ANALISIS

Indonesia vs Macau: Wajib Bangkit atau Peluang Sempit

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Sabtu, 06 Sep 2025 09:00 WIB
Indonesia vs Macau: Wajib Bangkit atau Peluang Sempit
Gerald Vanenburg harus mencari cara untuk mengakhiri kebuntuan Timnas Indonesia U-23. (CNNIndonesia.com/Farid Rahman)

Gerald Vanenburg menerapkan pola 4-3-1-2 lawan Laos dengan proyeksi Jens Raven dan Rafael Struick bisa mengacak-acak lini pertahanan lawan. Strategi ini justru menemui kebuntuan.

Pola yang diterapkan Vanenburg sebenarnya tak ajeg lantaran Struick lebih sering minggir ke sisi kiri dan sayap kanan kerap ditempati Rayhan Hannan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sektor flank juga ditopang oleh Kakang Rudianto dan Dony Tri Pamungkas yang kerap melancarkan tusukan. Terutama di sisi kiri oleh Dony Tri lantaran Kakang cenderung bermain lebih dalam.

Pola dinamis yang diterapkan setidaknya menghasilkan 15 peluang yang semestinya berbuah gol. Namun tak jarang umpan kurang matang, pergerakan tanpa bola para pemain sering tidak tepat waktu, hingga penyelesaian yang tak klinis membuat tak ada gol tercipta.

Mengingat kualitas Laos tak lebih baik dari Indonesia di atas kertas, hasil 0-0 membuktikan ada yang kurang dari racikan strategi Vanenburg.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah maksimalisasi bola mati. Sebab tak jarang Indonesia mendapat situasi demikian terutama di sepak pojok. Tapi tak ada satupun peluang berbahaya dari tendangan corner.

Indonesia sudah berupaya memaksimalkan bola mati dalam skema lemparan ke dalam. Namun lawan seakan sudah punya antisipasi terhadap teknik hapalan dari Timnas Indonesia.

Lemparan jauh bukan hal terlarang, namun pemain perlu lebih piawai memanfaatkan keadaan. Berkali-kali bola lemparan Robi Darwis sebagai eksekutor utama mengarah ke wilayah sepertiga akhir tapi tak juga menemui sasaran.

Situasi bola mati bisa jadi kekuatan Timnas Indonesia U-23 karena sejak menang besar atas Brunei di Piala AFF U-23 2025, tidak ada gol skema terbuka yang ditorehkan.

Tersirat anomali ketika Indonesia juga kesulitan menjebol gawang lawan lewat skema bola mati. Lantas apa kekuatan utamanya kali ini?

Vanenburg perlu mencari cara dalam variasi serangan terutama jika menghadapi tim defensif. Juru taktik asal Belanda itu perlu membawa Timnas Indonesia U-23 habis-habisan di sisa laga yang ada.

(har)
Jakarta, CNN Indonesia --

Timnas Indonesia U-23 bakal melanjutkan perjuangan di Kualifikasi Piala Asia U-23 2026 dengan melawan Macau di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (6/9). Laga ini harus jadi momen bangkit jika tidak ingin peluang semakin sempit.

Indonesia mengawali babak kualifikasi dengan kurang maksimal. Hasil imbang tanpa gol kontra Laos, 3 September lalu, membuat tim asuhan Gerald Vanenburg kini bertengger di peringkat kedua dengan satu poin.

Ini bukan sinyal baik untuk Indonesia karena Jens Raven dan kawan-kawan sejatinya butuh kemenangan lawan Laos untuk memperbesar kesempatan lolos ke Piala Asia U-23 2026. Sebab kesempatan semakin sempit jika hasil minor kembali didapatkan lawan Macau.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peluang Timnas Indonesia U-23 lolos ke Piala Asia U-23 2026 memang masih terbuka lebar, tapi syaratnya cukup berat. Indonesia harus bisa mengalahkan Macau dan Korea Selatan di dua pertandingan sisa Grup J.

Selain itu Indonesia tetap punya peluang lolos melalui klasemen kecil sebagai runner-up terbaik. Hanya saja, finis di posisi kedua tak otomatis mendapatkan tiket ke Piala Asia U-23 2026. Kendati demikian, setiap laga layak diperjuangkan demi merebut kemenangan.

