Haye dan Diaspora Pulang Kampung, Bikin Untung apa Buntung?
Pasca Tragedi Kanjuruhan yang memilukan, dengan ratusan orang meninggal dunia, sepak bola Indonesia belum sepenuhnya pulih. Kerusakan masih menganga di mana-mana.
Kendati demikian, perbaikan terjadi di banyak sektor. Klub tradisional, yang dikelola dengan serampangan, memang masih ada, tetapi jumlahnya kian sedikit dan niscaya akan tergerus.
Membasmi klub-klub ortodoks yang menempelkan profesionalitas di atas bibir, kiranya mustahil di Indonesia. Akan selalu ada klub dan tokoh yang menunggang di atas sepak bola.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, pebisnis muda yang serius membangun sepak bola atas nama cinta, bisnis, dan kebanggaan, makin hidup juga. Mereka muak dengan sistem tua sepak bola Indonesia yang kolot.
Mendatangkan pemain dengan level tinggi ke tengah kompetisi, adalah jalan ninja untuk mengangkat harkat sepak bola Indonesia. Utamanya bagi Persib Bandung, ini sangat krusial.
Sejak musim lalu Persib adalah duta Indonesia di pentas Asia. Jika musim lalu jadi kerupuk dalam ajang kontinental kendati back to back champions, musim ini jangan sampai terjadi.
Persib kiranya bisa melaju hingga semifinal Liga Champions Asia Two 2025/2026 untuk menaikkan koefisiensi Super League di strata kompetisi AFC. Di sini peran Thom Haye jadi kunci.
Usia Haye belum terlalu tua. Masih 30. Mungkin saja era keemasannya sudah lewat, tetapi performanya sama sekali tidak menurun. Musim lalu misalnya, Haye tampil 29 kali di Eredivisie.
Dibanding Jens Raven dan Rafael Struick, juga Jordi Amat, menit main Haye paling tinggi. Rekam jejak cedera Haye juga bersih sehingga pulang kampung bukan pelarian.
Ya, Haye datang ke Indonesia bukan karena tak laku atau tak dibutuhkan lagi di Eredivisie atau Eropa sana. Haye datang ke Indonesia dengan potensi terbaik yang masih dimiliki.
Mungkin, akan terlalu berlebihan untuk mengatakan Haye jadi tonggak naik kelas Liga Indonesia, tetapi jalannya bisa dimulai dari musim ini. Level pemain Liga Indonesia harus naik kelas.
Contoh, jika sebelumnya pemain Serie C dan B Brasil mendominasi wajah sepak bola Indonesia, berikutnya kudu naik hanya dari Serie B dan A. Misal lainnya, pernah main di pentas kontinental.
Ya, Haye kiranya menjadi titik tolok bahwa sudah saatnya pemain 'cerdas' yang berkualitas main di sepak bola Indonesia. Diaspora pulang kampung jadi isyarat untuk melambung.
(nva)Pesepakbola diaspora Indonesia mulai pulang kampung. Mereka memilih tampil di Super League 2025/2026 dibanding kompetisi di belahan dunia lainnya. Ini bikin untung atau buntung?
Setelah Jens Raven (Bali United), Rafael Struick (Dewa United), dan Jordi Amat (Persija Jakarta), diaspora asal Belanda Thom Haye dan Eliano Reijnders resmi berseragam Persib Bandung pada musim ini.
Perekutan Eliano oleh Persib itu berarti, lima diaspora mudik ke Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejatinya, diaspora pulang kampung bukan tren baru, juga tidak hanya di sepak bola. Sudah lumrah pemain diaspora pada akhirnya memilih berkarier di dalam negeri.
Stefano Lilipaly, Sergio van Dijk, dan Rafael Maitimo adalah beberapa contoh dari edisi sebelumnya. Mereka memilih tampil di kompetisi dalam negeri setelah resmi menjadi WNI lewat naturalisasi.
Alasan pulang kampung bisa bermacam-macam. Selain karena dapat tawaran menggiurkan, tantangan hidup di negeri nenek moyang setelah lahir dan besar di negeri seberang, salah satu pemicunya.
Namun, apakah para diaspora ini bisa mengangkat citra sepak bola Indonesia di pentas global? Kiranya terlalu sederhana untuk menjawab dengan kata ya atau tidak, tanpa konteks.
