Di tengah kesulitan dan upaya untuk bangkit yang sedang dilakukan oleh pemain-pemain Indonesia, ada kejuaraan penting yang bakal hadir di 2026. Momen itu adalah Thomas-Uber Cup 2026 yang akan digelar pada April 2026 mendatang.
Terlepas dari minimnya pemain-pemain Indonesia yang memenangkan turnamen level atas di 2025, Tim Indonesia tetap layak dijadikan salah satu favorit untuk memenangkan Thomas Cup 2026 mendatang.
Sosok Jonatan Christie yang masih stabil di papan atas ditambah Alwi dan Ubed yang mulai menyeruak ke permukaan membuat Indonesia punya lapisan yang cukup meyakinkan di nomor tunggal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum lagi bila menyertakan nama Anthony Ginting yang saat ini penampilannya tengah menurun. Bila Ginting bisa bangkit di bulan-bulan awal 2026, namanya tetap layak masuk skuad sebagai salah satu senjata rahasia tim.
Di nomor ganda, Indonesia punya Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri. Selain itu ada juga Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi yang juga masuk kategori Top 10. Nama Raymond/Joaquin juga bisa dimasukkan dalam skuad untuk Thomas Cup mendatang. Belum lagi ada nama lain seperti Daniel Marthin, Leo Rolly Carnando, dan Bagas Maulana yang juga bakal masuk pemantauan.
Emas SEA Games 2025 juga jadi salah satu indikasi kekuatan Indonesia. Pemain muda seperti Alwi dan Ubed serta Sabar/Reza bisa unjuk gigi dan unjuk kemampuan bila diberi kesempatan.
Sedangkan di Uber Cup, keputusan Gregoria Mariska Tunjung untuk rehat selama satu tahun harus dihormati. Namun kehilangan Gregoria jelas berpengaruh besar pada kekuatan Tim Indonesia di Uber Cup.
Dengan demikian, Putri Kusuma Wardani bakal jadi ujung tombak utama. Selain itu, pasukan muda di tunggal putri bakal ambil alih tanggung jawab.
'Ledakan' di nomor ganda putri juga jadi penentu kiprah Indonesia di Uber Cup. Bila tren mereka makin meningkat, otomatis level kekuatan Indonesia juga bakal makin diwaspadai dan disegani.
Sementara itu untuk kejuaraan individu, Kejuaraan Dunia 2026 dan Asian Games 2026 jelas jadi target utama. Dua kejuaraan itu jadi gambaran jelas posisi Indonesia di level tertinggi.
Peluang meraih gelar di dua turnamen itu bisa dibilang lebih kecil dibandingkan peluang meraih gelar Thomas Cup. Namun bila semester awal 2026 diwarnai dengan hujan gelar untuk pemain-pemain Indonesia di level tinggi, pesimisme akan gelar Kejuaraan Dunia yang sudah lama tak didapatkan akan berubah 180 derajat.
(nva)