Poin penuh yang direbut dari Macau penting bagi Timnas Indonesia U-23 untuk menjaga asa ke Piala Asia U-23 2025. Terlebih Indonesia harus memetik kemenangan lawan Korea Selatan pada laga penutup.

Tapi Garuda Muda harus fokus pada laga terdekat lebih dahulu. Kemenangan tentunya akan jadi tambahan motivasi untuk kembali menorehkan hasil serupa di laga berikutnya.

Di atas kertas, Macau bukan ancaman berarti jika melihat rekam jejak pada pertandingan terdekat. Tim dari Asia Timur itu kalah telak 0-5 lawan Korea Selatan pada laga pembuka.

Sepanjang sejarah Piala Asia U-23, Macau juga tak pernah lolos ke putaran final. Tapi keadaan ini tak boleh membuat Indonesia lengah.

Sebab Laos juga tim yang belum pernah lolos Piala Asia U-23. Head to head dengan Indonesia juga kalah jauh. Tapi dalam pertemuan terakhir, Laos justru bisa membendung Indonesia.

Padahal Indonesia dominan dengan gempuran bertubi-tubi. Ada total 35 tembakan yang 11 di antaranya tepat sasaran. Penguasaan bola pun mencapai 77 persen.

Tapi tidak ada satupun gol yang dicetak. Ada satu bola yang sempat bersarang di gawang lawan, tapi wasit menganulirnya karena offside.

Situasi itu jadi isyarat bahwa bombardir serangan harus sejalan dengan efektivitas. Timnas Indonesia U-23 perlu bermain cerdik dan klinis terutama ketika menemui kebuntuan.

Ini adalah tanggung jawab Gerald Vanenburg.

Bersambung ke halaman kedua >>>

Buntu Melulu, Vanenburg Perlu Cari Jalan Keluar

Gerald Vanenburg harus mencari cara untuk mengakhiri kebuntuan Timnas Indonesia U-23. (CNNIndonesia.com/Farid Rahman)

Gerald Vanenburg menerapkan pola 4-3-1-2 lawan Laos dengan proyeksi Jens Raven dan Rafael Struick bisa mengacak-acak lini pertahanan lawan. Strategi ini justru menemui kebuntuan.

Pola yang diterapkan Vanenburg sebenarnya tak ajeg lantaran Struick lebih sering minggir ke sisi kiri dan sayap kanan kerap ditempati Rayhan Hannan.

Sektor flank juga ditopang oleh Kakang Rudianto dan Dony Tri Pamungkas yang kerap melancarkan tusukan. Terutama di sisi kiri oleh Dony Tri lantaran Kakang cenderung bermain lebih dalam.

Pola dinamis yang diterapkan setidaknya menghasilkan 15 peluang yang semestinya berbuah gol. Namun tak jarang umpan kurang matang, pergerakan tanpa bola para pemain sering tidak tepat waktu, hingga penyelesaian yang tak klinis membuat tak ada gol tercipta.

Mengingat kualitas Laos tak lebih baik dari Indonesia di atas kertas, hasil 0-0 membuktikan ada yang kurang dari racikan strategi Vanenburg.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah maksimalisasi bola mati. Sebab tak jarang Indonesia mendapat situasi demikian terutama di sepak pojok. Tapi tak ada satupun peluang berbahaya dari tendangan corner.

[Gambas:Video CNN]

Indonesia sudah berupaya memaksimalkan bola mati dalam skema lemparan ke dalam. Namun lawan seakan sudah punya antisipasi terhadap teknik hapalan dari Timnas Indonesia.

Lemparan jauh bukan hal terlarang, namun pemain perlu lebih piawai memanfaatkan keadaan. Berkali-kali bola lemparan Robi Darwis sebagai eksekutor utama mengarah ke wilayah sepertiga akhir tapi tak juga menemui sasaran.

Situasi bola mati bisa jadi kekuatan Timnas Indonesia U-23 karena sejak menang besar atas Brunei di Piala AFF U-23 2025, tidak ada gol skema terbuka yang ditorehkan.

Tersirat anomali ketika Indonesia juga kesulitan menjebol gawang lawan lewat skema bola mati. Lantas apa kekuatan utamanya kali ini?

Vanenburg perlu mencari cara dalam variasi serangan terutama jika menghadapi tim defensif. Juru taktik asal Belanda itu perlu membawa Timnas Indonesia U-23 habis-habisan di sisa laga yang ada.


HALAMAN:
1 2