paripurna di DPR RI baru bisa bergulir setelah reses berakhir. Ada waktu kurang lebih dua pekan untuk menyelesaikan semua proses sebelum kalender FIFA Matchday bergulir pada 1-9 September 2025.
Dengan rekam jejak proses naturalisasi sebelumnya, dua pekan bukan waktu yang sempit untuk merampungkan naturalisasi pemain. Agaknya Zijlstra kemungkinan besar bisa segera membela skuad Garuda untuk FIFA Matchday lalu putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Meski diperkirakan tak bakal terganjal soal waktu, satu hal yang perlu jadi perhatian adalah adaptasi sang pemain di skuad Garuda. Terlebih Mauro Zijlstra merupakan striker muda yang sedang mencicil jam terbang.
Pemain kelahiran Zaandam, Belanda, 9 November 2004 itu baru dipromosikan ke tim utama FC Volendam pada musim lalu di kasta kedua Liga Belanda. Sebelumnya Mauro digembleng tim kelompok usia FC Volendam, NEC Breda, dan AFC Amsterdam.
Meski jadi anak bawang di timnya saat ini, Mauro mampu membuktikan ketajamannya. Tercatat ada enam gol dari 19 pertandingan di divisi kedua Liga Belanda musim lalu. Ia juga menyumbang satu gol pada satu penampilan di KNVB Cup.
Berkat kontribusinya, FC Volendam berhasil jadi juara Keuken Kamipoen 2024/2025 atau kasta kedua dan otomatis promosi ke Eredivisie atau level tertinggi Liga Belanda.
Ujian lebih berat jelas akan dihadapi oleh Mauro. Namun di saat yang sama, ini bisa jadi momen tepat untuk pembuktian sebagai pemain potensial, termasuk jika resmi membela Timnas Indonesia.
Tinggal bagaimana caranya Mauro bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan baru. Dengan semilir 'Kincir Angin' yang kian terasa di Timnas Indonesia, semestinya penyesuaian bukan persoalan.
Baca lanjutan analisis Mauro Zijlstra di halaman selanjutnya>>>
Mauro Belum Terbukti, tapi Perlu Kasih Bukti
Mauro Zijlstra merupakan pemain berposisi penyerang. (potongan layar @maurozijlstra)
Lini depan Timnas Indonesia bisa dibilang sedang gawat karena cedera panjang Ole Romenyusai tampil di Piala Presiden 2025. Mau tak mau, sosok striker adalah kebutuhan genting untuk skuad Garuda.
Timnas Indonesia direncanakan menjalani dua laga pada FIFA Matchday di rentang 1-9 September. Pertandingan itu jadi laboratorium ujicoba sebelum putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 bergulir pada Oktober.
Sebenarnya Indonesia punya alternatif lain jika bicara soal penyerang. Nama yang potensial adalah Rafael Struick, Dimas Drajad, atau Ramadhan Sananta. Namun ketiganya dipandang kurang ganas di kotak penalti lawan.
Bisa saja Kluivert menerapkan 'False Nine' sebagai ujung tombak. Namun tentu saja, hal ini bukan tanpa risiko jika diaplikasikan untuk kualifikasi Piala Dunia.
Karenanya, Kluivert perlu memaksimalkan dua laga di jendela FIFA Matchday untuk mencoba segala taktik. Momen ini juga bisa dimanfaatkan untuk proses adaptasi Mauro Zijlstra sebagai juru gedor.
Di satu sisi, dengan usia 20 tahun Zijlstra juga sah membela Timnas Indonesia U-23. Kebetulan skuad Garuda Muda akan menjalani Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 pada 3-9 September.
Namun dengan waktu yang beririsan plus keadaan lini depan yang belum mapan, agaknya lebih masuk akal jika Zijlstra dimaksimalkan di tim senior. Sebab dirinya perlu adaptasi dengan rekan-rekan setim sesama penggawa skuad Garuda sebelum melangkah ke ujian sesungguhnya di kualifikasi Piala Dunia.
Sebab Indonesia bakal menghadapi ujian ekstra berat di putaran keempat kualifikasi. Berada di Grup B tim Merah Putih harus bersaing dengan Irak dan Arab Saudi.
Bertarung di Arab Saudi sebagai arena kualifikasi, jelas merupakan tantangan besar bagi Marselino Ferdinan dan kawan-kawan. Apalagi dengan kenyataan hanya juara grup yang mendapat tiket lolos langsung ke Piala Dunia 2026 dan runner up demi melaju ke putaran kelima kualifikasi.
Besar harapan Mauro Zijlstra bisa jadi jawaban di tengah kesulitan. Mampukah dia melakukannya?