Indonesia vs Jepang: Emosional, Brutal, dan Monumental
Sejarah mencatat, Indonesia tak pernah menang atas Jepang di AFC Futsal. Tiga kali jumpa, tiga kali tumbang. Namun, pada Januari 2024, Jepang dilumat 1-0 di laga uji coba.
Memang, Jepang sudah bertransformasi. Januari 2024 dan Januari 2026 tak sama. Bak pedang katana dan wakizashi, mentalitas dan kematangan Jepang makin tajam dan klinis.
Performa Jepang di AFC Futsal 2026 juga impresif. Serangan Tomoki Yoshikawa dan kawan-kawan bisa impulsif. Tiba-tiba; spontan; mematikan. Yang tak kalah mengagumkan, mereka juga spartan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Skuad Jepang ada dua jebolan Piala Asia 2022 dan 2024: Yoshikawa dan Kentaro Ishida. Lantas empat nama jebolan 2024: Kaito Yamada, Shoto Yamanaka, Ryota Kai, Yusei Arai
Kemudian ada dua jebolan 2022 yang absen di 2024, tetapi dipanggil lagi di 2026: Kokoro Harada dan Kazuya Shimizu. Ini menggambarkan kedalaman dan kematangan Samurai Blue.
Namun, sejarah juga mencatat, Jepang pernah lari tunggang langgang dari bumi nusantara pada 1945. Dengan apapun framing-nya, Jepang hengkang saat sedang asik-asiknya. Mereka dihancurkan.
Kehancuran itu sedikit tercermin pada 2024. Saat tampil dalam Exhibition 4 Nations World Series. Modal sejarahnya. Tak pantas lagi istilah imperior. Tak pernah pantas.
Karenanya laga ini akan emosional bagi Hector Souto, Kensuke Takahashi dan segenap pemain. Ada rasa-rasa ingin balas dendam. Saling membalas dari kisah kalah pada 2022 dan 2024.
Suporter bersorak mendukung Timnas Futsal Indonesia di ajang AFC Futsal 2026. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz) |
Sebagai tuan rumah, Indonesia punya kekuatan tambahan: suporter. Indonesia Arena niscaya membludak. Sorak sorai akan membahana. Mungkin tak membuat ciut nyali, tapi mengganggu konsentrasi.
Mochammad Iqbal dan kawan-kawan, kalau disaksikan dengan saksama, bermain layaknya keris, rencong, badik, atau parang yang keras menebas, tipis mengiris, juga tajam menghujam.
Karenanya tak berlebihan kalau laga ini menjanjikan brutalitas. Bukan brutal dalam artian anarkisme, tetapi pertarungan keras ideologi, strategi, dan juga ambisi. Brutal yang kekal.
Dan, bagi Indonesia ini laga monumental. Inilah kali pertama skuad Garuda tampil di babak semifinal Piala Asia Futsal. Dari sini mungkin saja sejarah monumental lainnya tercipta.
Tak ada mustahilitas di futsal. Bahkan, 10 detik saja bisa mengubah keadaan. Selama belum ada peluit panjang, kans Indonesia mencipta sejarah monumental sangat potensial tercipta di AFC Futsal 2026.
(jal)
Suporter bersorak mendukung Timnas Futsal Indonesia di ajang AFC Futsal 2026. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/nz)