Kompetisi sepak bola profesional Indonesia, yang musim ini memakai baju Super League dan Championship sebagai dua kasta tertinggi, tentu saja masih jauh dari mengesankan.
Namun perbaikan demi perbaikan terus dilakukan PSSI dan operator kompetisi. Penggunaan VAR setidaknya jadi indikasi kuat. Belanja klub dan sponsor yang masuk juga meningkat tajam.
Setelah disrupsi pasca Covid-19, musim ini value kompetisi sepak bola Indonesia berada di level tertinggi. Pemain asing yang berminat main di Indonesia juga naik stratanya.
Jika musim-musim sebelumya hanya pemain level D atau C, kini pemain level B, berdatangan. Haye dan pemain Serie A Brasil, adalah bukti nyata bahwa ada peningkatan di level kompetisi.
Klub juga terus berbenah, kendati masih ada yang asal-asalan dan serabutan sebagai sebuah 'tunggangan', fasilitas klub mulai dimiliki, seperti training ground dan hak kelola stadion.
Level kompetisi sepak bola Indonesia memang perlu dikatrol. Sangat perlu. Salah satu caranya mendatangkan pemain dari level-level tinggi. Haye bisa jadi salah satu gerbang pendobrak.
Baca lanjutan analisis ini di halaman selanjutnya>>>
Naikkan Level Pemain Masuk Indonesia
Super League jadi wajah baru kompetisi sepak bola Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Pasca Tragedi Kanjuruhan yang memilukan, dengan ratusan orang meninggal dunia, sepak bola Indonesia belum sepenuhnya pulih. Kerusakan masih menganga di mana-mana.
Kendati demikian, perbaikan terjadi di banyak sektor. Klub tradisional, yang dikelola dengan serampangan, memang masih ada, tetapi jumlahnya kian sedikit dan niscaya akan tergerus.
Membasmi klub-klub ortodoks yang menempelkan profesionalitas di atas bibir, kiranya mustahil di Indonesia. Akan selalu ada klub dan tokoh yang menunggang di atas sepak bola.
Namun, pebisnis muda yang serius membangun sepak bola atas nama cinta, bisnis, dan kebanggaan, makin hidup juga. Mereka muak dengan sistem tua sepak bola Indonesia yang kolot.
Mendatangkan pemain dengan level tinggi ke tengah kompetisi, adalah jalan ninja untuk mengangkat harkat sepak bola Indonesia. Utamanya bagi Persib Bandung, ini sangat krusial.
Sejak musim lalu Persib adalah duta Indonesia di pentas Asia. Jika musim lalu jadi kerupuk dalam ajang kontinental kendati back to back champions, musim ini jangan sampai terjadi.
Persib kiranya bisa melaju hingga semifinal Liga Champions Asia Two 2025/2026 untuk menaikkan koefisiensi Super League di strata kompetisi AFC. Di sini peran Thom Haye jadi kunci.
Usia Haye belum terlalu tua. Masih 30. Mungkin saja era keemasannya sudah lewat, tetapi performanya sama sekali tidak menurun. Musim lalu misalnya, Haye tampil 29 kali di Eredivisie.
Dibanding Jens Raven dan Rafael Struick, juga Jordi Amat, menit main Haye paling tinggi. Rekam jejak cedera Haye juga bersih sehingga pulang kampung bukan pelarian.
Ya, Haye datang ke Indonesia bukan karena tak laku atau tak dibutuhkan lagi di Eredivisie atau Eropa sana. Haye datang ke Indonesia dengan potensi terbaik yang masih dimiliki.
Mungkin, akan terlalu berlebihan untuk mengatakan Haye jadi tonggak naik kelas Liga Indonesia, tetapi jalannya bisa dimulai dari musim ini. Level pemain Liga Indonesia harus naik kelas.
Contoh, jika sebelumnya pemain Serie C dan B Brasil mendominasi wajah sepak bola Indonesia, berikutnya kudu naik hanya dari Serie B dan A. Misal lainnya, pernah main di pentas kontinental.
Ya, Haye kiranya menjadi titik tolok bahwa sudah saatnya pemain 'cerdas' yang berkualitas main di sepak bola Indonesia. Diaspora pulang kampung jadi isyarat untuk melambung.